<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870</id><updated>2012-02-16T05:38:28.798-08:00</updated><title type='text'>Do Media</title><subtitle type='html'>Media Bekerja, Belajar dan Berdoa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-2133403219096478543</id><published>2009-03-10T03:05:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T03:08:49.770-07:00</updated><title type='text'>EFEKTIFITAS IKLAN PARTAI DALAM PEMILU 2009 PADA MEDIA MASA</title><content type='html'>EFEKTIFITAS IKLAN PARTAI DALAM PEMILU 2009&lt;br /&gt;PADA MEDIA MASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan. &lt;br /&gt;Tidak ada kecap nomor dua, itu kata pepatah. Itulah yang bisa dikatakan pada partai bahwa semua kecap nomor satu, artinya partai-partai berjanji-janji pada rakyat andai menang, pilihlah saya, besok lebih baik, atau mbah saya sudah bikin kemajuan, sekarang sedang mengalami kemunduran, dan sebagainya. Partai-partai berlomba-lomba mengiklankan atribut partai dan program partai dengan berbagai macam cara dan gaya bahasa.&lt;br /&gt;Banyaknya partai ibarat cendawan di musim hujan menjadikan partai berlomba-lomba untuk melakukan kampanye di berbagai daerah baik perkotaan sampai perdesaan di seluruh penjuru tanah air. Kampanye dilakukan melalui berbagai macam cara dan gaya. Baik melalui ikaln baliho, Koran, majalah, radio, televise bahkan Internet. &lt;br /&gt;Persoalannya berbagai iklan yang dilakukan oleh partai akan efektif dan efisien menarik masa untuk memilih partai tersebut. Karena mengiklankan partai tidak sama dengan mengiklankan produk tertentu. Karena produk yang ditawarkan adalah berbeda, dimana dalam iklan dikenal promotions mix, sedang dalam iklan partai juga memiliki peran marketing mix, meski dengan produk yang berbeda.&lt;br /&gt;Iklan dapat berupa iklan merek dagang dan jasa, sedangkan partai ini susah untuk dikatagorikan dalam dua katagori tersebut. Apakah produk barang atau jasa, jadi susah untuk dikatgorikan pada keduanya. Sedangkan iklan partai adalah iklan yang menawarkan jati diri atau performance, Atribut, symbol atau bendera, serta program atau janji. Sedangkan bukti bahwa partai itu bisa mempertahankan semuanya setelah melewati beberapa katagori diatas, apakah iklan partai memenuhi produk yang mereka tawarkan.&lt;br /&gt;Persaingan dalam pemilu 2009 oleh partai-partai baik partai baru atau partai yang sudah cukup lama cukup ketat, dengan munculnya beberapa partai baru yang lahir, dan berusaha untuk  eksis dan bertahan merebut pemilih. Suatu perkembangan teknologi periklanan di Indonesia yang cukup pesat tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah revolusi besar di bidang komunikasi, dan semakin cepatlah informasi kepartaian dapat disampaikan secara lengsung kepada pemilih tanpa melakukan penggalangan massa dan mobilisasi masa.&lt;br /&gt;Munculnya persaingan itu telah melahirkan berbagai macam persaingan yang sehat maupun tidak sehat. Perang propaganda terus terjadi, saling mengklain jasa pada masyarakat, mengumbar janji dan menyerang partai lain, bahkan oleh partai yang baru sekalipun karena mempunyai sejarah di masa lalu, pada pemerintahan lama dengan partai lama yang justru sekarang menjadi pesaing-pesaingnya. Diikuti inovasi-inovasi tentang bahasa-bahasa komunikasi massa bagi pemilih baik pemilih mengambang, pemilih pemula atau tradisional. Pemilih akan  banyak mendapatkan pilihan, dan saatnyalah bahwa pemilih atau rakyat adalah raja. Sehingga partai-partai  saat ini harus memanjakan pemilih agar tidak ditinggalkan pemilihnya untuk memilih  kompetitor lainnya. Karena makin banyak partai, alternatif layanan yang akan diberikan pada partainya makin beragam.&lt;br /&gt;Bagaimana untuk menjadi iklan partai yang tidak hanya menjadi iklan kecap nomor satu tidaklah mudah, karena iklan yang membohongi dengan janji-janji kosong akan mengurangi kepercayaan pemilih. Pemilih akan terus mencari alternative baru bagi kehidupan negara sebagi aktualisasi dari kepentingan individual mereka dan kepentingan kelompok dengan kedekatan emosional, ideology dan kepentingan.&lt;br /&gt;Iklan Partai dikenal sejak periode pasca Orde baru atau yang disebut periode reformasi. Dimana pintu multi partai telah dibuka pemerintah. Berjuta-juta orang memulih di dalam pemilu 1999 dengan berpuluh-puluh part (48) dalam menentukan harapan perubahan yang mereka miliki. Meskipun penggalangan masa masih dominant dalan pemilu 1999 namun iklan partai mulai dikenal oleh beberapa partai. Meskipun peran iklan jurnalistik melalui media masa cetak maupun elektronik cukup dominant.&lt;br /&gt;Mereka mampu membangun asosiasi partai yang cukup efektif seperti PDI Perjuangan dengan Ingat-Ingat, kemudian Golkar dengan Golkar baru, dan PKB dengan membela yang benar, dan partai-partai yang berbasis sejarah cukup kuat dan berbasis tradisional dan ideologis sejenis banyak merebut hati pemilih. Sehingga peran iklan belumlah dominan pada saat itu.&lt;br /&gt;Peran iklan partai lebih efektif lagi pada pemilu 2004 dengan mendongkrak partai Demokrat dengan mengantarkan presidennya pada pemilihan presiden 2004. Dimana mulai terjadi peradigmabaru kampanye pemilu dengan penggalangan masa dengan merubah komunikasi masa dengan peran iklan partai. &lt;br /&gt;Meski iklan tidak selamanya efektif seperti iklan yang terlalu gencar pada pemiliha gubernur di Jawa Tengah justru menglami kekalahan, karena pemilih tiap daerah memiliki berbagai spesifikasi khusus dalam menentukan pilihan dan melakukan persepsi pada iklan partai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.1 Definisi model SOSTAC dalam Iklan Partai.&lt;br /&gt;Karena sudah melakukan berbagai media yang berupa iklan maka partai tidak bisa lepas dari peran iklan dalamkaidah ilmu komunikasi, ekonomi, politik dan hukum. Partai sudah bicara iklan maka akan menerapkan peran teori-teori ekonomi dan Komunikasi seperti SOSTEC misalnya.&lt;br /&gt;SOSTAC adalah singkatan atau ringkasan tahapan-tahapan proses strategi pemasaran oleh Paul R. Smith (1990). SOSTAC terdiri dari :&lt;br /&gt;1.Situation Analysis. (Analisis Situasi) yang mana terdiri dari SWOT Analysis, PEST Analysis, Marketing Mix(bauran kebijakan) dan Competitive Position (posisi persaingan).&lt;br /&gt;2.Objectives. (obyektif) Kemana kita  akan pergi (Where do we want to go)? Terdiri dari : Ashridge Mission Model, 5 P’s Model, SMART.&lt;br /&gt;3.Strategy(strategi). Bagiamana kita mendapatkanya (How are we going to get there)? Terdiri dari : Market Segmentation (sekmentasi pasar) dan Positioning.&lt;br /&gt;4.Tactics (taktik). Yang lebih detail dari strategi. Berupa Tools (alat) dan Komunikasi (Communication).&lt;br /&gt;5.Actions (aksi) . Implementasi, pengambilan perencanaan kerja dalam Action Plan (perncanaan aksi) . Terdiri dari RACI Model, CSFs dan, KPIs&lt;br /&gt;6.Control(pengawasan). Track progress melalui pengukuran (measuring), pengawasan (monitoring), pengecekan (reviewing), penempatan (updating and modifying). Terdiri dari Kinerja manajemen (Performance Management) dan Blanced Scorecard.&lt;br /&gt;Keunikan metode SOSTAC adalah sederhana (simplicity). Pendekatan adalah memenuhi tahapan secara bersama-sama dalam menciptakan perencanaan pemasaran (marketing plan). Terdiri dari 5 C’s of Marketing Strategy (strategi pemasaran 5C), Feasibility Study (studi kelayakan), VMOST dan Customer Relationship Management (manajemen hubungan dengan pamilih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. SWOT&lt;br /&gt;Merupakan analisis dari Strength (kekuatan) , Weakness (Kelemahan), Oportunity (Peluang) dan threat (Ancaman). Merupakan analisis manajemen yang berdasarkan pada kepekaan terhadap lingkungan manajemen terutama marketing atau pasar pasar dalam hal ini adalah pemilih. &lt;br /&gt;Strength (Kekuatan) adalah berupa modal atau dana partai, kemampuan sumber daya manusia atau kualitas kader, teknologi, jaringan, dan brand image tau merek dalam hal ini kinerja partai apabila partai lama dan program serta perencanaan apabila mereka duduk pada lembaga pemerintahan yang dimiliki merupakan kekuatan yang dibutuhkan partai dalam mengembangkan diri dalam mencapai target atau sasaran yaitu memenangkan pemilu. &lt;br /&gt;Weakness (kelemahan) adalah berbagai macam kelemahan yang dimiliki perusahaan, seperti isu-isu negative yang muncul, jaringan yang terbatas, tenaga propaganda yang masih kurang mengakar dalam jaringan, serta kelemahan-kelemahan lain yang memungkinkan untuk menjadi kendala dalam meningkatkan target atau sasaran yang harus dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3 PEST&lt;br /&gt;PEST analysis adalah merupakan pola kerja dan strategi konsultan menggunakan pengamatan lingkungan makro eksternal (scan the external macro-environment) dalam setiap operasi mesin partai. PEST adalah singkatan dari : Political, Economic, Social and Technological (Politik, ekonomi, sosial da teknologi)&lt;br /&gt;PEST factors merupakan sebuah aturan main yang penting dalam strategi menciptakan peluang nilai kreasi dalam merebut pemilih dalam persaingan pada pemilihan umum. Meskipun bahasa selalu diluar kontrol dari partai dan harus normal terdiri dari kesempatan atau peluang lain. Bersama macro-economical factors (factor makro ekonomi) dapat berbeda tiap continental, negara atau suatu tempat, juga biasanya analisis PEST seharusnya dicitrakan tiap negara. Berikut ini terdapat contoh dari tiap faktor-faktor tersebut :&lt;br /&gt;1.Political (incl. Legal) /Politik (memasukkan hukum)&lt;br /&gt;Penelitian berjenjang Kebijakan lingkungan dan proteksi, pertumbuhan ekonomi,  distribusi pendapatan pemerintah.(Environmental regulations and protection Economic growth  Income distribution Government research spending) &lt;br /&gt;2.Economic (ekonomi)&lt;br /&gt;Kebijakan pajak, suku bunga dan moneter, kependudukan, tingkat pertumbuhan penduduk, pembagian usaha industri berfokus pada teknologi. (Tax policies Interest rates &amp; monetary policies Demographics, Population growth rates, Age distribution Industry focus on technological effort ) Menjadikan sesuatu yang menjadi sorotan dalam iklan kampanye.&lt;br /&gt;3.Social (Sosial)&lt;br /&gt;Kebijakan politik internasional  dan retriksi pemerintah, perlindungan tenaga kerja, mobilitas sosial, penemuan dan pengembangan teknologi baru. Pemberdayaan hukum, perlindungan dan advokasi pemilih. Kebijakan pengangguran, merubah gaya hidup, tingkat transfer teknologi, Hukum perburuhan, pajak tenaga kerja dan pengembangan perilaku semangat wira usaha. (International trade regulations and restrictions, Government spending Labor / social mobility, New inventions and development,  Contract enforcement law Consumer protection,   Unemployment policy, Lifestyle changes Rate of technology transfer,  Employment laws Taxation Work/career and leisure attitudes Entrepreneurial spirit)&lt;br /&gt;4.Technological (teknologi)&lt;br /&gt;Siklus hidup dan kecepatan dari perkembangan teknologi, organisasi pemerintah, tingkat perubahan perilaku pendidikan pengunaan energi dan biaya. Kebijakan persaingan, tingkat inflasi, fase  perubahan dalam teknologi informasi, tingkat stabilitas politik dari siklus bisnis, jaminan kesehatan dan kesejahteraan, naluri dari pengamanan perubahan dalam internet, kebijakan perlindungan kepercayaan pemilih, keyakinan hidup, kondisi teknologi yang dalam situasi bergerak. (Life cycle and speed of technological obsolescence  Government organization / attitude  Exchange rates Education Energy use and costs. Competition regulation Inflation rates Fashion, hypes (Changes in) Information Technology Political Stability Stage of the business cycle Health consciousness &amp; welfare, feelings on safety (Changes in) Internet , Safety regulations Consumer confidence Living conditions (Changes in) Mobile Technology )&lt;br /&gt;Melengkapi PEST Analysis adalah relatif sederhana dan dapat dikerjakan melalui pelatihan (via workshops) menggunakan teknik wawancara (brainstorming), survey pemilih dengan alat statitistik dengan ketepatan tinggi. . Penggunaan dari PEST analysis bisa bermacam-macam dari partai dan strategi perencanaan, perencanaan kampanye, pengembangan propaganda dan agitasi, dan catatan penelitian (company and strategic planning, marketing planning, business and product development, dan research reports.)&lt;br /&gt;Varian dari PEST Analysis selalu seperti SLEPT Analysis (plus Legal) or the STEEPLE Analysis: Social/demographic (sosial/kependudukan), Technological(teknologi), Economic(ekonomi), Environmental(lingkungan)/  natural(alam) , Political(politik), Legal (hukum) dan Ethical factors(factor etik). Juga Geographical factors (factor geografi) adalah signifikan.&lt;br /&gt;2.4 Competitive Position (Posisi Persaingan)&lt;br /&gt;Menggambarkan Posisi persaingan dari tingkat relatif dominan sebuah perusahaan dalam pasar membandingkan dengan kompetitor. Contohnya , Sebuah perusahaan memiliki target sebagai pemimpin pasar (market leader), atau tumbuh dari posisi ketiga menjadi dua, dalam pasar untuk penjualan pisang.&lt;br /&gt;Juga, bisa diindikasikan dalam tingkat pasar sebagai market leader, challenger, follower atau niche player. Atau mengekspresikan prosentase pangsa pasar.&lt;br /&gt;2.5 Management Berdasarakan Sasaran. (MBO)&lt;br /&gt;Deskripsi MBO menerangkan secar obyektif dari setiap kader dan membandingkan dan langsung selalu menggambarkan kinerja yang obyektif yang diatur. Peningkatan kinerja organisasional dengan menerapkan sasaran organisasi dengan obyektif dari subordinat melalui Organisasi. Idealya, kader memiliki kekuatan yang memasuk diidentifikasi secara obyektif, tepat dan lengkap, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Prinsip Management by Objectives (manajemen berdasarakan sasaran) adalah :&lt;br /&gt;Melalui tujuan organisasi (Cascading of organizational goals and objectives), Spesifikasi sasaran bagi anggota (Specific objectives for each member), membuat keputusan yang partisipatif (Participative decision making), periode waktu eksplisit (Explicit time period), dan evaluasi kinerja dan menghasilkan umpan balik (Performance evaluation and provide feedback).&lt;br /&gt;Management by Objectives (manajemen berdasrkan sasaran) juga mengitruduksi metode SMART untuk mengecek validitas dan obyektifitas. Yaitu : kusus (Specific), terukur (Measurable), prestasi (Achievable), nyata (Realistic), dan hubungan waktu (Time-related).&lt;br /&gt;Tahun 1990-an , Peter Drucker mengambil pengaruh dari metode manajemen organisasi kedalam perspektif, dimana ia berkata “It’s just another tool. It is not the great cure for management inefficiency. Management by Objectives works if you know the objectives, 90% of the time you don’t.” (tidak hanya satu-satunya alat. Yang tidak lebih besar untuk manajemn yang tidak efisien. Manajemen berdasarkan sasaran bekerja jika kita tahu sasarannya, 90% dari waktu bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2.6 Pengertian Pemasaran&lt;br /&gt; Marketing secara umum sering diterjemahkan dengan istilah pemasaran. Pemasaran itu sendiri sering diartikan dengan tindakan menjual barang atau jasa.&lt;br /&gt; Menurut Chartered Institute Of Marketing (2001) Pemasaran adalah proses manajemen yang bertanggung jawab untuk mengenali, mengantisipasi dan memuaskan keperluan pelanggan secara menguntungkan. Menurut Peter Drucker (1997),  Pemasaran adalah hal begitu mendasar sehingga tidak dapat dipandang sebagai fungsi yang terpisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Pembahasan &lt;br /&gt; Peran iklan partai dapan membentuk loyalitas apabila iklan itu efektif dan tidak hanya mengumbar janji belaka. Karena menghadapi kualitas pemilih yang makin kritis, dan pragmatis. Sehingga pemilih melihat pada bukti daripada janji-janji. Sdangkan pemilih memiliki loyalitas tertentu pada partai tertentu karena ikatan emosional, ikatan sejarah, ideology  dan ikatan kepentingan.&lt;br /&gt; Perkembangan partai modern dan terbuka membawa situasi bahwa orang dapat keluar masuk pada partai apa saja, tergantung pada kualitas individu, sehingga kader partai sebagai bentuk dari produk partai adalah cukup mempengaruhi perolehan suara partai. Sehingga ada perkembangan baru dari partai modern bahwa partai tidak merupakan variabel utama mendongkrak popularitas seseorang. Sedangkan sebaliknya kualitas seorang kader akan mendongkrak perolehan suara partai.&lt;br /&gt; Tanpa kader yang berkualitas partai tidak akan memperoleh suara yang cukup mendokrak suara mereka. Dan hal ini mendorong partai untuk menciptakan kader-kader berkualitas atau mengambil orang-orang yang diluar partai tapi mendorong kualitas partai.&lt;br /&gt; Namun factor capital dan nepotisme menjadikan seseorang untuk duduk menjadi kader dan wakil partai, sehingga mereka menganggap uang adlah segalanya dan mendongkrak suara di tengah masyarakat yang pragmatis.&lt;br /&gt; Tantangan partai karena ketidak percayaan pemilih akan menyulitkan iklan partai dalam mempertahankan image atau brand atau performa mereka. Oleh karena itu partai harus memberikan criteria-kriteria yang terukur oleh pemilih. Karena pemebriataan dan janji yang tidak dipenuhi akan mendorong pemilih untuk meninggalkan partai.&lt;br /&gt; Berbagai bentuk kepercayaan sangat dibutuhkan oleh pemilih untuk memiliki loyalitas, karena pemilih akan memiliki ukuran loyalitas yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Aaker. 1992. “Managing The Most Important Asset; Brand Equity; Strategy &amp; Leadrship”, September / Oktober 1992; 2005; ABI/INFORM Global pg.56.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Collin V. Sowter ,1997,”Marketing Management”, Erlangga Press. 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmadi., Sugiarto &amp; Budiman. 2004. "Brand Equity Ten: Strategi Memimpin Pasar". Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmadi., Sugiarto dan Tony Sitinjak. 2001. "Strategi Menaklukkan Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek": Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Davis, Scott M, 2000, Brand asset Management: driving profitable growth through your brands, San Francisco California, Jossey Base, Inc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, Kinorika. 2003, "Menciptakan Brand Equity Melalui Kepuasan Pelanggan". Jurnal. Janavisi. Vol. 6, No. 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faircloth B. James; Louis M Capella; Bruce L. Alford, 2001, "The Effect of Brand Attitude and Brand Image on Brand Equity", Journal of Marketing Theory and Practice, Summer, 61-75.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferdinand, Augusty T., 2000, Manajemen Pemasaran Sebuah Pendekatan Strategik, Research Paper Series, Program Magister Manajemen, Universitas Diponegoro, Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayat, Taufik, 2006, “ICSA index 2006: Pertaruhan Para Pemenang Kepuasan Pelanggan,” Majalah Swa, 20/xx/21/21 September – 4 Oktober 2006, Hal 31. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humdiana., 2005. "Analisis Elemen-Elemen Ekuitas Merek Produk Rokok Merek Djarum Black". Jurnal Ekonomi Perusahaan., vol. 12, No. 1, Maret 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo, 1999, Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. BPFE. Yogyakarta.&lt;br /&gt;Keller, K.L. 1993. "Conceptualization, Measuring, and Managing Customer­based Brand Equity". Journal of Marketing, Vol. 57, January, pp. 1-22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------,2003 , "Strategic Brand Management: Building, Measuring, and Managing Brad Equity, 2th edition, New Jersey, Prentice Hall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotler, Phillip, 1997, Manajemen Pemasaran, Jilid 2. Prenhalindo. Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muafi., dan Irhas Effendi. 2001. "Mengelola Ekuitas Merek: Upaya Memenangkan Persaingan di Era Global". Jurnal. EKOBIS, Vol. 2, No. 3, September 2001, pp. 129-139.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicolino, Patricia. F. 2001. “The Complete Idiot's Guide to Brand Management”. Alpha Books, Indianapolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Park, Chan Su; Srinivasan, V., (1994), "A Survey-Based Method for Measuring and Understanding Brand", Journal of Marketing Research, Vol. XXXI, 271-288.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Drucker,1997, ”Marketing Management”   Lembang Empat, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkuti, Freddy. 2002. The Power of Brand; Teknik Mengelola Brand Equity dan Strategi Pengembangan Merek. Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simamora, Bilson. 2002. "Aura Merek: Tujuh Jurus Membangun Merek yang Kuat". Jumal Ekonomi Perusahaan. 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitinjak, Tony., Tumpal (2005), "Pengaruh Citra Merek dan Sikap Merek terhadap Ekuitas Merek', Jurnal Ekonomi Perusahaan, Vol. 12 No. 2 Juni, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugiarto., dan Ellen Christina. 2004. "Menyingkap Korelasi Elemen-Elemen Ekuitas Merek Sebagai Dasar Penetapan Strategi Pemasaran Produk". Jurnal Ekonomi Perusahaan, Vol. 11, No. 2, Juni 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supranto J. , 1993,”Metode  Peramalan Kuantitatif untuk Perencanaan”, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta., 1993.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-2133403219096478543?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/2133403219096478543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/03/efektifitas-iklan-partai-dalam-pemilu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/2133403219096478543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/2133403219096478543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/03/efektifitas-iklan-partai-dalam-pemilu.html' title='EFEKTIFITAS IKLAN PARTAI DALAM PEMILU 2009 PADA MEDIA MASA'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-8366807265344716268</id><published>2009-03-10T03:02:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T03:04:53.013-07:00</updated><title type='text'>Quo Fadis Pendidikan Nasional Indonesia</title><content type='html'>Quo Fadis Pendidikan Nasional Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan.&lt;br /&gt;Pendidikan saat ini merupakan kebutuhan yang tak dapat ditinggalkan oleh siapapu. Tak kalah pentingnya darikebutuhan lain seperti sandang, pangan dan papan. Bahkan kebutuhan akan pendidikan adalah erupakan kebutuhan yang menjadi sangat utama bagi seluruh rakyat Indonesia. Dimana kesadaran untuk mengenyam pendidikan saat ini sudah cukup tinggi. Bahkan kadang-kadang mengeluarkan biaya yang tidak rasional untuk mencapai pendidikan yang diinginkan.&lt;br /&gt;Namun apakah dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan pemerataan pendidikan yang makin merata akan semakin meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri. Bahkan apakah justru mengalami disitegrasi dan disorientsi dari pendidikan itu snediri. Karena tanpa diikuti oleh kualitas pendidikan berupa fasilitas yang memenuhi syarat akan menigkatkan kualitas rakyat Indonesia yang semakin sadar akan pentingnya pendidikan tersebut. &lt;br /&gt;Berdasarkan lapora kabinet Indonesia Bersatu dalam angka diperoleh laporan data pendidikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Perluasan akses pendidikan serta peningkatan mutu dan manajemen pelayanan pendidikan Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada tahun 2008 adalah 50,47%. Angka Partisipasi Murni (APM) SD dan sederajat adalah 95%, APK SMP 95%, APK SMA 64,20%, APK Perguruan Tinggi 18,5%, dan angka buta aksara mencapai angka 6,22%.&lt;br /&gt;2. Anggaran pendidikan terus meningkat dari tahun 2005 sebesar 75,1 trilyun rupiah; tahun 2006 sebesar 122,9 trilyun; tahun 2007 sebesar 142,2 trilyun; tahun 2008 sebesar 154,2 trilyun rupiah. Meningkat dalam panca warsa terakhir.&lt;br /&gt;3. Jumlah sekolah terus meningkat dari tahun ke tahun  dimana jumlah PT sudah mencapai 2.638 PT di Indonesia.&lt;br /&gt;4. Anggaran BOS terus meningkat dari tahun 2005 (5,1 trilyun rupiah; 39,6 juta siswa) meningkat pada tahun 2008   (11,9 trilyun rupiah; 41,9 juta siswa) yang memperoleh BOS.&lt;br /&gt;Namun besarnya peningkatan berbagai macam ideks pelayanan pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tengah globalisasi. Dimana paradigma pendidikan kita membutuhkan perbaikan yang mendasar tentang sistem dan pola penidikan yang lebih ada dimana kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu pesat.&lt;br /&gt;Berjuta-juta lulusan pendidikan tak mampu untuk ditampung dalam lapangan kerja dalam sistem pemerintahan yang liberal dan demokrasi saat ini. Sehingga persaingan lebih berlangsung bebas dan cenderung tidak sehat, sehingga pendidikan hanya menjadi legalitas untuk dapat bersaing dalam memenuhi lapangan kerja yang diinginkan baik di dalam pemerintahan atau akses-akses kekuasaan lainnya.&lt;br /&gt;Karena paradigma yang keliru tentang pendidikan nasional maka melahirkan berbagai macam dampak pendidikan yang tidak dapat menciptakan lapangan kerja baru, sehingga terjadi disinvestasi pendidikan nasonal, sehingga pemerintah semakin enggan untuk menanggung biaya pendidikan bagi rakyatnya, akibatnya karena factor keandirian pembiayaan pendidikan ini akan mengakibatkan mahalnya biaya pendidikan yang berdampak pada mahalnya biaya pendidikan. Belum lagi tingginya angka pengannguran di Indonesia.&lt;br /&gt;Tingkat pengangguran di Indonesia adalah mencapai 8,5%  pada bulan februari 2008. Ini belum tergolong pada pengangguran setengah menganggur, hal ini merupakan tugas pemerintah yang cukup berat, dimana angka pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja terus meningkat dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah sedangkan semua rakyat berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan penghidupan yang sesuai dengan kemampuan dan kualitas hidup sesuai dengan kealitas sumber daya manusia yang dimiliki. Pemerintah tidak dapat lepas begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sejarah Pendidikan Nasional di Indonesia. &lt;br /&gt;Pendidikan nasional di Indonesia merupakan buah dari politik etis dari pemerintah Hindia Belanda pada waktu jaman penjajahan Belanda, Dimana pemerintah Belanda membuka kesempatan bagi bangsa Pribumi untuk mengikuti pendidikan belanda, untuk kebutuhan tenaga administrasi pemerintah Hindia Belanda.&lt;br /&gt;Pendidikan ini awalnya adalah diikuti oleh kaum elit yang meningkat pada kesadaran akan keinginan menjadi bangsa berdaulat. Sehingga perjuangan melawan penjajah tersebut melahirkan kepeloporan pada elit pribumi yang mampu mentransformasikan pendidikan pada rakyat jelata melalui sekolah rakyat.&lt;br /&gt;Namun paradigma pendidikan pemerintah hindia Belanda tersebut melahirkan pardigma pendidikan yang masih mengikuti pola pendidikan Belanda sampai dengan kemerdekaan, dan psca kemerdekaan sampai saat ini.&lt;br /&gt;Berjuta-juta rakyat Indonesia memperoleh kesematan untuk m,eraih pendidikan, bahkan dengan dilakukannya wajib belajar dan pembebasan buta akasara.&lt;br /&gt;Namun esensi pendidikan bukan itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pendidikan Sudah Ada Sejak Manusia Ada.&lt;br /&gt;Pendidikan sudah ada sejak adanya manusia, pada saat manusia ada itulah manusia di beri pola piker dan mengetahui keadaan alam. Mereka mengingat-ingat setiap kejadian alam untuk ditularkan pada yang lainnya dan generasi berikunya. Sehingga orang akan tahu akan suatu hal baik tidak, bahaya atau tidak dari pendidikan dasar dari mulut ke mulut tersebut.&lt;br /&gt;Pengetahuan yang diberikan secara turun- temurun tersebut sebenarnya adalah yang disebut pendidikan itu sendiri, dan mereka saling mengajarkan, lahir kebudayaan untuk mengatasi keadaan alam. Lahir pulalalh berbagai macam pengetahuan dena berkembang sesuai peradaban manusia.&lt;br /&gt;Sebenarnya pendidikan tidak formal saja, namun juga pendidikan non formal yaitu dari lingkungan baik masyarakat atau keluarga. Sebenarnya pendidikan adalah diberikan dan diperoleh dari masing-masing orang yang saling mengetahui. Pendidikan formalpun lahir dari  kebiasaan informaltersebut.&lt;br /&gt;Namun kekuasaan kerajaan dan pemerintahan mampu mentrnsformasikan pendidikan formal bagi putra-putra raja yang akan meneruskan kekuasaan orang tua mereka. Maka lahirlah pendikan ketatanegaraan, ilmu berperang dan berstrategi, kesejahteraan dan etika yang muncul dari dalamtubuh istana, namun selanjutnya nberkembang bagi keluraga bengsawan.&lt;br /&gt;Revolusi IndUSTRI TeLah melahirkan kelas baru yang melahirkan kaum Industrialis, sehingga melahirkan industriawan dan kaumkapitalis serta borjuis. Perkembangan demokrasi selanjutnya pendidikan menjadi hgak bagi seluruh rakyat yang mampu mebiayai pendidikan, disertai dengan semakin pudarnya kela sosial secara formal. &lt;br /&gt;Maka terbuktilah teori soialisme ilmiah Mark yang mampu menjawab bahwa setiap rakyat memiliki hak yang sama-rata dalam hal pendidikan. Pendidikan menjadi sebuah proses pencerahan dan pembentukan berbagai macam kesadaran sebagai manusia yang meiliki hak hidup dan memperoleh kesempatan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengapa Pendidikan Mahal.&lt;br /&gt;Karena pendidikan menjadikan masyarakat pada kelas sosial yang tertentu maka lahirlah bentuk kesadaran untuk memperoleh pendidikan bagi semua orang. Sehingga apapun akan dikorbankan untuk memperoleh pendidikan serta kesempatan dalam memperoleh kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Namun perkembangannya pendidikan yang cukup memamdahipun tidak memberi peluang bagi siapa saja yang  memperoleh pendidikan yang cukup dan memamdahi. Karena semakin besarnya tingkat persaingan dankecerdasan tiap manusia. Sehingga pendidikan menjadi kebutuhan dan menjadi sebuah komoditi yang cukup mahal dan memiliki permintaan yang cukup tinggi.&lt;br /&gt;Namun apbila pendidikan tidak dapat memenenuhi peningkatan kualitas sumber daya manusia akan mencapai keseimbangan di masa depan. Karena kesempatan memperoleh pendidikan semakin lebar dengan akses informasi dan teknologi yang ada. Maka kesempatan memperoleh pendidikan menjadi banyak alternatif, sehingga orang lebih membutuhkan esensi pendidikan daripada formalisasi pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;Jaman selalu berubah mengikuti perekebangan teknologi seni dan budaya, sedang pendidikan merupakan bagian dari teknologi, seni dan budaya tersebut. Peningkatan kualitas pendidikan juga dibutuhkan bagi lembaga formal pendidikan atas persaingan saat ini, atau akan ditinggalkan oleh rakyat sendiri, karena lingkungan telah memberi penidikan yang cukup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-8366807265344716268?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/8366807265344716268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/03/quo-fadis-pendidikan-nasional-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/8366807265344716268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/8366807265344716268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/03/quo-fadis-pendidikan-nasional-indonesia.html' title='Quo Fadis Pendidikan Nasional Indonesia'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-2418100528710133844</id><published>2009-02-09T23:36:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T23:37:21.482-08:00</updated><title type='text'>PERILAKU MENYIMPANG, GANGGUAN PSIKIATRIK, DAN KENAKALAN ANAK-ANAK DAN REMAJA  SOLUSI DAN CARA MEENGATASINYA</title><content type='html'>PERILAKU MENYIMPANG, GANGGUAN PSIKIATRIK,&lt;br /&gt;DAN KENAKALAN ANAK-ANAK DAN REMAJA &lt;br /&gt;SOLUSI DAN CARA MEENGATASINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;Era globalisasi telah membuat kehidupan mengalami perubahan yang signifikan, bahkan terjadi degradasi moral dan sosial budaya yang cenderung kepada pola-pola perilaku menyimpang.&lt;br /&gt;Hal ini sebagai dampak pengadopsian budaya luar secara berlebihan dan tak terkendali oleh sebagian remaja kita. Persepsi budaya luar ditelan mentah-mentah tanpa mengenal lebih jauh nilai-nilai budaya luar secara arif dan bertanggung jawab. (Sulis Styawan, 2007)&lt;br /&gt;Tak dimungkiri pula, kehadiran teknologi yang serba digital dewasa ini banyak menjebak remaja kita untuk mengikuti perubahan ini. Hal ini perlu didukung dan disikapi positif mengingat kemampuan memahami pengetahuan dan teknologi adalah kebutuhan masa kini yang tidak bisa terelakkan. Namun, filterisasi atas merebaknya informasi dan teknologi super canggih melalui berbagai media komunikasi seringkali terlepas dari kontrol.&lt;br /&gt;Pola perilaku budaya luar (baca: pengaruh era global), sering kali dianggap sebagai simbol kemajuan dan mendapat dukungan berarti di kalangan remaja. Kemajuan informasi dan teknologi telah membawa ke arah perubahan konsep hidup dan perilaku sosial. Pengenalan dan penerimaan informasi dan teknologi tumbuh pesat bahkan menjadi kebutuhan hidup.&lt;br /&gt;Perlu kiranya menjadi keprihatinan bersama, sekaligus menaruh perhatian lebih bila mengamati dan menjumpai sebagian dari remaja yang makin  menikmati dan menghabiskan masa remajanya dengan kegiatan yang kurang berfaedah bahkan sama sekali tak berguna demi masa depannya. Sungguh ironis, kala daya tarik pendidikan dan pengetahuan yang mestinya wajib didapatkan oleh para remaja, malah justru menjadi momok yang menakutkan dan memicu kebencian.&lt;br /&gt; Perlu pula kiranya memformulasikan kebutuhan pendidikan (akhlak, ilmu pengetahuan, teknologi, mental dan lain-lain) yang lebih mendekati kepada kepentingan riil anak remaja masa kini. Tidak sekadar mengadopsi pola-pola atau cara-cara budaya negara-negara sekuler, sementara sering mengesampingkan nilai-nilai moral dan mental generasi remaja.&lt;br /&gt;Masalahnya sejauh mana nilai positif dari kemajuan tersebut mampu dipilih dan dipilah secara cermat dan bertanggungjawab oleh remaja. Ini sangat urgen, karena persoalannya menyangkut masa depan remaja itu sendiri dan bisa jadi negara tercinta ini, akan kehilangan satu mata rantai generasi penerus (the loss generation). Jika hal ini benar-benar terjadi, maka dalam tataran ini, siapa yang harus dipersalahkan?&lt;br /&gt;Memang, sebagai bagian dari masalah sosial, kenakalan remaja merupakan masalah yang serius karena akan mengancam kehidupan suatu bangsa. Penyakit remaja muncul sebagai akibat melemahnya pengertian dan kewaspadaan terhadap kebutuhan dan permasalahan usia remaja itu sendiri. Sifat-sifat sulit diatur, berontak, merajuk, kumpul-kumpul, suka meniru, mulai jatuh cinta, hura-hura dan sebagainya, adalah rangkaian pola perilaku yang selalu muncul membayangi sisi kehidupan remaja.&lt;br /&gt;Jika tidak dikontrol dan diawasi, hal ini tentu dapat memicu timbulnya masalah sosial, di mana tercipta situasi yang kurang atau tidak mengenakkan dalam masyarakat. Contoh perilaku remaja yang mengindikasikan timbulnya permasalahan sosial bagi lingkungan sekitarnya seperti: kebiasaan merusak fasilitas umum dan sosial, coret-coret dinding, minum minuman beralkohol, tawuran antar remaja, kebut-kebutan di jalan raya dan bahkan sampai pada perilaku seks bebas (free sex) dan pemakaian obat-obatan terlarang. Kondisi ini ada bukan untuk dimusuhi atau dijauhi, tetapi mesti dipahami dan didekati karena merupakan integritas remaja di dalam menemukan identitas diri dan pengakuan pribadinya.&lt;br /&gt;Mengamati dan memahami pola-pola perilaku remaja yang memang sangat rumit dan tinggi kompleksitasnya, maka sebelum terlambat, segenap potensi sosial yang tersedia harus diarahkan dan diupayakan secara terpadu dan berkesinambungan untuk melibatkan perannya. Penanganan permasalahan kenakalan remaja pun tidak hanya ditekankan pada remaja itu sendiri, melainkan multi dimensi. Ada beberapa aspek yang dapat dijadikan perhatian dalam memahami perilaku menyimpang remaja.&lt;br /&gt;YMasalah Remaja Di Sekolah Remaja yang masih sekolah di SLTP/ SLTA selalu mendapat banyak hambatan atau masalah yang biasanya muncul dalam bentuk perilaku. Gangguan perilaku tersebut adalah merupakan gangguan kejiwaan atau psikologis yang tidak dapat terdeteksi begitu saja. Banyak aspek yang menyebabkannya baik aspek psikologis, lingkungan maupun kejiwaan.&lt;br /&gt;Gangguan jiwa pada anak-anak merupakan hal yang banyak terjadi, yang umumnya tidak terdiagnosis dan pengobatannya kurang adekuat. Masalah kesehatan jiwa terjadi pada 15% sampai 22% anak-anak dan remaja, namun yang mendapatkan pengobatan jumlahnya kurang dari 20% (Keys, 1998). Karena gangguan ini sering tidak dianggap serius seperti gangguanm yang bersidat fisik atau jasmaniah, karena kondisi sosial masyarakat sekarang ini masih krang memperhatikan maslah kejiwaan.  &lt;br /&gt;Krisis ekonomi saat ini karena kesulitan masyarkat adalah mengatasi kebutuhan ekonomi sebagai kebutuhan fisik sehingga tidak mempu berkonsentrasi pada masalah-masalah psikologis yang bersifat sekunder bahkan tertier. Maslah psikologis baru dipikirkan setelah dampaknya cukup meresahkan masyarakat dan lingkungan. Perhatian keluarga pada anak menjadi berkurang karena kebutuhan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga perhatian orang tua terhadap keluarga menjadi berkurang. Akibatnya muncul kenakalan keluarga dan penyimpangan pada anak dan remaja terjadi.&lt;br /&gt;Gangguan hiperaktivitas-defisit perhatian (ADHD/ Attention Deficit-Hyperactivity Disorder) adalah gangguan kesehatan jiwa yang paling banyak terjadi pada anak-anak, dimana insidensinya diperkirakan antara 6% sampai 9%.&lt;br /&gt;Diagnosis gangguan jiwa pada anak-anak dan remaja adalah perilaku yang tidak sesuai dengan tingkat usianya, menyimpang bila dibandingkan dengan norma budaya, yang mengakibatkan kurangnya atau terganggunya fungsi adaptasi (Townsend, 1999). Dasar untuk memahami gangguan yang terjadi pada anak-anak, dan remaja adalah dengan menggunakan teori perkembangan. Penyimpangan dari norma-norma perkembangan merupakan tanda bahaya penting adanya suatu masalah.&lt;br /&gt;Gangguan spesifik pada masa kanak-kanak meliputi retardasi mental, gangguan perkembangan, gangguan perkembangan, gangguan eliminasi, gangguan perilaku disruptif, dan gangguan ansietas. Gangguan yang terjadi pada anak-anak dan juga terjadi pada masa dewasa adalah gangguan mood dan gangguan psikotik. Gejala-gejala gangguan jiwa pada anak-anak atau remaja berbeda dengan orang dewasa yang mengalami gangguan serupa. &lt;br /&gt;Masalah sosial yang dikategorikan dalam perilaku menyimpang diantaranya adalah kenakalan remaja. Untuk mengetahui tentang latar belakang kenakalan remaja dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual, individu sebagai satuan pengamatan sekaligus sumber masalah. Untuk pendekatan sistem, individu sebagai satuan pengamatan sedangkan sistem .&lt;br /&gt;Masa remaja adalah masa-masa yang paling indah. pencarian jati diri seseorang terjadi pada masa remaja. namun, di masa remaja seseorang dapat terjerumus ke dalam kehidupan yang dapat merusak masa depan mereka. memakai narkoba, seks bebas, alkohol, dan kekerasan merupakan kenakalan yang sering dilakukan oleh anak remaja. narkoba adalah bentuk kenakalan yang sangat berbahaya bagi remaja. ketergantungan pada narkoba bisa membawa anak pada tindakan kriminal. untuk bisa memperolehnya, tak tanggung-tanggung mereka melakukan tindakan pencurian, penodongan, perampasan dan lain sebagainya. selain dengan narkoba, remaja juga dekat dengan seks bebas. seks bebas dapat menyebabkan berbagai penyakit pada remaja. diantaranya adalah penyakit kelamin dan HIV Aids. seks bebas juga dapat menyebabkan kehamilan yang dapat merusak masa depan mereka. &lt;br /&gt;Alkohol juga sangat dekat dengan remaja. biasanya mereka minum-minuman keras untuk melupakan masalah yang terjadi pada diri mereka dan supaya mereka disegani oleh teman sebayanya. tindakan tersebut dapat memicu adanya tindakan kriminal yang dilakukan di luar kesadaran. selain dengan alkohol, remaja juga dekat  dengan tindakan kekerasan. tindakan kekerasan itu dapat berupa tawuran antar pelajar. tawuran antar remaja tersebut biasanya terjadi karena kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat. Untuk menghindarkan kebiasaan negatif pada diri remaja perlu dilakukan penyuluhan. penyuluhan dapat dijadikan sebagai tempat pemberitahuan bahaya dan akibat dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang tersebut.&lt;br /&gt;2. Landasan Teori.&lt;br /&gt;2.1 Masalah yang Selau dihadapi Remaja&lt;br /&gt;Berikut ada lima daftar masalah yang selalu dihadapi para remaja di sekolah :  &lt;br /&gt;1. Perilaku Bermasalah (problem behavior). &lt;br /&gt;Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak perilaku bermasalah yang dilakukan remaja akan menghambat dirinya dalam proses sosialisasinya dengan remaja lain, dengan guru, dan dengan masyarakat. Perilaku malu dalam dalam mengikuti berbagai aktvitas yang digelar sekolah misalnya, termasuk dalam kategori perilaku bermasalah yang menyebabkan seorang remaja mengalami kekurangan pengalaman. Jadi problem behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada seorang remaja di sekolah akibat perilakunya sendiri. &lt;br /&gt;2. Perilaku menyimpang (behaviour disorder). &lt;br /&gt;Perilaku menyimpang pada remaja merupakan perilaku yang kacau yang menyebabkan seorang remaja kelihatan gugup (nervous) dan perilakunya tidak terkontrol (uncontrol). Memang diakui bahwa tidak semua remaja mengalami behaviour disorder. Seorang remaja mengalami hal ini jika ia tidak tenang, unhappiness dan menyebabkan hilangnya konsentrasi diri.&lt;br /&gt;Perilaku menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih banyak karena persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya. &lt;br /&gt;3. Penyesuaian diri yang salah (behaviour maladjustment). &lt;br /&gt;Perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya. Perilaku menyontek, bolos, dan melangar peraturan sekolah merupakan contoh penyesuaian diri yang salah pada remaja di sekolah menegah (SLTP/SLTA). &lt;br /&gt;4. Perilaku tidak dapat membedakan benar-salah (conduct disorder).&lt;br /&gt;Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar dan salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Penyebabnya, karena sejak kecil orangtua tidak bisa membedakan perilaku yang benar dan salah pada anak. Wajarnya, orang tua harus mampu memberikan hukuman (punisment) pada anak saat ia memunculkan perilaku yang salah dan memberikan pujian atau hadiah (reward) saat anak memunculkan perilaku yang baik atau benar. Seorang remaja di sekolah dikategorikan dalam conduct disorder apabila ia memunculkan perikau anti sosial baik secara verbal maupun secara non verbal seperti melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya . Selain itu, conduct disordser juga dikategorikan pada remaja yang berperilaku oppositional deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang ditunjukkan remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Attention Deficit Hyperactivity disorder, &lt;br /&gt;Attention Deficit Hyperactivity disorder yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang hyperactif biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan lawan bicaranya. Selain itu, anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan temannya. &lt;br /&gt;2.2. Jenis Gangguan Jiwa Anak-anak.&lt;br /&gt;2.2.1. Gangguan perkembangan pervasif. &lt;br /&gt;Ditandai dengan masalah awal pada tiga area perkembangan utama: perilaku, interaksi sosial, dan komunikasi.&lt;br /&gt;a. Retardasi mental. &lt;br /&gt;Muncul sebelum usia 18 tahun dan dicirikan dengan keterbatasan substandar dalam berfungsi, yang dimanifestasikan dengan fungsi intelektual secara signifikan berada dibawah rata-rata (mis., IQ dibawah 70) dan keterbatasan terkait dalam dua bidang keterampilan adaptasi atau lebih (mis., komunikasi, perawatan diri, aktivitas hidup sehari-hari, keterampilan sosial, fungsi dalam masyarakat, pengarahan diri, kesehatan dan keselamatan, fungsi akademis, dan bekerja. &lt;br /&gt;b. Autisme &lt;br /&gt;Dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas (Johnson, 1997). Gejala-gejalanya meliputi kurangnya responsivitas terhadap orang lain, menarik diri dari hubungan sosial, kerusakan yang menonjol dalam komunikasi, dan respon yang aneh terhadap lingkungan (mis., tergantung pada benda mati dan gerakan tubuh yang berulang-ulang seperti mengepakkan tangan, bergoyang-goyang, dan memukul-mukulkan kepala)&lt;br /&gt;c. Gangguan perkembangan spesifik&lt;br /&gt;Dicirikan dengan keterlambatan perkembangan yang mengarah pada kerusakan fungsional pada bidang-bidang, seperti membaca, aritmetika, bahasa, dan artikulasi verbal.&lt;br /&gt;2.2.2 Defisit perhatian dan gangguan perilaku disruptif.&lt;br /&gt;a. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)&lt;br /&gt;Dicirikan dengan tingkat gangguan perhatian, impulsivitas, dan hiperaktivitas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan. Menurut DSM IV, ADHD pasti terjadi di sedikitnya dua tempat (mis., di sekolah dan di rumah) dan terjadi sebelum usia 7 tahun (DSM IV, 1994).&lt;br /&gt;b. Gangguan perilaku&lt;br /&gt;Dicirikan dengan perilaku berulang, disruptif, dan kesengajaan untuk tidak patuh, termasuk melanggar norma dan peraturan sosial. Sebagian besar anak-anak dengan gangguan ini mengalami penyalahgunaan zat atau gangguan kepribadian antisosial setelah berusia 18 tahun. Contoh perilaku pada anak-anak dengan gangguan ini meliputi mencuri, berbohong, menggertak, melarikan diri, membolos, menyalahgunakan zat, melakukan pembakaran, bentuk vandalisme yang lain, jahat terhadap binatang, dan serangan fisik terhadap orang lain.&lt;br /&gt;c. Gangguan penyimpangan oposisi&lt;br /&gt;Gangguan ini merupakan bentuk gangguan perilaku yang lebih ringan, meliputi perilaku yang kurang ekstrim. Perilaku dalam gangguan ini tidak melanggar hak-hak orang lain sampai tingkat yang terlihat dalam gangguan perilaku. Perilaku dalam gangguan ini menunjukkan sikap menentang, seperti berargumentasi, kasar, marah, toleransi yang rendah terhadap frustasi, dan menggunakan minuman keras, zat terlarang, atau keduanya).&lt;br /&gt;3. Gangguan ansietas sering terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut ke masa dewasa.&lt;br /&gt;Gangguan ansietas sering terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut ke masa dewasa biasanya berupa :&lt;br /&gt;Gangguan obsesif kompulsif, gangguan ansietas umum, dan fobia banyak terjadi pada anak-anak dan remaja, dengan gejala yang sama dengan yang terlihat pada orang dewasa.&lt;br /&gt;Gangguan ansietas akibat perpisahan adalah gangguan masa kanak-kanak yang ditandai dengan rasa takut berpisah dari orang yang paling dekat dengannya. Gejala-gejalanya meliputi menolak pergi ke sekolah, keluhan somatik, ansietas berat terhadap perpisahan dan khawatir tentang adanya bahaya pada orang-orang yang mengasuhnya.&lt;br /&gt;4. Skizofrenia.&lt;br /&gt; Lebih jauh dapat dijelaskan sebagai berikut : &lt;br /&gt;Skizofrenia anak-anak jarang terjadi dan sulit didiagnosis. Gejala-gejalanya dapat menyerupai gangguan pervasif, seperti autisme. Walaupun penelitian tentang skizofrenia anak-anak sangat sedikit, namun telah dijumpai perilaku yang khas (Antai-Otong, 1995b), seperti beberapa gangguan kognitif dan perilaku, menarik diri secara sosial, dan komunikasi.&lt;br /&gt;Skizofrenia pada remaja merupakan hal yang umum dan insidensinya selama masa remaja akhir sangat tinggi. Gejala-gejalanya mirip dengan skizofrenia dewasa. Gejala awalnya meliputi perubahan ekstrim dalam perilaku sehari-hari, isolasi sosial, sikap yang aneh, penurunan nilai-nilai akademik, dan mengekspresikan perilaku yang tidak disadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Gangguan mood.&lt;br /&gt; Biasanya dapat dijelaskan berupa hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;Gangguan ini jarang terjadi pada masa anak-anak dan remaja dibanding pada orang dewasa (Keltner,1999). Prevalensi pada anak-anak dan remaja berkisar antara 1% sampai 5% untuk gangguan depresi. Eksistensi gangguan bipolar (jenis manik) pada anak-anak masih kontroversial. Prevalensi penyakit bipolar pada remaja diperkirakan 1%. Gejala depresi pada anak-anak sama dengan yang diobservasi pada orang dewasa.&lt;br /&gt;Bunuh diri. Adanya gangguan mood merupakan faktor resiko yang serius untuk bunuh diri. Bunuh diri adalah penyebab kematian utama ketiga pada individu berusia 15 sampai 24 tahun. Tanda-tanda bahaya untuk bunuh diri pada remaja meliputi menarik diri secara tiba-tiba, berperilaku keras atau sangat memberontak, menyalahgunakan obat atau alkohol, secara tidak biasanya mengabaikan penampilan diri, kualitas tugas-tugas sekolah menurun, membolos, melarikan diri, keletihan berlebihan dan keluhan somatik, respon yang buruk terhadap pujian, ancaman bunuh diri yang terang-terangan secara verbal, dan membuang benda-benda yang didapat sebagai hadiah (Newman, 1999).&lt;br /&gt;6. Gangguan penyalahgunaan zat.&lt;br /&gt;Gangguan ini banyak terjadi; diperkirakan 32% remaja menderita gangguan penyalahgunaan zat (Johnson, 1997). Angka penggunaan alkohol atau zat terlarang lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding perempuan. Risiko terbesar mengalami gangguan ini terjadi pada mereka yang berusia antara 15 sampai 24 tahun. Pada remaja, perubahan penggunaan zat menjadi ketergantungan zat terjadi lebih cepat; misalnya, pada remaja penggunaan zat dapat berkembang menjadi ketergantungan zat dalam waktu 2 tahun sedangkan pada orang dewasa membutuhkan waktu antara 15 sampai 20 tahun. &lt;br /&gt;Komorbiditas dengan gangguan psikiatrik lainnya merupakan hal yag banyak terjadi, termasuk gangguan mood, gangguan ansietas, dan gangguan perilaku disruptif.&lt;br /&gt;Tanda bahaya penyalahgunaan zat pada remaja, diantaranya adalah penurunan fungsi sosial dan akademik, perubahan dari fungsi sebelumnya, seperti perilaku menjadi agresif atau menarik diri dari interaksi keluarga, perubahan kepribadian dan toleransi yang rendah terhadap frustasi, berhubungan dengan remaja lain yang juga menggunakan zat, menyembunyikan atau berbohong tentang penggunaan zat.&lt;br /&gt;2.2.3 Etiologi Gangguan Psikiatrik pada Anak-anak dan Remaja&lt;br /&gt;Tidak ada penyebab tunggal dalam gangguan mental pada anak-anak dan remaja. Berbagai situasi, termasuk faktor psikobiologik, dinamika keluarga, dan faktor lingkungan berkombinasi secara kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Faktor-faktor psikobiologik.&lt;br /&gt;Faktor-faktor psikobilogik biasanya akibat :&lt;br /&gt;Riwayat genetika keluarga, seperti retardasi mental, autisme, skizofrenia kanak-kanak, gangguan perilaku, gangguan bipolar, dan gangguan ansietas.&lt;br /&gt;Abnormalitas struktur otak. Penelitian menemukan adanya abnormalitas struktur otak dan perubahan neurotransmitter pada pasien yang menderita autisme, skizofrenia kanak-kanak, dan ADHD.&lt;br /&gt;Pengaruh pranatal, seperti infeksi maternal, kurangnya perawatanm pranatal, dan ibu yang menyalahgunakan zat, semuanya dapat menyebabkan abnormalitas perkembangan saraf yang berkaitan dengan gangguan jiwa. Trauma kelahiran yang berhubungan dengan berkurangnya suplai oksigen pada janin sangat signifikan dalam terjadinya retardasi mental dan gangguan perkembangan saraf lainnya.&lt;br /&gt;Penyakit kronis atau kecacatan dapat menyebabkan kesulitan koping bagi anak.&lt;br /&gt;2. Dinamika keluarga.&lt;br /&gt; Dinamika keluarga yang tidak sehat dapat mengakibatkan perilaku menyimpang yang dapat digambarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Penganiayaan anak. Anak yang terus-menerus dianiaya pada masa kanak-kanak awal, perkembangan otaknya kurang adekuat (terutama otak kiri). Penganiayaan dan efeknya pada perkembangan otak berkaitan dengan berbagai masalah psikologis, seperti depresi, masalah memori, kesulitan belajar, impulsivitas, dan kesulitan dalam membina hubungan (Glod, 1998).&lt;br /&gt;Disfungsi sistem keluarga (mis., kurangnya sifat pengasuhan, komunikasi yang buruk, kurangnya batasan antar generasi, dan perasaan terjebak) disertai dengan keterampilan koping yang tidak adekuat antaranggota keluarga dan model peran yang buruk dari orang tua.&lt;br /&gt;3. Faktor lingkungan.&lt;br /&gt; Lingkungan dfan kehidupan sosial yang tidak menguntungkan akan menjadi penyebab utama pula, seperti :&lt;br /&gt;Kemiskinan. &lt;br /&gt;Perawatan pranatal yang tidak adekuat, nutrisi yang buruk, dan kurang terpenuhinya kebutuhan akibat pendapatan yang tidak mencukupi dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan dan perkembangan normal anak.&lt;br /&gt;Tunawisma. &lt;br /&gt;Anak-anak tunawisma memiliki berbagai kebutuhan kesehatan yang memengaruhi perkembangan emosi dan psikologi mereka. Berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan angka penyakit ringan kanak-kanak, keterlambatan perkembangan dan masalah psikologis diantara anak tunawisma ini bila dibandingkan dengan sampel kontrol (Townsend, 1999).&lt;br /&gt;Budaya keluarga. &lt;br /&gt;Perilaku orang tua yang secara dramatis berbeda dengan budaya sekitar dapat mengakibatkan kurang diterimanya anak-anak oleh teman sebaya dan masalah psikologik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Analisis dan Pembahasan.&lt;br /&gt;3.1 Pengaruh Sifat Over Protektif terhadap penyimpangan anak dan remaja.&lt;br /&gt;Seharusnya semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin rendah melakukan kenakalan. Sebab dengan pendidikan yang semakin tinggi, nalarnya semakin baik. Artinya mereka tahu aturan-aturan ataupun norma sosial mana yang seharusnya tidak boleh dilanggar. Atau mereka tahu rambu-rambu mana yang harus dihindari dan mana yang harus dikerjakan. Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. &lt;br /&gt;Masngudin HMS, (2008) melakukanpenelitian dan kesimpulan yang diperoleh adalah  Mereka yang tamat SLTA justru yang paling banyak melakukan tindak kenakalan 17 responden (56,7%) yang berarti separoh lebih, dengan terbanyak 12 responden (40%) melakukan kenakalan khusus, 2 responden (6,7%) melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan, dan 4 responden (13,3%) melakukan kenakalan biasa. Demikian juga mereka yang pendidikan terakhirnya SLTP, dari 12 responden, 11 responden (36,7%) melakukan kenakalan khusus.  &lt;br /&gt;Sedang mereka yang hanya tamat SD 1 responden juga melakukan kenakalan khusus. Dengan demikian maka tidak ada hubungan antara tingkatan pendidikan dengan kenakalan yang dilakukan, artinya semakin tinggi pendidikannya tidak bisa dijamin untuk tidak melakukan kenakalan. Artinya kenakalan remaja yang dilakukan bukan karena rendahnya tingkat pendidikan mereka, karena disemua tingkat pendidikan dari SD sampai dengan SLTA proporsi untuk melakukan kenakalan sama kesempatannya. &lt;br /&gt;Dengan demikian faktor yang kuat adalah seperti yang disebutkan di atas, yaitu adanya waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk kegiatan positif, dan adanya pengaruh buruk dalam sosialisasi dengan teman bermainnya atau faktor lingkungan sosial yang besar pengaruhnya. &lt;br /&gt;Keluarga dalam kerangka konsep telah diuraikan tentang keberfungsian sosial keluarga, diantaranya adalah kemampuan berfungsi sosial secara positif dan adaptif bagi keluarga yaitu jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya serta mampu memenuhi kebutuhannya.&lt;br /&gt;Pekerjaan orangtua dapat dijadikan ukuran kemampuan ekonomi, guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal ini perlu diketahui karena dalam keberfungsian sosial, salah satunya adalah mampu memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan data yang ada mereka yang pekerjaan orangtuanya sebagai pegawai negeri 5 responden (16,7%), berdagang 4 responden (13,3%), buruh 5 responden (16,6%), tukang kayu 2 responden (6,7%), montir/sopir 6 responden (20%), wiraswasta 5 responden (16,6%), dan pensiunan 1 responden (3,3%). &lt;br /&gt;Kecenderungan anak pegawai negeri walaupun melakukan kenakalan, namun pada tingkat kenakalan biasa. Lain halnya bagi mereka yang orang tuanya mempunyai pekerjaan dagang, buruh, montir/sopir, dan wiraswasta yang kecendrungannya melakukan kenakalan khusus. Hal ini berarti pekerjaan orang tua berhubungan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Keadaan yang demikian karena mungkin bagi pegawai negeri lebih memperhatikan anaknya untuk mencapai masa depan yang lebih baik, ataupun kedisiplinan yang diterapkan serta nilai-nilai yang disosisalisasikan lebih efektif. Sedang bagi mereka yang bukan pegawai negeri hanya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga kurang ada perhatian pada sosialisasai penanaman nilai dan norma-norma sosial kepada anak-anaknya. Akibat dari semua itu maka anak-anaknya lebih tersosisalisasi oleh kelompoknya yang kurang mengarahkan pada kehidupan yang normative.&lt;br /&gt;Banyak terdapat anak-anak remaja yang nakal datang dari keluarga yang tidak utuh, baik dilihat dari struktur keluarga maupun dalam interaksinya di keluarga. Dilihat dari keutuhan struktur keluarga, 21 responden (70%) dari keluarga utuh, dan 9 responden dari keluarga tidak utuh. Berdasarkan data pada tabel korelasi ternyata struktur keluarga ketidak utuhan struktur keluarga bukan jaminan bagi anaknya untuk melakukan kenakalan, terutama kenakalan khusus. Karena ternyata mereka yang berasal dari keluarga utuh justru lebih banyak yang melakukan kenakalan khusus.&lt;br /&gt;Namun jika dilihat dari keutuhan dalam interaksi, terlihat jelas bahwa mereka yang melakukan kenakalan khusus berasal dari keluarga yang interaksinya kurang dan tidak serasi sebesar 76,6%. Perlu diketahui bahwa keluarga yang interaksinya serasi berjumlah 3 responden (10%), sedangkan yang interaksinya kurang serasi 14 responden (46,7%), dan yang tidak serasi 13 responden (43,3%).  (Masngudin HMS, 2008)&lt;br /&gt;Jadi ketidak berfungsian keluarga untuk menciptakan keserasian dalaam interaksi mempunyai kecenderungan anak remajanya melakukan kenakalan. Artinya semakin tidak serasi hubungan atau interaksi dalam keluarga tersebut tingkat kenakalan yang dilakukan semakin berat, yaitu pada kenakalan khusus.  Hubungan antara kehidupan beragama keluarganya dengan tingkat kenakala pada &lt;br /&gt;kehidupan beragama keluarga juga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosial keluarga. Sebab dalam konsep keberfungsian juga dilihat dari segi rokhani. Sebab keluarga yang menjalankan kewajiban agama secara baik, berarti mereka akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik, maka anak-anaknyapun akan melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma agama. Berdasarkan data yang ada mereka yang keluarganya taat beragama 6 responden (20%), kurang taat beragama 15 responden (50%), dan tidak taat beragama 9 responden (30%). Dari tabel korelasi diketahui 70% dari responden yang keluarganya kurang dan tidak taat beragama melakukan kenakalan khusus.&lt;br /&gt;Dengan demikian ketaatan dan tidaknya beragama bagi keluarga sangat berhubungan dengan kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Hal ini berarti bahwa bagi keluarga yang taat menjalankan kewajiban agamanya kecil kemungkinan anaknya melakukan kenakalan, baik kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan maupun kenakalan khusus, demikian juga sebaliknya. &lt;br /&gt;Salah satu sebab kenakalan yang disebutkan pada kerangka konsep di atas adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. Mereka yang orang tuanya otoriter sebanyak 5 responden (16,6%), overprotection 3 responden (10%), kurang memperhatikan 12 responden (40%), dan tidak memperhatikan sama sekali 10 responden (33,4%). Dari tabel korelasi diperoleh data seluruh responden yang orang tuanya tidak memperhatikan sama sekali melakukan kenakalan khusus dan yang kurang memperhatikan 11 dari 12 responden melakukan kenakalan khusus. Dari kenyataan tersebut ternyata peranan keluarga dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak.  (Masngudin HMS, 2008)&lt;br /&gt;Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lengkungan sosialnya. Adapun yang diharapkan dari hubungan tersebut adalah serasi, karena keserasian akan menciptakan kenyamanan dan ketenteraman. Apabila hal itu dapat diciptakan, hal itu meruapakan proses sosialisasi yang baik bagi anak-anaknya. Mereka yang berhubungan serasi dengan lingkungan sosialnya berjumlah 8 responden (26,6%), kurang serasi 12 responden (40%), dan tidak serasi 10 responden (33,4%). Dari data yang ada terlihat bagi keluarga yang kurang dan tidak serasi hubungannya dengan tetangga atau lingkungan sosialnya mempunyai kecenderungan anaknya melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat yaitu kenakalan khusus. Keadaan tersebut dapat dilihat dari 23 responden yang melakukan kenakalan khusus 19 responden dari dari keluarga yang interaksinya dengan tetangga kurang atau tidak serasi. &lt;br /&gt;Pernah tidaknya responden ditahan dan dihukum hubungannya dengan keutuhan struktur dan interaksi keluarga, serta ketaatan keluarga dalam menjalankan kewajiban beragama. Data tentang responden yang pernah ditahan berjumlah 15 responden, dari jumlah tersebut 3 responden (20%) karena kasus perkelaian, masing-masing 1 responden (6,7%) karena kasus penegeroyokan dan pembunuhan, 5 responden (33,3%) karena kasus obat terlarang (narkotika) dan 8 responden (53,3%) karena kasus pencurian. (Masngudin HMS, 2008)&lt;br /&gt;Sedangkan responden yang pernah dihukum penjara berjumlah 10 responden dengan rincian 7 responden karena kasus pencurian, masing-masing 1 responden karena ksus pengeroyokan, pembunuhan, dan narkotika. Adapun lamanya mereka dihukum antara 1 bulan-3 tahun, dengan rincian sebagai berikut 4 responden (40%) dihukum penjara selama 1 bulan, 3 responden (30%) dihukum 3 bulan, masing-masing 1 responden (10%) dihukum 7 bulan, 2 tahun, dan 3 tahun . Dari responden yang pernah ditahan dan di hukum semuanya dari keluarga yang struktur keluarganya utuh, tetapi interaksinya kurang dan tidak serasi. Hal ini menunjukkan bahwa masalah interaksi dalam keluarga merupakan sebab utama seorang remaja sampai ditahan dan dihukum penjara. Sedangkan dari sudut ketaatan dalam menjalankan kewajiban agam bagi keluarganya masih terdapat 1 responden yang pernah ditahan dan dihukum karena kasus pencurian. Artinya bahwa ketaatan beragama dari keluarganya belum menjamin anaknya bebas dari kenakalan dan ditahan serta dihukum. (Masngudin HMS, 2008)&lt;br /&gt;Pola asuh mempunyai peran penting dalam pembentukan kepribadian anak. Bagaimana kehidupan anak nantinya tidak lepas dari cara-cara pengasuhan orang tua yang mereka dapatkan. Remaja yang berada dalam pengasuhan orang tua yang over protective akan membuat mereka merasa tertekan, merasa terkekang, dan pada akhirnya remaja akan mencari apa yang mereka butuhkan dari lingkungan pergaulan mereka, padahal yang mereka peroleh belum tentu benar. Bahkan remaja cenderung berlebihan dalam mengekspresikan kebebasan mereka ketika berada di tengah-tengah kelompoknya. Hal ini dapat mengakibatkan remaja berperilaku menyimpang sebagai bentuk penolakan mereka akan sikap over protective orang tuanya.&lt;br /&gt;Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap sikap over protective orang tua dengan kecenderungan perilaku menyimpang pada remaja. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif antara persepsi terhadap sikap over protective orang tua dengan kecenderungan perilaku menyimpang pada remaja. Populasi dalam penelitian ini adalah dengan sampel sejumlah 4 kelas, yaitu 1 kelas untuk uji coba penelitian dan 3 kelas untuk penelitian. Dalam penelitian ini metode pengambilan data penelitian menggunakan skala persepsi terhadap sikap over protective orang tua menurut Wicaksono (1993) dan skala kecenderungan perilaku menyimpang pada remaja menurut Jensen (Kartono, 1986). &lt;br /&gt;Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis product moment. Hasil koefisien korelasi (rxy) = 0,310 dengan p&lt;0,01, hal ini berarti ada hubungan antara persepsi terhadap sikap over protective orang tua dengan kecenderungan perilaku menyimpang pada remaja. Koefisien determinan (r2) = 0,096 yang berarti sumbangan persepsi terhadap sikap over protective orang tua dengan kecenderungan perilaku menyimpang pada remaja sebesar 9,6 %. &lt;br /&gt;Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan antara persepsi terhadap sikap over protective orang tua dengan kecenderungan perilaku menyimpang pada remaja.&lt;br /&gt;Hubungan Antara Keberfungsian Sosial Keluarga dengan Kenakalan Remaja Setelah dianalisis secara bivariat antara beberapa variabel, maka untuk melengkapinya dianalisis secara statistik dengan rumus product moment guna melihat keeratan hubungan tersebut. Kesimpulannya ada hubungan negative antara keberfungsian keluarga dengan kenakalan remaja yang dilakukan. Artinya semakin tinggi tingkat berfungsi sosial keluarga, akan semakin rendah tingkat kenakalan remajanya, demikian sebaliknya semakin rendah keberfungsian sosial keluarga maka akan semakin tinggi tingkat kenakalan remajanya.&lt;br /&gt;Secara jenis kelamin terlihat remAja pria lebih cenderung melakukan kenakalan pada tinglat khusus, walaupun demilikan juga remaja perempuan yang melakukan kenakalan khusus. Dari sudut pekerjaan atau kegiatan sehari-hari remaja ternyata yang menganggur mempunyai kecenderungan tinggi melakukan kenakalan khusus demikian juga mereka yang berdagang dan menjadi buruh juga tinggi kecenderungannya untuk melakukan kenakalan khusus. Pemenuhan kebutuhan keluarga juga berpengaruh pada tingkat kenakalan remajanya, artinya bagi keluarga yang tiap hari hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan keluarganya seperti yang orang tuanya bekerja sebagai buruh, tukang, supir dan sejenisnya ternyata anaknya kebanyakan melakukan kenakalan khusus. &lt;br /&gt;Demikian juga bagi keluarga yang interaksi sosialnya kurang dan tidak serasi anak-anaknya melakukan kenakalan khusus. Kehidupan beragama keluarga juga berpengaruh kepada tingkat kenakalan remajanya, artinya dari keluarga yang taat menjalankan agama anak-anaknya hanya melakukan kenakalan biasa, tetapi bagi keluarga yang kurang dan tidak taat menjalankan ibadahnya anak-anak mereka pada umumnya melakukan kenakalan khusus.Hal lain yang dapat dilihat bahwa sikap orang orang tua dalam sosialisasi terhadap anaknya juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kenakalan yang dilakukan, dari data yang diperoleh bagi keluarga yang kurang dan masa bodoh dalam pendidikan (baca sosialisasi) terhadap anaknya maka umumnya anak mereka melakukan kenakalan khusus. &lt;br /&gt;Dan akhirnya keserasian hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya juga berpengaruh pada kenakalan anak-anak mereka. Mereka yang hubungan sosialnya dengan lingkungan serasi anak-anaknya walaupun melakukan kenakalan tetapi pada tingkat kenakalan biasa, tetapi mereka yang kurang dan tidak serasi hubungan sosialnya dengan lingkungan anak-anaknya melakukan kenakalan khusus.&lt;br /&gt;Peranan Lembaga Pendidikan Untuk tidak segera mengadili dan menuduh remaja sebagai sumber segala masalah dalam kehidupan di masyarakat, barangkali baik kalau setiap lembaga pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) mencoba merefleksikan peranan masing-masing.&lt;br /&gt;Pertama, lembaga keluarga adalah lembaga pendidikan yang utama dan pertama.  Kehidupan kelurga yang kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis akan menyebebkan anak tidak kerasan tinggal di rumah. Anak tidak mersa aman dan tidak mengalami perkembangan emosional yang seimbang. Akibatnya, anak mencari bentuk ketentraman di luar keluarga, misalnya gabung dalam group gang, kelompok preman dan lain-lain. Banyak keluarga yang tak mau tahu dengan perkembangan anak-anaknya dan menyerahkan seluruh proses pendidikan anak kepada sekolah. Kiranya keliru jika ada pendapat yang mengatakan bahwa tercukupnya kebutuhan-kebutuhan materiil menjadi jaminan berlangsungnya perkembangan kepribadian yang optimal bagi para remaja. &lt;br /&gt;Kedua, bagaimana pembinaan moral dalam lembaga keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kontras tajam antara ajaran dan teladan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh panutan di masyarakat akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku, dan moralitas para remaja. Kurang adanya pembinaan moral yang nyata dan pudarnya keteladanan para orangtua ataupun pendidik di sekolah menjadi faktor kunci dalam proses perkembangan kepribadian remaja. Secara psikologis, kehidupan remaja adalah kehidupan mencari idola. Mereka mendambakan sosok orang yang dapat dijadikan panutan. Segi pembinaan moral menjadi terlupakan pada saat orang tua ataupun pendidik hanya memperhatikan segi intelektual. Pendidikan disekolah terkadang terjerumus pada formalitas pemenuhan kurikulum pendidikan, mengejar bahan ajaran, sehingga melupakan segi pembinaan kepribadian penanaman nilai-nilai pendidikan moral dan pembentukan sikap.  &lt;br /&gt;Ketiga, bagaimana kehidupan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat apakah mendukung optimalisasi perkembangan remaja atau tidak.&lt;br /&gt;Saat ini, banyak anak-anak di kota-kota besar seperti Jakarta sudah merasakan kemewahan yang berlebihan. Segala keinginannya dapat dipenuhi oleh orangtuanya. Kondisi semacam ini sering melupakan unsur-unsur yang berkaitan dengan kedewasaan anak. Pemenuhan kebutuhan materiil selalu tidak disesuaikan dengan kondisi dan usia perkembangan anak. Akibatnya, anak cenderung menjadi sok malas, sombong, dan suka meremehkan orang lain. &lt;br /&gt;Keempat, bagaimana lembaga pendidikan di sekolah dalam memberikan bobot yang proposional antara perkembangan kognisi, afeksi, dan psikomotor anak. Akhir-akhir ini banyak dirasakan beban tuntutan sekolah yang terlampau berat kepada para peserta didik. Siswa tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga dipaksa oleh orangtua untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan mengikuti les tambahan di luar sekolah. Faktor kelelahan, kemampuan fisik dan kemampuan inteligensi yang terbatas pada seorang anak sering tidak diperhitungkan oleh orangtua. Akibatnya, anak-anak menjadi kecapaian dan over acting, dan mengalami pelampiasan kegembiraan yang berlebihan pada saat mereka selesai menghadapi suasana yang menegangkan dan menekan dalam kehidupan di sekolah. &lt;br /&gt;Kelima, bagaimana pengaruh tayangan media massa baik media cetak maupun elektronik yang acapkali menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai kebrutalan. Pengaruh-pengaruh tersebut maka munculah kelompok-kelompok remaja, gang-gang yang berpakaian serem dan bertingkah laku menakutkan yang hampir pasti membuat masyarakat prihatin dan ngeri terhadap tindakan-tindakan mereka. Para remaja tidak dipersatukan oleh suatu identitas yang ideal. Mereka hanya himpunan anak-anak remaja atau pemuda-pemudi, yang malahan memperjuangkan sesuatu yang tidak berharga (hura-hura), kelompok yang hanya mengisi kekosongan emosional tanpa tujuan jelas. &lt;br /&gt;3.2 Solusi dan Jalan Keluar yang Harus Ditempuh.&lt;br /&gt;Siswa-siswi SLTP/SLTA adalah siswa-siswi yang berada dalam golongan usia remaja, usia mencari identitas dan eksistensi diri dalam kehidupan di masyarakat. Dalam proses pencarian identitas itu, peran aktif dari ketiga lembaga pendidikan akan banyak membantu melancarkan pencapaian kepribadian yang dewasa bagi para remaja. Ada beberapa hal kunci yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;Pertama, memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan bersama. Sikap mau berdialog antara orangtua, pendidik di sekolah, dan masyarakat dengan remaja pada umumnya adalah kesempatan yang diinginkan para remaja. Dalam hati sanubari para remaja tersimpan kebutuhan akan nasihat, pengalaman, dan kekuatan atau dorongan dari orang tua. Tetapi sering kerinduan itu menjadi macet bila melihat realitas mereka dalam keluarga, di sekolah ataupun dalam lingkungan masyarakat yang tidak memungkinkan karena antara lain begitu otoriter dan begitu bersikap monologis. Menyadari kekurangan ini, lembaga-lembaga pendidikan perlu membuka kesempatan untuk mengadakan dialog dengan para remaja, kaum muda dan anak-anak, entah dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.&lt;br /&gt;Kedua, menjalin pergaulan yang tulus. Dewasa ini jumlah orang tua yang bertindak otoriter terhadap anak-anak mereka sudah jauh berkurang. Namun muncul kecenderungan yang sebaliknya, yaitu sikap memanjakan anak secara berlebihan. Banyak orang tua yang tidak berani mengatakan tidak terhadap anak-anak mereka supaya tidak dicap sebagai orangtua yang tidak mempercayai anak-anaknya, untuk tidak dianggap sebagai orangtua kolot, konservatif dan ketinggalan jaman.  &lt;br /&gt;Ketiga, memberikan pendampingan, perhatian dan cinta sejati. Ada begitu banyak orangtua yang mengira bahwa mereka telah mencintai anak-anaknya. Sayang sekali bahwa egoisme mereka sendiri menghalang-halangi kemampuan mereka untuk mencintaianak secara sempurna.  Yang perlu dipahami bahwa setiap individu memerlukan rasa aman dan merasakan dirinya dicintai. Sejak lahir satu kebutuhan pokok yang yang pertama-tama dirasakan manusia adalah kebutuhan akan "kasih sayang" yang dalam masa perkembangan selanjutnya di usia remaja, kasih sayang, rasa aman, dan perasaan dicintai sangat dibutuhkan oleh para remaja. Dengan usaha-usaha dan perlakuan-perlakuan yang memberikan perhatian, cinta yang tulus, dan sikap mau berdialog, maka para remaja akan mendapatkan rasa aman, serta memiliki keberanian untuk terbuka dalam mengungkapkan pendapatnya. &lt;br /&gt;Lewat kondisi dan suasana hidup dalam keluarga, lingkungan sekolah, ataupun lingkungan masyarakat seperti di atas itulah para remaja akan merasa terdampingi dan mengalami perkembangan kepribadian yang optimal dan tidak terkungkung dalam perasaan dan tekanan-tekanan batin yang mencekam. Dengan begitu gaya hidup yang mereka tampilkan benar-benar merupakan proses untuk menemukan identitas diri mereka sendiri yang sebenarnya. &lt;br /&gt;Pertama, aspek pendidikan formal/lingkungan sekolah. Pendidikan yang lebih menekankan kepada bimbingan dan pembinaan perilaku konstruktif, mandiri dan kreatif menjadi faktor penting, karena melatih integritas mental dan moral remaja menuju terbentuknya pribadi yang memiliki daya ketahanan pribadi dan sosial dalam menghadapi benturan-benturan nilai-niai (clash of value) yang berlaku dalam lingkungan remaja itu sendiri berikut lingkungan sosialnya.&lt;br /&gt;Kedua, aspek lingkungan keluarga, jelas memberi andil yang signifikan terhadap berkembangnya pola perilaku menyimpang para remaja, karena proses penanaman nilai-nilai bermula dari dinamika kehidupan dalam keluarga itu sendiri dan akan terus berlangsung sampai remaja dapat menemukan identitas diri dan aktualisasi pribadinya secara utuh. Remaja akan menentukan perilaku sosialnya seiring dengan maraknya perilaku remaja seusianya yang notabene mendapat penerimaan secara utuh oleh kalangannya. Oleh karenanya, peranan orang tua termasuk sanak keluarga lebih dominan di dalam mendidik, membimbing, dan mengawasi serta memberikan perhatian lebih sedini mungkin terhadap perkembangan perilaku remajanya.&lt;br /&gt;Ketiga, aspek lingkungan pergaulan seringkali menuntut dan memaksa remaja harus dapat menerima pola perilaku yang dikembangkan remaja. Hal ini sebagai kompensasi pengakuan keberadaan remaja dalam kelompok. Maka, perlu diciptakan lingkungan pergaulan yang kondusif, agar situasi dan kondisi pergaulan dan hubungan sosial yang saling memberi pengaruh dan nilai-nilai positif bagi aktifitas remaja dapat terwujud. &lt;br /&gt;Keempat, aspek penegakan hukum/sanksi. Ketegasan penerapan sanksi mungkin dapat menjadi shock teraphy (terapi kejut) bagi remaja yang melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Dan ini dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, kepolisian dan lembaga lainnya. &lt;br /&gt;Terakhir, aspek sosial kemasyarakat. Terciptanya relasi-relasi sosial yang baik dan serasi di antara warga masyarakat sekitar, akan memberi implikasi terhadap tumbuh dan berkembangnya kontak-kontak sosial yang dinamis, sehingga muncul sikap saling memahami, memperhatikan sekaligus mengawasi tindak perilaku warga terutama remaja di lingkungannya. Hal ini tentu sangat mendukung terjalinnya hubungan dan aktifitas remaja yang terkontrol., F&lt;br /&gt;3.3 Penatalaksanaan Gangguan Psikiatrik pada Anak-anak dan Remaja&lt;br /&gt;3.3.1. Perawatan berbasis komunitas saat ini lebih banyak terdapat pada managed care.&lt;br /&gt;Yaitu dengan cara-cara yaitu : &lt;br /&gt;Pencegahan primer melalui berbagai program sosial yang ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan anak. Contohnya adalah perawatan pranatal awal, program intervensi dini bagi orang tua dengan faktor resiko yang sudah diketahui dalam membesarkan anak, dan mengidentifikasi anak-anak yang berisiko untuk memberikan dukungan dan pendidikan kepada orang tua dari anak-anak ini.&lt;br /&gt;Pencegahan sekunder dengan menemukan kasus secara dini pada anak-anak yang mengalami kesulitan di sekolah sehingga tindakan yang tepat dapat segera dilakukan. Metodenya meliputi konseling individu dengan program bimbingan sekolah dan rujukan kesehatan jiwa komunitas, layanan intervensi krisis bagi keluarga yang mengalami situasi traumatik, konseling kelompok di sekolah, dan konseling teman sebaya.&lt;br /&gt;Dukungan terapeutik bagi anak-anak diberikan melalui psikoterapi individu, terapi bermain, dan program pendidikan khusus untuk anak-anak yang tidak mampu berpartisipasi dalam sistem sekolah yang normal. Metode pengobatan perilaku pada umumnya digunakan untuk membantu anak dalam mengembangkan metode koping yang lebih adaptif.&lt;br /&gt;Terapi keluarga dan penyuluhan keluarga penting untuk membantu keluarga mendapatkan keterampilan dan bantuan yang diperlukan guna membuat perubahan yang dapat meningkatkan fungsi semua anggota keluarga.&lt;br /&gt;3.3.2. Pengobatan berbasis rumah sakit dan Rehabilitasi.&lt;br /&gt;Unit khusus untuk mengobati anak-anak dan remaja, terdapat di rumah sakit jiwa. Pengobatan di unit-unit ini biasana diberikan untuk klien yang tidak sembuh dengan metode alternatif yang kurang restriktif, atau bagi klien yang beresiko tinggi melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri ataupun orang lain.&lt;br /&gt;Program hospitalisasi parsial juga tersedia, memberikan program sekolah di tempat (on-site) yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan khusus anak yang menderita penyakit jiwa. Seklusi dan restrein untuk mengendalikan perilaku disruptif masi menjadi kontroversi. Penelitian menunjukkan bahwa metode ini dapat bersifat traumatik pada anak-anak dan tidak efektif untuk pembelajaran respon adaptif. Tindakan yang kurang restriktif meliputi istirahat (time-out), penahanan terapeutik, menghindari adu kekuatan, dan intervensi dini untuk mencegah memburuknya perilaku. &lt;br /&gt;3.3.3  Farmakoterapi.&lt;br /&gt;Medikasi digunakan sebagai satu metode pengobatan. Medikasi psikotropik digunakan dengan hati-hati pada klien anak-anak dan remaja karena memiliki efek samping yang beragam.&lt;br /&gt;a. Perbedaan fisiologi anak-anak dan remaja memengaruhi jumlah dosis, respon klinis, dan efek samping dari medikasi psikotropik.&lt;br /&gt;b. Perbedaan perkembangan neurotransmiter pada anak-anak dapat memengaruhi hasil pengobatan psikotropik, mengakibatkan hasil yang tidak konsisten, terutama dengan antidepresan trisiklik.&lt;br /&gt;4.  Kesimpulan.&lt;br /&gt;Berdasarkan analisis di atas, ditemukan bahwa remaja yang memiliki waktu luang banyak seperti mereka yang tidak bekerja atau menganggur dan masih pelajar kemungkinannya lebih besar untuk melakukan kenakalan atau perilaku menyimpang. Demikian juga dari keluarga yang tingkat keberfungsian sosialnya rendah maka kemungkinan besar anaknya akan melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat.Sebaliknya bagi keluarga yang tingkat keberfungsian sosialnya tinggi maka kemungkinan anak-anaknya melakukan kenakalan sangat kecil, apalagi kenakalan khusus. &lt;br /&gt;Dari analisis statistik (kuantitatif) maupun kualitatif dapat ditarik kesimpulan umum bahwa ada hubungan negatif antara keberfungsian sosial keluarga dengan kenakalan remaja, artinya bahwa semakin tinggi keberfungsian social keluarga akan semakin rendah kenakalan yang dilakukan oleh remaja. Sebaliknya semakin ketidak berfungsian sosial suatu keluarga maka semakin tinggi tingkat kenakalan remajanya (perilaku menyimpang yang dilakukanoleh remaja. &lt;br /&gt;Berdasarkan kenyataan di atas, maka untuk memperkecil tingkat kenakalan remaja ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu meningkatkan keberfungsian sosial keluarga melalui program-program kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan pembangunan social yang programnya sangat berguna bagi pengembangan masyarakat secara keseluuruhan Di samping itu untuk memperkecil perilaku menyimpang remaja dengan memberikan program-program untuk mengisi waktu luang, dengan meningkatkan program di tiap karang taruna. &lt;br /&gt;Program ini terutama diarahkan pada peningkatan sumber daya manusianya yaitu program pelatihan yang mampu bersaing dalam pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Achlis, 1992, Praktek Pekerjaan Sosial I, STKS , Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eitzen, Stanlen D, 1986, Social Problems, Allyn and Bacon inc, Boston, Sydney, Toronto .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunarsa Singgih D at al, 1988, Psikologi Remaja, BPK Gunung Mulya, Jakarta&lt;br /&gt;Kartini Kartono,1986, Psikologi Sosial 2, Kenakalan Remaja, Rajawali, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulis Styawan, 2007.  Remaja dan perilaku menyimpang &lt;br /&gt;FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (uny). PT Antar Surya Jaya Surabaya. 2007.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaufman, James, M, 1989, Characteristics of Behaviour Disorders of Children and Youth, Merril Publishing Company, Columbus, London, Toronto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masngudin HMS, adalah peneliti pada Kenakalan Remaja Sebagai Perilaku Menyimpang Hubungannya Dengan Keberfungsian Sosial Keluarga. Puslitbang UKS, Badan Latbang Sosial Departemen Sosial RI. 11. January 2008, 19:34:39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nazir, Moh, 1985, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta.1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sartono, Suwarniyati, 1985, Pengukuran Sikap Masyarakat terhadap Kenakalan Remaja di DKI Jakarta, laporan penelitian, UI, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soerjono Soekanto, 1988, Sosiologi Penyimpangan, Rajawali, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_______________, 1985 Perubahan Sosial, Rajawali, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isaac, Ann. 2004. Panduan Belajar : Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik. Jakarta: EGC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.sekolahindonesia.com/sidev/NewDetailArtikel.asp?iid_artikel=13&amp;cTipe_artikel=3&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-2418100528710133844?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/2418100528710133844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/02/perilaku-menyimpang-gangguan-psikiatrik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/2418100528710133844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/2418100528710133844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/02/perilaku-menyimpang-gangguan-psikiatrik.html' title='PERILAKU MENYIMPANG, GANGGUAN PSIKIATRIK, DAN KENAKALAN ANAK-ANAK DAN REMAJA  SOLUSI DAN CARA MEENGATASINYA'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-6617908895856106863</id><published>2009-02-09T23:30:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T23:31:30.571-08:00</updated><title type='text'>EFEKTIFITAS IKLAN PARTAI DALAM PEMILU 2009 PADA MEDIA MASA</title><content type='html'>EFEKTIFITAS IKLAN PARTAI DALAM PEMILU 2009&lt;br /&gt;PADA MEDIA MASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan. &lt;br /&gt;Tidak ada kecap nomor dua, itu kata pepatah. Itulah yang bisa dikatakan pada partai bahwa semua kecap nomor satu, artinya partai-partai berjanji-janji pada rakyat andai menang, pilihlah saya, besok lebih baik, atau mbah saya sudah bikin kemajuan, sekarang sedang mengalami kemunduran, dan sebagainya. Partai-partai berlomba-lomba mengiklankan atribut partai dan program partai dengan berbagai macam cara dan gaya bahasa.&lt;br /&gt;Banyaknya partai ibarat cendawan di musim hujan menjadikan partai berlomba-lomba untuk melakukan kampanye di berbagai daerah baik perkotaan sampai perdesaan di seluruh penjuru tanah air. Kampanye dilakukan melalui berbagai macam cara dan gaya. Baik melalui ikaln baliho, Koran, majalah, radio, televise bahkan Internet. &lt;br /&gt;Persoalannya berbagai iklan yang dilakukan oleh partai akan efektif dan efisien menarik masa untuk memilih partai tersebut. Karena mengiklankan partai tidak sama dengan mengiklankan produk tertentu. Karena produk yang ditawarkan adalah berbeda, dimana dalam iklan dikenal promotions mix, sedang dalam iklan partai juga memiliki peran marketing mix, meski dengan produk yang berbeda.&lt;br /&gt;Iklan dapat berupa iklan merek dagang dan jasa, sedangkan partai ini susah untuk dikatagorikan dalam dua katagori tersebut. Apakah produk barang atau jasa, jadi susah untuk dikatgorikan pada keduanya. Sedangkan iklan partai adalah iklan yang menawarkan jati diri atau performance, Atribut, symbol atau bendera, serta program atau janji. Sedangkan bukti bahwa partai itu bisa mempertahankan semuanya setelah melewati beberapa katagori diatas, apakah iklan partai memenuhi produk yang mereka tawarkan.&lt;br /&gt;Persaingan dalam pemilu 2009 oleh partai-partai baik partai baru atau partai yang sudah cukup lama cukup ketat, dengan munculnya beberapa partai baru yang lahir, dan berusaha untuk  eksis dan bertahan merebut pemilih. Suatu perkembangan teknologi periklanan di Indonesia yang cukup pesat tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah revolusi besar di bidang komunikasi, dan semakin cepatlah informasi kepartaian dapat disampaikan secara lengsung kepada pemilih tanpa melakukan penggalangan massa dan mobilisasi masa.&lt;br /&gt;Munculnya persaingan itu telah melahirkan berbagai macam persaingan yang sehat maupun tidak sehat. Perang propaganda terus terjadi, saling mengklain jasa pada masyarakat, mengumbar janji dan menyerang partai lain, bahkan oleh partai yang baru sekalipun karena mempunyai sejarah di masa lalu, pada pemerintahan lama dengan partai lama yang justru sekarang menjadi pesaing-pesaingnya. Diikuti inovasi-inovasi tentang bahasa-bahasa komunikasi massa bagi pemilih baik pemilih mengambang, pemilih pemula atau tradisional. Pemilih akan  banyak mendapatkan pilihan, dan saatnyalah bahwa pemilih atau rakyat adalah raja. Sehingga partai-partai  saat ini harus memanjakan pemilih agar tidak ditinggalkan pemilihnya untuk memilih  kompetitor lainnya. Karena makin banyak partai, alternatif layanan yang akan diberikan pada partainya makin beragam.&lt;br /&gt;Bagaimana untuk menjadi iklan partai yang tidak hanya menjadi iklan kecap nomor satu tidaklah mudah, karena iklan yang membohongi dengan janji-janji kosong akan mengurangi kepercayaan pemilih. Pemilih akan terus mencari alternative baru bagi kehidupan negara sebagi aktualisasi dari kepentingan individual mereka dan kepentingan kelompok dengan kedekatan emosional, ideology dan kepentingan.&lt;br /&gt;Iklan Partai dikenal sejak periode pasca Orde baru atau yang disebut periode reformasi. Dimana pintu multi partai telah dibuka pemerintah. Berjuta-juta orang memulih di dalam pemilu 1999 dengan berpuluh-puluh part (48) dalam menentukan harapan perubahan yang mereka miliki. Meskipun penggalangan masa masih dominant dalan pemilu 1999 namun iklan partai mulai dikenal oleh beberapa partai. Meskipun peran iklan jurnalistik melalui media masa cetak maupun elektronik cukup dominant.&lt;br /&gt;Mereka mampu membangun asosiasi partai yang cukup efektif seperti PDI Perjuangan dengan Ingat-Ingat, kemudian Golkar dengan Golkar baru, dan PKB dengan membela yang benar, dan partai-partai yang berbasis sejarah cukup kuat dan berbasis tradisional dan ideologis sejenis banyak merebut hati pemilih. Sehingga peran iklan belumlah dominan pada saat itu.&lt;br /&gt;Peran iklan partai lebih efektif lagi pada pemilu 2004 dengan mendongkrak partai Demokrat dengan mengantarkan presidennya pada pemilihan presiden 2004. Dimana mulai terjadi peradigmabaru kampanye pemilu dengan penggalangan masa dengan merubah komunikasi masa dengan peran iklan partai. &lt;br /&gt;Meski iklan tidak selamanya efektif seperti iklan yang terlalu gencar pada pemiliha gubernur di Jawa Tengah justru menglami kekalahan, karena pemilih tiap daerah memiliki berbagai spesifikasi khusus dalam menentukan pilihan dan melakukan persepsi pada iklan partai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.1 Definisi model SOSTAC dalam Iklan Partai.&lt;br /&gt;Karena sudah melakukan berbagai media yang berupa iklan maka partai tidak bisa lepas dari peran iklan dalamkaidah ilmu komunikasi, ekonomi, politik dan hukum. Partai sudah bicara iklan maka akan menerapkan peran teori-teori ekonomi dan Komunikasi seperti SOSTEC misalnya.&lt;br /&gt;SOSTAC adalah singkatan atau ringkasan tahapan-tahapan proses strategi pemasaran oleh Paul R. Smith (1990). SOSTAC terdiri dari :&lt;br /&gt;Situation Analysis. (Analisis Situasi) yang mana terdiri dari SWOT Analysis, PEST Analysis, Marketing Mix(bauran kebijakan) dan Competitive Position (posisi persaingan).&lt;br /&gt;Objectives. (obyektif) Kemana kita  akan pergi (Where do we want to go)? Terdiri dari : Ashridge Mission Model, 5 P’s Model, SMART.&lt;br /&gt;Strategy(strategi). Bagiamana kita mendapatkanya (How are we going to get there)? Terdiri dari : Market Segmentation (sekmentasi pasar) dan Positioning.&lt;br /&gt;Tactics (taktik). Yang lebih detail dari strategi. Berupa Tools (alat) dan Komunikasi (Communication).&lt;br /&gt;Actions (aksi) . Implementasi, pengambilan perencanaan kerja dalam Action Plan (perncanaan aksi) . Terdiri dari RACI Model, CSFs dan, KPIs&lt;br /&gt;Control(pengawasan). Track progress melalui pengukuran (measuring), pengawasan (monitoring), pengecekan (reviewing), penempatan (updating and modifying). Terdiri dari Kinerja manajemen (Performance Management) dan Blanced Scorecard.&lt;br /&gt;Keunikan metode SOSTAC adalah sederhana (simplicity). Pendekatan adalah memenuhi tahapan secara bersama-sama dalam menciptakan perencanaan pemasaran (marketing plan). Terdiri dari 5 C’s of Marketing Strategy (strategi pemasaran 5C), Feasibility Study (studi kelayakan), VMOST dan Customer Relationship Management (manajemen hubungan dengan pamilih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. SWOT&lt;br /&gt;Merupakan analisis dari Strength (kekuatan) , Weakness (Kelemahan), Oportunity (Peluang) dan threat (Ancaman). Merupakan analisis manajemen yang berdasarkan pada kepekaan terhadap lingkungan manajemen terutama marketing atau pasar pasar dalam hal ini adalah pemilih. &lt;br /&gt;Strength (Kekuatan) adalah berupa modal atau dana partai, kemampuan sumber daya manusia atau kualitas kader, teknologi, jaringan, dan brand image tau merek dalam hal ini kinerja partai apabila partai lama dan program serta perencanaan apabila mereka duduk pada lembaga pemerintahan yang dimiliki merupakan kekuatan yang dibutuhkan partai dalam mengembangkan diri dalam mencapai target atau sasaran yaitu memenangkan pemilu. &lt;br /&gt;Weakness (kelemahan) adalah berbagai macam kelemahan yang dimiliki perusahaan, seperti isu-isu negative yang muncul, jaringan yang terbatas, tenaga propaganda yang masih kurang mengakar dalam jaringan, serta kelemahan-kelemahan lain yang memungkinkan untuk menjadi kendala dalam meningkatkan target atau sasaran yang harus dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3 PEST&lt;br /&gt;PEST analysis adalah merupakan pola kerja dan strategi konsultan menggunakan pengamatan lingkungan makro eksternal (scan the external macro-environment) dalam setiap operasi mesin partai. PEST adalah singkatan dari : Political, Economic, Social and Technological (Politik, ekonomi, sosial da teknologi)&lt;br /&gt;PEST factors merupakan sebuah aturan main yang penting dalam strategi menciptakan peluang nilai kreasi dalam merebut pemilih dalam persaingan pada pemilihan umum. Meskipun bahasa selalu diluar kontrol dari partai dan harus normal terdiri dari kesempatan atau peluang lain. Bersama macro-economical factors (factor makro ekonomi) dapat berbeda tiap continental, negara atau suatu tempat, juga biasanya analisis PEST seharusnya dicitrakan tiap negara. Berikut ini terdapat contoh dari tiap faktor-faktor tersebut :&lt;br /&gt;Political (incl. Legal) /Politik (memasukkan hukum)&lt;br /&gt;Penelitian berjenjang Kebijakan lingkungan dan proteksi, pertumbuhan ekonomi,  distribusi pendapatan pemerintah.(Environmental regulations and protection Economic growth  Income distribution Government research spending) &lt;br /&gt;Economic (ekonomi)&lt;br /&gt;Kebijakan pajak, suku bunga dan moneter, kependudukan, tingkat pertumbuhan penduduk, pembagian usaha industri berfokus pada teknologi. (Tax policies Interest rates &amp; monetary policies Demographics, Population growth rates, Age distribution Industry focus on technological effort ) Menjadikan sesuatu yang menjadi sorotan dalam iklan kampanye.&lt;br /&gt;Social (Sosial)&lt;br /&gt;Kebijakan politik internasional  dan retriksi pemerintah, perlindungan tenaga kerja, mobilitas sosial, penemuan dan pengembangan teknologi baru. Pemberdayaan hukum, perlindungan dan advokasi pemilih. Kebijakan pengangguran, merubah gaya hidup, tingkat transfer teknologi, Hukum perburuhan, pajak tenaga kerja dan pengembangan perilaku semangat wira usaha. (International trade regulations and restrictions, Government spending Labor / social mobility, New inventions and development,  Contract enforcement law Consumer protection,   Unemployment policy, Lifestyle changes Rate of technology transfer,  Employment laws Taxation Work/career and leisure attitudes Entrepreneurial spirit)&lt;br /&gt;Technological (teknologi)&lt;br /&gt;Siklus hidup dan kecepatan dari perkembangan teknologi, organisasi pemerintah, tingkat perubahan perilaku pendidikan pengunaan energi dan biaya. Kebijakan persaingan, tingkat inflasi, fase  perubahan dalam teknologi informasi, tingkat stabilitas politik dari siklus bisnis, jaminan kesehatan dan kesejahteraan, naluri dari pengamanan perubahan dalam internet, kebijakan perlindungan kepercayaan pemilih, keyakinan hidup, kondisi teknologi yang dalam situasi bergerak. (Life cycle and speed of technological obsolescence  Government organization / attitude  Exchange rates Education Energy use and costs. Competition regulation Inflation rates Fashion, hypes (Changes in) Information Technology Political Stability Stage of the business cycle Health consciousness &amp; welfare, feelings on safety (Changes in) Internet , Safety regulations Consumer confidence Living conditions (Changes in) Mobile Technology )&lt;br /&gt;Melengkapi PEST Analysis adalah relatif sederhana dan dapat dikerjakan melalui pelatihan (via workshops) menggunakan teknik wawancara (brainstorming), survey pemilih dengan alat statitistik dengan ketepatan tinggi. . Penggunaan dari PEST analysis bisa bermacam-macam dari partai dan strategi perencanaan, perencanaan kampanye, pengembangan propaganda dan agitasi, dan catatan penelitian (company and strategic planning, marketing planning, business and product development, dan research reports.)&lt;br /&gt;Varian dari PEST Analysis selalu seperti SLEPT Analysis (plus Legal) or the STEEPLE Analysis: Social/demographic (sosial/kependudukan), Technological(teknologi), Economic(ekonomi), Environmental(lingkungan)/  natural(alam) , Political(politik), Legal (hukum) dan Ethical factors(factor etik). Juga Geographical factors (factor geografi) adalah signifikan.&lt;br /&gt;2.4 Competitive Position (Posisi Persaingan)&lt;br /&gt;Menggambarkan Posisi persaingan dari tingkat relatif dominan sebuah perusahaan dalam pasar membandingkan dengan kompetitor. Contohnya , Sebuah perusahaan memiliki target sebagai pemimpin pasar (market leader), atau tumbuh dari posisi ketiga menjadi dua, dalam pasar untuk penjualan pisang.&lt;br /&gt;Juga, bisa diindikasikan dalam tingkat pasar sebagai market leader, challenger, follower atau niche player. Atau mengekspresikan prosentase pangsa pasar.&lt;br /&gt;2.5 Management Berdasarakan Sasaran. (MBO)&lt;br /&gt;Deskripsi MBO menerangkan secar obyektif dari setiap kader dan membandingkan dan langsung selalu menggambarkan kinerja yang obyektif yang diatur. Peningkatan kinerja organisasional dengan menerapkan sasaran organisasi dengan obyektif dari subordinat melalui Organisasi. Idealya, kader memiliki kekuatan yang memasuk diidentifikasi secara obyektif, tepat dan lengkap, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Prinsip Management by Objectives (manajemen berdasarakan sasaran) adalah :&lt;br /&gt;Melalui tujuan organisasi (Cascading of organizational goals and objectives), Spesifikasi sasaran bagi anggota (Specific objectives for each member), membuat keputusan yang partisipatif (Participative decision making), periode waktu eksplisit (Explicit time period), dan evaluasi kinerja dan menghasilkan umpan balik (Performance evaluation and provide feedback).&lt;br /&gt;Management by Objectives (manajemen berdasrkan sasaran) juga mengitruduksi metode SMART untuk mengecek validitas dan obyektifitas. Yaitu : kusus (Specific), terukur (Measurable), prestasi (Achievable), nyata (Realistic), dan hubungan waktu (Time-related).&lt;br /&gt;Tahun 1990-an , Peter Drucker mengambil pengaruh dari metode manajemen organisasi kedalam perspektif, dimana ia berkata “It’s just another tool. It is not the great cure for management inefficiency. Management by Objectives works if you know the objectives, 90% of the time you don’t.” (tidak hanya satu-satunya alat. Yang tidak lebih besar untuk manajemn yang tidak efisien. Manajemen berdasarkan sasaran bekerja jika kita tahu sasarannya, 90% dari waktu bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2.6 Pengertian Pemasaran&lt;br /&gt; Marketing secara umum sering diterjemahkan dengan istilah pemasaran. Pemasaran itu sendiri sering diartikan dengan tindakan menjual barang atau jasa.&lt;br /&gt; Menurut Chartered Institute Of Marketing (2001) Pemasaran adalah proses manajemen yang bertanggung jawab untuk mengenali, mengantisipasi dan memuaskan keperluan pelanggan secara menguntungkan. Menurut Peter Drucker (1997),  Pemasaran adalah hal begitu mendasar sehingga tidak dapat dipandang sebagai fungsi yang terpisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Pembahasan &lt;br /&gt; Peran iklan partai dapan membentuk loyalitas apabila iklan itu efektif dan tidak hanya mengumbar janji belaka. Karena menghadapi kualitas pemilih yang makin kritis, dan pragmatis. Sehingga pemilih melihat pada bukti daripada janji-janji. Sdangkan pemilih memiliki loyalitas tertentu pada partai tertentu karena ikatan emosional, ikatan sejarah, ideology  dan ikatan kepentingan.&lt;br /&gt; Perkembangan partai modern dan terbuka membawa situasi bahwa orang dapat keluar masuk pada partai apa saja, tergantung pada kualitas individu, sehingga kader partai sebagai bentuk dari produk partai adalah cukup mempengaruhi perolehan suara partai. Sehingga ada perkembangan baru dari partai modern bahwa partai tidak merupakan variabel utama mendongkrak popularitas seseorang. Sedangkan sebaliknya kualitas seorang kader akan mendongkrak perolehan suara partai.&lt;br /&gt; Tanpa kader yang berkualitas partai tidak akan memperoleh suara yang cukup mendokrak suara mereka. Dan hal ini mendorong partai untuk menciptakan kader-kader berkualitas atau mengambil orang-orang yang diluar partai tapi mendorong kualitas partai.&lt;br /&gt; Namun factor capital dan nepotisme menjadikan seseorang untuk duduk menjadi kader dan wakil partai, sehingga mereka menganggap uang adlah segalanya dan mendongkrak suara di tengah masyarakat yang pragmatis.&lt;br /&gt; Tantangan partai karena ketidak percayaan pemilih akan menyulitkan iklan partai dalam mempertahankan image atau brand atau performa mereka. Oleh karena itu partai harus memberikan criteria-kriteria yang terukur oleh pemilih. Karena pemebriataan dan janji yang tidak dipenuhi akan mendorong pemilih untuk meninggalkan partai.&lt;br /&gt; Berbagai bentuk kepercayaan sangat dibutuhkan oleh pemilih untuk memiliki loyalitas, karena pemilih akan memiliki ukuran loyalitas yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Aaker. 1992. “Managing The Most Important Asset; Brand Equity; Strategy &amp; Leadrship”, September / Oktober 1992; 2005; ABI/INFORM Global pg.56.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Collin V. Sowter ,1997,”Marketing Management”, Erlangga Press. 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmadi., Sugiarto &amp; Budiman. 2004. "Brand Equity Ten: Strategi Memimpin Pasar". Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmadi., Sugiarto dan Tony Sitinjak. 2001. "Strategi Menaklukkan Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek": Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Davis, Scott M, 2000, Brand asset Management: driving profitable growth through your brands, San Francisco California, Jossey Base, Inc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, Kinorika. 2003, "Menciptakan Brand Equity Melalui Kepuasan Pelanggan". Jurnal. Janavisi. Vol. 6, No. 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faircloth B. James; Louis M Capella; Bruce L. Alford, 2001, "The Effect of Brand Attitude and Brand Image on Brand Equity", Journal of Marketing Theory and Practice, Summer, 61-75.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferdinand, Augusty T., 2000, Manajemen Pemasaran Sebuah Pendekatan Strategik, Research Paper Series, Program Magister Manajemen, Universitas Diponegoro, Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayat, Taufik, 2006, “ICSA index 2006: Pertaruhan Para Pemenang Kepuasan Pelanggan,” Majalah Swa, 20/xx/21/21 September – 4 Oktober 2006, Hal 31. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humdiana., 2005. "Analisis Elemen-Elemen Ekuitas Merek Produk Rokok Merek Djarum Black". Jurnal Ekonomi Perusahaan., vol. 12, No. 1, Maret 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo, 1999, Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. BPFE. Yogyakarta.&lt;br /&gt;Keller, K.L. 1993. "Conceptualization, Measuring, and Managing Customer­based Brand Equity". Journal of Marketing, Vol. 57, January, pp. 1-22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------,2003 , "Strategic Brand Management: Building, Measuring, and Managing Brad Equity, 2th edition, New Jersey, Prentice Hall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotler, Phillip, 1997, Manajemen Pemasaran, Jilid 2. Prenhalindo. Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muafi., dan Irhas Effendi. 2001. "Mengelola Ekuitas Merek: Upaya Memenangkan Persaingan di Era Global". Jurnal. EKOBIS, Vol. 2, No. 3, September 2001, pp. 129-139.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicolino, Patricia. F. 2001. “The Complete Idiot's Guide to Brand Management”. Alpha Books, Indianapolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Park, Chan Su; Srinivasan, V., (1994), "A Survey-Based Method for Measuring and Understanding Brand", Journal of Marketing Research, Vol. XXXI, 271-288.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Drucker,1997, ”Marketing Management”   Lembang Empat, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkuti, Freddy. 2002. The Power of Brand; Teknik Mengelola Brand Equity dan Strategi Pengembangan Merek. Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simamora, Bilson. 2002. "Aura Merek: Tujuh Jurus Membangun Merek yang Kuat". Jumal Ekonomi Perusahaan. 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitinjak, Tony., Tumpal (2005), "Pengaruh Citra Merek dan Sikap Merek terhadap Ekuitas Merek', Jurnal Ekonomi Perusahaan, Vol. 12 No. 2 Juni, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugiarto., dan Ellen Christina. 2004. "Menyingkap Korelasi Elemen-Elemen Ekuitas Merek Sebagai Dasar Penetapan Strategi Pemasaran Produk". Jurnal Ekonomi Perusahaan, Vol. 11, No. 2, Juni 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supranto J. , 1993,”Metode  Peramalan Kuantitatif untuk Perencanaan”, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta., 1993.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-6617908895856106863?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/6617908895856106863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/02/efektifitas-iklan-partai-dalam-pemilu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/6617908895856106863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/6617908895856106863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/02/efektifitas-iklan-partai-dalam-pemilu.html' title='EFEKTIFITAS IKLAN PARTAI DALAM PEMILU 2009 PADA MEDIA MASA'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-292568476471718472</id><published>2009-02-01T00:26:00.001-08:00</published><updated>2009-02-01T00:35:38.291-08:00</updated><title type='text'>tesis</title><content type='html'>ANALISIS STABILITAS DAN EFEKTIVITAS MEKANISME TRANSMISI&lt;br /&gt;LEWAT JALUR&lt;br /&gt;JUMLAH UANG BEREDAR  DAN KREDIT&lt;br /&gt;DI INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TESIS&lt;br /&gt;Untuk memenuhi sebagai persyaratan&lt;br /&gt;Mencapai derajat sarjana S-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Studi&lt;br /&gt;Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dumadi Tri Restiyanto&lt;br /&gt;C4B006084&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRAM PASCA SARJANA&lt;br /&gt;ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN&lt;br /&gt;UNIVERSITAS DIPONEGORO&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Abstraksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mekanisme trasmisi kebijakan moneter bergerak melalui berbagai jalur, yaitu jalur suku bunga, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur kredit. Penelitian ini akan membandingkan jalur jumlah uang beredar dengan jalur kredit (Jalur Kuantitas) dalam efektifitas mekanisme transmisi di Indonesia sebelum dan sesudah krisis moneter.&lt;br /&gt; Dengan menggunakan Parsial Adjusment Model  (PAM), membandingkan Persamaan fungsi Jumlah Uang Beredar (M1) dan fungsi kredit (L). Kemudian dari masing-masing persamaan (persamaan kuadrat terkecil) OLS tersebut, diperoleh variance residual masing-masing. Apabila variance residual-nya lebih kecil menunjukkan jalur ini lebih efektif dalam intermediasi, dalam hal ini meningkatkan pertumbuhan ekonomi (PDB). &lt;br /&gt; Sebelum krisis moneter Jumlah Uang Beredar (M1) lebih efektif dari Kredit (L) dalam mekanisme transmisi moneter,  ditunjukkan dengan variance residual Jumlah Uang Beredar ( M1) lebih kecil dari kredit (L).&lt;br /&gt; Sesudah krisis moneter kebijakan moneter pasca krisis dianggap mampu mengembalikan kestabilan moneter. Kredit  lebih efektif dari Jumlah Uang Beredar (M1) dalam mekanisme transmisi moneter ditunjukkan dengan variance residual Jumlah Uang Beredar (M1) lebih besar dari kredit sesudah krisis moneter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kunci : Jumlah Uang Beredar (M1), Kredit (L) , Variance Residual, Mekanisme Transmisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Krisis moneter tahun 1997 menyebabkan kondisi perbankan Indonesia mengalami situasi yang sangat sulit. Perbankan mengalami kesulitan likuiditas akibat Bank Runs, akibat turunnya nilai rupiah (depresiasi) terhadap dollar Amerika. Kesulitan likuiditas ini dibuktikan dengan tidak mampunya bank melayani permintaan uang dari masyarakat secara likuid, mengakibatkan kepercayaan masyarakat pada lembaga perbankan pada waktu itu menjadi rendah. Akibat kesulitan likuiditas tersebut bank-bank mengalami kendala  keuangan, bahkan banyak yang kalah kliring, sehingga banyak bank yang mengalami kebangkrutan.&lt;br /&gt;Penarikan dana masyarakat akibat turunnya nilai tukar rupiah, ditandai dengan harga Dollar yang mencapai nilai 14.900 rupiah (lihat Grafik 1.1). Akibatnya adalah  bank-bank tidak mampu melayani penarikan uang dari nasabah mereka. Peristiwa di atas dinamakan krisis likuiditas, dan penarikan besar-besaran dana masyarakat ini dinamakan dengan Bank Runs. Kepanikan ini mengakibatkan terjadinya efek karambol, yang mengakibatkan banyak bank tidak mampu menyelesaikan kewajibannya, baik di pasar uang antar bank (PUAB), ataupun kewajiban-kewajiban lain yang harus dipenuhi oleh bank. Ketidakmampuan memenuhi kewajibannya ini mengakibatkan ketidakpercayaan masyarakat  pada bank.&lt;br /&gt;Grafik 1.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber BI, diolah&lt;br /&gt;Bank Runs mengakibatkan ketidakseimbangan di pasar uang, dimana permintaan uang cukup tinggi, sedangkan penawaran uang terus merosot. Bank-bank yang tidak mampu memenuhi kewajibannya harus gulung tikar,  akibatnya kerugian banyak dialami oleh nasabah. (HLB Hadlori, 2002) Guna mengembalikan kepercayaannya, maka bank-bank umum di bawah kendali Bank Indonesia mengambil tindakan yang hati-hati di dalam mengelola likuiditas keuangan mereka. Bentuk kehati-hatian tersebut berupa penerapan manajemen perbankan dengan berbasis manajemen resiko yang cukup ketat.&lt;br /&gt;Kehati-hatian ini memunculkan ketidakseimbangan baru. Ketidakseimbangan baru ini disebut Credit Crunch. Credit Cruch menyebabkan permintaan kredit lebih besar dari penawaran kredit, berakibat bank lebih banyak menyimpan dana mereka dalam bentuk Obligasi Pemerintah. Pada kenyatannya sebagian besar aset bank-bank diinvestasikan dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Fasilitas Bank Indonesia (FASBI) dan Surat Utang negara (SUN). Keputusan ketiga portopolio tersebut diambil  karena bobot resiko dalam Bassel I, II, III adalah sama dengan nol. Ketiga aset/kekayaan tersebut akan meningkatkan Capital Adequacy Rasio (CAR) yang tinggi, menyebabkan  prasyarat kesehatan perbankan.&lt;br /&gt;Loan to Deposit Rasio (LDR) hanya 51 persen pada bulan Maret 2005, artinya dana pihak ketiga yang disalurkan menjadi kredit hanya 51 persen  saja, berarti bahwa setiap kegiatan perbankan nasional hanya berupa penjualan dan pembelian obligasi negara, dan bukan memberi kredit bagi kebutuhan dunia usaha. Pemberian kredit banyak digunakan untuk belanja konsumsi rumah tangga, dan bukan untuk kebutuhan investasi. Kredit seperti ini sangat rentan terhadap kenaikkan suku bunga, yang dalam jangka panjang dapat menambah kredit macet. (Anwar Nasution, 2006) Kondisi tersebut akan mengakibatkan kredit perbankan yang dikucurkan tidak mendorong tingkat pendapatan riil.&lt;br /&gt;Credit Crunch menjadi hambatan besar dari fungsi intermediasi perbankan, yaitu berupa penurunan  kredit yang dapat diperoleh masyarakat. Kredit tersebut banyak digunakan untuk kebutuhan investasi dan modal kerja.  Padahal kebutuhan pertumbuhan kredit perbankan adalah sebesar 22 persen setiap tahunnya. Hal ini diperlukan untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 5-6% per tahun. Pada kenyataannya potensi permodalan perbankan saat ini hanya sanggup untuk mendorong pertumbuhan kredit maksimum 16% saja. (Agus Sugiarto, 2004) Jadi masih diperlukan pertumbuhan 6% kredit perbankan untuk memacu target pertumbuhan ekonomi tersebut.&lt;br /&gt;Credit crunch merupakan fenomena terjadinya ketidakseimbangan di pasar kredit yang disebabkan oleh faktor-faktor sisi penawaran pada bank, dan sisi permintaan debitur, ataupun kondisi ekonomi dan moneter yang berpengaruh terhadap penyaluran kredit perbankan, khususnya kebijakan moneter. (Perry Warjiyo, 2007)&lt;br /&gt;Secara mikro, credit crunch dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, mengingat sumber pembiayaan dunia usaha bergantung pada kredit bank. Credit crunch yang terus berlangsung dapat mengakibatkan second round effect (efek babak kedua) pada kegagalan bisnis dunia usaha, yang pada akhirnya kembali memperburuk kualitas pinjaman bank dan berisiko terjadi kembali krisis moneter. Bagi kepentingan pengendalian moneter, credit crunch memiliki implikasi terhadap efektifitas pengendalian moneter.  Hal ini akibat dari respon perbankan dalam mentransmisikan sinyal kebijakan moneter terhadap berbagai aktifitas keuangan dan ekonomi tidak seperti yang menjadi harapan Bank Sentral. (Perry Warjiyo, 2007)&lt;br /&gt;Prinsipnya pertumbuhan ekonomi merupakan hasil dari efek pertumbuhan kredit, sehingga dibandingkan dengan pertumbuhan uang terlihat bahwa pertumbuhan kredit lebih kuat dalam menjelaskan besarnya pertumbuhan pendapatan nasional. (HLB Hadori dan Rekan, 2002)&lt;br /&gt;Hambatan kredit didorong oleh penurunan daya beli masyarakat, di mana pertumbuhan pendapatan selalu lebih rendah dari pertumbuhan tingkat suku bunga, baik SBI maupun suku bunga kredit dari tahun 1990 sampai 2006. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1.2&lt;br /&gt;Data Pertumbuhan PDB, suku bunga SBI dan kredit&lt;br /&gt;sebelum dan sesudah krisis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber BI, diolah&lt;br /&gt;Perjalanan pertumbuhan pendapatan terlihat cukup mendatar, namun pertumbuhan inflasi, suku bunga SBI dan suku bunga kredit mengalami gejolak yang cukup luar biasa di tahun 1997 kuartal III sampai dengan 1998 Kuartal IV diikuti dengan tidak ada gejolak pertumbuhan pendapatan nominal  dari tahun yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1.3&lt;br /&gt;Inflasi , pertumbuhan PDB, suku bunga SBI dan kredit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sumber BI, diolah&lt;br /&gt;Tahun-tahun tersebut merupakan situasi sulit, ditandai dengan adanya gejolak moneter yang tidak stabil diiringi dengan krisis moneter dan krisis likuiditas. Suku bunga dan inflasi tidak terkendali. Tanpa dorongan pendapatan nominal untuk mengimbangi kedua hal tersebut mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat. Sedangkan tingkat pertumbuhan pendapatan rata-rata lebih rendah dari tingkat bunga kredit investasi dari tahun 1990 sampai akhir 2006, artinnya bahwa pertumbuhan pendapatan yang diperoleh dari investasi dari tahun ke tahun memiliki kecenderungan untuk tidak memenuhi kewajiban membayar suku bunga kredit.&lt;br /&gt;Penelitian yang dapat menjelaskan dan menerangkan sejauh mana kebijakan moneter dan stabilitas perbankan secara makro dan mikro ekonomi dalam penyaluran kredit sangat diperlukan. Penggunaan model Quantum Channel yang merupakan gabungan Credit Channel dan Money Channel,  akan diterapkan dalam analisis data, guna menerangkan dan mendapatkan kesimpulan yang tepat. Jalur mekanisme transmisi dengan Quantum Channel langsung mempengaruhi tingkat suku bunga sebagai intermediate target, kemudian mempengaruhi investasi dan sektor riil berdasarkan berjalannya transmisi perbankan.&lt;br /&gt;Dalam hal ini akan dilakukan studi empiris secara runtut waktu (time series) dari tahun 1990 sampai masa sebelum krisis tahun 1997 dan sejak krisis tahun 1997 sampai tahun 2006 menggunakan data kuartalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Krisis perbankan di Indonesia tahun 1997 melahirkan beberapa permasalahan stabilitas moneter dan intermediasi perbankan. Sehingga perlu adanya strategi-strategi kebijakan moneter BI untuk mengatasi krisis moneter. Beberapa peneliti sebelumnya meneliti tentang stabilitas jalur moneter dan kredit guna melihat efektifitasnya dalam mekanisne transmisi, dengan hasilsebagai berikut:&lt;br /&gt;Berdasarkan data time series dari tahun 1990:1 sampai 2000:4 dengan menggunakan variabel dependen Jumlah Uang Beredar  (M1) dan Kredit dengan mengacu pada model Bernanke-Blinder. &lt;br /&gt;a.Sebelum krisis moneter (1990:1 sampai 1997:3) volatilitas M1 lebih besar dari kredit. Artinya Kredit lebih efektif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam mekanisme transmisi.&lt;br /&gt;b.Sesudah krisis moneter (1990:4 sampai 2000:4)  volatilitas Kredit lebih besar dari  M1. Artinya Jumlah Uang Beredar lebih efektif dalam meingkatkan pertumbuhan ekonomi dalam mekanisme transmisi.&lt;br /&gt;Sebagai perbandingan ideal dari kondisi Indonesia tersebut penulis membandingkan kondisi tersebut dengan Amerikat Serikat. Perbandingan dilakukan dengan meninjau penelitian yang dilakukan oleh Bernanke–Blinder (1998) dengan Variabel Jumlah uang beredar (M1) dan Kredit (L) dari tahun  1974:1 sampai 1985:4, dengan kesimpulan bahwa:&lt;br /&gt;a.Pada paruh pertama data berkala yaitu tahun 1974:1 sampai tahun 1979:3 volatilitas kredit lebih besar dari Jumlah Uang Beredar (M1). Artinya Jumlah uang beredar lebih efektif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.&lt;br /&gt;b.Pada paruh kedua data berkala yaitu tahun1979:4 sampai tahun 1985:4 volatilitas Kredit lebih kecil dari Jumlah Uang Beredar     ( M1). Artinya bahwa kredit lebih efektif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.&lt;br /&gt;Implikasi kebijakan pemerintah untuk menangani kredit lebih signifikan untuk meningkatkan pertumbuhan PDB di Amerika Serikat. Artinya di Indonesia setelah krisis moneter tingkat kredit tidak efektif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari hasil  penelitian HLB Hadlori (2002) bahwa yang terjadi di Indonesia, justru setelah krisis moneter volatilitas kredit lebih besar dari penawaran uang.&lt;br /&gt;Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian tentang stabilitas  Quantum Channel di dalam intermediasi di Indonesia diteliti dengan tujuan :&lt;br /&gt;1.Menganalisis stabilitas Jalur Kredit dan Jumlah Uang Beredar (M1)  dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter.&lt;br /&gt;2.Sejauh mana efektivitas antara Jumlah Uang Beredar(M1) dan Kredit (L) sebelum krisis dan sesudah krisis moneter dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam mekanisme transmisi. &lt;br /&gt;3.Menguji secara empiris faktor-faktor yang mempengaruhi Jumlah Uang Beredar (M1) dan Kredit sebelum dan sesudah krisis, yaitu :&lt;br /&gt;a.pengaruh PDB terhadap M1.&lt;br /&gt;b.inflasi terhadap M1.&lt;br /&gt;c.suku bunga  terhadap M1.&lt;br /&gt;d.pengaruh PDB terhadap kredit.&lt;br /&gt;e.Inflasi terhadap kredit.&lt;br /&gt;f.suku bunga SBI terhadap kredit.&lt;br /&gt;g.suku bunga kredit terhadap kredit.&lt;br /&gt;1.3Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian dilakukan dengan tujuan berguna untuk :&lt;br /&gt;1.Bank Indonesia sebagai Otoritas Moneter adalah untuk menganalisis secara empiris pelaksaaan kebijakan moneter melalui instrumen kebijakan moneter yang dukeluarkan Bank Indonesia dalam pengendalian stabilitas sistem Moneter.&lt;br /&gt;2.Bank Umum baik Negeri atau Swasta baik asing maupun nasional adalah untuk menjalankan fungsinya dengan tepat, baik sebagai lembaga intermediasi dan lembaga profit akan mampu untuk melakukan ekspektasi-ekspektasi serta mampu merespon kebijakan moneter.&lt;br /&gt;3.Dunia pendidikan dan para peneliti yang tertarik untuk meneliti kajian yang sama dalam bidang moneter dan perbankan, diharapkan penelitian ini menjadi salah satu masukan bagi masalah-masalah yang muncul dalam fenomena moneter dan menambah wawasan mengenai dunia moneter dan perbankan dalam penelitian berikutnya sebagai batu pijakan yang tepat dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4Sistematika Penulisan&lt;br /&gt;Sistematika yang digunakan dalam penulisan tesis ini mengacu  pada buku pedoman penulisan tesis yang berlaku di program Magister Ilmu Ekonomi dan stusi Pembangunan Universitas Diponegoro Semarang, bahwa laporan penelitian untuk tesis ini disusun dalam 5 (lima) bab yang mencakup materi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Bab I  Pendahuluan&lt;br /&gt;Pendahuluan berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan kegunaan penelitian serta sistematika yang digunakan.&lt;br /&gt;Bab II  Tinjauan Pustaka dan Kerangka Pemikiran Teoritis&lt;br /&gt;Berisi uraian tentang telaah pustaka untuk melandasi penelitian, review penelitian terdahulu, kerangka pemikiran teoritis, hipotesis penelitian dan definisi operasional variabel.&lt;br /&gt;Bab III  Metode Penelitian&lt;br /&gt;Pada bab ini diuraian mengenai jenis dan sumber data, populasi dan prosedur penentuan sampel, metode pengumpulan data, analisis data, deskripsi statistik variabel, uji asumsi klasik, serta teknik analisis.&lt;br /&gt;Bab IV Gambaran Umum dan Analisis  Data&lt;br /&gt;Pada bab ini terdiri dari gambaran umum obyek penelitian, deskripsi statistik variabel, uji Asumsi Klasik, pengujian hipotesis, dan pembahasan hasil penelitian.&lt;br /&gt;Bab V Penutup&lt;br /&gt;Dalam bab ini dibahas tentang kesimpulan hipotesis, keterbatasan penelitian dan implikasi  penelitian mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN  PUSTAKA DAN KERANGKA&lt;br /&gt;PEMIKIRAN TEORITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Landasan Teori &lt;br /&gt;2.1.1 Stabilitas Sistem Perbankan dan Kebijakan Moneter.&lt;br /&gt;Stabilitas sistem perbankan dan sistem moneter merupakan dua aspek yang saling terkait dan menentukan satu sama lain. Stabilnya sistem perbankan   secara umum dicerminkan dengan kondisi perbankan yang  sehat dan berjalannya fungsi intermediasi perbankan dalam memobilisasi simpanan masyarakat untuk disalurkan dalam bentuk kredit dan pembiayaan lain kepada dunia usaha. Apabila kondisi ini terpelihara, maka proses perputaran uang dan mekanisme transmisi kebijakan moneter  dalam perekonomian yang sebagian besar berlangsung melalui sistem perbankan juga dapat berjalan dengan baik. Stabilnya  sistem perbankan akan menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan moneter. (Perry Warjiyo, 2007)&lt;br /&gt;Bank Sentral memiliki peranan yang penting  dalam  perekonomian di suatu negara. Bank sentral memiliki dua tujuan pokok, yaitu :&lt;br /&gt;1.Menjaga stabilitas harga dan memacu pertumbuhan ekonomi.&lt;br /&gt;2.  Menjaga stabilitas nilai tukar dan stabilitas keuangan.&lt;br /&gt;Kebijakan moneter merupakan kebijakan bank sentral atau otoritas moneter dalam bentuk pengendalian besaran moneter, seperti jumlah uang beredar, uang primer, kredit perbankan dan suku bunga untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan. Kebijakan moneter itu sendiri saling berkaitan satu sama lain, dan memungkinkan terjadinya trade off dalam penerapannya. Dalam praktek, perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan adalah terjaganya stabilitas ekonomi makro yang dicerminkan oleh stabilitas harga (inflasi rendah), membaiknya pertumbuhan ekonomi serta luasnya lapangan kerja.&lt;br /&gt;Efektifitas kebijakan moneter ini sangat berperan dalam  menjalankan fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi, dan fungsi bank sentral sebagai pengendali stabilitas moneter.  Dengan menggunakan berbagai macam instrument Bank sentral berfungsi sebagai lembaga stabilisator makro ekonomi, dan bank umum dari sisi mikro ekonomi menjaga stabilitas moneter.&lt;br /&gt;Kebijakan moneter adalah kebijakan bank sentral atau otoritas moneter dalam bentuk pengendalian moneter dan atau suku bunga untuk mencapai perkembangan kegiatan ekonomi yang diinginkan. Besaran moneter (stock money) dapat berupa uang beredar dalam arti sempit dan dalam arti luas, uang primer atau kredit perbankan. Kebijakan moneter merupakan kebijakan ekonomi makro, yang pada umumnya mempertimbangkan siklus kegiatan ekonomi, sifat perekonomian (tertutup atau terbuka), serta faktor-faktor fundamental lainnya. &lt;br /&gt;Kondisi perbankan sangat berpengaruh besar terhadap bekerjanya dan efektivitasnya saluran transmisi moneter khususnya jalur moneter, jalur kredit, dan jalur suku bunga.&lt;br /&gt;Dalam kondisi dimana kesehatan dan stabilitas perbankan terjaga dan berkembang kuat, ketiga jalur transmisi ini tidak menunjukkan perbedaan yang berarti. Akan tetapi, dalam kondisi ketika perbankan sedang mengalami sejumlah permasalahan, sehingga proses intermediasi keuangan maupun pasar keuangan tidak berjalan normal, maka perilaku ketiga jalur transmisi moneter tersebut menunjukkan perbedaan yang berarti. (Perry Warjiyo, 2007)&lt;br /&gt;Proses intermediasi ini merupakan fungsi dan tugas perbankan, namun di sisi lain perbankan juga harus menjaga likuiditasnya, karena bank harus menghadapi berbagai resiko yang harus dihadapi dan perlu diantisipasi karena menghadapi ketidak pastian di masa datang.&lt;br /&gt;Stabilitas sistem moneter dan perbankan sangat dibutuhkan oleh perbankan untuk melakukan estimasi-estimasi atau prediksi–prediksi yang harus dilakukan perbankan dalam menghadapi resiko-resiko perbankan, terutama resiko pasar.&lt;br /&gt;Pencapaian sasaran kestabilan moneter dapat didukung oleh pencapaian kesehatan dan kestabilan perbankan melalui beberapa aspek. Sistem perbankan yang sehat diperlukan agar sinyal kebijakan moneter dapat ditransmisikan secara efektif ke berbagai aktifitas ekonomi.&lt;br /&gt;Apabila kondisi bank-bank rentan, bank sentral jelas akan mengalami kesulitan untuk menilai keterkaitan instrumen kebijakan moneter yang ditempuhnya dengan arah kinerja perekonomian yang diinginkan, sehingga akan mempersulit perumusan kebijakan moneter yang akan ditempuh.  Dengan kondisi perbankan yang memburuk, efektivitas kebijakan moneter juga akan terhambat karena bank-bank tidak akan mampu merespon sinyal kebijakan moneter secara baik. (Perry Warjiyo, 2007) &lt;br /&gt;2.1.2Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter.&lt;br /&gt;Mekanisme transmisi kebijakan moneter menggambarkan bagaimana kebijakan mempengaruhi perubahan jumlah uang beredar atau tingkat bunga dalam jangka pendek berdampak pada variabel riil yang terdiri dari Pengeluaran Agregat. Jalur dalam transmisi kebijakan moneter beroperasi melalui efek yang berupa kebijakan  suku bunga, portopolio, kekayaan, pinjaman bank, dan neraca perusahaan.(Peter N. Ireland, 2005)&lt;br /&gt;Seperti diuraikan di atas, salah satu kekhususan perbankan terkait  erat dengan perannya dalam proses penciptaan uang di dalam perekonomian yang mayoritas melalui sitem perbankan. Dengan peran seperti ini, kondisi perbankan akan menentukan seberapa besar efektivitas mekanisme transmisi  kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral dapat mempengaruhi berbagai aktivitas ekonomi dan keuangan. (Perry Warjiyo, 2007) Bank sentral memasukkan dua komponen penting dari uang inti yaitu uang kartal dan cadangan bank.&lt;br /&gt;Dimana, bank sentral mengawasi uang inti. Bentuk aksi kebijakan moneter adalah  dengan dimulai ketika bank sentral mengubah uang inti melalui operasi pasar terbuka, membeli berbagai macam sekuritas, selebihnya obligasi pemerintah untuk menaikkan uang inti atau menjual sekuritas untuk menurunkan uang inti. (Peter N. Ireland, 2005)&lt;br /&gt;Tindakan itu kemudian berpengaruh terhadap aktifitas ekonomi dan keuangan melalui berbagai jalur transmisi kebijakan moneter, yaitu jalur uang, kredit, dan suku bunga, yang pada umumnya berlangsung melalui sistem perbankan.&lt;br /&gt;Beberapa kajian terdahulu menyimpulkan bahwa transmisi kebijakan moneter jalur moneter melalui uang primer atau uang inti (M0) dan uang beredar (M1) dan (M2) masih dipandang cukup relevan saat ini. Temuan penting yang ada saat ini adalah adanya jalur kredit. Bekerjanya mekanisme transmisi kebijakan  moneter dipengaruhi oleh perubahan struktural dan kebijakan ekonomi keuangan yang telah diterapkan tersebut.&lt;br /&gt;Keterkaitan kebijakan moneter dengan perbankan tersebut melalui dua tahap transmisi moneter dalam proses perputaran uang (Perry Warjiyo, 2007).&lt;br /&gt;1. Interaksi antara bank sentral dengan perbankan dalam berbagai transaksi pasar uang  yang berkaitan dengan operasi moneter bank sentral dalam manajemen likuiditas perbankan.&lt;br /&gt;2. Interaksi antara perbankan dengan para pelaku ekonomi di sektor riil dalam proses intermediasi keuangan dalam berbagai aktivitas ekonomi baik dalam bentuk  penerimaan simpanan dari masyarakat atau penyaluran kredit kepada dunia usaha.&lt;br /&gt;Jalur-jalur mekanisme transmisi didefinisikan dalam  beberapa pendekatan oleh para ekonom moneter. Sebagian besar membaginya dalam empat jalur utama, yaitu :&lt;br /&gt;1.jalur tingkat suku bunga (traditional interest rate),&lt;br /&gt;2.jalur kredit (credit channel/ credit view),&lt;br /&gt;3.Jalur nilai kekayaan (asset price channel), dan&lt;br /&gt;4.jalur nilai tukar (exchange rate channel), walaupun sebagian  ekonom memasukkan dalam exchange rate channel   dalam asset  price channel.&lt;br /&gt;Reddy (2002) membagi jalur tersebut dalam pengelompokan yang sedikit berbeda, yaitu:&lt;br /&gt;1.Quantum Channel , jalur ini terdiri dari money supply (money Channel) dan credit channel &lt;br /&gt;2. interest rate channel dan asset price channel.&lt;br /&gt;Walaupun demikian, maksud dari jalur-jalur tersebut adalah sama meskipun berbeda dalam pengklasifikasian. (HLB Hadori, dan rekan, 2002).&lt;br /&gt;Quantum Channel menjadi jalur paling dominan dalam mekanisme transmisi karena langsung mempengaruhi :&lt;br /&gt;1.tingkat suku bunga sebagai sasaran antara untuk kemudian kemudian mempengaruhi tingkat investasi dan&lt;br /&gt;2.sektor riil secara umum berdasarkan berjalannya mekanisme transmisi perbankan.&lt;br /&gt;Pengkajian mekanisme transmisi kebijakan moneter di dunia terus dilakukan. Hal tersebut dilakukan tidak saja karena mekanisme transmisi dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi dalam perekonomian dan sektor keuangan, akan tetapi juga untuk terus meningkatkan efektifitas kebijakan moneter.&lt;br /&gt;2.1.3  Intermediasi Perbankan dan Efektifitas Kebijakan Moneter&lt;br /&gt;Tantangan utama bagi kebijakan moneter pasca krisis di Indonesia adalah kurang efektifnya kebijakan moneter dalam mempengaruhi aktivitas ekonomi. Permasalahan itu terutama berakar dari kondisi neraca perbankan yang masih belum sepenuhnya normal dan belum pulihnya intermediasi perbankan. (Burhanudin Abdullah, 2005)&lt;br /&gt;Permasalahan ini menimbulkan dua penyakit kronis dalam sistem moneter yaitu :&lt;br /&gt;1.Perbankan tergantung pada sumber pendapatan dari surat-surat berharga seperti SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan obligasi pemerintah.&lt;br /&gt;2.Perbankan dalam kondisi kelebihan likuiditas yang dapat mengancam stabilitas nilai tukar.&lt;br /&gt;Dampaknya adalah biaya pengendalian moneter oleh Bank Indonesia menjadi mahal. Dalam kondisi demikian, kenaikan suku bunga SBI untuk mengurangi inflasi dan menstabilkan nilai tukar seringkali tidak direspon oleh kenaikan suku bunga deposito perbankan dengan seimbang. Karena perbankan cenderung memanfaatkan momentum kenaikan suku bunga SBI tersebut untuk mendapatkan margin keuntungan dari selisih antara suku bunga SBI  dan obligasi variabel rate sebagai instrumen penempatan dan deposito sebagai instrumen dana.&lt;br /&gt;Kondisi ini menyebabkan kebijakan moneter untuk menyerap kelebihan likuiditas di masyarakat dan dalam rangka menjaga paritas tingkat bunga menjadi tidak efektif. Dengan kata lain, untuk mencapai tujuan kontraksi moneter dan meningkatkan suku deposito diperlukan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dari yang seharusnya. Hal ini sering menimbulkan dilema. Di satu sisi, kebijakan moneter perlu diterapkan secara hati-hati, dan terukur untuk mencapai sasaran moneter dalam rangka menyerap kelebihan likuiditas agar tidak menambah tekanan terhadap inflasi dan melemahnya nilai tukar. Namun di sisi lain, upaya penyerapan ekses likuiditas tersebut agar efektif memerlukan perubahan stance kebijakan yang drastis yang dapat mengganggu momentum pemulihan ekonomi yang sedang berjalan.&lt;br /&gt;Rendahnya efektifitas kebijakan moneter juga terjadi pada saat kebijakan moneter bersifat ekspansif melalui penururunan suku bunga. Penurunan suku bunga SBI yang diharapkan dapat mendorong perbankan menurunkan suku bunga kredit belum diikuti oleh penurunan suku bunga kredit secara signifikan. Faktor utama yang mempengaruhi kekakuan suku bunga kredit ini adalah sebagai konsekuensi dari pendapatan perbankan yang masih didominasi oleh pendapatan suku bunga obligasi. Turunnya suku bunga obligasi bagi para pemegang obligasi variabel rate akan menurunkan pendapatan perbankan sehingga bank  cenderung mempertahankan pendapatannya dengan menahan penurunan suku bunga kredit.&lt;br /&gt;Belum pulihnya fungsi intermediasi yang berakibat pada kelebihan likuiditas perbankan juga menyebabkan pengelolaan moneter menjadi tidak efisien. Bank lebih tertarik menanamkan kelebihan likuiditasnya pada asset yang aman seperti SBI dan Bank Indonesia harus membayar bunga atas SBI tersebut. Pembayaran bunga ini juga berarti menambah likuiditas lagi ke dalam sistem perbankan yang harus diserap lagi untuk menjaga likuiditas tidak berlebihan.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, upaya untuk mengembalikan fungsi intermediasi perbankan harus dilakukan secara komprehensif melihat anatomi permasalahan yang dihadapi. Dari pengamatan beberapa tahun ini, ada empat dimensi pokok yang menjadi kunci pemulihan intermediasi menurut Burhanudin Abdullah (2005), yaitu :&lt;br /&gt;1.Stabilitas ekonomi makro yang tercermin dari inflasi yang rendah, nilai tukar yang relatif stabil, dan suku bunga yang kondusif bagi perbankan dan sektor dunia usaha.&lt;br /&gt;2.Struktur keuangan perbankan yang sehat dan regulasi perbankan yang kondusif bagi perbankan dalam menyalurkan kredit.&lt;br /&gt;3.Struktur dunia usaha yang sehat sehingga meningkatkan kualitas debitur.&lt;br /&gt;4.Infrastruktur dan iklim investasi yang mendukung bagi esktor riil.&lt;br /&gt;2.1.4 Bank Runs&lt;br /&gt; Terdapat dua teori yang menjelaskan terjadinya bank runs. Teori pertama menyebutkan bahwa bank runs terjadi karena proses self-fulfilling akibat ketidak percayaan masyarakat terhadap bank. Tidak terdapatnya informasi yang sempurna mengenai kondisi bank oleh nasabah (assymetrics informations) mengakibatkan penarikan uang yang terjadi pada salah satu bank akibat ketidak percayaan memicu nasabah lain untuk menarik dananya atau cepat menjalar (contagion)  ke bank lain atau krisis perbankan. Penarikan dana secara bersamaan itu merupakan strategi yang optimal bagi nasabah khususnya dalam kondisi tidak terdapatnya sistem penjaminan terhadap dana nasabah di bank.&lt;br /&gt;Teori kedua menyebutkan bahwa bank runs dan krisis perbankan yang terjadi  terkait erat dengan kondisi fundamental perbankan dan kondisi ekonomi suatu negara. Dalam hal ini  bahwa bank runs dari proses self-fulflling tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi terjadi dengan memburuknya kondisi keuangan bank baik yang berasal  dari pengelolaan usaha yang tidak baik (moral hazard) maupun yang berasal dari memburuknya kondisi ekonomi . Kondisi keuangan bank yang buruk akan mengakibatkan bank tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan likuiditas nasabah dan selanjutnya kondisi tersebut akan mengurangi kepercayaan terhadap bank. Ketidak percayaan terhadap bank akan mendorong  nasabah menarik dananya secara bersamaan dan selanjutnya dapat menimbulkan resiko sistemik ke bank lainnya(banking crisis). (Iskandar Simorangkir, 2003)&lt;br /&gt;Bank runs yang berupa penarikan dana pada bank oleh masyarakat inilah yang mengakibatkan terganggunya likuiditas bank. Sedangkan dana yang dipegang oleh bank tidak semuanya disimpan dalam kas, namun juga digunakan untuk melakukan kegiatan keuangan lainnya seperti pembelian obligasi dalam hal ini SBI dan asset-asset jangka pendek lainnya seperti saham dan valuta asing, namun juga untuk penggunaan asset dan investasi jangka panjang yaitu kredit baik berupa kredit konsusmsi, investasi dan modal kerja yang tidak dapat dengan mudah untuk ditarik kembali.&lt;br /&gt;Paling tidak ada dua jenis pengalihan atau penarikan dana masyarakat ketika kepercayaan terhadap sistem perbankan menurun yaitu pengalihan kepada bank atau lembaga keuangan lain yang lebih dipercaya, atau mengalihkannya dari sistem perbankan baik dalam bentuk konversi ke uang kartal atau menanamkannya investasi, bank atau lembaga keuangan luar negeri. Kedua hal itu melahirkan dampak yang berbeda pada sektor perbankan. (HLB Hadori dan Rekan, 2002)&lt;br /&gt;Peristiwa bank runs inilah yang menyebabkan kehati-hatian bank yang cukup tinggi, sehingga fungsi intermediasi bank menjadi terganggu, akibat pengalaman masa lalu bank lebih bersikap risk averse. &lt;br /&gt;Semua krisi yang berat memiliki karakteristik sistem keuangan yang memilik proporsi NPL (non-performing loans) dan rendahnya kepercayaan, tingginya DER    ( debt-equity ratio) dari perusahaan. Tingginya tingkat NPL (non-performing loans) akan mengakibatkan kebangkrutan lembaga keuangan dan hilangnya kepercayaan dari investor. Gerak Bebas dari Modal, Pelarian Modal (capital flight) akan terjadi, dan tekanan devaluasi akan meningkat.&lt;br /&gt;Dengan sistem keuangan yang sehat , bank runs dan Capital flights biasanya tidak akan terjadi., dan tidak akan terjadi krisis keuangan. Ketika krisis keuangan terjadi, dalam suatu kondisi, otoritas moneter dapan menaikan tingkat suku bunga untuk mempertahankan stabilitas moneter.  Pemerintah tidak dapat mencegah peristiwa atau kejadian dimana kenaikan tingkat suku bunga mengakibatkan capital flights dan mencegah perang spekulasi internasional. Tingkat bunga yang tinggi akan mengakibatkan resesi. Meskipun, dalam kondisi normal,  krisis relatif lebih baik dibanding ketidakpastian dan ketidak terkendalinya krisis keuangan dan krisis cadangan sebagai dampaknya.&lt;br /&gt;Pasalnya credit/bank runs ini adalah akibat ketidak percayaan masyarakat yang cukup besar terdapat perbankan sehingga mereka secara besar-besaran pula menarik dananya dari perbankan untuk dialihkan pada bentuk-bentuk kekayaan yang lain berupa barang, emas, tanah, investasi lngsung dan sebagainya. Akibat bank runs ini dapat menyebabkan krisis likuiditas perbankan yang bisa mengakibatkan kepailitan atau kebangkrutan bank. Akibat dari kebangkrutan ini adalah merugikan masyarakat dan beban bagi pemerintah yang cukup berat.&lt;br /&gt;2.1.5 Credit Crunch&lt;br /&gt;Fenomena credit crunch terjadi dalam perbankan Indonesia dengan terkendalanya penyaluran kredit, khususnya pada periode awal terjadinya krisis. Credit crunch merupakan fenomena terjadinya ketidakseimbangan (disequillibrium) di pasar kredit yang disebabkan oleh faktor-faktor di sisi penawaran kredit perbankan, sisi permintaan dari debitur, ataupun kondisi ekonomi  dan moneter yang berpengaruh terhadap penyaluran kredit perbankan, khususnya kebijakan moneter.( Perry Warjiyo, 2007) Kebijakan moneter berdampak pada pasar kredit melalui pengaruhnya terhadap pembentukan ekspektasi perbankan maupun debitur atas arah pergerakan variabel-variabel seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, dan suku bunga dalam menganalisis permintaan kredit.&lt;br /&gt;Dalam rumusan kebijakan adalah penting untuk memahami fenomena credit crunch, jika muncul. Kenyataannya  penawaran agregat  dari kredit tidak dapat menurun dengan sendirinya, implikasinya adalah terjadi credit crunch. Secara simultan mengalami penurunan besar-besaran dalam permintaan yang  merespon penurunan permintaan  untuk produksi perusahaan, sepertinya, penetapan atau penentuan tingkat bunga, ekses penawaran, lebih dari penurunan kredit.  Jika , meskipun ,  ekses permintaan dari kredit, yang mengukur kenaikan likuiditas cadangan dan dapat juga berdampak pada rendahnya tingkat bunga.       ( Dominique Dwor-Frecaut; Mary Hallward-Driemeier; Francis X. Colaço, 1999)&lt;br /&gt;Secara makro credit crunch dapat menghambat pertumbuhan ekonomi mengingat sumber pembiayaan dunia usaha sangat tergantung pada kredit perbankan. Credit crunch yang terus berlangsung akan dapat memberikan second round effect (efek babak kedua) pada krisis dunia usaha, yang akan memperburuk pinjaman bank dan resiko terjadinya krisis keuangan baru. Bagi kepentingan pengendalian moneter credit crunch memiliki efektivitas pengendalian moneter karena respon perbankan dalam mentransmisikan pengaruh sinyal kebijakan moneter terhadap berbagai aktivitas keuangan dan ekonomi tidak seperti yang diharapkan bank sentral.&lt;br /&gt;Kenyataanya  rasionalisasi dari kredit oleh  perbankan  juga tidaklah mudah dimengerti tentang credit crunch. Sepertinya rasionalisasi memungkinkan reflect banks tidak menginginkan untuk memberikan pinjaman, sebab  mereka tidak memiliki cukup modal dengan sebagain besar portofolio  mengalami kredit macet. Dalam banyak kasus, ekpansi  likuiditas tidaklah menjadi jawaban. Yang hanya memiliki efek yang mempengaruhi perbankan  untuk melebarkan portofolio tabungan mereka. Memperburuk permasalahan mereka dalam kecukupan modal. Yang akan menyebabkan kebutuhan  jangka panjang dalam menghitung restrukturisasi perbankan yang disebut dengan krisis. Kemungkinan, meskipun ketika tingkat suku bunga tinggi, dimana pilihan hati-hati dan persepsi atau pemahaman  yang tepat  dari lembaga penjamin resiko pinjaman. Yang dapat melahirkan keduanya, sebab informasi yang tidak sempurna tentang kebenaran kualitas perusahaan dan proyek  atau  ketepatan dalam kehati-hatian mengambil resiko dari lembaga peminjaman. Dalam banyak kasus, perbaikan dalam keterbukaan dan ketepatan informasi, melalui perbaikan akuntansi dan auditing, dapat memperkecil  munculnya resiko. Juga perbaikan perusahaan, seperti perubahan pembenahan  hukum dari kebankrutan dan kepailitan, dan merger serta akuisisi, dapat memfasilitasi perbaikan perusahaan dan restrukturiasi perbankan.&lt;br /&gt;Fernomena credit crunch ditegaskan oleh Perry Warjiyo (2007) adalah mempunyai dua implikasi yang sangat penting bagi kebijakan moneter. Seperti berikut ;&lt;br /&gt;1. Efektivitas kebijakan moneter menjadi terkendala karena  tidak berjalannya mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui perbankan. Hal ini terutama disebabkan karena penyaluran kredit perbankan tidak banyak ditentukan oleh pergerakan suku bunga akan tetapi lebih didorong oleh faktor-faktor seperti pilihan yang hati-hati dan resiko dunia usaha.&lt;br /&gt;2. Dalam kondisi lemahnya keuangan perusahaan, pengaruh kebijakan moneter dapat bersifat asimetris.&lt;br /&gt;Credit crunch akan menghambat investasi yang pada akhirnya akan mengakibatkan terganggunya sumber pendapatan nasional dan bisa mengakibatkan terganggunya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Karena kontraksi yang tidak wajar dari moneter akan mengakibatkan kerugian pemerintah, karena dana yang mandek ini lebih banyak disimpan di Bank Indonesia, yaitu dalam bentuk SBI yang dapat menyebabkan beban bagi pembayaran bunga SBI, sebesar tingkat bunga yang ditentukan.&lt;br /&gt;2.1.6 Dampak Kebijakan Moneter yang Asimetri&lt;br /&gt; Pasca krisis kondisi perbankan dan swasta masih relatif lemah, kebijakan moneter yang kontraktif dan ekspansif memiliki dampak asimetris. Kebijakan yang ekspansi tidak banyak berdampak pada sektor riil karena bank tidak merespon dengan menurunkan suku bunga kredit untuk mendorong investasi. Namun kebijakan moneter yang kontraktif relatif lebih kuat mempengaruhi penurunan kredit bank dan kenaikan suku bunga kredit sehingga lebih kuat dampaknya pada sektor riil. Selain itu, dengan kondisi struktur finansial yang lemah, pengetatan kebijakan moneter juga mengakibatkan dampak pelemahan berganda, tidak hanya mengakibatkan biaya modal semakin tinggi, tetapi juga berdampak pada kondisi cash flow sektor korporasi. Semakin bergandanya dampak kebijakan moneter pada sektor riil, disebut dengan fenomena akselerator. Implikasinya, kebijakan moneter yang kontraktif perlu dilakukan lebih berhati-hati terutama dalam fase pemulihan mengingat dampaknya pada kontraksi perekonomian seringkali lebih besar dari yang diperkirakan.&lt;br /&gt;2.1.7 Model Bernanke-Blinder&lt;br /&gt;Kurva LM dalam kondisi keseimbangan portofolio untuk dua aset kepemilikan dalam memilih memegang uang atau obligasi. Model Bernanke-Blinder memiliki 3 aset yaitu uang, obligasi, dan pinjaman(kredit). Hanya pasar kredit membutuhkan penjelasan lebih dalam.Asumsinya bahwa antara penabung dan peminjam memilih antara obligasi dan kredit melalui besarnya suku bunga dalam dua instrumen kredit. Jika ρ adalah suku bunga kredit dan i adalah suku bunga obligasi, maka permintaan kredit adalah Ld=L(ρ,i.y) tergantung pada GNP (y) menangkap transaksi permintaan dari kredit meningkat, untuk modal kerja atau pertimbangan likuiditas.&lt;br /&gt;Untuk memahami asal usul dari penawaran kredit menganggap neraca bank secara sederhana seperti berikut :&lt;br /&gt;Assets&lt;br /&gt;Liabities&lt;br /&gt;Reserve (R)&lt;br /&gt;Deposite (D)&lt;br /&gt;Bonds (BD)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loans (LS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak cadandan (Reserve) terdiri dari RR (Requered Reserves) ditambah ER (excess Reserve), bank terpaksa menaikkan dalam : BD+LS+ ER = D(1-RR). Asumsinya bahwa keinginan pembagian portofolio tergantung pada tingkat pendapatan dari aset yang dimiliki/tersedia ( untuk ER = 0), fungsi penawaran kredit adalah&lt;br /&gt;LS = λ (ρ,i)D(1-RR)       (2.1)&lt;br /&gt;Tingkat bunga kredit (ρ) bertanda negatif, dan tingkat bunga obligasi (i) bertanda positif, dengan persamaan yang sama untuk membagi Bb dan ER. Kondisi tersebut untuk lebih jelasnya dalam pasar kredit adalah :&lt;br /&gt;L(ρ,i,y) = λ(ρ,i) D (1-RR)    (2.2)&lt;br /&gt;Permintaan  uang dibambarkan dalam kurva kurva LM konfensional, Andaikata bank memegang persamaan dalam ε(i)D(1-RR). Bahwa penawaran deposito adalah sama dengan cadangan (R), waktu pengganda uang berupa :&lt;br /&gt;m(i) = (ε(i)(1-RR)+RR))-1    (2.3)&lt;br /&gt;Permintaan deposito meningkat dari motif transaksi dan menggantungkan pada suku bunga, pendapatan, dan total kekayaan, D(i,y), dalam persamaan berikut :&lt;br /&gt;D(i-,y+) = m(i+) R     (2.4)&lt;br /&gt;Secara tersirat, D(i,y) dan L(ρ,i,y) menentukan fungsi permintaan masyarakat bukan untuk obligasi adalah permintaan uang di tambah permintaan obligasi dikurangi permintaan kredit harus sama dengan total kekayaan finansial.&lt;br /&gt;Pasar uang dalam kurva IS, umumnya dituliskan sebagai berikut :&lt;br /&gt; Y = Y(i,ρ)      (2.5)&lt;br /&gt;Dengan mengambil persamaan (2.4) menganti D(1-RR) ke samping kanan dari persamaan (2.3) dengan (1-RR)m(i)R. Bahwa persamaan (2.3) dapat diselesaikan untuk ρ seperti fungsi dari i,y, R.&lt;br /&gt; Ρ = Φ(i+,y+,R-)     (2.6)&lt;br /&gt;Akhirnya mengubah persamaan (2.6) ke dlam persamaan (2.5) diperoleh fungsi :&lt;br /&gt; Y = (i, Φ(i,y, R))    (2.7)&lt;br /&gt;Persamaan 2.7 dalam tulisan Don Patinkin (1956) disebut kurva CC (untuk pasar komositas dan kredit .&lt;br /&gt;Kurva CC memiliki kemiringan negatif seperti kurva IS. Meskipun kebijakan moneter (R) dan gejolak pasar uang berdampak pada L atau λ. Kurva CC mereduksi dari kurva IS jika pinjaman dan obligasi diasumsikan tersustitusi sempurna untuk peminjam atau kreditur, atau jika permintaan komoditi tidak sensitif untuk tingkat pinjaman (Yρ=0) yang membuat psasr kredit tidak relevan untuk IS/LM. Penjelasan khusus berasumsi secara implisit hanya dalam jalur uang saja.&lt;br /&gt;Perbandingan secara ekstrim atau hanya jalur kredit saja, akan naik jika uang dan obligasi bersubstitusi sempurna, akan membentuk kurva LM horisontal. Keynes menjelaskannya dengan apa yang dinamakan liquidity trap (jebakan likuiditas). Kemampuan bersubstitusi yang tinggi lebih seperti menaikkan dari inovasi keuangan dengan menciptakan pergantian uang baru. Meskipun, kejadian seperti jebakan likuiditas tersebut, kebijakan moneter sangat penting, sebab dapat mempengaruhi kurva CC.&lt;br /&gt;Kurva LM dan CC dapat digambarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Gambar 2.1&lt;br /&gt;Kurva LM dan Kredit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:  Bernanke- Blinder (1988), dalam Money, Credit and Aggregat Demand&lt;br /&gt;2.1.8 Model Impiris Bernanke-Blinder&lt;br /&gt; Menggunakan data time series drai tahun 1974 Kuartal I sampai dengan 1985 kuartal IV Bernanke-Blinder melakukan perbandingan antara fungsi Permintaan Uang/Penawaran Uang dengan Kredit ke dalam model. Menggunakan PAM (Partial Adjustedment Model) untuk persamaan permintaan uang. Fungsi permintaan uang adalah f(i, P, Y), sedangkan fungsi kredit adalah f( i, P, Y, ρ) dengan menggunakan fungsi log dalam tiap persamaan. Persamaan tersebut adalah :&lt;br /&gt; logM = α0 + α1 logM-1 + α2 log i + α3 logP + α4 log Y  (2.8)&lt;br /&gt; logC = β0 + β1 logC-1 +  β2 log i + β3 log ρ + β4 log P + β5 log Y (2.9)&lt;br /&gt;Dimana : M = Money Stock&lt;br /&gt;  C = Kredit&lt;br /&gt; M-1 = Money Stock satu periode sebelumnya.&lt;br /&gt; C-1 = Kredit satu periode sebelumnya.&lt;br /&gt; i     = tingkat suku bunga Treasury bill tiga bulan.&lt;br /&gt; r     = tingkat bunga bank umum.&lt;br /&gt; P   = GNP Deflator.&lt;br /&gt; Y   = GNP riel.&lt;br /&gt;Hasilnya adalah tidak ada variabel independen yang mempengaruhi secara signifikan dengan derajat kesalahan 5 persen, dan masing-masing variabel M-1, i, P dan Y hanya mempengaruhi secara signifikan M pada derajat kesalahan 10 persen. Artinya persamaan konsisten dengan teori pada derajat kesalahan 10 persen. Variabel C-1 dan P mempengaruhi C dengan derajat kesalahan 10 persen, sedang i dan ρ tidak signifikan pada derajat kesalahan 10 persen. Tanda tetap konsisten dengan teori.&lt;br /&gt;Membangi data dalam dua sub periode yaitu 1974:1  sampai dengan 1979:3 dan 1979:4 sampai 1985:4 diperolehlah perbedaan variance residual antara M dan Kredit, sebagai berikut :&lt;br /&gt;Periode 1974:1 s/d 1979:4  variance residual kredit &lt;&gt; uang (Money). Perbedaan dari variance residual tidak cukup berarti ( ditunjukkan dengan pangkat yang sama dari pembilang).&lt;br /&gt;Pembenahan masalah penawaran uang lebih dominan  dari kredit sebelum sebelum 1980.  Tetapi setelah 1980 pembenahan lebih dominan memfokuskan kredit.  Keterangan lebih lanjut bahwa model Bernanke-Blinder (1998) ini tidak menjelaskan lebih dalam arti perbedaan yang berarti.&lt;br /&gt;2.1.9  Pengunaan M1 sebagai variabel M (Penawaran Uang)&lt;br /&gt;Konsep uang memegang peranan yang sangat penting dalam analisis makro ekonomi. (Insukindro, 2003) Konsep uang dapat dibagi dalam empat kelompok :&lt;br /&gt;1.Uang sebagai media pertukaran (Johnson, 1962) yang berupa uang kartal ditambah uang giral.&lt;br /&gt;2.Alat penyimpan daya beli sementara (Newton Friedman) Yaitu uang kartal ditambah semua deposito yang ada di bank umum.&lt;br /&gt;3.Semua besaran ekonmi yang dapat menambah likuiditas masyarakat. (Komite Radcliffe) yaitu uang tidak hanya dalam arti sempit yang terdiri dari uang kartal dan uang giral, tetapi harus mencakup semua aktiva keuangan lain yang mempunyai kemampuan sebagai substitusi uang.&lt;br /&gt;4.Devinisi uang yang relevan seharusnya mencakup semua bentuk uang  termasuk semua pasiva yang diterbitkan oleh lembaga keuangan bukan bank, selain uang yang dietrbitkan oleh bank.(Gurley and Shaw)&lt;br /&gt;Sampai saat ini ada 3 konsep uang yang berlaku di Indonesia (Insukindro,2003) yaitu :&lt;br /&gt;1.Uang Primer (M0) yang merupakan kewajiban moneter dari otoritas moneter yang terdiri dari uang kartal yang dipegang masyarakat, kas bank, giro bank, dan giro perusahaan atau perseorangan.&lt;br /&gt;2.Uang dalam arti sempit (M1) yang merupakan kewajiban moneter dari sistem moneter kepada masyarakat yang terdiri dari uang kartal dan uang giral.&lt;br /&gt;3.Uang dalam arti luas (M2) yang merupakan kewajiban moneter dari sistem moneter kepada masyarakat yang terdiri atas M1 dan kuasi (tabungan dan deposito baik dalam rupiah dan valuta asing).&lt;br /&gt;Monetery  Base (M0) atau  uang inti adalah hasil daripada penjumlahan uang Kartal (C) ditambah Cadangan (R), dapat  dibangun persamaan yang berkaitan dengan jumlah uang inti dalam tingkat dari deposito yang dapat diuangkan (Checkable Deposite) dan uang kartal dengan menambahkan  uang kartal untuk  dua sisi dari persamaan :&lt;br /&gt;       (2.12)&lt;br /&gt;Jalan lain untuk berpikir tentang persamaan di atas adalah terdiri dari sejumlah uang inti yang diperlukan untuk mendukung jumlah yang ada dari chekable deposits , uang kartal, dan excess resserves.(Frederic S. Miskhin, 2001)&lt;br /&gt;Uang dalam arti sempit atau M1 adalah merupakan penjumlahan dari uang kartal dan uang giral, dirumuskan dengan persamaan :&lt;br /&gt;       (2.13)&lt;br /&gt;Dimana M1 adalah uang inti, C uang kartal dan D adalah Demand Deposits  atau Giro.&lt;br /&gt;Uang dalam arti luas atau M2 didefinisikan dalam persamaan sebagai berikut :&lt;br /&gt;     (2.14)&lt;br /&gt;Dimana : C adalah uang kartal yang beredar, D adalah chekable deposits, T adalah time and saving deposits, MMF adalah uang primer di pasar mutual fund shares  dan money market deposits account, ditambah overnight agreement dan Overnights Eurodollars. (Frederic S. Miskhin, 2001)&lt;br /&gt;Namun di Indonesia penggunaan M1 masih tetap relevan sebagai dasar untuk menjadi indikator Jumlah Uang Beredar, oleh karena itu penggunaan M1 lebih diutamakan daripada M0 dan M2 dalam model Bernake-Blinder di Indonesia dalam penelitian ini.  &lt;br /&gt;2.1.10  Pengunaan Variabel Kredit sebagai Variabel Eksogen  Model.&lt;br /&gt;Kredit adalah pinjaman dari kreditur dalam hal ini perbankan pada debitur yang berupa kredit tertentu untu keperluan Investasi, Modal Kerja dan Konsumsi, dapat untuk membiayai perusahaan, ekspor dan impor, baik berupa valas maupun rupiah, dengan membayar biaya berupa bunga tertentu yaitu tingkat bunga kredit. (HLB Hadori dan Bank Indonesia, 2002)&lt;br /&gt;Jika dikaitkan dengan tingkat bunga yang berlaku, terjadi suatu anomali yang pada kenyataannya kredit investasi dalam bentuk rupiah akan meningkat seiring dengan peningkatan suku bunga, sebaliknya akan menurun seiring dengan penurunan suku bunga. (HLB Hadori dan rekan, 2002)&lt;br /&gt;Kredit modal kerja yang merupakan jenis kredit yang paling dominan, mengindikasikan nilai relatif konstan dalam satuan dollar. Kemungkinan besar digunakan untuk membiayai impor. Sedangkan kredit rupiah mengalami penurunan terus menerus akibat dari ketakutan perbankan terhadap kredit macet karena tingginya NPL (Non Performance Loans). (HLB Hadori, 2002)&lt;br /&gt;Sedangkan kredit konsumsi dipengaruhi oleh peningkatan tingkat pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan dengan kenaikan PDB, karena kredit konsumsi membutuhkan jaminan yang mapan untuk menjadikan jaminan agar kredit tidak macet.&lt;br /&gt;2.1. 11 Sasaran Kebijakan Moneter&lt;br /&gt;Secara umum tujuan atau sasaran kebijakan moneter tidak jauh berbeda dengan kebijakan makro ekonomi lainnya. Bahwa sasaran kebijakan moneter adalah :&lt;br /&gt;1.tersedianya kesempatan kerja yang tinggi,&lt;br /&gt;2.pertumbuhan ekonomi, kestabilan harga,&lt;br /&gt;3.kestabilan suku bunga,&lt;br /&gt;4. kestabilan pasar keuangan dan&lt;br /&gt;5.kestabilan pasar valuta asing. (Miskhin, 2001)&lt;br /&gt;Ketiga sasaran yang disebut pertama dan keseimbangan neraca pembayaran  sering disebut sebagai sasaran akhir yang di dalam mencapainya perlu sasaran antara dan sasaran kerja. Idelanya semua sasaran itu dapat dicapai secara bersamaan , tetapi sering kali pencapaiannya mengandung unsur-unsur yang kontradiksi atau tumpang tindih, sehingga perlu disadari perlunya kebijakan moneter dengan sasaran tunggal.(Insukindro, 2003)&lt;br /&gt;Untuk sasaran moneter di kuantitas di Indonesia,&lt;br /&gt;1.sasaran operasional yang digunakan terutama uang primer (M0) dan&lt;br /&gt;2.sasaran antaranya  adalah M1 dan M2 sesuai dengan konsep uang yang berlaku di Indonesia.&lt;br /&gt;Perangkat kebijakan yang sering digunakan adalah operasi pasar terbuka melalui lelang SBI (Sertifikat Bank Indonesia),  dan intervensi baik ke pasar uang rupiah maupun pasar valuta asing (Solikin, 2003). Melalui lelang SBI mingguan diharapkan sasaran M0 dapat tercapai. Selanjutnya, jika seandainya terjadi perkembangan yang tidak terduga yang memungkinkan tidak tercapainya sasaran M0, BI akan melakukan intervensi langsung di pasar uang, antara lain melalui pembelian kembali SBI dan menawarkan pada bank-bank umum untuk menannamkan kembali likuiditasnya di BI.  Intervensi di pasar uang atau pasar valas juga dimaksudkan untuk menyerap kelabihan likuiditas karena ekspansi fiskal dan sekaligus untuk menjaga kestabilan nilai rupiah. (Insukindro, 2003)&lt;br /&gt;Namun demikian, keberhasilan kebijakan kuantitas uang ini ditentukan oleh stabilitas besaran moneter, permintaan uang, velositas uang dan angka pengganda uang. Dengan kata lain, penaksiran terhadap perilaku masyarakat di pasar uang menjadi penting karena akan menentukan efektifitas kebijakan moneter.  Jika permintaan uang tidak stabil pengaruh kebijakan moneter terhadap keseimbangan ekonomi juga tidak mudah diprediksi. Jika ketidak stabilan ini terjadi maka harus dicarikan solusinya, baik melalui perbaikan mode ekonomi moneter atau melalui kebijakan moneter pendekatan harga sepetrti melalui target inflasi dan kurs. (Insukindro, 2003) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2  Kerangka Pemikiran Teoritis&lt;br /&gt; Kebijakan uang beredar merupakan kebijakan pengendalian jumlah uang beredar, dimana bank Indonesia mengeluarkan instrumen kebijakan moneter guna mengendalikan jumlah uang beredar. Kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia direspon oleh masyarakat sesuai dengan tingkat pendapatan (PDB) dan suku bunga SBI (i) dan inflasi. &lt;br /&gt; Di sisi lain bank umum sebagai lembaga intermediasi mengeluarkan kebijakan suku bunga kredit perbankan untuk melakukan penawaran kredit, diikuti dengan permintaan kredit (L). Permintaan kredit dipengaruhi pendapatan (PDB), tingkat suku bunga SBI sebagai portopolio kredit dan perubahan tingkat harga-harga di masyarakat (inflasi).&lt;br /&gt; Kredit diharapkan akan menciptakan investasi di sektor riil sehingga meningkatkan  pertumbuhan ekonomi. Ditunjukkan  dengan peningkatan pendapatan (PDB) dengan tingkat inflasi tertentu.&lt;br /&gt; Kerangka pemikiran teoritisnya dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :&lt;br /&gt;     Gambar 2.2&lt;br /&gt;Stabilitas Jalur Jumlah Uang Beredar dan Kredit dalam Intermediasi di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :                     = menunjukkan hasil&lt;br /&gt;                                         = menunjukkan pengaruh&lt;br /&gt;Kerangka pemikiran tersebut di atas juga dapat digambarkan dalam mekanisme transmisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Model Quantum Channel dengan menggunakan jalur Jumlah Uang Beredar ( M1)dan Kredit (L).  Fungsi Jumlah Uang beredar adalah M1t= f(rt , PDBt , M1t-1), dan Fungsi Kredit adalah (L)t =f(r , PDBt , Kredit(L)t-1, it ). Dari hasil persamaan dengan regresi OLS (Ordinary Least Square) dihasilkan variance residual dari masing-masing fungsi JUB dan Kredit. Kemudian dibandingkan variance residual-nya. Bila variance residual M1 &lt;&gt; variance residual Jumlah Uang Beredar (M1) .&lt;br /&gt;11.Sebelum dan sesudah  krisis moneter variance residual Kredit (L) &gt; variance residual Jumlah Uang Beredar (M1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III.&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Definisi Operasional&lt;br /&gt;Data-data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dalam statistik Bank Indonesia dianggap cukup memberikan representasi dalam menganalisis tentang Jalur Mekanisme Transmisi dengan pendekatan Quantum Channel. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;3.1.1 Variabel Dependen/Eksogen&lt;br /&gt;3.1.1.1 Variabel Jumlah Uang Beredar/Besaran Moneter (M1)&lt;br /&gt;Jumlah uang beredar (M1) sebagai variabel dependen, dalam bentuk logaritma untuk melihat efek pertumbuhan . Data yang digunakan diperoleh dari Bank Indonesia dengan satuan mata uang rupiah sebagai  satuan besaran moneter.&lt;br /&gt;3.1.1.2 Variabel Kredit (L)&lt;br /&gt;Kredit atau (L) adalah permintaan kredit, berupa besarnya pinjaman dari masyarakat berupa kredit investasi dan modal kerja yang dikeluarkan oleh bank umum. Penggunaan logaritma dari Kredit adalah untuk melihat efek pertumbuhan kredit, seperti halnya dalam penggunaan bentuk logaritma dalam melihat pertumbuhan jumlah uang beredar. Sebagai satuannya adalah dalam rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2 Variabel Independen/Endogen&lt;br /&gt;3.1.2.1 Varibel Lag Satu Periode sebelumnya dari Jumlah Uang Beredar&lt;br /&gt;Varibel Lag satu periode sebelumnya dari Jumlah Uang Beredar (M1-1) adalah lag satu periode variabel dependen M1, sesuai dengan sifat data time series yang memiliki keterikatan erat antar waktu. Satuan yang digunakan adalah rupiah.&lt;br /&gt;3.1.2.2 Varibel Lag Satu Periode sebelumnya dari Kredit&lt;br /&gt;Varibel lag satu periode sebelumnya dari Kredit (L-1) adalah lag satu periode variabel dependen Kredit (L), sesuai dengan sifat data time series yang memiliki keterkaitan erat antar waktu. satuan dalam rupiah.&lt;br /&gt;3.1.2.3 Variabel Suku Bunga SBI.&lt;br /&gt;Variabel Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia  adalah variabel independen sesuai dengan teori portfolio choice. Suku bunga dalam hal ini suku bunga SBI pada umumnya ditunjukkan dalam prosen karena merupakan rasio dari pendapatan bunga yang diperoleh terhadap besarnya nilai Sertifikat Bank Indonesia yang dimiliki oleh pemilik SBI. Tingkat bunga SBI yang digunakan adalah tingkat bunga bulanan.&lt;br /&gt;3.1.2.4 Variabel Pendapatan (PDB)&lt;br /&gt;Variabel Produk Domestik Bruto (PDB) yang merupakan proxy dari pendapatan (Y) dijadikan sebagai variabel independen, dimana PDB (Y) yang diambil adalah data Bank Indonesia berupa PDB Nominal (Y)  dengan satuan yang digunakan dalam rupiah. Karena data PDB nerupakan data tahunan maka untuk diperoleh data triwulanan maka dilakukanlah teknik interpolasi. Interpolasi terhadap PDB dengan menggunakan rumus sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   (3.1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qn= kuartal ke N&lt;br /&gt;Yt= PDB pada tahun t&lt;br /&gt;N = Jumlah kuartal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q1= ¼ X 2/5Y = 1/10 Y&lt;br /&gt;Q2 = 2/4 X 2/5Y = 1/5 Y&lt;br /&gt;Q3 = ¾ X 2/5Y = 3/10 Y&lt;br /&gt;Q4 = 4/4 X 2/5Y = 2/5 Y&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rumus diatas merupakan adopsi dari rumus interpolasi linear dengan rumus :&lt;br /&gt; (3.2)&lt;br /&gt;Dimana Y sama dengan garis ordinat dan X adalah absis dalam linier interpolasi.(M. Agus Choirun 2007).&lt;br /&gt;3.1.2.5 Variabel Suku Bunga Kredit  .&lt;br /&gt;Suku bunga kredit investasi adalah suku bunga kredit atau pinjaman (loan) yang merupakan variabel independen sesuai dengan teori portfolio choice Seperti halnya suku bunga SBI suku bunga kredit riil ditampilkan dalam bentuk prosentase. Dan penggunaan suku bunga kredit  (ρ) lebih tepat untuk menunjukkan bukti-bukti yang bisa lebih baik dalam persamaan regresi yang digunakan untuk menjelaskan permintaan kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2.6 Variabel Inflasi&lt;br /&gt; Seperti dalam model Bernanke-Blinder mengunakan variabel P berupa deflator GNP (Gross National Product), karena penggunaan log P adalah untuk mencari data inflasi (π), maka penggunaan invlasi dalam model lebih utama karena lebih mudah diperoleh dalam data statistik yang dibutuhkan. Karena Log P = Inflasi (π).&lt;br /&gt;3.2 Jenis dan Sumber Data&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Statistik keuangan Bank Indonesia dengan menggunakan beberapa media baik elektronik maupun media tulis berupa Web side BI.go.id maupun Laporan Bulanan, Triwulanan dan tahunan  yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Periodisasi data penelitian yang mencakup data periode tahun 1990 kwartal I sampai dengan kwartal IV tahun 2006 dipandang cukup mewakili sejauh mana pengaruh variable-variabel independent terhadap variable dependen. Data-data tersebut setelah diolah dan dianalis dengan menggunakan alat bantu komputasi yaitu dengan  program Eviews 3, 4 atau 5.  Model yang digunakan adalah model Bernanke-Blinder dengan menggunakan model  Quantum Channel. Dengan menggunakan Variabel M1 dan Kredit(L)  dengan Suku Bunga SBI(i), PDB atau Pendapatan (Y), suku bunga kredit (ρ) , dan inflasi (π), kemudian dari regresi OLS dari masing-masing fungsi M1 dan kredit (L) tersebut dibandingkan variance residual-nya diperoleh perbedaan yang menunjukkan seberapa besar dominasi antara besaran moneter dan kredit sebelum dan sesudah gejolak moneter tahun 1997 kuartal III, sehingga dapat diketahui efektifitas Quantum Channel..&lt;br /&gt;Data yang diambil dan digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh data time series dari tahun 1990 kuartal I sampai dengan 2006 Kuartal IV. Jumlah sampel yang diambil adalah sama yaitu dengan jumlah N = 68. Dengan variable yang digunakan adalah variabel besaran moneter yang diwakili oleh (M1) serta variabel lain berupa  Kredit (L) dan variabel tingkat bunga SBI (i), PDB (Y) dan tingkat bunga kredit (ρ).&lt;br /&gt;Satuan untuk Y, M1, dan kredit (L) adalah Rupiah, sedangkan satuan untuk tingkat bunga SBI (i), dan tingkat bunga  kredit (ρ) dan inflasi (π) dalam prosen. Karena memiliki satuan yang berbeda maka dilakukan log pada masing-masing variabel yang diperoleh untuk mendapatkan satuan yang sama karena akan melihat pertumbuhan dari masing-masing variabel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Metode Pengumpulan Data&lt;br /&gt; Data-data yang diperlukan tersebut dikumpulkan dengan melakukan non participant observation, yaitu melakukan down load situs www.bi.go.id , mencatat atau mengkopi data Laporan Keuangan Bank Indonesia baik mingguan, bulanan, triwulanan, atau tahunan yang merupakan financial report (laporan keuangan) dari literatur-literatur pendukung lainnya serta melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan penelitian ini baik berkaitan dengan teori ekonomi makro, teori ekonomi moneter, perbankan maupun literatur berupa jurnal ilmiah dan teks book yang mendukung penelitian ini. . Selain itu sebagai referensi dibutuhkan studi puataka yang memadahi agar penelitian ini dapat berjakan sesuai dengan aturan metode ilmiah dalam ilmu ekonomi. Literatur bidang ekonomi sangat dibutuhkan terutama literarur yang mengkhususkan dalam bidang ekonomi moneter baik dalam bentuk jurnal, buku panduan dan sumber lain yang dapat diakui sebagai leteratur yang layak untu dijadikan acuan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4 Teknik Analisis Data&lt;br /&gt; Teknik analisis data ini akan menganalisis secara ekonomi stabilitas Quantum channel dalam mekanisme transmisi. Oleh karena itu harus dibantu dengan model ekonometrik yang didukung dengan alat analisa matematika, statistika dan ekonomi. Alat analisis yang digunakan berguna mencari pembuktian hipotesis secara empiris.&lt;br /&gt;3.4.1 Model Quantum Channel oleh Bernanke Blinder.&lt;br /&gt;Pendekatan Quantum Channel Model Bernanke-Blinder di Indonesia dengan  data yang diambil secara kuartalan dari tahun 1990 kuartal I sampai dengan 2006 kuartal IV. Model Quantum Channel adalah melakukan regresi pada variabel independen pada masing-masing model regresi berganda pada M1  dan Kredit (L). Model tersebut  dapat dirumuskan  persamaan  sebagai berikut :&lt;br /&gt;logM = α0 + α1 logM-1 + α2 log i + α3 π + α4 log Y  (3.3)&lt;br /&gt; logL = β0 + β1 logL-1 +  β2 log i + β3 log ρ + β4 π + β5 log Y (3.4)&lt;br /&gt;Dimana :&lt;br /&gt;M1 = Uang dalam arti sempit&lt;br /&gt;L = Kredit&lt;br /&gt;Y = Produk Domestik Bruto/ Pendapatan nominal.&lt;br /&gt;i = Suku bunga SBI.&lt;br /&gt;ρ = Suku bunga kredit.&lt;br /&gt;π =  inflasi&lt;br /&gt;Bernanke Blinder melakukan regresi dari masing-masing persamaan permintanan uang dan kredit dengan melakukan regresi persamaan OLS . Karena hasil regresi dengan OLS tetap konsisten dalam menghasilkan persamaan regresi, (HLB Hadori, 2002) maka untuk melakukan pengujian regresi dari variance residualnya (predicted error-nya) dilakukan pengujian  dengan persamaan OLS (ordinery least square) atau persamaan kuadrat terkecil, dan dilakukan uji asumsi klasik yaitu uji multikolinearitas, uji autokorelasi dan uji heterokedastisitas, dengan derajat keyakinan 95% dengan uji statistik berupa besarnya koefisien dari konstanta dan varibel independen,  uji F, besarnya R2 dan Uji t untuk melihat seberapa jauh variabel independen mempengaruhi variabel dipenden. Dan pengunaan OLS dapat dilakukan apabila persamaan tidak teridentifikasi simultan, karena pemakaian regresi OLS dalam perhitungan tetatp bersifat konsisiten. (Gujarati, 2002)&lt;br /&gt;Persamaan OLS memiliki beberapa asumsi klasik yang perlu diuji validitasnya. Asumsi dasar tersebut adalah :&lt;br /&gt;3.4.1.1 Uji Multikolinearitas&lt;br /&gt; Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan korelasi antar variabel bebas(independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Jika variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel-variabel tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel sama dengan nol. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi, adalah (1) Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel bebas banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen (terikat),(2) Menganalisis matriks korelasi variabel-variabel bebas. Jika antara variabel bebas ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0,90) maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinearitas.&lt;br /&gt;3.4.1.2 Uji Autokorelasi&lt;br /&gt;Uji autokorelasi bertujuan untuk mendeteksi apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan-kesalahan pengganggu periode t dengan kesalahan t-1. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada masalah autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu dengan yang lain. Uji Autokorelasi dengan melakukan Durbin Watson test dengan berbagai macam syarat dimana tidak terjadi autokorelasi bila :&lt;br /&gt;1.0 &lt; white ="    (3.6)" 1 =" α2" 3 =" α4" 5 =" α6" n =" besar" s =" koefisien" k =" koefisien" berarti="" m1="" lebih="" dan="" apabila="" l=""&gt;&lt;m1 berarti="" lebih="" data="" sebelum="" diambil="" dari="" tahun="" 1990="" i="" sampai="" 1997="" kuartal="" sesudah="" krisis="" yaitu="" membandingkan="" variance="" residual="" antara="" dan="" kredit="" apabila="" m1=""&gt;&lt;l berarti="" m1="" lebih="" efektif="" dalam="" meningkatkan="" pertumbuhan="" dan="" apabila="" l=""&gt;&lt;m1 berarti="" lebih="" data="" diambil="" dari="" tahun="" 1997="" iii="" sampai="" 2006="" kuartal="" sebelum="" sesudah="" krisis="" yaitu="" membandingkan="" variance="" residual="" antara="" dan="" kredit="" apabila="" m1=""&gt;&lt;l berarti="" m1="" lebih="" efektif="" dalam="" meningktakan="" pertumbuhan="" dan="" apabila="" l=""&gt;&lt;m1 data="" diambil="" 1991="" iii="" 2006="" kuartal="" masing="" diketahui="" mana="" stabilitas="" jalur="" membandingkan="" variance="" residual="" bab="" iv="" an="" cukuplah="" mengalami="" berarti="" disertai="" kelonggaran="" arus="" modal="" asing="" pengawasan="" hubungan="" mendorong="" mengkaji="" ulang="" instrumen="" paket="" mengurangi="" kelemahan="" perekonomian="" beberapa="" dilakuakan="" sejak="" 1983="" akhir="" sering="" dinyatakan="" sebakai="" akar="" inti="" rangkaian="" membiarkan="" kekuatan="" peranan="" besar="" sistem="" sementara="" itu="" upaya="" selaras="" semakin="" kompleks="" kebutuhan="" teknologi="" kualitas="" sumber="" daya="" merespon="" sebelum="" memiliki="" ciri="" dimana="" peran="" dominan="" sulit="" bersaing="" awal="" melakukan="" termasuk="" kegiatan="" pasar="" puncak="" liberalisasi="" tersebut="" adalah="" krisis="" terjadi="" berakibat="" lemahnya="" segala="" dilakukan="" pemerintah="" mengembalikan="" kondisi="" keuangan="" nilai="" membangkitkan="" iklim="" berupa="" tepat="" reformasi="" banyak="" 10="" 1998="" menggantikan="" 7="" ditingkatkan="" lagi="" no="" 23="" merupakan="" penguatan="" indonesia="" lebih="" dikeluarkan="" pula="" uu="" 3="" 2004="" membahas="" tentang="" koordinasi="" antara="" fiskal="" di="" pengendalian="" melalu="" kontrol="" kepada="" kesehatan="" bank="" sebagai="" lembaga="" intermediasi="" sampai="" penghujung="" tahun="" namun="" berbagai="" macam="" usaha="" perbaikan="" menstabilkan="" likuiditas="" perbankan="" baru="" berkisar="" sektor="" belum="" dapat="" perkembangan="" moneter="" besaran="" kebijakan="" dibahas="" gambaran="" umum="" analsis="" juga="" disusuan="" dalam="" analisis="" pembahasan="" pengujian="" persamaan="" m1="" penawaran="" fungsi="" hasil="" perhitungan="" berganda="" menggunakan="" regresi="" semi="" logaritma="" menghasilkan="" estimasi="" seperti="" berikut="" 622="" 0536="" y="" 025="" log="" i="" 00026="" prob="" adj="" r2="0,996" dw="" test="2,03" f="" statistik="4104,59" white="" heterokedastisitas="" lm="" autokorelasi="" tingkat="" pendapatan="" atau="" ditunjukkan="" sangat="" dipengaruhi="" oleh="" satu="" periode="" sebelumnya="" setiap="" meningkatkan="" beredar="" persen="" akan="" mempengaruhi="" kenaikan="" m="" sebesar="" inflasi="" faktor="" mengakibatkan="" perubahan="" hal="" ini="" dari="" tajam="" keputusan="" menjadi="" rasional="" untuk="" menentukan="" akibat="" gejolak="" harga="" sedangkan="" penentuan="" tinggipun="" mampu="" menekan="" permintaan="" harus="" diikuti="" peningkatan="" jumlah="" masa="" saat="" kredit="" runs="" menarik="" uang="" secara="" meskipun="" cukup="" suku="" bunga="" sbi="" langsung="" direspon="" masyarakat="" pada="" situasi="" ekonomi="" tidak="" stabil="" dan="" pdb="" menunjukkan="" pengaruh="" yang="" signifikan="" terhadap="" pertumbuhan="" keyakinan="" uji="" 2="" arah="" derajat="" kebebasan="" 67="" dengan="" t="" hitung="" 1=""&gt; ttabel = 1,645 .  Suku bunga SBI (i) = 1,14  dan inflasi(π) = - 1,46 keduanya lebih kecil dari t tabel (1,645),  menunjukkan hasil yang tidak signifikan mempengaruhi Jumlah Uang Beredar (M1/M).&lt;br /&gt;2.Uji Determinan (R2) dan Uji F&lt;br /&gt;Secara ekonometri, hasil yang sangat baik diperoleh dengan tingginya R2 (0,996) dan efek kumulatif dari semua variabel menunjukkan hasil yang cukup signifikan dengan besarnya F hitung  = 4104,89 lebih besar dari F tabel (α=5%, df=64,4) sebesar 2,53.&lt;br /&gt;Artinya adalah secara bersama-sama variabel bebas mempengaruhi variabel terikat dengan F hitung &gt; Ftabel. Varibel bebas menjelaskan variabel terikat dalam model sebesar 99,6 % dan sisanya adalah dijelaskan oleh variabel di luar model.&lt;br /&gt;4.2.1.2 Penyimpangan Asumsi Klasik Fungsi Jumlah Uang Beredar (M1)&lt;br /&gt; Uji penyimpangan asumsi klasik dengan menggunakan uji autokorelasi, uji heterokedastisitas, multikolinearitas dan normalitas. Ditunjukkan dalam poin berikut ini :&lt;br /&gt;1.Uji Autokorelasi.&lt;br /&gt;Pelanggaran asumsi klasik tidak dapat dihindari dengan DW = 2,509 lebih kecil dari 4 - 1,343 = 2,657 dengan adanya autokorelasi negatif namun ada autokorelasi den juga dengan menggunakan uji LM test mengindikasikan tidak  autokorelasi  dengan nilai Prob(R2* obs) = 0,09 (2 lags) lebih kecil dari 10 persen.&lt;br /&gt;2.Uji Heterokedastisitas&lt;br /&gt;Heterokedastisitas terjadi dimana Uji White Heterokedastisitas Prob(R2* obs) = 0,009 jauh lebih kecil dari α = 10 persen.&lt;br /&gt;3.Uji Multikolinearitas&lt;br /&gt;Multikolinearitas secara umum bisa dihindari dengan tidak adanya pengaruh yang signifikan  dari i dan π yang bertanda negative meskipun tidak konsisten dalam tanda matematika.  Multikolinearitas tidak terjadi karena tingkat signifikan yang cukup besar dari PDB(Y) dan Mt-1 dengan R2 dan F yang besar pula tingkat signifikansinya.&lt;br /&gt;4.Uji Normalitas&lt;br /&gt;Data terdistibusi secara tidak normal dengan Prob JB = 0,085   dibawah batas nilai normal yaitu diatas 10 persen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model diatas sudah cukup baik menjelaskan persamaan model penawaran uang.&lt;br /&gt;4.2.1.3 Penjelasan Secara Ekonomi Hasil Regresi Fungsi Jumlah Uang Beredar (M1).&lt;br /&gt;Arti ekonominya bahwa konstanta menunjukkan nilai negatif 0,622 dengan t hitung -0,78 ( probabilitas 0,08), memiliki arti apabila variabel Y, i, Mt-1, dan π adalah tetap pertumbuhan M adalah menurun -0,622%. Penawaran uang sangat dipengaruhi oleh kenaikan tingkat pendapatan atau pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan dengan peningkatan PDB dan penawaran uang periode satu kuartal. Setiap kenaikan PDB 1% akan meningkatkan kenaikan Penawaran uang 0.0536%, dan kenaikan 1 persen Mt-1 akan mempengaruhi kenaikan M sebesar 1.00026%.  Perubahan suku bunga SBI dan inflasi tidak menjadi faktor yang mengakibatkan perubahan  penawaran Uang, hal ini diakibatkan gejolak yang tajam pada masa krisis tidak mengakibatkan keputusan rasional untuk menentukan jumlah uang beredar karena gejolak harga yang cukup tidak stabil. Sedangkan penentuan suku bunga SBI yang cukup tinggipun tidak mampu menekan permintaan uang yang harus diikuti dengan penawaran uang yang cukup. Pada masa krisis terutama pada saat kredit runs masyarakat menarik uang pada masa krisis secara besar-besaran meskipun penawaran suku bunga SBI cukup tinggi. Memang penawaran suku bunga SBI kadang tidak direspon secara langsung oleh masyarakat terutama pada situasi ekonomi yang tidak stabil. &lt;br /&gt;4.2.2 Hasil Pengujian Persamaan Regresi untuk Kredit (L)&lt;br /&gt;4.2.2.1 Hasil Regresi Fungsi Kredit (L).&lt;br /&gt;Hasil dari perhitungan regresi berganda dengan menggunakan regresi semi logaritma menghasilkan estimasi seperti berikut :&lt;br /&gt;LogL = 2.657 - 0.0775log Y - 0.007 log i + 0.959 log Lt-1 + 0.003 π –  0.44 log ρ&lt;br /&gt;t  (5,46)  (-1,803)    (-0,19) (52,68)  ( 3,7)     (-4,64)&lt;br /&gt;Prob    (0,00) (0,076)     (0,84) (0,00)  (0,005)      (0,00)&lt;br /&gt;Adj R2  = 0,99    DW test = 1,714&lt;br /&gt;F statistik =  1258,91&lt;br /&gt;Uji White Heterokedastisitas Prob(R2* obs) = 0,16&lt;br /&gt;Uji LM Autokorelasi Prob(R2* obs) = 0,38 (2 lags)&lt;br /&gt;Konstanta menunjukkan nilai 2,657, artinya bahwa apabila variabel Lt-1, Y, i, π, dan ρ tetap pertumbuhan kredit akan naik 2,657%. Setiap penurunan 1 persen PDB (pendapatan) akan meningkatkan Kredit sebesar 0,0775 persen. Suku bunga SBI (i) tidak mempengaruhi Kredit baik kenaikan maupun penurunannya secara signifikan. Kenaikan 1% suku bunga kredit(ρ) akan  menurunkan kredit 0,44%. Kenaikan  inflasi (π) = 1 persen akan meningkatkan kredit 0,003%. Dan setiap kenaikan 1% Kredit periode sebelumnya akan menurunkan kredit 0,959%&lt;br /&gt;1.Uji t (Uji Parsial)&lt;br /&gt;Pendapatan atau PDB (Y) tidak kosisten dengan teori yaitu dengan pengaruh yang negatif, ditunjukkan dengan t hitung rata-rata lebih besar dari t tabel dengan derajat keyakinan 90% dan 5% uji 2 arah (t tabel = 1,671 ( α = 10%) dan t table =  2,00(α = 5%)) .&lt;br /&gt;Suku bunga SBI (i) tidak mempengaruhi Kredit baik kenaikan maupun penurunannya secara signifikan. Ditunjukkan dengan t hitung  (-0,19) &lt;&gt; t tabel (1,671 ) dengan  α = 10% atau derajat keyakinan 90%. Lebih besar dari t tabel dengan α = 5% sebesar 2,00 atau derajat keyakinan 95%, uji 2 arah.&lt;br /&gt;Inflasi (π) mempengaruhi kenaikan Kredit secara signifikan. Ditunjukkan dengan t hitung ( 3,7)  &gt; t tabel (1,671 ) dengan  α = 10% atau derajat keyakinan 90%. Lebih besar dari t tabel dengan α = 5% sebesar 2,00 atau derajat keyakinan 95%, uji 2 arah.&lt;br /&gt;Suku bunga kredit (ρ) secara signifikan mempengaruhi penurunan Kredit. Ditunjukkan dengan t hitung    (-4,64)  &gt; t tabel (1,671 ) dengan  α = 10% atau derajat keyakinan 90%. Lebih besar dari t tabel dengan α = 5% sebesar 2,00 atau derajat keyakinan 95%, uji 2 arah.&lt;br /&gt;2.Uji F dan Uji Determinan (R2)&lt;br /&gt;Secara ekonometri, hasil yang sangat baik diperoleh dengan tingginya R2 (0,99). Efek kumulatif dari semua variabel menunjukkan hasil yang cukup signifikan dengan besarnya F statistic = 1258,91 lebih besar dari F tabel, df 64,4 sebesar 2,53 dengan α = 5%.&lt;br /&gt;Model dijelaskan oleh variabel bebas sebesar 99% terhadap variabel terikat. Sisanya dijelaskan oleh varibel diluar variabel bebas.&lt;br /&gt;4.2.2.2 Penyimpangan Asumsi Klasik Fungsi&lt;br /&gt;1.Uji Multikolinearitas&lt;br /&gt;Multikolinearitas Multikolinearitas secara umum bisa dihindari dengan tidak adanya pengaruh yang signifikan  dari i yang bertanda negative meskipun  konsisten dalam tanda matematika.  Multikolinearitas tidak terjadi karena tingkat signifikan yang cukup besar dari Kredit(L), inflasi (π), suku bunga kredit (ρ)  dan Lt-1 dengan R2 dan F yang besar pula tingkat signifikansinya.&lt;br /&gt;2.Uji Autokorelasi&lt;br /&gt;Pelanggaran asumsi klasik dapat dihindari dengan DW = 1,714 diantara dl = 1,464 dan dibawah 1,768 menunjukkan tidak adanya autokorelasi negatif maupun positif, dan dengan menggunakan uji LM test dengan nilai Prob(R2*obs) = 0,148 (2 lags) lebih besar dari 10 persen.&lt;br /&gt;3.Uji Heterokedastisitas&lt;br /&gt;Heterokedastisitas tidak terjadi dimana Uji White Heterokedastisitas Prob(R2*obs) = 0,38 lebih besar dari niali α = 10 persen. Multikolinearitas secara bisa dihindari dengan adanya pengaruh yang signifikan dari masing-masing variable pendapatan, inflasi, suku bunga kredit dan kredit stau periode sebelumnya yang signifikan. &lt;br /&gt;4. Uji Normalitas&lt;br /&gt;Data terdistibusi secara tidak normal dengan Prob JB = 0,00 jauh di bawah dari batas nilai normal yaitu diatas 10 persen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model diatas sudah cukup baik menjelaskan persamaan tersebut.&lt;br /&gt;4.2.2.3 Penjelasan Secara Ekonomi Hasil Regresi Fungsi Kredit (L)&lt;br /&gt;Implikasi ekonomi yang terjadi bahwa instrument kebijakan moneter berupa suku bunga SBI tidak mampu mengendalikan gejolek kredit di Indonesia. Justru pendapatan memiliki pengaruh terhadap kredit meski kecil, namun yang terjadi di Indonesia permintaan kredit akibat penurunan tingkat pendapat (PDB) artinya permintaan kredit justru untuk menutup kekurangan konsumsi karena penurunan daya beli. Justru masyarakat mengambil kredit sangat bergantung pada kredit yang ditawarkan, hal ini berbeda dengan suku bunga SBI, karena masyarakat lebih banyak kontak dengan bank umum dari pada Bank Indonesia. Penurunan tingkat bunga kredit akibatnya direspon secara  positif oleh pasar, demikian sebaliknya.&lt;br /&gt;Informasi suku bunga SBI tidak dapat direspon langsung oleh masyarakat atau pasar karena keterbatasan informasi tentang kenaikan suku bunga SBI kaitannya dengan kredit. Di sisi lain penurunan suku bunga SBI tidak cepat direspon oleh bank umum dengan menurunkan suku bunga kredit mereka karena ketidak seimbangan informasi di pasar. Kondisi ini menjadikan kesempatan bagi bank umum untuk mengambil posisi untung jangka pendek. Contoh kasua penurunan BI rate dari 8,25 persen tidak serta merta mendorong Bank Umum menurunkan suku bunga kredit mereka.&lt;br /&gt;Kondisi assimetric information's dan kredit crunch ini menunjukan adanya gangguan intermediasi perbankan, yang untuk mendeteksi lebih lanjut dengan melihat variance residual dari persamaan simultan model Bernanke – Blinder dalam sub bab berikutnya.&lt;br /&gt;4.2.3 Perbandingan Variance Residual atau Pengujian Stabilitas.&lt;br /&gt;Pengujian untuk melihat stabilitas variabel di atas dengan melihat besarnya varuans residual-nya. Hasilnya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Tabel 4.5&lt;br /&gt;Variance Residuals  M1  dan L&lt;br /&gt;Sebelum dan Sesudah Krisis&lt;br /&gt;Periode&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M1(Ms)&lt;br /&gt;L&lt;br /&gt;1990.1-2006.4&lt;br /&gt;(selum dan Sesudah)&lt;br /&gt;R2 residual&lt;br /&gt;0,182948&lt;br /&gt;0,253336&lt;br /&gt;SEE&lt;br /&gt;0,054321&lt;br /&gt;0,064444&lt;br /&gt;Variance Residual&lt;br /&gt;0,009938&lt;br /&gt;0,016326&lt;br /&gt;1990.1-1997.3&lt;br /&gt;(Sebelum)&lt;br /&gt;R2 residual&lt;br /&gt;0,029072&lt;br /&gt;0,104099&lt;br /&gt;SEE&lt;br /&gt;0,034101&lt;br /&gt;0,065859&lt;br /&gt;Variance Residual&lt;br /&gt;0,000991&lt;br /&gt;0,006856&lt;br /&gt;1997.4-2006.4&lt;br /&gt;(sesudah)&lt;br /&gt;R2 residual&lt;br /&gt;0,132469&lt;br /&gt;0,113271&lt;br /&gt;SEE&lt;br /&gt;0,06434&lt;br /&gt;0,060447&lt;br /&gt;Variance Residual&lt;br /&gt;0,008523&lt;br /&gt;0,006847&lt;br /&gt;Sumber BI, diolah 2008&lt;br /&gt;Tabel di atas menunjukkan seberapa besar perbedaan variance residual dari periode sebelum dan sesudah krisis (1990 kuartal I sampai 2006 kuartal IV); periode sebelum krisis yaitu 1990 kuartal I sampai 1997 kuartal IV; dan periode sesudah krisis (1997 kuartal IV sampai 2006 kuartal IV).&lt;br /&gt;Periode sebelum dan sesudah krisis,  menunjukkan bahwa variance residual dari M1(9,938*10-3) &lt;&gt; Kredit(L) (6,847*10-3) Sebelum krisis moneter menunjukkan bahwa Jumlah Kredit lebih efektif meningkatkan PDB.. Mekanisme transmisi jalur kredit lebih efektif daripada jalur moneter.&lt;br /&gt;Implikasi kebijakan yang terjadi bahwa intermediasi perbankan tidak terjadi gangguan sebelum dan sesudah krisis moneter. Pada masa sebelum krisis terjadi kondisi dimana jalur uang lebih efektif dalam mekanisme transmisi daripada jalur kredit. Masa sesudah krisis jalur kredit  lebih efektif di dalam mekanisme transmisi daripada jalur uang. Artinya penanganan masalah kredit pasca krisis yang dilakukan Bank Indonesia berjalan dengan efektif meski melalui berbagai rintangan. Periode sebelum dan sesudah krisis terlihat  jalur uang lebih efektif daripada kredit di dalam mekanisme transmisi dalam meningkatkan PDB. Artinya meskipun jalur kredit sudah jauh lebih efektif dalam mekanisme transmisi,  namun perlu ditingkatkan penanganan di jalur kredit. Karena penanganan jalur kredit cukup berat, akibat gejolak moneter pada saat krisis mampu meruntuhkan kepercayaan perbankan.&lt;br /&gt;Kesimpulannya pada saat ini telah tercapai kesehatan perbankan yang lebih baik daripada sebelum krisis moneter, karena syarat-syarat kesehatan perbankan yang dikeluarkan BI cukup ketat. Kebijakan itu dilakukan dengan berbagai paket kebijakan perbankan seperti arsitektur perbankan Indonesia dan Penerapan manajemen resiko perbankan yang ketat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1 Kesimpulan&lt;br /&gt; Hasil akhir dari thesis ini adalah mengambil kesimpulan berdasar pengujian empiris dengan pendekatan teori yang ada. Penelitian dengan jumlah sampel 68 dan menggunakan data runtut waktu beresimpulan  :&lt;br /&gt;Tidak ada pengaruh suku bunga SBI, dan Inflasi terhadap  Jumlah Uang Beredar (M1) dan ada kenaikan PDB (Y) dan  kenaikan M1 satu periode sebelumnya mempengaruhi kenaikan M1 di Indonesia. Terjadi penurunan jumlah uang beredar  tiap periode apabila variabel PDB, suku bunga SBI, inflasi dan Jumlah  uang beredar  satu periode sebelumnya tetap. Dengan derajat keyakinan 90 persen.&lt;br /&gt;Tidak ada pengaruh suku bunga SBI, terhadap  Jumlah Uang Beredar  (M1) (derajat keyakinan 90%) dan penurunan PDB (Y) dengan derajat keyakinan 90% sebelumnya mempengaruhi kenaikan Kredit . Kenaikan penawaran Kredit satu periode sebelumnya, kenaikan inflasi dan penurunan suku bunga kredit mempengaruhi kenaikan Kredit di Indonesia. Terjadi kenaikan kredit  tiap periode apabila variabel PDB, suku bunga SBI, inflasi, suku bunga kredit dan jumlah kredit satu periode sebelumnya tetap.&lt;br /&gt;Sebelum krisis moneter Jumlah Uang Beredar (M1) lebih efektif dari Kredit (L) dalam mekanisme transmisi moneter ditunjukkan dengan variance residual Jumlah Uang Beredar ( M1) lebih kecil dari kredit sebelum krisis.&lt;br /&gt;Sesudah krisis moneter kebijakan moneter pasca krisis dianggap mampu mengembalikan kestabilan moneter. Kredit  lebih efektif dari Jumlah Uang Beredar (M1) dalam mekanisme transmisi moneter ditunjukkan dengan variance residual Jumlah Uang Beredar (M1) lebih besar dari kredit sesudah krisis moneter.&lt;br /&gt;5.1 Saran&lt;br /&gt; Kredit sangat penting didalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi disamping jumlah uang beredar (M1). Stabilitas Jumlah Uang Beredar dan kredit harus tetap dijaga. Karena dengan tingkat stabilitas yang tinggi pertumbuhan ekonomi cepat untuk tercapai.&lt;br /&gt;Dalam   mekanisme transmisi kebijakan moneter perlu langkah-langkah efektif yaitu dengan stabilitas harga, suku bunga kredit dan suku bunga SBI sehinggan mampu mengendalikan Jumlah Uang Beredar dan Kredit.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan volume kredit dibutuhkan tingkat suku bunga kredit yang rendah, suku bunga kredit yang rendah, dan suku bunga SBI yang rendah pula. Kredit juga akan meningkat apabila pendapatan masyarakat meningkat.&lt;br /&gt;Kebijakan moneter yang efektif akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas harga , sehingga meningkatkan lapangan kerja. Maka diperlukan kebijakan moneter yang mampu untuk mencapai sasaran akhir dari pembangunan ekonomi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Nasution. 2005. Membangun Kembali Perkonomian Indonesia Setelah krisiss 1997-1998.  Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 2005. Hal.8-9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernanke-Blinder. 1988. Credit, Money and Aggregate Demmand.  National Bureu of Economics Research 1050 Massachusetts Avenue Canbride, MA 02138 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burhanudin Abdullah. 2005. Strategi Kebijakan Moneter dalam mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang berkelanjutan.  ISEI-Penerbit Kanisius , 2005. Hal 429 – 445&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Charles S. Morris dan Gordon H. Sellon, Jr. 1995. Bank Lending and Monetery Policy : Evidence on a Credit Channel.  Federel reserves Bank of Cansas City, economics review, kwartal kedua 1995. Hal. 59 – 75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damodar N. Gujarati. 2002. Basic Econometrics. United States Military Academy, West Point-Mc Graw-Hill Higher Education.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doddy Zulverdi, Iman Gunadi, and Bambang Pramono. 2006. Bank Portfolio Model and Monetary Policy in Indonesia. Directorate of Economic Research and Monetary Policy –Bank Indonesia, Agustus 2006. Hal. 1-25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominique Dwor-Frecaut, Mary Hallward-Driemeier, Francis X. Colaço. 1999.  CORPORATE CREDIT NEEDS AND GOVERNANCE. World Bank, Asia-Pacific Management Consultants, Inc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar  Bambang  Irawan. 2007. Efektifitas Quantum Channel dalam Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter : Studi Kasus Tahun 1993-2005. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, 2007. Hal. 53-73&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frederic S. Miskhin. 2001. The Economics of Money Banking, and Financial Markets. Pearson Education International, USA or Canada, Edisi 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HLB Hadori dan Rekan. 2002. Studi Ekonomi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Katalog Dalam Terbitan (KDT) Studi Ekonomi BLBI-Riset Bank Indonesia, 2002. Hal. 69 – 80.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insukindro. 2003. Kebijakan Moneter yang tidak Diantisipasi dan pengaruhnya terhadap Komponen Pasar Uang di Indonesia.  makalah pada Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia XV Batu, Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iskandar Simorangkir. 2002. Determinan Bank Runs pada krisis Perbankan 1997-1998: Suatu Kajian dengan Menggunakan Panel data Dinamis. Center for Banking Education dan Studies, Bank Indonesia. Hal. 99-143&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jean Boivin, March Gionnoni. 2002. Assesing Changes in the Monetery Transmission Mechanism: a VAR approach.  FRBNY Economics Policy Review, May 2002. Hal. 97 – 107&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Agus Choirun. 2007.  Interpolasi.  Program semi Que IV teknik Mesin Unibraw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oscar Sanchez. 2001. The Transmission of Monetery Policy and the Behavior of Manufacturing Firms in Mexico.  Center for Research on Economics Development and Policy Reform at Stanford University, Oktober 2001. Hal. 1-26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perry Warjiyo. 2006. Stabilitas Sistem Perbankan dan Kebijakan Moneter, Keterkaitan dan Perkembangannya di Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 2006. Hal. 429-453.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter N. Ireland. 2005. the Monetery Transmission Mechanism, Boston College, Departement of Economics, Desember 2005. Hal. 1 – 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rodrigo Alfaro, Carlos Garcia, Helmut Franken and Alejandro Jara. 2004. The Bank Lending Channel in Chile. Central Bank on Chile and International Monetery Funds, 2004. Hal. 128 – 144.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walter Orellana, Oscar Lora, Raul Mendoza, dan Rafel Boyan. 2000. La Politica Monetaria en Bolivia mechanismos de Transmision. Assesoria de Politica Economica Banco centralo de Bolivia, Juli 2000. Hal. 1- 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______________________. 2007. Kompas dikutip dari Laporan Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Bank Indonesia Bidang Moneter, Perbankan, dan Sistem Pembayaran Triwulan I-2007. Biro Humas Bank Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data-Data Moneter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1990-206&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;obs&lt;br /&gt;Inflasi&lt;br /&gt;Kredit&lt;br /&gt;Pertumbuhan Kredit&lt;br /&gt;M0&lt;br /&gt;M1&lt;br /&gt;pertumbuhan M1&lt;br /&gt;M2&lt;br /&gt;Suku Bunga Kredit&lt;br /&gt;Suku Bunga SBI&lt;br /&gt;Pertumbuhan Suku Bunga SBI&lt;br /&gt;PDB&lt;br /&gt;Pertumbuhan PDB&lt;br /&gt;1990:01:00&lt;br /&gt;1,5&lt;br /&gt;55234&lt;br /&gt;4,55&lt;br /&gt;10441&lt;br /&gt;22155&lt;br /&gt;4,35&lt;br /&gt;64366&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;13,13&lt;br /&gt;1,12&lt;br /&gt;35311,7&lt;br /&gt;4,55&lt;br /&gt;1990:02:00&lt;br /&gt;3,3&lt;br /&gt;62616&lt;br /&gt;4,57&lt;br /&gt;10356&lt;br /&gt;23204&lt;br /&gt;4,37&lt;br /&gt;70125&lt;br /&gt;18,2&lt;br /&gt;16,94&lt;br /&gt;1,23&lt;br /&gt;37391,9&lt;br /&gt;4,57&lt;br /&gt;1990:03:00&lt;br /&gt;3,3&lt;br /&gt;67024&lt;br /&gt;4,60&lt;br /&gt;10950&lt;br /&gt;22982&lt;br /&gt;4,36&lt;br /&gt;76907&lt;br /&gt;19,4&lt;br /&gt;17,63&lt;br /&gt;1,25&lt;br /&gt;39472,2&lt;br /&gt;4,60&lt;br /&gt;1990:04:00&lt;br /&gt;1,4&lt;br /&gt;70890&lt;br /&gt;4,62&lt;br /&gt;12006&lt;br /&gt;23819&lt;br /&gt;4,38&lt;br /&gt;84630&lt;br /&gt;20,3&lt;br /&gt;18,83&lt;br /&gt;1,27&lt;br /&gt;41552,4&lt;br /&gt;4,62&lt;br /&gt;1991:01:00&lt;br /&gt;1,1&lt;br /&gt;73064&lt;br /&gt;4,65&lt;br /&gt;11002&lt;br /&gt;23571&lt;br /&gt;4,37&lt;br /&gt;81125&lt;br /&gt;21,7&lt;br /&gt;23,55&lt;br /&gt;1,37&lt;br /&gt;44781,7&lt;br /&gt;4,65&lt;br /&gt;1991:02:00&lt;br /&gt;3,6&lt;br /&gt;73720&lt;br /&gt;4,68&lt;br /&gt;11398&lt;br /&gt;24610&lt;br /&gt;4,39&lt;br /&gt;87756&lt;br /&gt;22,7&lt;br /&gt;18,99&lt;br /&gt;1,28&lt;br /&gt;47321,5&lt;br /&gt;4,68&lt;br /&gt;1991:03:00&lt;br /&gt;7,5&lt;br /&gt;71907&lt;br /&gt;4,70&lt;br /&gt;11427&lt;br /&gt;25805&lt;br /&gt;4,41&lt;br /&gt;93328&lt;br /&gt;19,5&lt;br /&gt;18,5&lt;br /&gt;1,27&lt;br /&gt;49861,3&lt;br /&gt;4,70&lt;br /&gt;1991:04:00&lt;br /&gt;9,5&lt;br /&gt;78589&lt;br /&gt;4,72&lt;br /&gt;12355&lt;br /&gt;26341&lt;br /&gt;4,42&lt;br /&gt;99058&lt;br /&gt;19,3&lt;br /&gt;18,47&lt;br /&gt;1,27&lt;br /&gt;52401,1&lt;br /&gt;4,72&lt;br /&gt;1992:01:00&lt;br /&gt;1,4&lt;br /&gt;78290&lt;br /&gt;4,74&lt;br /&gt;14628&lt;br /&gt;27318&lt;br /&gt;4,44&lt;br /&gt;100798&lt;br /&gt;18,2&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;1,23&lt;br /&gt;55401,1&lt;br /&gt;4,74&lt;br /&gt;1992:02:00&lt;br /&gt;1,7&lt;br /&gt;80891&lt;br /&gt;4,77&lt;br /&gt;12707&lt;br /&gt;26880&lt;br /&gt;4,43&lt;br /&gt;106957&lt;br /&gt;18,9&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;1,20&lt;br /&gt;59073,2&lt;br /&gt;4,77&lt;br /&gt;1992:03:00&lt;br /&gt;0,6&lt;br /&gt;79014&lt;br /&gt;4,78&lt;br /&gt;13331&lt;br /&gt;27650&lt;br /&gt;4,44&lt;br /&gt;113510&lt;br /&gt;18,9&lt;br /&gt;14,66&lt;br /&gt;1,17&lt;br /&gt;60104,2&lt;br /&gt;4,78&lt;br /&gt;1992:04:00&lt;br /&gt;6,44&lt;br /&gt;78919&lt;br /&gt;4,80&lt;br /&gt;14737&lt;br /&gt;28779&lt;br /&gt;4,46&lt;br /&gt;119053&lt;br /&gt;17,9&lt;br /&gt;13,5&lt;br /&gt;1,13&lt;br /&gt;63712,6&lt;br /&gt;4,80&lt;br /&gt;1993:01:00&lt;br /&gt;6,44&lt;br /&gt;78714&lt;br /&gt;4,87&lt;br /&gt;15979&lt;br /&gt;30593&lt;br /&gt;4,49&lt;br /&gt;123160&lt;br /&gt;17,6&lt;br /&gt;12,5&lt;br /&gt;1,10&lt;br /&gt;73873,3&lt;br /&gt;4,87&lt;br /&gt;1993:02:00&lt;br /&gt;6,97&lt;br /&gt;109887&lt;br /&gt;4,90&lt;br /&gt;15081&lt;br /&gt;31342&lt;br /&gt;4,50&lt;br /&gt;124540&lt;br /&gt;17,09&lt;br /&gt;10,74&lt;br /&gt;1,03&lt;br /&gt;79587&lt;br /&gt;4,90&lt;br /&gt;1993:03:00&lt;br /&gt;8,24&lt;br /&gt;114756&lt;br /&gt;4,93&lt;br /&gt;16226&lt;br /&gt;34812&lt;br /&gt;4,54&lt;br /&gt;136397&lt;br /&gt;16,28&lt;br /&gt;9,11&lt;br /&gt;0,96&lt;br /&gt;85300&lt;br /&gt;4,93&lt;br /&gt;1993:04:00&lt;br /&gt;9,77&lt;br /&gt;121129&lt;br /&gt;4,96&lt;br /&gt;17606&lt;br /&gt;36805&lt;br /&gt;4,57&lt;br /&gt;145202&lt;br /&gt;15,78&lt;br /&gt;8,83&lt;br /&gt;0,95&lt;br /&gt;91014&lt;br /&gt;4,96&lt;br /&gt;1994:01:00&lt;br /&gt;3,71&lt;br /&gt;126753&lt;br /&gt;4,96&lt;br /&gt;18995&lt;br /&gt;37908&lt;br /&gt;4,58&lt;br /&gt;148829&lt;br /&gt;15,22&lt;br /&gt;8,45&lt;br /&gt;0,93&lt;br /&gt;91514&lt;br /&gt;4,96&lt;br /&gt;1994:02:00&lt;br /&gt;4,59&lt;br /&gt;133701&lt;br /&gt;4,94&lt;br /&gt;19564&lt;br /&gt;39886&lt;br /&gt;4,60&lt;br /&gt;152798&lt;br /&gt;14,76&lt;br /&gt;9,94&lt;br /&gt;1,00&lt;br /&gt;87883,1&lt;br /&gt;4,94&lt;br /&gt;1994:03:00&lt;br /&gt;7,38&lt;br /&gt;141576&lt;br /&gt;4,95&lt;br /&gt;21007&lt;br /&gt;42195&lt;br /&gt;4,63&lt;br /&gt;162900&lt;br /&gt;14,71&lt;br /&gt;11,99&lt;br /&gt;1,08&lt;br /&gt;89437,2&lt;br /&gt;4,95&lt;br /&gt;1994:04:00&lt;br /&gt;9,24&lt;br /&gt;152738&lt;br /&gt;4,96&lt;br /&gt;22156&lt;br /&gt;45374&lt;br /&gt;4,66&lt;br /&gt;174512&lt;br /&gt;14,9&lt;br /&gt;12,4&lt;br /&gt;1,09&lt;br /&gt;90991,3&lt;br /&gt;4,96&lt;br /&gt;1995:01:00&lt;br /&gt;3,04&lt;br /&gt;157206&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;23167&lt;br /&gt;44908&lt;br /&gt;4,65&lt;br /&gt;181701&lt;br /&gt;15,27&lt;br /&gt;14,15&lt;br /&gt;1,15&lt;br /&gt;93215,1&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;1995:02:00&lt;br /&gt;2,34&lt;br /&gt;167254&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;23059&lt;br /&gt;47045&lt;br /&gt;4,67&lt;br /&gt;192126&lt;br /&gt;15,79&lt;br /&gt;14,74&lt;br /&gt;1,17&lt;br /&gt;94037,1&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;1995:03:00&lt;br /&gt;1,41&lt;br /&gt;178244&lt;br /&gt;4,99&lt;br /&gt;23550&lt;br /&gt;48981&lt;br /&gt;4,69&lt;br /&gt;206079&lt;br /&gt;16,08&lt;br /&gt;14,02&lt;br /&gt;1,15&lt;br /&gt;97390,1&lt;br /&gt;4,99&lt;br /&gt;1995:04:00&lt;br /&gt;1,85&lt;br /&gt;188876&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;26513&lt;br /&gt;52677&lt;br /&gt;4,72&lt;br /&gt;222638&lt;br /&gt;16,12&lt;br /&gt;13,99&lt;br /&gt;1,15&lt;br /&gt;95681&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;1996:01:00&lt;br /&gt;3,26&lt;br /&gt;193951&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;31051&lt;br /&gt;53162&lt;br /&gt;4,73&lt;br /&gt;232493&lt;br /&gt;16,39&lt;br /&gt;13,99&lt;br /&gt;1,15&lt;br /&gt;95179,2&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;1996:02:00&lt;br /&gt;0,77&lt;br /&gt;209450&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;30799&lt;br /&gt;56448&lt;br /&gt;4,75&lt;br /&gt;249443&lt;br /&gt;16,4&lt;br /&gt;13,99&lt;br /&gt;1,15&lt;br /&gt;94871,6&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;1996:03:00&lt;br /&gt;0,91&lt;br /&gt;220550&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;31360&lt;br /&gt;59684&lt;br /&gt;4,78&lt;br /&gt;259926&lt;br /&gt;16,52&lt;br /&gt;13,93&lt;br /&gt;1,14&lt;br /&gt;94564&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;1996:04:00&lt;br /&gt;1,53&lt;br /&gt;234490&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;34405&lt;br /&gt;64089&lt;br /&gt;4,81&lt;br /&gt;288632&lt;br /&gt;16,36&lt;br /&gt;12,5&lt;br /&gt;1,10&lt;br /&gt;94256,5&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;1997:01:00&lt;br /&gt;1,96&lt;br /&gt;244960&lt;br /&gt;4,99&lt;br /&gt;38545&lt;br /&gt;63565&lt;br /&gt;4,80&lt;br /&gt;294581&lt;br /&gt;16,37&lt;br /&gt;11,07&lt;br /&gt;1,04&lt;br /&gt;97449,8&lt;br /&gt;4,99&lt;br /&gt;1997:02:00&lt;br /&gt;2,54&lt;br /&gt;262670&lt;br /&gt;4,99&lt;br /&gt;46126&lt;br /&gt;69950,04&lt;br /&gt;4,84&lt;br /&gt;312839&lt;br /&gt;16,19&lt;br /&gt;10,63&lt;br /&gt;1,03&lt;br /&gt;98612,6&lt;br /&gt;4,99&lt;br /&gt;1997:03:00&lt;br /&gt;5,37&lt;br /&gt;274710&lt;br /&gt;5,00&lt;br /&gt;47642&lt;br /&gt;66258&lt;br /&gt;4,82&lt;br /&gt;329074&lt;br /&gt;20,34&lt;br /&gt;14,58&lt;br /&gt;1,16&lt;br /&gt;99725,4&lt;br /&gt;5,00&lt;br /&gt;1997:04:00&lt;br /&gt;11,05&lt;br /&gt;261534&lt;br /&gt;5,00&lt;br /&gt;51408&lt;br /&gt;78342,86&lt;br /&gt;4,89&lt;br /&gt;355642,9&lt;br /&gt;17,34&lt;br /&gt;17,38&lt;br /&gt;1,24&lt;br /&gt;100838,2&lt;br /&gt;5,00&lt;br /&gt;1998:01:00&lt;br /&gt;25,13&lt;br /&gt;286925&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;63615&lt;br /&gt;98270,29&lt;br /&gt;4,99&lt;br /&gt;449824,3&lt;br /&gt;20,16&lt;br /&gt;45&lt;br /&gt;1,65&lt;br /&gt;95968,7&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;1998:02:00&lt;br /&gt;46,55&lt;br /&gt;288760&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;77729&lt;br /&gt;109479,8&lt;br /&gt;5,04&lt;br /&gt;565784,8&lt;br /&gt;22,7&lt;br /&gt;58&lt;br /&gt;1,76&lt;br /&gt;94718,7&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;1998:03:00&lt;br /&gt;75,47&lt;br /&gt;297634&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;79286&lt;br /&gt;102563&lt;br /&gt;5,01&lt;br /&gt;550404&lt;br /&gt;24,88&lt;br /&gt;64,74&lt;br /&gt;1,81&lt;br /&gt;93468,7&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;1998:04:00&lt;br /&gt;77,63&lt;br /&gt;313118&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;83388&lt;br /&gt;101197,3&lt;br /&gt;5,01&lt;br /&gt;577381,3&lt;br /&gt;23,16&lt;br /&gt;35,52&lt;br /&gt;1,55&lt;br /&gt;93118&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;1999:01:00&lt;br /&gt;4,08&lt;br /&gt;231423&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;78749&lt;br /&gt;105705,1&lt;br /&gt;5,02&lt;br /&gt;603325,1&lt;br /&gt;26,1&lt;br /&gt;37,42&lt;br /&gt;1,57&lt;br /&gt;94355,7&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;1999:02:00&lt;br /&gt;2,73&lt;br /&gt;165340&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;77351&lt;br /&gt;105964&lt;br /&gt;5,03&lt;br /&gt;615411&lt;br /&gt;22,75&lt;br /&gt;18,84&lt;br /&gt;1,28&lt;br /&gt;94460,5&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;1999:03:00&lt;br /&gt;0,02&lt;br /&gt;156485&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;81257&lt;br /&gt;118124&lt;br /&gt;5,07&lt;br /&gt;652289&lt;br /&gt;19,73&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;1,11&lt;br /&gt;95565&lt;br /&gt;4,98&lt;br /&gt;1999:04:00&lt;br /&gt;2,01&lt;br /&gt;140527&lt;br /&gt;4,99&lt;br /&gt;101790&lt;br /&gt;124633&lt;br /&gt;5,10&lt;br /&gt;646205&lt;br /&gt;22,93&lt;br /&gt;11,93&lt;br /&gt;1,08&lt;br /&gt;96670&lt;br /&gt;4,99&lt;br /&gt;2000:01:00&lt;br /&gt;-1,1&lt;br /&gt;130875&lt;br /&gt;4,91&lt;br /&gt;94559&lt;br /&gt;124663&lt;br /&gt;5,10&lt;br /&gt;656451&lt;br /&gt;16,46&lt;br /&gt;10,91&lt;br /&gt;1,04&lt;br /&gt;82057,31&lt;br /&gt;4,91&lt;br /&gt;2000:02:00&lt;br /&gt;2,1&lt;br /&gt;134654&lt;br /&gt;4,85&lt;br /&gt;97098&lt;br /&gt;133832&lt;br /&gt;5,13&lt;br /&gt;684335&lt;br /&gt;16,21&lt;br /&gt;12,33&lt;br /&gt;1,09&lt;br /&gt;70842,89&lt;br /&gt;4,85&lt;br /&gt;2000:03:00&lt;br /&gt;6,8&lt;br /&gt;139763&lt;br /&gt;4,87&lt;br /&gt;125615&lt;br /&gt;135430&lt;br /&gt;5,13&lt;br /&gt;686453&lt;br /&gt;16,62&lt;br /&gt;13,62&lt;br /&gt;1,13&lt;br /&gt;73689,63&lt;br /&gt;4,87&lt;br /&gt;2000:04:00&lt;br /&gt;9,4&lt;br /&gt;152482&lt;br /&gt;4,83&lt;br /&gt;103254&lt;br /&gt;162186&lt;br /&gt;5,21&lt;br /&gt;747028&lt;br /&gt;16,59&lt;br /&gt;14,53&lt;br /&gt;1,16&lt;br /&gt;67215,06&lt;br /&gt;4,83&lt;br /&gt;2001:01:00&lt;br /&gt;10,6&lt;br /&gt;158023&lt;br /&gt;4,84&lt;br /&gt;110604&lt;br /&gt;148375&lt;br /&gt;5,17&lt;br /&gt;766812&lt;br /&gt;16,86&lt;br /&gt;15,58&lt;br /&gt;1,19&lt;br /&gt;68798,96&lt;br /&gt;4,84&lt;br /&gt;2001:02:00&lt;br /&gt;12,11&lt;br /&gt;171984&lt;br /&gt;4,76&lt;br /&gt;115233&lt;br /&gt;160142&lt;br /&gt;5,20&lt;br /&gt;796440&lt;br /&gt;17,04&lt;br /&gt;16,65&lt;br /&gt;1,22&lt;br /&gt;57398,8&lt;br /&gt;4,76&lt;br /&gt;2001:03:00&lt;br /&gt;13,01&lt;br /&gt;187953&lt;br /&gt;4,84&lt;br /&gt;127796&lt;br /&gt;164237&lt;br /&gt;5,22&lt;br /&gt;783104&lt;br /&gt;17,22&lt;br /&gt;17,57&lt;br /&gt;1,24&lt;br /&gt;69469,64&lt;br /&gt;4,84&lt;br /&gt;2001:04:00&lt;br /&gt;12,55&lt;br /&gt;202618&lt;br /&gt;4,80&lt;br /&gt;117724&lt;br /&gt;177731&lt;br /&gt;5,25&lt;br /&gt;844053&lt;br /&gt;17,9&lt;br /&gt;17,62&lt;br /&gt;1,25&lt;br /&gt;62658,63&lt;br /&gt;4,80&lt;br /&gt;2002:01:00&lt;br /&gt;14,08&lt;br /&gt;204639&lt;br /&gt;4,84&lt;br /&gt;117016&lt;br /&gt;169002&lt;br /&gt;5,23&lt;br /&gt;828278&lt;br /&gt;18,03&lt;br /&gt;16,76&lt;br /&gt;1,22&lt;br /&gt;69189,51&lt;br /&gt;4,84&lt;br /&gt;2002:02:00&lt;br /&gt;11,48&lt;br /&gt;224864&lt;br /&gt;4,89&lt;br /&gt;119941&lt;br /&gt;174017&lt;br /&gt;5,24&lt;br /&gt;838635&lt;br /&gt;18,11&lt;br /&gt;15,11&lt;br /&gt;1,18&lt;br /&gt;78225,35&lt;br /&gt;4,89&lt;br /&gt;2002:03:00&lt;br /&gt;10,1&lt;br /&gt;250162&lt;br /&gt;4,90&lt;br /&gt;123869&lt;br /&gt;181791&lt;br /&gt;5,26&lt;br /&gt;859706&lt;br /&gt;18,11&lt;br /&gt;13,22&lt;br /&gt;1,12&lt;br /&gt;78547,58&lt;br /&gt;4,90&lt;br /&gt;2002:04:00&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;271851&lt;br /&gt;4,88&lt;br /&gt;138250&lt;br /&gt;191939&lt;br /&gt;5,28&lt;br /&gt;883908&lt;br /&gt;17,82&lt;br /&gt;12,93&lt;br /&gt;1,11&lt;br /&gt;76448,26&lt;br /&gt;4,88&lt;br /&gt;2003:01:00&lt;br /&gt;7,1&lt;br /&gt;280774&lt;br /&gt;4,90&lt;br /&gt;125210&lt;br /&gt;181239&lt;br /&gt;5,26&lt;br /&gt;877776&lt;br /&gt;17,85&lt;br /&gt;11,4&lt;br /&gt;1,06&lt;br /&gt;79395,48&lt;br /&gt;4,90&lt;br /&gt;2003:02:00&lt;br /&gt;6,6&lt;br /&gt;299664&lt;br /&gt;4,94&lt;br /&gt;132396&lt;br /&gt;194878&lt;br /&gt;5,29&lt;br /&gt;894213&lt;br /&gt;17,43&lt;br /&gt;9,53&lt;br /&gt;0,98&lt;br /&gt;86748,13&lt;br /&gt;4,94&lt;br /&gt;2003:03:00&lt;br /&gt;6,2&lt;br /&gt;318819&lt;br /&gt;4,94&lt;br /&gt;136471&lt;br /&gt;207587&lt;br /&gt;5,32&lt;br /&gt;911224&lt;br /&gt;16,53&lt;br /&gt;8,66&lt;br /&gt;0,94&lt;br /&gt;87947&lt;br /&gt;4,94&lt;br /&gt;2003:04:00&lt;br /&gt;5,1&lt;br /&gt;342026&lt;br /&gt;4,93&lt;br /&gt;166393&lt;br /&gt;223799&lt;br /&gt;5,35&lt;br /&gt;955692&lt;br /&gt;15,68&lt;br /&gt;8,31&lt;br /&gt;0,92&lt;br /&gt;84558,23&lt;br /&gt;4,93&lt;br /&gt;2004:01:00&lt;br /&gt;5,1&lt;br /&gt;347357&lt;br /&gt;4,93&lt;br /&gt;142816&lt;br /&gt;219086&lt;br /&gt;5,34&lt;br /&gt;935247&lt;br /&gt;15,12&lt;br /&gt;7,42&lt;br /&gt;0,87&lt;br /&gt;85469,17&lt;br /&gt;4,93&lt;br /&gt;2004:02:00&lt;br /&gt;6,8&lt;br /&gt;376034&lt;br /&gt;4,90&lt;br /&gt;182130&lt;br /&gt;233726&lt;br /&gt;5,37&lt;br /&gt;975166&lt;br /&gt;14,64&lt;br /&gt;7,34&lt;br /&gt;0,87&lt;br /&gt;79738,56&lt;br /&gt;4,90&lt;br /&gt;2004:03:00&lt;br /&gt;6,3&lt;br /&gt;404173&lt;br /&gt;4,93&lt;br /&gt;190386&lt;br /&gt;240911&lt;br /&gt;5,38&lt;br /&gt;986806&lt;br /&gt;14,33&lt;br /&gt;7,39&lt;br /&gt;0,87&lt;br /&gt;84369,57&lt;br /&gt;4,93&lt;br /&gt;2004:04:00&lt;br /&gt;6,4&lt;br /&gt;438880&lt;br /&gt;4,91&lt;br /&gt;206180&lt;br /&gt;253818&lt;br /&gt;5,40&lt;br /&gt;1033527&lt;br /&gt;14,05&lt;br /&gt;7,43&lt;br /&gt;0,87&lt;br /&gt;82030,35&lt;br /&gt;4,91&lt;br /&gt;2005:01:00&lt;br /&gt;8,8&lt;br /&gt;457619&lt;br /&gt;4,91&lt;br /&gt;191381&lt;br /&gt;250492&lt;br /&gt;5,40&lt;br /&gt;1020693&lt;br /&gt;13,78&lt;br /&gt;7,44&lt;br /&gt;0,87&lt;br /&gt;82112,5&lt;br /&gt;4,91&lt;br /&gt;2005:02:00&lt;br /&gt;7,8&lt;br /&gt;498510&lt;br /&gt;4,91&lt;br /&gt;205279&lt;br /&gt;267635&lt;br /&gt;5,43&lt;br /&gt;1073746&lt;br /&gt;13,65&lt;br /&gt;8,25&lt;br /&gt;0,92&lt;br /&gt;81852,01&lt;br /&gt;4,91&lt;br /&gt;2005:03:00&lt;br /&gt;9,1&lt;br /&gt;543227&lt;br /&gt;4,90&lt;br /&gt;240876&lt;br /&gt;273954&lt;br /&gt;5,44&lt;br /&gt;1150451&lt;br /&gt;14,47&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;1,00&lt;br /&gt;79301,83&lt;br /&gt;4,90&lt;br /&gt;2005:04:00&lt;br /&gt;17,1&lt;br /&gt;566444&lt;br /&gt;4,91&lt;br /&gt;269971&lt;br /&gt;281905&lt;br /&gt;5,45&lt;br /&gt;1203215&lt;br /&gt;15,66&lt;br /&gt;12,75&lt;br /&gt;1,11&lt;br /&gt;81423,12&lt;br /&gt;4,91&lt;br /&gt;2006:01:00&lt;br /&gt;17,9&lt;br /&gt;568631&lt;br /&gt;4,95&lt;br /&gt;245867&lt;br /&gt;277293&lt;br /&gt;5,44&lt;br /&gt;1195067&lt;br /&gt;15,9&lt;br /&gt;12,73&lt;br /&gt;1,10&lt;br /&gt;90050,54&lt;br /&gt;4,95&lt;br /&gt;2006:02:00&lt;br /&gt;15,5&lt;br /&gt;587283&lt;br /&gt;4,95&lt;br /&gt;269529&lt;br /&gt;313153&lt;br /&gt;5,50&lt;br /&gt;1253757&lt;br /&gt;15,94&lt;br /&gt;12,5&lt;br /&gt;1,10&lt;br /&gt;89723,88&lt;br /&gt;4,95&lt;br /&gt;2006:03:00&lt;br /&gt;9,1&lt;br /&gt;610502&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;282547&lt;br /&gt;333905&lt;br /&gt;5,52&lt;br /&gt;1291396&lt;br /&gt;15,66&lt;br /&gt;11,25&lt;br /&gt;1,05&lt;br /&gt;93725,59&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;2006:04:00&lt;br /&gt;6,3&lt;br /&gt;639152&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;346492&lt;br /&gt;361073&lt;br /&gt; 5,52&lt;br /&gt;1382074&lt;br /&gt;15,1&lt;br /&gt;9,75&lt;br /&gt;0,99&lt;br /&gt;94152,47&lt;br /&gt;4,97&lt;br /&gt;Lampiran 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Penawaran Uang Sebelum dan Sesudah Krisis Moneter&lt;br /&gt;A. Estimasi&lt;br /&gt;LOG(M1) = -0.622 + 0.0536LOG(Y) + 0.025LOG(RSBI) + 1.00026LOG(M1(-1)) - 0.001*INF&lt;br /&gt;Dependent Variable: LOG(M1)&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:39&lt;br /&gt;Sample(adjusted): 1990:2 2006:4&lt;br /&gt;Included observations: 67 after adjusting endpoints&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;-0.622015&lt;br /&gt;0.351001&lt;br /&gt;-1.772116&lt;br /&gt;0.0813&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.053641&lt;br /&gt;0.030615&lt;br /&gt;1.752134&lt;br /&gt;0.0847&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;0.025029&lt;br /&gt;0.021943&lt;br /&gt;1.140613&lt;br /&gt;0.2584&lt;br /&gt;LOG(M1(-1))&lt;br /&gt;1.000255&lt;br /&gt;0.009465&lt;br /&gt;105.6814&lt;br /&gt;0.0000&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;-0.001029&lt;br /&gt;0.000707&lt;br /&gt;-1.456558&lt;br /&gt;0.1503&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.996238&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;11.38588&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.995995&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.858379&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.054321&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-2.916117&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.182948&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-2.751587&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;102.6899&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;4104.591&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;2.509338&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.000000&lt;br /&gt;B.Uji Asumsi Klasik&lt;br /&gt;Heterokedastisitas&lt;br /&gt;White Heteroskedasticity Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;3.146213&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.005029&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;20.27625&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.009340&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID^2&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:42&lt;br /&gt;Sample: 1990:2 2006:4&lt;br /&gt;Included observations: 67&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;0.385591&lt;br /&gt;1.169873&lt;br /&gt;0.329600&lt;br /&gt;0.7429&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;-0.140768&lt;br /&gt;0.217234&lt;br /&gt;-0.648000&lt;br /&gt;0.5195&lt;br /&gt;(LOG(Y))^2&lt;br /&gt;0.006246&lt;br /&gt;0.009739&lt;br /&gt;0.641373&lt;br /&gt;0.5238&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;-0.001917&lt;br /&gt;0.012342&lt;br /&gt;-0.155290&lt;br /&gt;0.8771&lt;br /&gt;(LOG(RSBI))^2&lt;br /&gt;0.000779&lt;br /&gt;0.002139&lt;br /&gt;0.364338&lt;br /&gt;0.7169&lt;br /&gt;LOG(M1(-1))&lt;br /&gt;0.071755&lt;br /&gt;0.033543&lt;br /&gt;2.139212&lt;br /&gt;0.0366&lt;br /&gt;(LOG(M1(-1)))^2&lt;br /&gt;-0.003144&lt;br /&gt;0.001480&lt;br /&gt;-2.124382&lt;br /&gt;0.0379&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;0.000412&lt;br /&gt;0.000174&lt;br /&gt;2.367059&lt;br /&gt;0.0213&lt;br /&gt;INF^2&lt;br /&gt;-6.02E-06&lt;br /&gt;2.05E-06&lt;br /&gt;-2.934295&lt;br /&gt;0.0048&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.302631&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;0.002731&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.206442&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.004907&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.004371&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-7.903086&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.001108&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-7.606933&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;273.7534&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;3.146213&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;1.876569&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.005029&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Autokorelasi&lt;br /&gt;Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;2.314175&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.107608&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;4.798195&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.090800&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:42&lt;br /&gt;Presample missing value lagged residuals set to zero.&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;-0.039346&lt;br /&gt;0.352868&lt;br /&gt;-0.111503&lt;br /&gt;0.9116&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.001106&lt;br /&gt;0.030426&lt;br /&gt;0.036349&lt;br /&gt;0.9711&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;0.005187&lt;br /&gt;0.022164&lt;br /&gt;0.234011&lt;br /&gt;0.8158&lt;br /&gt;LOG(M1(-1))&lt;br /&gt;0.001082&lt;br /&gt;0.009328&lt;br /&gt;0.116000&lt;br /&gt;0.9080&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;8.52E-05&lt;br /&gt;0.000784&lt;br /&gt;0.108665&lt;br /&gt;0.9138&lt;br /&gt;RESID(-1)&lt;br /&gt;-0.280874&lt;br /&gt;0.135580&lt;br /&gt;-2.071641&lt;br /&gt;0.0426&lt;br /&gt;RESID(-2)&lt;br /&gt;-0.024629&lt;br /&gt;0.149956&lt;br /&gt;-0.164244&lt;br /&gt;0.8701&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.071615&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;2.63E-16&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;-0.021224&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.052649&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.053205&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-2.930724&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.169846&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-2.700383&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;105.1792&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;0.771392&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;1.979754&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.595427&lt;br /&gt;Normalitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Kredit&lt;br /&gt;A.Estimasi&lt;br /&gt;LOG(L) = 2.657 - 0.0775LOG(Y) - 0.007LOG(RSBI) + 0.959LOG(L(-1)) + 0.00312INF     –  0.443*LOG(RKI)&lt;br /&gt;Dependent Variable: LOG(L)&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:27&lt;br /&gt;Sample(adjusted): 1990:2 2006:4&lt;br /&gt;Included observations: 67 after adjusting endpoints&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;2.657284&lt;br /&gt;0.486782&lt;br /&gt;5.458882&lt;br /&gt;0.0000&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;-0.077519&lt;br /&gt;0.042980&lt;br /&gt;-1.803618&lt;br /&gt;0.0762&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;-0.007029&lt;br /&gt;0.036183&lt;br /&gt;-0.194265&lt;br /&gt;0.8466&lt;br /&gt;LOG(L(-1))&lt;br /&gt;0.959281&lt;br /&gt;0.018209&lt;br /&gt;52.68102&lt;br /&gt;0.0000&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;0.003123&lt;br /&gt;0.000843&lt;br /&gt;3.703551&lt;br /&gt;0.0005&lt;br /&gt;LOG(RKI)&lt;br /&gt;-0.442662&lt;br /&gt;0.095408&lt;br /&gt;-4.639689&lt;br /&gt;0.0000&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.990402&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;12.17684&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.989615&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.632395&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.064444&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-2.560749&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.253336&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-2.363314&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;91.78509&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;1258.913&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;1.713945&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.000000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Uji Asumsi Klasik&lt;br /&gt;Heterokedastisitas&lt;br /&gt;White Heteroskedasticity Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;1.496707&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.165054&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;14.13041&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.167126&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID^2&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:31&lt;br /&gt;Sample: 1990:2 2006:4&lt;br /&gt;Included observations: 67&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;-2.325418&lt;br /&gt;2.641404&lt;br /&gt;-0.880372&lt;br /&gt;0.3824&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.579050&lt;br /&gt;0.489374&lt;br /&gt;1.183247&lt;br /&gt;0.2417&lt;br /&gt;(LOG(Y))^2&lt;br /&gt;-0.024889&lt;br /&gt;0.021944&lt;br /&gt;-1.134214&lt;br /&gt;0.2615&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;-0.003929&lt;br /&gt;0.031712&lt;br /&gt;-0.123883&lt;br /&gt;0.9019&lt;br /&gt;(LOG(RSBI))^2&lt;br /&gt;-0.000153&lt;br /&gt;0.005589&lt;br /&gt;-0.027430&lt;br /&gt;0.9782&lt;br /&gt;LOG(L(-1))&lt;br /&gt;-0.175463&lt;br /&gt;0.096574&lt;br /&gt;-1.816875&lt;br /&gt;0.0746&lt;br /&gt;(LOG(L(-1)))^2&lt;br /&gt;0.006930&lt;br /&gt;0.003935&lt;br /&gt;1.760977&lt;br /&gt;0.0837&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;0.000272&lt;br /&gt;0.000428&lt;br /&gt;0.636467&lt;br /&gt;0.5271&lt;br /&gt;INF^2&lt;br /&gt;-4.84E-06&lt;br /&gt;5.00E-06&lt;br /&gt;-0.967951&lt;br /&gt;0.3372&lt;br /&gt;LOG(RKI)&lt;br /&gt;0.023320&lt;br /&gt;0.381477&lt;br /&gt;0.061131&lt;br /&gt;0.9515&lt;br /&gt;(LOG(RKI))^2&lt;br /&gt;0.001943&lt;br /&gt;0.065488&lt;br /&gt;0.029670&lt;br /&gt;0.9764&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.210902&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;0.003781&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.069991&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.009929&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.009575&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-6.310204&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.005135&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-5.948240&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;222.3918&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;1.496707&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;2.376680&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.165054&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autokorelasi&lt;br /&gt;Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;0.962104&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.388001&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;2.116103&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.347132&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:33&lt;br /&gt;Presample missing value lagged residuals set to zero.&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;-0.021555&lt;br /&gt;0.488483&lt;br /&gt;-0.044127&lt;br /&gt;0.9650&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.004954&lt;br /&gt;0.043171&lt;br /&gt;0.114761&lt;br /&gt;0.9090&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;0.000790&lt;br /&gt;0.036291&lt;br /&gt;0.021766&lt;br /&gt;0.9827&lt;br /&gt;LOG(L(-1))&lt;br /&gt;-0.002557&lt;br /&gt;0.018314&lt;br /&gt;-0.139639&lt;br /&gt;0.8894&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;-0.000142&lt;br /&gt;0.000851&lt;br /&gt;-0.167370&lt;br /&gt;0.8677&lt;br /&gt;LOG(RKI)&lt;br /&gt;-0.001363&lt;br /&gt;0.095888&lt;br /&gt;-0.014218&lt;br /&gt;0.9887&lt;br /&gt;RESID(-1)&lt;br /&gt;0.131082&lt;br /&gt;0.130477&lt;br /&gt;1.004637&lt;br /&gt;0.3192&lt;br /&gt;RESID(-2)&lt;br /&gt;0.109234&lt;br /&gt;0.132491&lt;br /&gt;0.824458&lt;br /&gt;0.4130&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.031584&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;1.89E-15&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;-0.083313&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.061955&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.064484&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-2.533141&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.245335&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-2.269894&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;92.86021&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;0.274887&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;2.030417&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.961345&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normalitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 3&lt;br /&gt;3.Penawaran Uang Sebelum Krisis Moneter&lt;br /&gt;C. Estimasi&lt;br /&gt;LOG(M1) = 0.208 + 0.028LOG(Y) - 0.05LOG(RSBI) + 0.966LOG(M1(-1)) - 7.8.10-5 INF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dependent Variable: LOG(M1)&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:48&lt;br /&gt;Sample(adjusted): 1990:2 1997:3&lt;br /&gt;Included observations: 30 after adjusting endpoints&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;0.208171&lt;br /&gt;0.452168&lt;br /&gt;0.460385&lt;br /&gt;0.6492&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.028479&lt;br /&gt;0.062900&lt;br /&gt;0.452772&lt;br /&gt;0.6546&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;-0.052217&lt;br /&gt;0.044256&lt;br /&gt;-1.179893&lt;br /&gt;0.2491&lt;br /&gt;LOG(M1(-1))&lt;br /&gt;0.966353&lt;br /&gt;0.046527&lt;br /&gt;20.76956&lt;br /&gt;0.0000&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;-7.83E-05&lt;br /&gt;0.002600&lt;br /&gt;-0.030111&lt;br /&gt;0.9762&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.992536&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;10.53686&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.991342&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.366479&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.034101&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-3.767953&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.029072&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-3.534420&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;61.51929&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;831.0778&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;2.637962&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.000000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Uji Asumsi Klasik&lt;br /&gt;Heterokedastisitas&lt;br /&gt;White Heteroskedasticity Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;4.330991&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.003298&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;18.67882&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0.016675&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID^2&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:51&lt;br /&gt;Sample: 1990:2 1997:3&lt;br /&gt;Included observations: 30&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;1.136820&lt;br /&gt;0.809775&lt;br /&gt;1.403872&lt;br /&gt;0.1750&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.014921&lt;br /&gt;0.078760&lt;br /&gt;0.189450&lt;br /&gt;0.8516&lt;br /&gt;(LOG(Y))^2&lt;br /&gt;-0.000471&lt;br /&gt;0.003685&lt;br /&gt;-0.127687&lt;br /&gt;0.8996&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;-0.006495&lt;br /&gt;0.013846&lt;br /&gt;-0.469087&lt;br /&gt;0.6438&lt;br /&gt;(LOG(RSBI))^2&lt;br /&gt;0.001299&lt;br /&gt;0.002661&lt;br /&gt;0.488167&lt;br /&gt;0.6305&lt;br /&gt;LOG(M1(-1))&lt;br /&gt;-0.233282&lt;br /&gt;0.100273&lt;br /&gt;-2.326477&lt;br /&gt;0.0301&lt;br /&gt;(LOG(M1(-1)))^2&lt;br /&gt;0.010989&lt;br /&gt;0.004604&lt;br /&gt;2.386652&lt;br /&gt;0.0265&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;0.000368&lt;br /&gt;0.000272&lt;br /&gt;1.352061&lt;br /&gt;0.1907&lt;br /&gt;INF^2&lt;br /&gt;-3.44E-05&lt;br /&gt;2.60E-05&lt;br /&gt;-1.324553&lt;br /&gt;0.1996&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.622627&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;0.000969&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.478866&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.001185&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.000856&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-11.04625&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;1.54E-05&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-10.62589&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;174.6937&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;4.330991&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;1.861474&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.003298&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autokorelasi&lt;br /&gt;Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;1.587206&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.202792&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;15.42371&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.117361&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:53&lt;br /&gt;Presample missing value lagged residuals set to zero.&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;-0.294393&lt;br /&gt;0.516681&lt;br /&gt;-0.569778&lt;br /&gt;0.5773&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;-0.106565&lt;br /&gt;0.084518&lt;br /&gt;-1.260855&lt;br /&gt;0.2266&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;0.030142&lt;br /&gt;0.050473&lt;br /&gt;0.597184&lt;br /&gt;0.5593&lt;br /&gt;LOG(M1(-1))&lt;br /&gt;0.132903&lt;br /&gt;0.079144&lt;br /&gt;1.679249&lt;br /&gt;0.1138&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;0.004141&lt;br /&gt;0.003370&lt;br /&gt;1.228679&lt;br /&gt;0.2381&lt;br /&gt;RESID(-1)&lt;br /&gt;-0.969473&lt;br /&gt;0.374417&lt;br /&gt;-2.589285&lt;br /&gt;0.0205&lt;br /&gt;RESID(-2)&lt;br /&gt;-0.089706&lt;br /&gt;0.425339&lt;br /&gt;-0.210905&lt;br /&gt;0.8358&lt;br /&gt;RESID(-3)&lt;br /&gt;-0.528170&lt;br /&gt;0.440762&lt;br /&gt;-1.198310&lt;br /&gt;0.2494&lt;br /&gt;RESID(-4)&lt;br /&gt;-0.303036&lt;br /&gt;0.394253&lt;br /&gt;-0.768632&lt;br /&gt;0.4540&lt;br /&gt;RESID(-5)&lt;br /&gt;-0.272173&lt;br /&gt;0.389879&lt;br /&gt;-0.698095&lt;br /&gt;0.4958&lt;br /&gt;RESID(-6)&lt;br /&gt;-0.505177&lt;br /&gt;0.359511&lt;br /&gt;-1.405177&lt;br /&gt;0.1803&lt;br /&gt;RESID(-7)&lt;br /&gt;-0.214717&lt;br /&gt;0.370673&lt;br /&gt;-0.579262&lt;br /&gt;0.5710&lt;br /&gt;RESID(-8)&lt;br /&gt;0.292158&lt;br /&gt;0.387226&lt;br /&gt;0.754490&lt;br /&gt;0.4622&lt;br /&gt;RESID(-9)&lt;br /&gt;-0.044414&lt;br /&gt;0.432261&lt;br /&gt;-0.102749&lt;br /&gt;0.9195&lt;br /&gt;RESID(-10)&lt;br /&gt;-0.036580&lt;br /&gt;0.420842&lt;br /&gt;-0.086921&lt;br /&gt;0.9319&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.514124&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;3.08E-15&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.060639&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.031662&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.030687&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-3.823087&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.014126&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-3.122489&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;72.34631&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;1.133719&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;1.744890&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.404809&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normalitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Kredit Sebelum Krisis Moneter&lt;br /&gt;A. Estimasi&lt;br /&gt;LOG(L) = 0.42 + 0.0175LOG(Y) - 0.04LOG(RSBI) + 0.97LOG(L(-1)) + 0.001INF - 0.05LOG(RKI)&lt;br /&gt;Dependent Variable: LOG(L)&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:54&lt;br /&gt;Sample(adjusted): 1990:2 1997:3&lt;br /&gt;Included observations: 30 after adjusting endpoints&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;0.421449&lt;br /&gt;1.290564&lt;br /&gt;0.326562&lt;br /&gt;0.7468&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.017512&lt;br /&gt;0.134536&lt;br /&gt;0.130167&lt;br /&gt;0.8975&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;-0.040699&lt;br /&gt;0.092564&lt;br /&gt;-0.439684&lt;br /&gt;0.6641&lt;br /&gt;LOG(L(-1))&lt;br /&gt;0.972609&lt;br /&gt;0.071552&lt;br /&gt;13.59307&lt;br /&gt;0.0000&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;0.001376&lt;br /&gt;0.005111&lt;br /&gt;0.269262&lt;br /&gt;0.7900&lt;br /&gt;LOG(RKI)&lt;br /&gt;-0.050245&lt;br /&gt;0.191286&lt;br /&gt;-0.262670&lt;br /&gt;0.7950&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.984309&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;11.72125&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.981041&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.478304&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.065859&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-2.425735&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.104099&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-2.145496&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;42.38603&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;301.1157&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;2.220547&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.000000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Uji Asumsi Klasik&lt;br /&gt;Heterokedastisitas&lt;br /&gt;White Heteroskedasticity Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;2.198527&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.066941&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;16.09257&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.097013&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID^2&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:57&lt;br /&gt;Sample: 1990:2 1997:3&lt;br /&gt;Included observations: 30&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;12.01282&lt;br /&gt;5.858370&lt;br /&gt;2.050540&lt;br /&gt;0.0544&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;-0.022105&lt;br /&gt;1.008082&lt;br /&gt;-0.021928&lt;br /&gt;0.9827&lt;br /&gt;(LOG(Y))^2&lt;br /&gt;0.006472&lt;br /&gt;0.045831&lt;br /&gt;0.141205&lt;br /&gt;0.8892&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;-0.010094&lt;br /&gt;0.184579&lt;br /&gt;-0.054689&lt;br /&gt;0.9570&lt;br /&gt;(LOG(RSBI))^2&lt;br /&gt;0.004770&lt;br /&gt;0.037245&lt;br /&gt;0.128066&lt;br /&gt;0.8994&lt;br /&gt;LOG(L(-1))&lt;br /&gt;-1.892853&lt;br /&gt;0.757342&lt;br /&gt;-2.499338&lt;br /&gt;0.0218&lt;br /&gt;(LOG(L(-1)))^2&lt;br /&gt;0.077533&lt;br /&gt;0.031735&lt;br /&gt;2.443121&lt;br /&gt;0.0245&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;-0.001749&lt;br /&gt;0.003543&lt;br /&gt;-0.493621&lt;br /&gt;0.6272&lt;br /&gt;INF^2&lt;br /&gt;0.000106&lt;br /&gt;0.000332&lt;br /&gt;0.320621&lt;br /&gt;0.7520&lt;br /&gt;LOG(RKI)&lt;br /&gt;-0.733049&lt;br /&gt;1.183644&lt;br /&gt;-0.619315&lt;br /&gt;0.5431&lt;br /&gt;(LOG(RKI))^2&lt;br /&gt;0.126151&lt;br /&gt;0.203002&lt;br /&gt;0.621429&lt;br /&gt;0.5417&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.536419&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;0.003470&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.292429&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.011575&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.009737&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-6.149270&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.001801&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-5.635498&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;103.2391&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;2.198527&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;2.518153&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.066941&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autokorelasi&lt;br /&gt;Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;0.377760&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.689756&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;0.996047&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.607731&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 13:57&lt;br /&gt;Presample missing value lagged residuals set to zero.&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;0.263310&lt;br /&gt;1.359712&lt;br /&gt;0.193652&lt;br /&gt;0.8482&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;-0.052332&lt;br /&gt;0.151310&lt;br /&gt;-0.345857&lt;br /&gt;0.7327&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;-0.028900&lt;br /&gt;0.100775&lt;br /&gt;-0.286776&lt;br /&gt;0.7770&lt;br /&gt;LOG(L(-1))&lt;br /&gt;0.030607&lt;br /&gt;0.082066&lt;br /&gt;0.372957&lt;br /&gt;0.7127&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;0.000298&lt;br /&gt;0.005317&lt;br /&gt;0.056083&lt;br /&gt;0.9558&lt;br /&gt;LOG(RKI)&lt;br /&gt;0.014012&lt;br /&gt;0.197266&lt;br /&gt;0.071032&lt;br /&gt;0.9440&lt;br /&gt;RESID(-1)&lt;br /&gt;-0.189670&lt;br /&gt;0.232641&lt;br /&gt;-0.815290&lt;br /&gt;0.4236&lt;br /&gt;RESID(-2)&lt;br /&gt;-0.115119&lt;br /&gt;0.228973&lt;br /&gt;-0.502760&lt;br /&gt;0.6201&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.033202&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;3.17E-15&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;-0.274416&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.059913&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.067636&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-2.326167&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.100643&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-1.952515&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;42.89251&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;0.107931&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;1.985597&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.997187&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normalitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Penawaran Uang Sesudah  Krisis Moneter&lt;br /&gt;E. Estimasi&lt;br /&gt;LOG(M1) = -0.547+ 0.09LOG(Y) + 0.019LOG(RSBI) + 0.96LOG(M1(-1)) - 0.001 INF&lt;br /&gt;Dependent Variable: LOG(M1)&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 14:10&lt;br /&gt;Sample: 1997:4 2006:4&lt;br /&gt;Included observations: 37&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;-0.546553&lt;br /&gt;1.130411&lt;br /&gt;-0.483500&lt;br /&gt;0.6320&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.090006&lt;br /&gt;0.082554&lt;br /&gt;1.090270&lt;br /&gt;0.2837&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;0.019081&lt;br /&gt;0.039311&lt;br /&gt;0.485380&lt;br /&gt;0.6307&lt;br /&gt;LOG(M1(-1))&lt;br /&gt;0.961989&lt;br /&gt;0.039851&lt;br /&gt;24.13951&lt;br /&gt;0.0000&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;-0.001471&lt;br /&gt;0.000979&lt;br /&gt;-1.503016&lt;br /&gt;0.1426&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.976242&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;12.07428&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.973272&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.393551&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.064340&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-2.524174&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.132469&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-2.306482&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;51.69721&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;328.7282&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;2.346141&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.000000&lt;br /&gt;F.Uji Asumsi Klasik&lt;br /&gt;Heterokedastisitas&lt;br /&gt;White Heteroskedasticity Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;1.083039&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.403075&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;8.743639&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.364382&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID^2&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 14:13&lt;br /&gt;Sample: 1997:4 2006:4&lt;br /&gt;Included observations: 37&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;-3.387020&lt;br /&gt;6.242054&lt;br /&gt;-0.542613&lt;br /&gt;0.5917&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.774894&lt;br /&gt;1.189368&lt;br /&gt;0.651518&lt;br /&gt;0.5200&lt;br /&gt;(LOG(Y))^2&lt;br /&gt;-0.034872&lt;br /&gt;0.052930&lt;br /&gt;-0.658833&lt;br /&gt;0.5154&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;0.001135&lt;br /&gt;0.015991&lt;br /&gt;0.070976&lt;br /&gt;0.9439&lt;br /&gt;(LOG(RSBI))^2&lt;br /&gt;0.000561&lt;br /&gt;0.002712&lt;br /&gt;0.206816&lt;br /&gt;0.8377&lt;br /&gt;LOG(M1(-1))&lt;br /&gt;-0.151124&lt;br /&gt;0.191118&lt;br /&gt;-0.790735&lt;br /&gt;0.4357&lt;br /&gt;(LOG(M1(-1)))^2&lt;br /&gt;0.006208&lt;br /&gt;0.007965&lt;br /&gt;0.779486&lt;br /&gt;0.4422&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;1.80E-06&lt;br /&gt;0.000292&lt;br /&gt;0.006153&lt;br /&gt;0.9951&lt;br /&gt;INF^2&lt;br /&gt;-1.21E-06&lt;br /&gt;3.29E-06&lt;br /&gt;-0.367638&lt;br /&gt;0.7159&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.236315&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;0.003580&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.018119&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.005002&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.004956&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-7.568474&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.000688&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-7.176629&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;149.0168&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;1.083039&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;1.960382&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.403075&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autokorelasi&lt;br /&gt;Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;1.231941&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.306064&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;2.808156&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.245593&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 14:13&lt;br /&gt;Presample missing value lagged residuals set to zero.&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;-0.444875&lt;br /&gt;1.189080&lt;br /&gt;-0.374134&lt;br /&gt;0.7109&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.028452&lt;br /&gt;0.083951&lt;br /&gt;0.338905&lt;br /&gt;0.7370&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;0.012732&lt;br /&gt;0.042279&lt;br /&gt;0.301137&lt;br /&gt;0.7654&lt;br /&gt;LOG(M1(-1))&lt;br /&gt;0.008030&lt;br /&gt;0.044816&lt;br /&gt;0.179170&lt;br /&gt;0.8590&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;-0.000539&lt;br /&gt;0.001051&lt;br /&gt;-0.513165&lt;br /&gt;0.6116&lt;br /&gt;RESID(-1)&lt;br /&gt;-0.165594&lt;br /&gt;0.213251&lt;br /&gt;-0.776525&lt;br /&gt;0.4435&lt;br /&gt;RESID(-2)&lt;br /&gt;0.217298&lt;br /&gt;0.226014&lt;br /&gt;0.961433&lt;br /&gt;0.3440&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.075896&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;-1.97E-15&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;-0.108925&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.060661&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.063879&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-2.494996&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.122416&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-2.190228&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;53.15743&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;0.410647&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;1.934398&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.866059&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normalitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Kredit Sesudah Krisis Moneter&lt;br /&gt;C. Estimasi&lt;br /&gt; LOG(L) = 3.399 - 0.123LOG(Y) + 0.001*LOG(RSBI) + 0.958LOG(L(-1)) + 0.004INF - 0.526LOG(RKI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dependent Variable: LOG(L)&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 14:01&lt;br /&gt;Sample: 1997:4 2006:4&lt;br /&gt;Included observations: 37&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;3.398507&lt;br /&gt;0.907705&lt;br /&gt;3.744064&lt;br /&gt;0.0007&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;-0.123226&lt;br /&gt;0.113859&lt;br /&gt;-1.082263&lt;br /&gt;0.2875&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;0.001396&lt;br /&gt;0.042544&lt;br /&gt;0.032821&lt;br /&gt;0.9740&lt;br /&gt;LOG(L(-1))&lt;br /&gt;0.957559&lt;br /&gt;0.034536&lt;br /&gt;27.72665&lt;br /&gt;0.0000&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;0.003680&lt;br /&gt;0.000925&lt;br /&gt;3.980110&lt;br /&gt;0.0004&lt;br /&gt;LOG(RKI)&lt;br /&gt;-0.526099&lt;br /&gt;0.141645&lt;br /&gt;-3.714221&lt;br /&gt;0.0008&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.986651&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;12.54623&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.984497&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.485486&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.060447&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-2.626692&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.113271&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-2.365462&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;54.59381&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;458.2403&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;1.393350&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.000000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Uji Asumsi Klasik&lt;br /&gt;Heterokedastisitas&lt;br /&gt;White Heteroskedasticity Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;1.457915&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.211139&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;13.29324&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.207735&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID^2&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 14:09&lt;br /&gt;Sample: 1997:4 2006:4&lt;br /&gt;Included observations: 37&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;-7.475728&lt;br /&gt;6.059747&lt;br /&gt;-1.233670&lt;br /&gt;0.2284&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;1.063382&lt;br /&gt;1.073431&lt;br /&gt;0.990638&lt;br /&gt;0.3310&lt;br /&gt;(LOG(Y))^2&lt;br /&gt;-0.046645&lt;br /&gt;0.047638&lt;br /&gt;-0.979155&lt;br /&gt;0.3365&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;0.028965&lt;br /&gt;0.025262&lt;br /&gt;1.146557&lt;br /&gt;0.2620&lt;br /&gt;(LOG(RSBI))^2&lt;br /&gt;-0.003903&lt;br /&gt;0.004128&lt;br /&gt;-0.945303&lt;br /&gt;0.3532&lt;br /&gt;LOG(L(-1))&lt;br /&gt;0.204201&lt;br /&gt;0.136289&lt;br /&gt;1.498290&lt;br /&gt;0.1461&lt;br /&gt;(LOG(L(-1)))^2&lt;br /&gt;-0.008143&lt;br /&gt;0.005442&lt;br /&gt;-1.496423&lt;br /&gt;0.1466&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;-0.000365&lt;br /&gt;0.000425&lt;br /&gt;-0.857883&lt;br /&gt;0.3988&lt;br /&gt;INF^2&lt;br /&gt;2.65E-06&lt;br /&gt;4.68E-06&lt;br /&gt;0.567235&lt;br /&gt;0.5754&lt;br /&gt;LOG(RKI)&lt;br /&gt;0.068868&lt;br /&gt;0.298921&lt;br /&gt;0.230390&lt;br /&gt;0.8196&lt;br /&gt;(LOG(RKI))^2&lt;br /&gt;-0.012259&lt;br /&gt;0.050722&lt;br /&gt;-0.241697&lt;br /&gt;0.8109&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.359277&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;0.003061&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;0.112845&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.005415&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.005100&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-7.477210&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.000676&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-6.998288&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;149.3284&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;1.457915&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;2.900919&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.211139&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autokorelasi&lt;br /&gt;Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:&lt;br /&gt;F-statistic&lt;br /&gt;1.479231&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.244498&lt;br /&gt;Obs*R-squared&lt;br /&gt;3.425168&lt;br /&gt;   Probability&lt;br /&gt;0.180399&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test Equation:&lt;br /&gt;Dependent Variable: RESID&lt;br /&gt;Method: Least Squares&lt;br /&gt;Date: 02/13/08   Time: 14:09&lt;br /&gt;Presample missing value lagged residuals set to zero.&lt;br /&gt;Variable&lt;br /&gt;Coefficient&lt;br /&gt;Std. Error&lt;br /&gt;t-Statistic&lt;br /&gt;Prob. &lt;br /&gt;C&lt;br /&gt;-0.075724&lt;br /&gt;0.901090&lt;br /&gt;-0.084036&lt;br /&gt;0.9336&lt;br /&gt;LOG(Y)&lt;br /&gt;0.023233&lt;br /&gt;0.113299&lt;br /&gt;0.205056&lt;br /&gt;0.8390&lt;br /&gt;LOG(RSBI)&lt;br /&gt;0.012634&lt;br /&gt;0.042678&lt;br /&gt;0.296022&lt;br /&gt;0.7693&lt;br /&gt;LOG(L(-1))&lt;br /&gt;-0.007703&lt;br /&gt;0.034322&lt;br /&gt;-0.224440&lt;br /&gt;0.8240&lt;br /&gt;INF&lt;br /&gt;-0.000253&lt;br /&gt;0.000952&lt;br /&gt;-0.265413&lt;br /&gt;0.7926&lt;br /&gt;LOG(RKI)&lt;br /&gt;-0.042239&lt;br /&gt;0.141694&lt;br /&gt;-0.298104&lt;br /&gt;0.7677&lt;br /&gt;RESID(-1)&lt;br /&gt;0.317331&lt;br /&gt;0.189439&lt;br /&gt;1.675110&lt;br /&gt;0.1047&lt;br /&gt;RESID(-2)&lt;br /&gt;-0.007605&lt;br /&gt;0.195030&lt;br /&gt;-0.038994&lt;br /&gt;0.9692&lt;br /&gt;R-squared&lt;br /&gt;0.092572&lt;br /&gt;   Mean dependent var&lt;br /&gt;-3.59E-16&lt;br /&gt;Adjusted R-squared&lt;br /&gt;-0.126462&lt;br /&gt;   S.D. dependent var&lt;br /&gt;0.056093&lt;br /&gt;S.E. of regression&lt;br /&gt;0.059534&lt;br /&gt;   Akaike info criterion&lt;br /&gt;-2.615725&lt;br /&gt;Sum squared resid&lt;br /&gt;0.102785&lt;br /&gt;   Schwarz criterion&lt;br /&gt;-2.267419&lt;br /&gt;Log likelihood&lt;br /&gt;56.39092&lt;br /&gt;   F-statistic&lt;br /&gt;0.422637&lt;br /&gt;Durbin-Watson stat&lt;br /&gt;1.999884&lt;br /&gt;   Prob(F-statistic)&lt;br /&gt;0.880133&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normalitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variance Residuals  M1  dan L&lt;br /&gt;Sebelum dan Sesudah Krisis&lt;br /&gt;Periode&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M1(Ms)&lt;br /&gt;L&lt;br /&gt;1990.1-2006.4&lt;br /&gt;(selum dan Sesudah)&lt;br /&gt;R2 residual&lt;br /&gt;0,182948&lt;br /&gt;0,253336&lt;br /&gt;SEE&lt;br /&gt;0,054321&lt;br /&gt;0,064444&lt;br /&gt;Variance Residual&lt;br /&gt;0,009938&lt;br /&gt;0,016326&lt;br /&gt;1990.1-1997.3&lt;br /&gt;(Sebelum)&lt;br /&gt;R2 residual&lt;br /&gt;0,029072&lt;br /&gt;0,104099&lt;br /&gt;SEE&lt;br /&gt;0,034101&lt;br /&gt;0,065859&lt;br /&gt;Variance Residual&lt;br /&gt;0,000991&lt;br /&gt;0,006856&lt;br /&gt;1997.4-2006.4&lt;br /&gt;(sesudah)&lt;br /&gt;R2 residual&lt;br /&gt;0,132469&lt;br /&gt;0,113271&lt;br /&gt;SEE&lt;br /&gt;0,06434&lt;br /&gt;0,060447&lt;br /&gt;Variance Residual&lt;br /&gt;0,008523&lt;br /&gt;0,006847&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variance&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpangan Baku (ó)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koefisien   Varian  (KV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;Xk = Variabel  X&lt;br /&gt; = rata-rata X&lt;br /&gt;n  = jumlah data observasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovarian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xi = variable X&lt;br /&gt;Yi = variable Y&lt;br /&gt;N = Besarnya sampel data&lt;br /&gt;Cov (X,Y) = kovarian  x dan Y&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ñX,Y = korelasi  X dan Y&lt;br /&gt;= simpangan baku X&lt;br /&gt;= simpangan baku Y&lt;br /&gt;&lt;/m1&gt;&lt;/l&gt;&lt;/m1&gt;&lt;/l&gt;&lt;/m1&gt;&lt;/l&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-292568476471718472?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/292568476471718472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/02/tesis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/292568476471718472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/292568476471718472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/02/tesis.html' title='tesis'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-2952554196920355263</id><published>2009-01-22T10:46:00.002-08:00</published><updated>2009-01-22T10:47:08.256-08:00</updated><title type='text'>Islam dalam Keadilan, Sosial, Hukum dan Budaya</title><content type='html'>Islam dalam Keadilan, Sosial, Hukum dan Budaya&lt;br /&gt;dalam Pandangan Filsafat Pancasila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Kehidupan bernegara di sebuah negara yang berdasarkan hukum di Indonesia. Hukum tertinggi adalah Undang-Undang Dasar 45 dan Pancasila. Tanpa di sadari Islam sebagai Keyakinan dan Ideologi merupakan sebuah ajaran yang megajarkan kepada kebaikan dan kebenaran. Maka Islam yang sejati adalah Islam yang membela orang-orang yang tertindas seperti halya ideologi lain yaitu kebangsaan dan kerakyatan. Karena Islam merupakan pelembagaan dari keyakinan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;Beberapa tema idiologis dalam jurisprudensi Islam mengajarkan banyak hal yang berkaitan dengan pemerintahan. Ada empat sumber hukum dalam Syari'ah: al-Qur'an, Hadist dan Sunnah, Ijma (kesepakatan fuqaha/mufti dalam keputusan) dan qiyas (silogisme). Sumber hukum, khususnya yang terakhir, menggunakan akal-pikiran manusia. (ini bukan berarti menganggap bahwa tiga yang lainnya tidak mengunakan akal-pikiran manusia; tetapi, secara relatif dikatakan bahwa qiyas adalah sumber hukum yang membutuhkan deduksi dan rujukan kemanusiaan). &lt;br /&gt;Beberapa pemikiran tersebut mendasari bahwa ada kesesuaian tentang tujuan agama Islam dan Pancasila. Karena Pancasila adalah ajaran yang baik maka Islam wajib memberikan dukungan secara moral dan material terhadap keberadaan dan keutuhan Pancasila.&lt;br /&gt;Pola beragama kita masih cenderung sepotong-sepotong, tidak utuh (tidak /kaffah/). Sehingga tampilan perilaku umat yang beragama terkesan hanya menonjolkan aspek tertentu dan menafikan aspek lain. Hakikat agama tidak hanya diamalkan secara ritual formal, yang lebih penting adalah diamalkan dalam aspek kehidupan umat manusia. Bentuk-bentuk perilaku yang tidak santun (anarkisme) di kalangan para pemeluk agama, ternyata disebabkan oleh pengamalan agama (keberagamaan) yang hanya sebatas aspek ritual formal keagamaan. Maka tidak heran kalau pemeluk agama setelah shalat jamaah dari masjid, dari gereja, dari pura, masih mau bertikai, bertengkar dengan sesama manusia, melakukan perusakan, pembakaran rumah orang lain, dan sebagainya. Orang yang rajin berpuasa Ramadhan, rutin mengeluarkan zakat fitrah, zakat maal, bahkan zakat profesi, naik haji tidak hanya satu kali, tetapi ketika memiliki posisi jabatan politik masih saja melakukan korupsi; menjadi penegak hukum masih saja melakukan praktik jual beli hukum yang akhirnya sangat merugikan masyarakat. Orang seringkali menganggap bahwa agama hanya ada di dalam masjid, dalam gereja, dalam majlis ta'lim, di pondok pesantren. Sedang di dalam pasar, swalayan, terminal, perumahan, di Gedung MPR/ DPR, di dalam istana, di jalan raya, seakan merasa tidak ada agama; sehingga para pemeluk agama cenderung mudah melakukan tindakan yang menyimpang dari ajaran, norma, nilai yang ditetapkan oleh agama. Kalau bangsa Indonesia menghendaki suasana yang santun, damai, jauh dari perilaku anarkis, maka perlu ada perubahan paradigma berfikir tentang makna dan pola keberagamaan. Agama jangan hanya dipahami sekadar amalan ritualistik belaka, tetapi benar-benar dijadikan inspirasi melakukan perbuatan dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain, ada perubahan paradigma keberagamaan dari keberagamaan struktural politis menjadi keberagamaan kultural transformatif; artinya agama benar-benar menjadi landasan dalam melakukan aktivitas para pemeluknya kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Hakikat beragama, sebenarnya terletak pada kedekatan psikologis antara para pemeluk agama (makhluk) dengan Sang Pencipta (Tuhan). Tanpa ada perubahan paradigma tersebut mustahil akan terwujud perilaku yang santun, harmonis, dan damai. (M Saekhan Muchith, 2008)&lt;br /&gt;3. Landasan Teori&lt;br /&gt;Islam dalam sejarahnya dapat berdampingan dengan kelompok lain dan keyakian lain di Lingkungan Sekitarnya. Islam agar dapat berkembang harus menyesuaikan norma ajaran dan aturan setempat dalam penyiarannya. &lt;br /&gt;Bangsa Indonesia telah memiliki nilai luhur sejak agama kuno yaitu Animisme dinamisme, dan agama modern yaitu Hindu, budha dan Kemudian Islam. Serta menyusul Kristen dan Katolik yang dibawa pada saat kejayaan Eropa di Indonesia.&lt;br /&gt;2.1 Fungsi Dan Kedudukan Pancasila dalam Islam&lt;br /&gt;Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia, sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia dan masih banyak lagi fungsi  dan kedudukan Pancasila yang lain. Seluruh kedudukan dan fungsi Pancasila tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Namun bila dikelompokkan akan kembali pada kedudukan dan fungsi Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara dan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Artinya dalam Pancasila tidaklah ada agama yang dilarang keberadaannya. Berarti Pancasila memberi kebebasan ruang bagi umat yang memeluknya.&lt;br /&gt;Islam sebagai salah satu agama yang memiliki pengaruh yang mayoritas berhak untuk menyebarkan dan menjalankan perintah agamanya tanpa larangan apapun. Karena Islam memiliki pandangan toleransi seperti agama yang lain, dan di dalam Pancasila itu sendiri. Maka tidak ada yang patut dipertentangakan anatara Pancasila dan ajaran Islam dalam rangka kebebasan beribadah bagi pemeliknya.&lt;br /&gt;2.2 Sila Ketuhanan Yang Maha Esa&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa mempunyai makna bahwa segala aspek penyelenggaraan negara baik yang material maupun yang spiritual.&lt;br /&gt;Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna, bahwa negara dengan segala aspek pelaksanaannya harus sesuai dengan hakekat Tuhan dalam arti kesesuaian negara dengan nilai-nilai yang datang dari Tuhan sebagai kausa prima. Negara memiliki hubungan yang langsung dengan manusia sebagai pendukung pokoknya, adapun manusia mempunyai hubungan yang langsung dengan Tuhan. Jadi dapat disimpulkan bahwa negara mempunyai hubungan sebab akibat yang tidak langsung dengan Tuhan lewat Manusia.  &lt;br /&gt;Negara tidak memaksakan agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena hal itu merupakan suatu keyakinan batin yang tercermin dari hati nurani dan tidak dapat dipaksakan. Dalam arti lain negara menjamin kemerdekaan setiap warganya untuk memeluk agama dan beribadat sesuai dengan kepercayaannya itu.&lt;br /&gt;Kekuatan pelaksanaan agama Islam di dalam Pancasila di akui dan dihormati, dan tidak ada larangan bagi umat Islam untuk menjalankan sareatnya sesuai dengan ajaran yang dimiliki.&lt;br /&gt;Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dirumuskan oleh pendiri Republik ini tanpa terkecuali adalah penganut agama Islam yang diwakili oleh para pemimpin agamanya cukup menyepakati keberadaan Pancasila sebagai dasar negara.&lt;br /&gt;2.3 Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab&lt;br /&gt;Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara Indonesia memiliki visi dasar  yang bersumber pada hakekat manusia. Visi dasar  inilah yang memberikan isi dan arah bagi seluruh kehidupan kemasyarakatan dan bersumber  pada hakekatnya manusia adalah sebagai pendukung pokok negara. Inti kemanusiaan itu terkandung dalam sila kedua yaitu : Kemanusiaan yang adil dan beradab.&lt;br /&gt;Islam juga memiliki aturan hubungan antara manusia antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia yang disebut Hablu minnallah dan hablu minnanas, yang menghormati hak dan kewajiban manusia sebagai mahluk sosial dan mahluk pribadi.&lt;br /&gt;2.4 Sila Persatuan Indonesia&lt;br /&gt;Makna persatuan Indonesia adalah bahwa sifat dan keadaan negara Indonesia, harus sesuai dengan hakekat satu. Sifat dan keadaan negara Indonesia yang sesuai dengan hakekat satu berarti mutlak tidak dapat dibagi, sehingga secara Indonesia merupakan suatu negara yang berdiri menempati  suatu wilayah tertentu merupakan suatu  negara yang berdiri sendiri memiliki sifat dan keadaanya sendiri yang terpisah dari negara lain di dunia ini.&lt;br /&gt;Pengertian Persatuan Indonesia merupakan suatu faktor kunci yang menentukan untuk terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Persatuan Indonesia adalah merupakan suatu perwujudan dalam bentuk dinamis.&lt;br /&gt;Jadi pada hakekatnya bahwa realisasi persatuan Indonesia adalah tidak sekedar suatu hasil yang bersifat statis yaitu berupa persatuan bangsa, negara dan wilayah Indonesia namun lebih penting  lagi yaitu dalam upaya merealisasikan  suatu tujuan bersama namun yang lebih penting lagi yaitu dalam merealisasikan  suatun tujuan bersama, dan dengan demikian realisasi persatuan Indonesia  harus bersifat dinamis dengan memelihara dan mengembangkannya, karena bagaimanapun juga Persatuan Indonesia adalah merupakan suatu faktor yang mutlak untuk terwujudnya suatu tujuan bersama.&lt;br /&gt;Islam mengajarkan persatuan tanpa perpecahan, karena perpecahan lebih banya mudlaratnya daripada manfaatnya. Maka umat manusia terutama bangsa Indonesia dan Umat Islam pada khususnya wajib menjalankan ajarannya dengan baik terutama tentang persatuan dan kesatuan yang terjalin dalam persaudaraan berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;Islam tidak pernah membedakan suku, agama, ras, dan keyakinan seseorang seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad S.A.W.&lt;br /&gt;2.5 Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan&lt;br /&gt;Hakekat dan sifat negara yang berkaitan dengan dasar politik negara memungkinkan terwujudnya suatu dasar demokrasi bagi negara Indonesia. Indonesia adalah negara demokrasi yang mono dualis karena manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. &lt;br /&gt;Kerakyatan merupakan suatu dasar filsafat dan dasar kerohanian. Kerakyatan merupakan cita-cita kefilsafatan dari demokrasi. Ada dua macam cita-cita kefilsafatab yaitu Demokrasi Politik dan demokrasi sosial ekonomi.&lt;br /&gt;Permusyawaratan/ perwakilan adalah bahwa demokrasi tidak dapat dilepaskan dengan pengertian masing-masing. Permusyawaratan perwakilan berkaitan dengan demokrasi politik yang merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kerakyatan &lt;br /&gt;Kepemimpinan, perwakilan dan demokrasi berdasarkan Islam adalahs esuai dengan ajaran Islam. Hanya Implementasi dari hal-hal tersebut perlu ditingkatkan kualitasnya. Musyawarah dan mufakat adalah cara yang terbaik dalam Islam dalam menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;2.7 Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia&lt;br /&gt; Cita-cita Keadilan Sosial yang terkandung dalam proklamasi kemerdekaan, cita-cita kemanusiaan yang terkandung dalam sila ke lima. Negara memberikan kesempatan dan memberikan bantuan yang sebaik-baiknya kepada perseorangan. Baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama untuk berusaha sendiri memenuhi keinginan, kebutuhan, dan kepentingan sendiri.&lt;br /&gt;Islam selalu menentang ketidak adilan artinya bahwa tujuan Hukum Islam adalah menciptakan suatu keadilan. Keadilan akan melahirkan kemakmuran bagi seluruh manusia di dunia. Namun keadilan selama ini tidak terus tercapai dalam perjalanan kehidupan manusia, karena manusia memiliki keserakahan.&lt;br /&gt;AKIBAT dampak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan sosial budaya, selanjutnya disebut Zaman Globalisasi, menyebabkan munculnya perilaku manusia cenderung menyimpang dari aturan atau norma yang sebenarnya. Agama yang sesungguhnya memiliki arti sangat ideal sebagai perekat, tali persaudaraan, faktor ketenteraman kehidupan, ternyata berbalik menjadi alat legitimasi perilaku yang menakutkan, mencemaskan (anarkis). Agama dalam tataran realitas justru sering kali dieksploitasi umatnya untuk kepentingan sesaat, baik pribadi maupun kelompok. Agama dimanfaatkan oleh para juru kampanye (mubalig politik) pada masa-masa menjelang pemilu untuk meraih dukungan suara sebanyak-banyaknya dari pemilih (rakyat). Yang lebih memprihatinkan, agama dijadikan legitimasi dan pembenaran atas perbuatan kerusakan, tindakan berperang untuk melawan kelompok agama atau kelompok lain kemudian diklaim sebagai tindakan terpuji, dengan mengatasnamakan jihad menegakkan ajaran Islam. Tulisan ini mencoba mengkaji masalah agama dikaitkan dengan banyaknya fenomena anarkis yang justru merugikan citra agama (Islam) yang /rohmatan lil'alamiin/. Islam akhir-akhir ini sedang disudutkan oleh kelompok atau negara tertentu, karena Islam selalu diidentikkan dengan peristiwa terorisme, khususnya pascapeledakan World Trade Center, 11 September 2001 dan peledakan bom di Bali tanggal 12 Oktober 2002. Islam lebih merasa dipojokkan setelah penangkapan pemimpin Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, KH Abu Bakar Ba'asyir, yang disinyalir terlibat jaringan terorisme internasional dan terkait dengan kasus peledakan bom malam Natal tahun 2000. Kita tidak bisa menyalahkan kepada kelompok siapa pun; yang terpenting adalah bagaimana umat Islam mampu melakukan introspeksi diri dengan cara pembenahan cara beragama (keberagamaan) sehingga tercipta ketenangan, ketenteraman kehidupan sosial. Artinya, bagaimana umat Islam mampu menjalankan ajaran agama secara utuh dan komprehensif agar agama bisa menjadi kontribusi dalam proses pembangunan, akhirnya terwujud tampilan (profil) para pemeluk agama yang santun , damai, serta harmonis (tidak anarkis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pembahasan&lt;br /&gt;3.1. Islam dan Keadilan Sosial&lt;br /&gt;Masyarakat Islam Indonesia selain secara aktif menjalankan tradisi berderma, mayoritas umat Islam Indonesia yakin bahwa kegiatan berderma tidak hanya merupakan kewajiban agama, namun juga sebagai tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, mereka yakin bahwa Islam di negeri ini memiliki potensi untuk mendorong terciptanya keadilan sosial ekonomi di dalam masyarakat. Mereka juga berpandangan bahwa keadilan sosial harus didasarkan atas persamaan hak seluruh rakyat sehingga pembatasan atas hak dan diskriminasi atas nama agama, ras, etnik, dan gender akan mengakibatkan persoalan besar, yang perlu diatasi demi menciptakan keadilan sosial yang hakiki. &lt;br /&gt;Hak Azasi Manusia (HAM) merupakan suatu hal yang fundamental, sensitif dan kontroversial. Selama beberapa dekade, isu-isu hak azasi manusia telah menjadi perdebatan menarik di kalangan pemikir modern baik di bidang politik maupun hukum. Hal ini berdasar kepada kecenderungan munculnya isu-isu hak azasi manusia bukan hanya dipengaruhi oleh anasir-anasir politik dan hukum melainkan juga agama dan budaya. Terbentuknya konsensus internasional tentang Universal Declaration of Human Rights pada 10 Desember 1948 hanya dimotori oleh sekelompok negara pemenang perang setelah berakhirnya Perang Dunia II yaitu AS, Perancis dan Inggris. Hal ini memperkuat pandangan bahwa isu-isu hak azasi manusia tidak saja terkait dengan persoalan krusial menyangkut aspek-aspek dan standar universalitas hak azasi manusia, tetapi juga terkait dengan latar belakang pembentukannya untuk menciptakan perdamaian dunia. Di kalangan negara-negara muslim, persoalan hak azasi manusia bukanlah suatu hal baru. Syariat Islam yang bersifat universal banyak menjelaskan prinsip-prinsip dasar tentang persamaan hak azasi manusia dan kebebasan. Bahkan ketika Nabi Muhammad Saw mendeklarasikan Piagam Madinah, hak azasi manusia ditempatkan dalam posisi tertinggi konstitusi Islam pertama tersebut. Perjalanan sejarah berlakunya hukum Islam di kalangan masyarakat muslim telah bergeser dari sudut normativitas vertikal menjadi lebih horizontal. Hal ini disebabkan perkembangan berlakunya hukum Islam telah dipengaruhi pula oleh dinamika sosial-budaya dan politik hukum dalam masyarakat Islam itu sendiri&lt;br /&gt;Bagi sebagian besar muslim, Islam difahami bukan semata-mata merupakan agama yang mengajarkan tentang kesadaran untuk tunduk kepada Tuhan yang diwujudkan dalam kegiatan ritual semata, akan tetapi mengajarkan pula pedoman hidup untuk saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia. Islam merupakan agama wahyu karena di dalamnya syarat dengan muatan-muatan norma-norma hukum berdasar kepada kehendak Tuhan, agar manusia dapat menjunjung tinggi persamaan derajat kemanusiaannya. Munculnya kesadaran eklusif dalam menjalankan ajaran Islam, tidak dapat disangkal telah memunculkan corak penerimaan Islam lebih dari sekedar sistem keyakinan terhadap Tuhan, tetapi juga merupakan suatu sistem hukum yang universal. Norma-norma ideal dalam ajaran Islam lebih banyak difahami sebagai kumpulan norma hukum yang sebagian atau seluruhnya berasal dari kehendak Tuhan, sedangkan manusia hanya menjadi komponen yang melaksanakan hukum Tuhan. Sebaliknya corak kesadaran inklusif lebih menitikberatkan pemahaman bahwa agama merupakan pedoman dasar ketuhanan dan kemanusiaan. Agama tidak hanya mengarahkan manusia untuk tunduk dan patuh kepada Tuhan dalam bentuk kegiatan ritual yang bersifat vertikal, tetapi hendaknya berimplikasi kepada kesadaran akan kemanusiaannya, sehingga melahirkan sikap saling terbuka, saling menghargai, dan mengakui persamaan derajat kemanusiaan tanpa membeda-bedakan apapun. Hubungan antara Islam dan hak azasi manusia, terletak pada universalitas ajaran Islam. Universalitas hak azasi manusia telah digaransi di dalam prinsip-prinsip dasar hukum Islam yang berasal dari teks-teks suci maupun konstruksi pemikiran ulama. Prinsip-prinsip dasar tersebut mencakup: ketuhanan, keadilan, persamaan, kebebasan, toleransi, dan sebagainya. Namun demikian, prinsip-prinsip dasar yang bersifat umum tersebut sangat terbuka dengan perbedaan pada tingkat implementasinya. Sebab hal ini sangat dipengaruhi oleh corak politik hukum dan situasi sosial-budaya dalam masyarakat Islam. Pada gilirannya muncullah corak keberlakuan hukum Islam yang bercorak lokal. Perkembangan hukum Islam di negara-negara muslim yang berlangsung sejak periode kenabian hingga periode modern, diduga telah bersentuhan dengan sistem hukum lainnya&lt;br /&gt;Keadilan secara umum didefinisikan sebagai "menempatkan sesuatu secara proporsional" dan "memberikan hak kepada pemiliknya". Definisi ini memperlihatkan, dia selalu berkaitan dengan pemenuhan hak seseorang atas orang lain yang seharusnya dia terima tanpa diminta karena hak itu ada dan menjadi miliknya. Dalam konteks relasi jender, wujud pemenuhan hak atas perempuan masih merupakan problem kemanusiaan yang serius. Realitas sosial, kebudayaan, ekonomi dan politik masih menempatkan perempuan sebagai entitas yang direndahkan. Persepsi kebudayaan masih melekatkan stereotipe yang merendahkan, mendiskriminasi dan memarjinalkan mereka. Satu-satunya potensi perempuan yang dipersepsi kebudayaan adalah tubuhnya. Pandangan ini pada gilirannya mendasari perspektif kebudayaan tubuh perempuan seakan sah dieksploitasi, secara intelektual, ekonomi dan seksual, melalui beragam cara dan bentuknya di ruang privat maupun publik. Laporan Komisi Nasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan tahun 2006 yang membukukan 22.350 kasus kekerasan terhadap kaum perempuan. Demikianlah perempuan masih menjadi korban kebudayaan yang dirumuskan berdasarkan ideologi patriarkhis dan serba maskulin. Maka, keadilan bagi perempuan tampak masih sebatas sebagai retorika. Lalu ke arah mana perempuan korban ketidakadilan tersebut harus diakhiri? *Gagal memenuhi* Komunitas dunia sepakat, ketidakadilan harus diakhiri melalui diktum hukum, termasuk fikih. Hal yang diidealkan dari hukum adalah keputusannya memastikan tercapainya keadilan substansial. Tetapi, produk perundangan dan fikih tidak selamanya melahirkan keadilan bagi korban (perempuan). Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), misalnya, belum mengafirmasi keadilan bagi perempuan. Dalam konteks Islam, menarik mengemukakan pandangan ahli hukum Islam klasik; Ibnu al Qayyim al Jauziyah (w. 1350 M). Dia mengatakan, tidak masuk akal jika hukum Islam menciptakan ketidakadilan, meskipun dengan mengatasnamakan teks ketuhanan. Jika ini terjadi, pastilah pemaknaan dan rumusan hukum positif tersebut mengandung kekeliruan. Dia juga mengatakan keadilan manusia harus diusahakan dari mana pun ia ditemukan karena ia juga adalah keadilan Tuhan yang hanya untuk tujuan itulah hukum Tuhan diturunkan. Dengan begitu, interpretasi dan pemaknaan atas teks ketuhanan yang tidak mampu menangkap esensi keadilan harus diluruskan. Pandangan ini juga bisa menjadi rujukan bagi hukum positif lain. Kegagalan instrumen hukum memenuhi keadilan bagi perempuan lebih disebabkan masih kokohnya pengaruh persepsi dan konstruksi kebudayaan patriarkhis. Adalah niscaya di atas premis kebudayaan dan tradisi ini terminologi hukum dan kebijakan publik, termasuk postulat fikih, harus dibangun. Dari sinilah kita perlu membangun kembali makna keadilan berdasarkan konteks sosial baru dan dengan paradigma keadilan substantif sebagaimana sudah dikemukakan pada awal tulisan. Penyusunan makna keadilan bagi perempuan dalam konteks ini harus didasarkan pada dan dengan mendengarkan pengalaman perempuan korban. Pemenuhan keadilan bagaimanapun hanya dapat tercapai jika kebudayaan dan tradisi masyarakat menunjukkan pemihakannya kepada korban. Hal lain yang lebih mendasar adalah pemaknaan keadilan bagi perempuan harus didasarkan pada paradigma hak asasi manusia. Bagi saya, hak asasi manusia bukan saja sejalan melainkan menjadi tujuan keputusan Tuhan. Perempuan dalam paradigma ini memiliki seluruh potensi kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki laki-laki. Dari sini konstruksi sosial baru yang menjamin keadilan jender diharapkan lahir menjadi basis pendefinisian kembali pranata sosial, regulasi, kebijakan politik, dan ekonomi, tidak terkecuali fikih.&lt;br /&gt;l3.2 Hukum Islam dan HAM&lt;br /&gt;Deni K. Yusup menerangkan bahwa Hak Azasi Manusia (HAM) merupakan suatu hal yang fundamental, sensitif dan kontroversial. Di kalangan negara-negara muslim, persoalan hak azasi manusia bukanlah suatu hal baru. Syariat Islam yang bersifat universal banyak menjelaskan prinsip-prinsip dasar tentang persamaan hak azasi manusia dan kebebasan. &lt;br /&gt;1. Dalam tulisannya, An-Na’im sekurang-kurangnya telah memberikan pengertian umum bagi hukum Islam (syariah) sebagai sekumpulan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam yang memuat norma-norma hukum dalam hubungannya antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya. &lt;br /&gt;2. Hak tersebut merupakan hak yang harus dimiliki oleh setiap orang tanpa membeda-bedakan apa pun termasuk di dalamnya suku bangsa, agama, jenis kelamin dan status sosial dalam masyarakat. 3. Hal yang paling serius menurutnya adalah menyangkut masalah gender, diskriminasi terhadap kalangan non-muslim dan minoritas agama lainnya. &lt;br /&gt;4. Demikian pula, dengan prinsip-prinsip dasar HAM dan Hukum Islam dapat berlaku secara positif apabila telah diakui dan dimuat ke dalam konstitusi. Berdasar kepada pandangan tersebut, antara HAM dan Hukum Islam memiliki pola hubungan yang sama yakni merupakan produk hukum yang mengikat. Munculnya peta konflik antara hukum Islam dan HAM sebagaimana disebut oleh An-Na’im lebih banyak terdapat dalam bidang hukum perdata dan pidana Islam. &lt;br /&gt;5. Selain itu, An-Naim tidak menjelaskan hukum Islam dalam term umum syariah, tetapi lebih dibatasi oleh perspektif sejarah dengan sebutan syariah historis. Di samping itu, gagasannya tentang pembaharuan hukum Islam juga lebih banyak dipengaruhi oleh tafsir historis terhadap sistem hukum Sudan yang berada di bawah pemberlakuan hukum konstitusi Islam. Demikian pula dengan kerangka metodologi hukum Islam yang ia gunakan lebih banyak memuat prinsip-prinsip dasar positivistik. Hal ini bisa kita lihat dalam pandangannya bahwa prinsip nasikh mansukh adalah sebuah keniscayaan bagi pembaharuan hukum Islam saat ini. Argumen yang ia gunakan berdasar kepada pendekatan analogi bahwa konteks pemberlakuan hukum Islam saat ini hendaknya dapat dikembalikan sebagaimana peralihan dari periode Medinah ke periode Makkah. Hal tersebut, menurutnya merupakan solusi bagi rekonsiliasi antara hukum Islam dan hak azasi manusia. Secara umum, ia menjelaskan dua pendekatan yang bisa dilakukan bagi pembaharuan hukum Islam dalam hubungannya dengan hak azasi manusia. Pertama, hukum Islam harus direkontruksi kembali baik pada tingkatan metodologi maupun implementasinya sesuai dengan perkembangan dunia modern. Kedua, ia menghendaki adanya perubahan serupa dari sistem hukum lainnya termasuk hak azasi manusia untuk lebih akomodatif mempertimbangkan perbedaan latar belakang sosial-budaya, agama dan politik hukum yang ada di kalangan masyarakat muslim dan penganut agama lainnya. Inilah pilihan yang paling sulit dilakukan, sebab kenyataan entitas hukum Islam dan hak azasi manusia bagi orang Islam bukanlah sesuatu yang terpisah. Sebagai bagian akhir dari tulisan ini, saya ingin mempertegas kembali bahwa pola hubungan antara hukum Islam dan hak azasi manusia bukanlah sesuatu yang keluar dari keyakinan agama. Menolak hukum Islam sebagian tidak berarti meninggalkan hukum tersebut secara keseluruhan. Sudah barang tentu, sebagai hukum Tuhan, hukum Islam yang terkandung dalam makna integral syariah berisikan prinsip-prinsip moral, etika, hukum dan keadilan dapat diterapkan secara utuh dan berkesinambungan. Akan tetapi, kita tidak bisa menolak, eksistensi hukum Islam yang lahir dari produk sejarah ternyata telah melahirkan pertentangan dengan sistem hukum lainnnya serta penolakan dari kalangan non-muslim dan komunitas muslim itu sendiri.l3.3 Budaya Islam Versus LiberalisasiSalah satu kritik terhadap Neoliberalisme adalah kecenderungan menempatkan negara dalam subordinasi pasar. Meskipun di kalangan Mahzab Neoliberalisme sendiri terdapat silang sengketa antara menempatkan negara dengan pasar, fakta yang bisa diterima umum adalah kekuatan ekonomi pasar cenderung dibiarkan demi membela prinsip paling mendasar dari Neoliberalisme itu sendiri: ”Kebebasan”. Titik krusialnya justru terletak disini. Dengan membiarkan kebebasan seperti lalu lintas yang dapat mengatur dirinya sendiri, bagaimanakah menciptakan kontestasi yang seimbang diantara kontestan jika dalam faktanya pasar yang berlangsung cukup sempurna hanya bisa diterima di dalam konsep, bukan praktik.&lt;br /&gt;Adapun kelemahan dari cara pandang seperti ini setidaknya adalah&lt;br /&gt;1. Mereka pada umumnya tidak menyertakan faktor-faktor pasar, determinasi pasar, sebagai persoalan globalisasi (ekonomi, dan kultural) yang juga turut mewarnai pegsesekan-pergesekan di Indonesia.&lt;br /&gt;2. Dengan kata lain, pada umumnya mereka terjebak dengan hanya melihat gerakan Islam dalam relasinya dengan negara. &lt;br /&gt;3. Gerakan-gerakan Islam di Indonesia, akhirnya hanya dilihat secara politcs ansich, tanpa melihat perspektif-persektif lain yang lebih kaya misalnya faktor kebudayaan, atau dinamika kebudayaan rakyat di Indonesia. Yang menarik di tengah seluruh pergulatan pro-kontra di kalangan gerakan Islam itu sendiri dalam membangun visi keislamannya, negara seperti tidak memberi sinyal tegas untuk menempatkan posisi agama dalan hubungannya dengan negara. Negara seperti dibiarkan untuk mengalami vakuum ideologis, terutama di dalam caranya melihat dan menindak kelompok-kelompok yang dalam berbagai hal, jelas menafikan ideologi Pancasila itu sendiri yang pada masa Orde Baru terlalu sering dipraktikkan secara represif-demonstratif. Soalnya adalah apakah ruang politik paska Orde Baru ini memang merupakan sinyal bagi kevakuman ideologis yang kemudian kelahirkan berbagai (competition discourses) untuk mengisi, mewarnai, menguasai ideologi negara kelak di kemudian hari? Atau, sebaliknya, apakah munculnya keragaman visi ideologis ini sesungguhnya merupakan akibat dari delegitimasi Orde Baru khususnya terhadap Pancasila sebagai (common denominator) yang semula sudah kita sepakati sebagai patform bersama membangun kehidupan kebangsaan. Jika dua-duanya bisa diterima, soalnya kemudian adalah bahwa memang proyek Menjadi Indonesia belumlah mencapai titik akhir. Di dalam proses seperti ini, ke depan masih akan temukan lagi kompetisi-kompetisi (pertarungan) wacana yang didalamnya sesungguhnya ingin menguasai alam pikiran orang Indonesia dengan visi tertentu.  Jika pertanyaan ini kita lontarkan ke Hashim Mudzadi, Din Syamsuddin, atau Ulil Absar Abdallah, Habib Rizik, apalagi Nurmahmudi, maka jawaban yang akan kita terima pastilah basi, dan merupakan perulangan dari diskursus dominan mengenai Islam yang kini sudah muncul di beberapa media. Sebagian dari pengamatan tokoh-tokoh selebiritis ini, setidaknya menurut Interseksi, cenderung memandang kekuatan islam dalam dua kubu yang bertabarakan: pluralis vs non-pluralis, Islam ramah vs Islam sangar, Islam Pancasilais vs Islam anti Pancasila. Dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kesimpulan&lt;br /&gt;Islam memiliki sudut pandang yang sama dengan hukum, keadilan sosial dan Budaya dalam Pancasila. Pemahaman itu dibutuhkan agar ada kehidupan bernegara yang seiring dengan kehidupan beragama di Indonesia.&lt;br /&gt;Perasaan cinta tanah air dianjurkan dalam Islam. Perasaaan cinta tanah air akan membawa persatuan dan keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara, seiring dengan globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Saekhan Muchith, 2008 , http://www.kompas.com/kompas-cetak/0211/15/opini/bera04.htm &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------ Versi Lengkap Versi Cetak Beritahu Teman Back To Top  Tentang Uni Sosial Demokrat Revisi Terakhir 06 Des 08 Copyright © 2001 Unisosdem Developed by eLS' Site Map Pencarian Pencarian Detail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Abdullahi Ahmed Anim, Towards an Islamic Reformation: Civil Liberties, Human Rights, and International Law/ (Syracuse: Syracuse University Press, 1996) hal. 3-4 2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullahi Ahmed An-Naâ€™im, /Islam and Human Rights: Beyond The Universality Debate/ (Washington: The American Society of International Law, 2000) hal. 95. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan David Littman, /Universal Human Rights and Human Rights in Islam/ (New York: Journal Midstream, 1999) p. 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ann Elizabeth Mayer, Islam and Human Rights: Traditions amd Politics (Colorado: West View Press, 1999) hal. 35. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmoud Mohammad Taha, /The Second Message of Islam/, diterjemahkan oleh Abdullahi Ahmed An-Naim (Syracuse: Syracuse University Press, 1987).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-2952554196920355263?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/2952554196920355263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/islam-dalam-keadilan-sosial-hukum-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/2952554196920355263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/2952554196920355263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/islam-dalam-keadilan-sosial-hukum-dan.html' title='Islam dalam Keadilan, Sosial, Hukum dan Budaya'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-4544714960607559478</id><published>2009-01-22T10:46:00.001-08:00</published><updated>2009-01-22T10:46:33.320-08:00</updated><title type='text'>Perilaku Menyimpang Dapat Mendorong Terciptanya Kreativitas</title><content type='html'>Perilaku Menyimpang Dapat Mendorong Terciptanya Kreativitas &lt;br /&gt;dan Tidak Selamanya Negatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;Perilaku menyimpang secara pendangan umum tidaklah selalu berarti negatif, karena menyimpampang memiliki dua sudut pengertian secara umum. Orang yang menyimpang karena berpikir dan berperilaku konstruktif adalah dibutuhkan karena berani melawan kelaziman yang menjadi aturan umum meski sebenarnya salah. Namun perilaku menyimpang juga belum tentu berpengertian konstruktif karena bisa jadi justru merupakan perilaku yang sangat negatif. Karena penyimpangan juga terjadi pada hal-hal yang destruktif di samping konstruktif.&lt;br /&gt;Perilaku menyimpang yang terarah akan menghasilkan sesuatu yang positif, sedangkan yang tidak dikendalikan dengan benar akan menghsilkan sesuatu yang negatif dan kontra produktif.&lt;br /&gt;Selama puluhan tahun, ada beberapa kepercayaan mengenai kreativitas, antara lain :&lt;br /&gt;1. kreativitas adalah bakat alami dan tidak bisa diajarkan, &lt;br /&gt;2. kreativitas berasal dari para pemberontak (rebels), kreativitas muncul karena adanya kebutuhan akan adanya ”kegilaan”, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;Bagi seseorang yang berkecimpung dalam dunia periklanan, istilah kreatif itu sendiri sudah menjadi istilah sehari-hari dan merupakan suatu keharusan – suatu bagian yang tidak terpisahkan dari hidup – untuk dapat membuat iklan yang outstanding. Tanpa kreativitas, karya yang dibuat sulit mengenai sasaran dengan tepat dan langsung  menancap di benak target audiens.&lt;br /&gt;Kreativitas sangat dibutuhkan bagi dunia desain, utamanya agar dapat tetap eksis di dunia yang semakin sarat dengan persaingan. Sehubungan dengan kompetisi tersebut, masyarakat dapat melihat banyaknya ajang pesta penghargaan kreatif bagi insan dunia periklanan sebagai ajang kompetisi kreatif. Ajang kompetisi kreatif di tingkat Internasional antara lain Cannes Lions, Clio Awards, Design &amp; Art Direction (D&amp;AD), One:Show, Addy Award, New York Festival, Asia Pasific Ad Festival dan Effie Award. Sedangkan di Indonesia sendiri ada Jawa Pos Ad Festival, Pinasthika Ad Festival, Layang Kancana, Daun Muda Award, dan Citra Pariwara. Festival-festival kreatif di tingkat internasional biasanya diramaikan dengan seminar, workshop dan party yang disponsori oleh jaringan biro iklan yang terkemuka. Pesta-pesta seperti ini juga dilakukan di Indonesia. Bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta, para penggagas kreatif1 ini biasanya memiliki ”komunitas party” untuk bertemu pada hari tertentu di tempat-tempat clubbing yang telah ditentukan sebelumnya.  Kecenderungan untuk mengadakan party biasanya cukup dekat dengan dunia hiburan malam. &lt;br /&gt;Tempat-tempat seperti itu biasanya dipandang cocok untuk sekedar melepas lelah, menjalin hubungan dengan relasi, membangun jaringan dengan sesama kolega, sekedar gaya hidup atau untuk mencari inspirasi. Insan periklanan sendiri sebagian besar terdiri atas orang-orang kreatif yang tampil eksentrik, berbusana sesuai dengan mood mereka, memiliki pola pikir dan perilaku yang seringkali menentang aturan ataupun norma yang ada. Sikap eksentrik seperti itu antara lain bisa dilihat di ajang-ajang penghargaan kreatif melalui tampilan mereka yang berani berbeda.&lt;br /&gt;Tidak dapat disangkal bahwa pada akhirnya, beberapa dari mereka yang berpenampilan dan berperilaku eksentrik tersebut bisa memperoleh penghargaan kreatif. &lt;br /&gt;Namun apakah kreativitas itu sendiri berkaitan langsung dengan perilaku eksentrik ini?&lt;br /&gt;2. Kreativitas&lt;br /&gt;Kreativitas berasal dari kata dasar kreatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,&lt;br /&gt;kreatif memiliki pengertian yaitu (1) memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk&lt;br /&gt;menciptakan; (2) bersifat (mengandung) daya cipta. Sehingga pengertian kreativitas adalah (1) kemampuan untuk mencipta; daya cipta; (2) perihal berkreasi (Kamus, Olson, 1992:11).&lt;br /&gt;Menurut Henrik Lisby (Majalah Desain Grafis Concept Vol.02 Edisi 07’05:14), seorang arsitek, desainer dan branding specialist yang mendapatkan gelar Master of Arts in Architecture and Design dari The Royal Academy of Arts, Copenhagen, Denmark, “Kreativitas adalah menjadi unik. di tengah-tengah dunia yang segala sesuatunya menjadi semakin mirip.”&lt;br /&gt;Sedangkan menurut David Campbell (1986 :11-12), kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya (1) baru (novel): inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan ; (2) berguna (useful): lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/banyak ; (3) dapat dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu. Peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu saja, tak dapat dimengerti, tak dapat diramalkan, tak dapat diulangi – mungkin saja baru dan berguna, tetapi lebih merupakan hasil keberuntungan (luck), bukan kreativitas.&lt;br /&gt;Bagi beberapa orang, kreativitas dianggap sebagai suatu kemampuan untuk menghasilkan gagasan baru atau wawasan segar, sebagai hasil dari pola pikir yang “out of the box”. Dalam sebuah kamus, kreativitas dikemukakan sebagai proses yang  menghasilkan sesuatu yang tidak berkembang secara alamiah atau tidak dibuat dengan cara yang biasa. Kreativitas didefinisikan sebagai suatu pengalaman untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas individu seseorang secara terpadu dalam hubungan eratnya dengan diri sendiri, orang lain, dan alam (Olson, 1992 :12,14). Ditinjau dari sisi yang lain, kreativitas adalah proses yang digunakan seseorang untuk mengekspresikan sifat dasarnya melalui suatu bentuk atau medium sedemikian rupa sehingga menghasilkan rasa puas bagi dirinya; menghasilkan suatu produk yang mengkomunikasikan sesuatu tentang diri orang tersebut kepada orang lain. Sehingga kreativitas menjadi sangat pribadi sifatnya karena kreativitas adalah menjadi diri sendiri dan mengekspresikan diri sendiri (Bean, 1995:3, 5).&lt;br /&gt;Walaupun kreativitas dimulai sebagai proses di dalam perasaan atau gagasan – tetapi juga harus menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat. Pikiran dan perasaan mungkin menarik dan penting, tetapi pikiran dan perasaan bukanlah kreatif itu sendiri. Harus ada suatu produk yang mengungkapkan semua pikiran dan perasaan tersebut (Bean, 1995:6-7). &lt;br /&gt;Sebagus apapun ide yang kita miliki kalau tidak sampai menjadi kenyataan juga tidak akan dapat dinikmati oleh orang lain. Ini berarti memiliki ide cemerlang barulah awal dari suatu pekerjaan, selanjutnya adalah kerja keras, perencanaan yang matang, usaha persuasif yang jitu dan daya tahan untuk  merealisasikan ide tersebut sampai menjadi kenyataan (Hartanto, Majalah Desain Grafis Concept Vol.02 Edisi 07’05:90). Suatu saat, Reynold Bean menuturkan kisahnya dalam buku Cara Mengembangkan Kreativitas Anak. Dikisahkan suatu ketika ia pergi bersama sekelompok siswa sekolah dalam suatu karyawisata ke Studio Bennie Bufano. Bennie Bufano adalah salah satu pematung yang paling disukai di San Fransisco Bay Area. Karya Bufano, seperti patung St. Fancis dan patung satwa dari batu yang “menggemaskan” dapat dilihat di sepanjang Bay Area. Patung satwa dirancangnya sedemikian rupa supaya anak-anak dapat memanjat dengan mudah tanpa terluka.&lt;br /&gt;Selama karya wisata tersebut, Bufano berbicara tentang seni. Sewaktu ditanya tentang bagaimana ia memutuskan apa yang hendak dipahatnya dari batu tersebut, jawabnya, “Saya hanya memahat terus hingga menemukan binatang apa yang terkurung di dalamnya.” Saat itu Reynold (Bean, 1995:1) berpikir bahwa meskipun pernyataan Bufano tidak benar secara harafiah, namun ia merupakan metafora yang indah. Selang beberapa tahun kemudian Reynold menyadari bahwa pematung tersebut beranggapan bahwa di dalam batu tersebut benar-benar ada binatang yang terkurung di dalamnya. Penglihatan batinnya yang memungkinkan ia membayangkan potensi keindahan yang terkandung di dalam sesuatu yang dipandang sebagian besar orang sebagai bongkahan granit sederhana. Ada beberapa hal penting tentang kreativitas yang dapat dipelajari dari pematung San Fransisco, Bennie Bufano yaitu bahwa kreativitas lebih banyak berkaitan dengan bermain daripada dengan bekerja. Mempunyai masa kanak-kanak yang memuaskan sehingga seseorang tidak ingin meninggalkan masa tersebut bukanlah sesuatu yang jelek. Setelah proses kreatif disalurkan, orang tidak dapat mengatakan kemana arahnya. Beranggapan ada satwa di dalam batu tidaklah gila apabila hal tersebut mengarah pada sesuatu yang indah.&lt;br /&gt;Belajar mencintai apa yang dikerjakan adalah bagian dari hasil dicintai sewaktu mengerjakan. Memupuk kreativitas adalah salah satu tindakan terbaik dan terpenting yang dapat dilakukan orang tua bagi anak. Kreativitas seseorang adalah tempat ia menimba sesuatu yang memuaskan dan menyenangkan (Bean, 1995:9).&lt;br /&gt;Orang-orang kreatif berhasil mencapai ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja, hal atau produk baru, biasanya sesudah melewati beberapa tahap dengan urutan sebagai berikut: (1) Persiapan (preparation): meletakkan dasar. Mempelajari latar belakang perkara, seluk-beluk dan problematiknya. (2) Konsentrasi (concentration): sepenuhnya memikirkan, masuk luluh, terserap dalam perkara yang dihadapi. (3) Inkubasi (incubation): mengambil waktu untuk meninggalkan perkara, istirahat, waktu santai. Mencari kegiatan-kegiatan yang melepaskan diri dari kesibukan pikiran mengenai perkara yang sedang dihadapi. (4) Iluminasi (illumination): tahap AHA, mendapatkan ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja, jawaban baru. (5) Verifikasi/produksi (verification/production): menghadapi dan memecahkan masalah-masalah praktis sehubungan dengan perwujudan ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja, jawaban baru. Seperti menghubungi, meyakinkan dan mengajak orang, menyusun rencana kerja, dan melaksanakannya (Campbell, 1986:18).&lt;br /&gt;Ada seorang bijak yang berkata: ”Kesuksesan orang-orang besar tercapai dan bertahan, bukan oleh loncatan yang tiba-tiba. Tetapi sementara orang-orang lain tidur pulas, mereka bekerja keras meniti tangga usaha.” (Campbell,1986:20).&lt;br /&gt;Kreativitas secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu proses ataupun kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang inovatif, tidak harus baru namun ia dapat outstanding dan menjadi unik di tengah segala sesuatu yang kian hari kian mirip, bukan hanya sekedar kebetulan, merupakan suatu pemecahan masalah yang efektif dan berguna, dan yang paling penting adalah ia juga harus dapat dimengerti oleh orang lain. Sehingga ketika pembahasan adalah mengenai desain yang kreatif, maka ia harus merupakan desain yang dapat outstanding, memorable,dan understable serta merupakan problem solving bagi produk, jasa ataupun bagi orang-orang yang terlibat.&lt;br /&gt;3. Ciri-ciri Orang Kreatif&lt;br /&gt;Menurut Campbell (1986:27) ciri-ciri orang kreatif secara umum dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori. (1) Ciri-ciri pokok: merupakan kunci awal untuk melahirkan ide, gagasan, ilham, pemecahan, cara baru, penemuan. (2) Ciri-ciri yang memungkinkan: adalah suatu keadaan yang membuat seseorang mampu mempertahankan ide-ide kreatif sekali sudah ditemukan tetap hidup. (3) Ciri-ciri sampingan: tidak langsung berhubungan dengan penciptaan atau menjaga agar ide-ide yang sudah ditemukan tetap hidup, tetapi kerap mempengaruhi perilaku orang-orang kreatif. &lt;br /&gt;Ciri-ciri pokok yang dimiliki oleh orang kreatif antara lain (1) Kelincahan mental – berpikir dari segala arah. Kelincahan mental (mental agility) adalah kemampuan untuk&lt;br /&gt;bermain-main dengan ide-ide, gagasan-gagasan, konsep, lambang-lambang, kata-kata, angka-angka, dan khususnya melihat hubungan-hubungan yang tak biasa antara ide-ide, gagasangagasan dan sebagainya. Berpikir dari segala arah (convergent thinking) adalah kemampuan untuk melihat masalah atau perkara dari berbagai arah, segi dan mengumpulkan berbagai fakta yang penting dan mengarahkan fakta pada masalah atau perkara yang dihadapi. Dengan cara demikian ada kemungkinan besar bahwa dihasilkan pemecahan yang tepat mengenai masalah atau perkara tersebut. Orang-orang kreatif memiliki kemampuan-kemampuan diatas dengan baik. Dan kemampuan-kemampuan menjadi semakin baik dan berfungsi semakin baik karena digunakan dan dilatih secara teratur. ”Jogging mental” amat berguna bagi mental seseorang, seperti halnya jogging fisik berguna bagi tubuh manusia. John Maxwell (Enjoying Everyday Life. Juli 2006:24) mengatakan bahwa ketika seseorang menjadi aktif berkreativitas, maka kemampuan kreativitas (creative ability) akan meningkat. (2) Kelincahan mental – berpikir ke segala arah. Berpikir ke segala arah (divergent thinking) adalah kemampuan untuk berpikir dari satu ide, gagasan, menyebar ke segala arah, segi. Daripada langsung sibuk mencari jawaban yang benar, berpikir ke segala arah, mendorong seseorang untuk mencari berbagai jawaban yang berbeda, yang memungkinkan. (3) Fleksibilitas konseptual.&lt;br /&gt;Fleksibilitas konseptual (conceptual flexibility) adalah kemampuan untuk secara spontan&lt;br /&gt;mengganti cara memandang, pendekatan, kerja yang tak jalan. (4) Orisinalitas. Orisinalitas (originality) adalah kemampuan untuk menelorkan ide, gagasan, pemecahan, cara kerja yang tidak lazim (meski tak selalu baik), yang jarang, bahkan ”mengejutkan”. Dalam diri seseorang sebetulnya terpendam sifat nakal kanak-kanak. Sifat itu dapat melahirkan kreativitas yang luar biasa. (5) Lebih menyukai kompleksitas daripada simplisitas. Dari penyelidikan diketemukan bahwa pada umumnya, orang-orang kreatif lebih menyukai kerumitan daripada kemudahan, memilih tantangan dari keamanan, cenderung pada yang banyak tali-temalinya (complexity) daripada sesuatu yang sederhana (simplicity). Akibatnya orang-orang kreatif dapat bertemu dengan gagasan-gagasan aneh, tali-temali antar perkara yang mengejutkan, dan hal-hal baru daripada orang-orang yang puas dengan yang mudah, aman dan sederhana. (6) Latar belakang  yang merangsang. Dalam lingkungan dan suasana latar belakang yang merangsang (stimulating background) para calon orang kreatif melihat dan mengalami cara hidup dan cara kerja orang-orang yang sudah jadi dalam bidang mereka masing-masing. Dari orang-orang semacam itu para calon orang-orang kreatif mempelajari pengetahuan, melatih kecakapan baru, dan terdorong untuk memiliki sifat-sifat khas mereka: usaha, tenang dalam kegagalan,  tidak putus asa, disiplin, mencari terus, berprestasi dan gairah dalam hidup. (7) Kecakapan dalam banyak hal. Para manusia kreatif pada umumnya mempunyai banyak minat dan kecakapan dalam berbagai bidang (multiple skills) (Campbell, 1986:27-33).&lt;br /&gt;Ciri-ciri yang memungkinkan, yang perlu untuk mempertahankan gagasan-gagasan kreatif yang sudah dihasilkan, meliputi kemampuan untuk bekerja keras (capacity for hard work), berpikiran mandiri, pantang menyerah, mampu berkomunikasi dengan baik, lebih tertarik pada konsep daripada segi-segi kecil, keingintahuan intelektual, kaya humor dan fantasi, tidak segera menolak ide atau gagasan baru, arah hidup yang mantap (Campbell, 1986:35-43).&lt;br /&gt;Banyak orang kreatif memiliki ciri-ciri sampingan yang membuat mereka tak teramalkan, sulit untuk bergaul dan hidup dengan mereka, sukar diatur. Ciri-ciri ini biasanya mempengaruhi perilaku orang-orang kreatif, diantaranya ialah (1) Tidak mengambil pusing apa yang dipikirkan orang lain. Orang-orang kreatif berpikir sendiri. Mereka tidak mengambil pusing mengenai apa yang dipikirkan orang lain. Akibatnya mereka menjadi tidak peka terhadap perasaan orang-orang sekitarnya. Karena mereka tidak mempedulikan orang dan kurang memperhatikan adat yang berlaku, seringkali mereka tampak aneh, angkuh dan asosial. (2) Kekacauan psikologis. Orang-orang kreatif lebih menyukai kompleksitas daripada simplisitas, tidak mengendalikan perasaan, dan tidak mengambil pusing pendapat orang-orang lain. Memandang dunia dengan kaca-mata berbeda dari yang lazim, hidup dengan aturan yang tidak biasa, bertindak atas dasar perhitungan khusus, dapat membawa orang-orang kreatif ke dunia batin yang penuh dengan gejolak dan kekacauan. Hal ini dapat membawa mereka ke tengah kekacauan psikologis dan dapat mengakibatkan keberantakan hidup: perkawinan hancur, kehilangan pekerjaan, minum-minum, bahkan membunuh diri (Campbell, 1986:44).&lt;br /&gt;Pemaparan diatas adalah pemaparan mengenai ciri-ciri orang kreatif secara umumnya. Dari ciri-ciri tersebut, maka dapat ditemukan ciri-ciri yang sama pada para penggagas kreatif.&lt;br /&gt;Ketika seorang Creative Director mendapatkan brief dari klien, maka ia harus mengerahkan segala kemampuan kreatifnya untuk dapat menjadi problem solver bagi klien. Sehingga langkah yang diambil selanjutnya adalah bagaimana ia akan mengeluarkan semua ide-ide, kata-kata, melihat hubungan yang tidak biasa antara ide-ide, gagasan dan konsep. Ia akan berpikir secara konvergen dan berusaha melihat dari berbagai macam sisi, baik dari produk, konsumen, produsen, dan lain sebagainya. Ia akan mengumpulkan fakta-fakta yang penting dan mengarahkan fakta-fakta tersebut untuk pemecahan masalah. Dan pada akhirnya ia akan berpikir secara ”mengejutkan” dan menghasilkan pemecahan masalah dengan cara yang tidak terpikirkan oleh orang lain, meskipun mungkin hal tersebut bisa jadi berupa sesuatu yang sederhana.&lt;br /&gt;4. Perilaku Menyimpang&lt;br /&gt;Definisi perilaku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan atau reaksi&lt;br /&gt;individu yang terwujud di gerakan (sikap); tidak saja badan atau ucapan. Simpang, sebagai kata dasar menyimpang memiliki pengertian sebagai (1) sesuatu yang memisah (membelok, bercabang, melencong, dan sebagainya) dari yang lurus (induknya); (2) tempat berbelok atau bercabang dari yang lurus (tentang jalan). Sedangkan pengertian menyimpang sendiri adalah (1) membelok menempuh jalan yang lain atau jalan simpangan ; (2) membelok supaya jangan melanggar atau terlanggar (oleh kendaraan dan sebagainya); menghindar (3) tidak menurut apa yang sudah ditentukan ; tidak sesuai dengan rencana dan sebagainya ; (4) menyalahi (kebiasaan dan sebagainya); (5) menyeleweng (dari hukum,kebenaran, agama, dan sebagainya).&lt;br /&gt;Perilaku menyimpang ini, pada mulanya berasal dari kebiasaan seseorang pada masa remajanya yang terus terbawa di bawah sadar sampai seseorang tersebut dewasa. Untuk itu alangkah baiknya dicari tahu tentang perilaku menyimpang pada remaja. Salah satu upaya untuk mendefinisikan penyimpangan perilaku remaja dalam arti kenakalan anak (juvenile delinquency) dilakukan oleh M. Gold dan J. Petronio (Weiner, 1980, hlm.497) yaitu sebagai berikut: “Kenakalan anak adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman.&lt;br /&gt;Dalam definisi tersebut di atas faktor yang penting adalah unsur pelanggaran hukum dan kesengajaan serta kesadaran anak itu sendiri tentang konsekuensi dari pelanggaran itu. Oleh karena itu, merokok menurut definisi tersebut bukanlah kenakalan selama tidak ada undang-undang yang melarang anak di bawah umur untuk merokok. Demikian juga halnya dengan seorang anak yang berumur 17 tahun yang minum bir di negara bagian (di Amerika) yang tidak melarang anak di bawah umur 18 tahun untuk minum. Ia tidak dianggap nakal selama ia tidak mengetahui adanya ketentuan-ketentuan hukum itu dan karenanya ia tidak sengaja melanggar hukum yang berlaku (misalnya karena remaja itu sedang berlibur ke negara bagian lain, sedangkan di negara bagiannya sendiri batas usia minum minuman keras adalah 16 tahun) (Sarwono, 1989:196-197).&lt;br /&gt;Seandainya definisi diatas digunakan, maka yang termasuk kenakalan remaja menjadi sangat terbatas. Padahal kelakuan-kelakuan yang menyimpang dari peraturan orang tua, peraturan sekolah atau norma-norma masyarakat yang bukan hukum juga bisa membawa remaja kepada kenakalan-kenakalan yang lebih serius, atau bahkan kejahatan yang benar-benar melanggar hukum pada masa dewasanya remaja. Dengan perkataan lain, dari sudut psikologi perkembangan dan dari sudut kesehatan mental remaja, juga perlu didefinisikan kenakalan remaja secara lebih luas. Di fihak lain, jangan sampai begitu saja mencap anak sebagai nakal hanya dari penampilannya yang berambut gondrong dan berpakaian jorok.&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, semua tingkah laku yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku dalam masyarakat (norma agama, etika, peraturan sekolah dan keluarga, dan lain-lain) dapat disebut sebagai perilaku menyimpang (Sarwono, 1989:197).&lt;br /&gt;Perilaku menyimpang sendiri yang dimaksudkan dalam bahasan ini adalah tanggapan atau reaksi yang terwujud di action (sikap); tidak saja badan atau ucapan; yang tidak menurut apa yang sudah ditentukan, yang menyalahi kebiasaan pada umumnya, ataupun menyeleweng dari hukum, kebenaran, agama, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dalam pengertian ini, maka gaya hidup minum-minum berlebihan, party berlebihan yang akhirnya melibatkan obat-obatan terlarang, gaya hidup seks bebas dan sebagainya dapat dikategorikan sebagai perilaku menyimpang.&lt;br /&gt;5. Kesalahan Persepsi tentang Kreativitas&lt;br /&gt;Salah satu pemicu adanya anggapan bahwa perilaku menyimpang dapat mendorong terciptanya kreativitas adalah adanya kesalahan persepsi mengenai kreativitas. Dalam bukunya Serious Creativity, Edward de Bono (1993:30-42) mengungkapkan kesalahan persepsi tersebut, antara lain :&lt;br /&gt;(1) Creativity is a Natural Talent and Cannot be Taught. Apabila seseorang tidak dapat melakukan apapun untuk meningkatkan kreativitas maka dapat dipastikan bahwa kreativitas hanya bergantung pada bakat alami saja. Namun, kenyataannya adalah apabila seseorang mengadakan pelatihan, memberikan dasar-dasar dan teknik sistematik, maka kemampuan kreativitas bisa ditingkatkan melebihi kemampuan kreativitas rata-rata. Memang benar, beberapa orang akan memiliki kemampuan kreatif lebih daripada orang yang lain, tapi tiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk dapat meningkatkan kemampuan kreatif yang dimilikinya. &lt;br /&gt;(2) Creativity Comes from The Rebels. Di sekolah, remaja yang lebih pintar terlihat lebih konformis/konvensional. Mereka dengan cepat belajar “permainan” yang dibutuhkan : bagaimana menyukakan hati gurunya. Bagaimana dapat lulus ujian dengan usaha minimal. Di satu sisi, ada para pemberontak, yang karena suatu alasan temperamen atau adanya kebutuhan untuk diperhatikan, mereka tidak mau menjalani “permainan” yang sedang berlangsung. Sangat alamiah apabila kemudian kreativitas justru muncul dari para pemberontak. Hal ini dikarenakan para orang konvensional terlalu sibuk mempelajari permainan yang sedang berlangsung, bermain di dalamnya, dan berproses di dalamnya. Sehingga sangatlah bergantung pada para pemberontak untuk menantang konsep yang sudah ada dan bertindak berbeda dari yang lain. Perlu diketahui bahwa para pemberontak memiliki semangat, energi, dan sudut pandang yang berbeda. Sebenarnya ini adalah cara pandang yang lama mengenai kreativitas. Namun, begitu kita mulai memahami nature dari kreativitas, kita akan mulai menyadari bahwa para konvensional dapat mempelajari permainan kreativitas. Karena mereka telah terbiasa untuk beradaptasi dengan mempelajari permainan dan ikut terlibat dalam permainan, maka para konvensional ini bisa saja dengan cepat menjadi lebih kreatif dari pada para pemberontak yang tidak mau belajar dan bahkan tidak mau terlibat dalam permainan. Pandangan ini mungkin akan terlihat aneh bagi beberapa orang, yaitu bahwa sebenarnya orang-orang yang konvensional ternyata dapat menjadi lebih kreatif dari pada para pemberontak. Namun begitu fenomena ini terjadi, maka akan tercipta lebih banyak ide kreatif yang konstruktif. Para pemberontak seringkali menemukan kreativitas dengan cara menentang ide-ide yang sudah ada dan mencoba melawan idiom yang ada. Kreativitas dari para pemberontak ini tercipta karena adanya keinginan untuk menentang sesuatu. Tapi kreativitas dari para konvensional tidak perlu untuk menentang sesuatu – jadi kreativitas tersebut dapat menjadi lebih konstruktif dan bisa saja tercipta karena ide yang sudah ada sebelumnya. &lt;br /&gt;(3) Right Brain/Left Brain. Seringkali dikatakan bahwa otak kiri adalah bagian yang “berpendidikan” dari otak karena ia memuat bahasa, simbol, dan melihat sesuatu seperti yang seharusnya kita lihat. Otak kanan diibaratkan sebagai bagian “polos” yang tidak berpendidikan yang tidak mempelajari apapun. Jadi dalam masalah menggambar, musik, dan sebagainya, otak kanan dapat melihatnya dengan pandangan polos. Bagian yang harus dikembangkan untuk memiliki kreativitas lebih. Otak kanan memungkinkan untuk adanya suatu pandangan holistic daripada membangun poin-poin dalam menjelaskan segala sesuatunya. Hal-hal diatas memang benar, namun ketika kreativitas terlibat dalam perubahan konsep dan persepsi, maka tidak dipungkiri bahwa kreativitas membutuhkan otak kiri, sama seperti ia membutuhkan otak kanan, karena di otak kirilah konsep dan persepsi itu dibangun. Jadi tidaklah benar apabila disarankan kalau kreativitas hanya ada di otak kanan saja. Tidaklah benar apabila dikatakan untuk menjadi kreatif, jangan gunakan otak kiri, namun maksimalkan otak kanan. Karena untuk konsep berpikir kreatif, diperlukan kedua-duanya. &lt;br /&gt;(4) Art, Artists, and Creativity. Secara alamiah, “kreativitas” termanifes banyak sekali di karya para seniman sehingga muncul asumsi bahwa kreativitas dan seni itu serupa. Karena itu masyarakat percaya bahwa untuk mengajarkan kreativitas, maka masyarakat harus diajarkan untuk berperilaku seperti seniman. Muncul pula anggapan bahwa seniman mungkin saja adalah orang terbaik untuk mengajarkan kreativitas. Ketika kreativitas memiliki arti untuk perubahan konsep dan persepsi – maka pengertian kreativitas lebih cenderung diartikan sebagai cara berpikir lateral. Dengan memakai pengertian diatas, maka tidak semua seniman adalah orang yang kreatif. Banyak seniman memiliki powerful stylists dan memiliki pandangan/persepsi dan ekspresi dengan gayanya masing-masing yang bernilai. Seniman, seperti anak-anak, dapat menjadi fresh dan original dan sangat polos semuanya dalam waktu yang bersamaan. Seniman dapat juga menjadi lebih analitis daripada orang kebanyakan dan seniman memiliki kepedulian yang besar terhadap teknologi dari karya mereka. Adalah benar bahwa seniman-seniman mempunyai ketertarikan untuk menemukan sesuatu yang ”baru” daripada melakukan pengulangan-pengulangan yang mirip satu dengan yang lainnya. Ada suatu kemauan untuk bermain-main dengan konsep dan persepsi-persepsi yang beraneka-ragam.&lt;br /&gt;Jadi, bukan berarti bahwa seniman itu tidak kreatif. Tapi yang dimaksud melalui tulisan ini adalah kesalahan persepsi masyarakat bahwa kreativitas berkaitan dengan seni dan karena itu seniman adalah orang yang paling baik berkaitan dengan mengajar kreativitas.Memang tidak dipungkiri bahwa ada beberapa seniman yang kreatif dan sekaligus guru yang baik dalam kreativitas. Orang-orang ini adalah orang yang kreatif dan guru yang baik dalam kreativitas. Dan mereka menjadi seniman. Bukan karena mereka seniman maka-mereka menjadi kreatif dan guru yang baik dalam kreativitas. Jadi jangan sampai kita terjebak dengan persepsi yang terbolak-balik ini. &lt;br /&gt;(5) Release. Di Amerika Utara, kebanyakan dengan apa yang disebut sebagai pelatihan kreativitas mengacu langsung pada ”membebaskan” orang dan ”melepaskan” potensi kreativitas yang dipercaya memang sudah ada. Memang benar, bahwa dengan menghilangkan peraturan, rasa takut untuk salah, atau ketakutan untuk terlihat menggelikan memiliki pengaruh untuk meningkatkan kreativitas. Seseorang bisa menjadi lebih kreatif ketika ia bebas untuk bermain-main dengan ide-ide yang aneh dan mengekspresikan pikiran-pikiran barunya. Namun, jangan sampai kita terjebak ke dalam persepsi bahwa kita hanya perlu membebaskan diri untuk membangun kreativitas. Latihan kreativitas bukan sekedar rangkaian latihan supaya orang merasa bebas dari larangan dan bisa mengatakan apapun yang ada dalam pikiran mereka. Larangan menekan pemikiran kita dibawah tingkatan kreativitas yang ”normal”. Bila kita menyingkirkan segala larangan-larangan yang ada, maka yang terjadi sebenarnya adalah&lt;br /&gt;bahwa kita kembali ke keadaan kreativitas kita yang ”normal”. Sehingga ketika kita ingin menjadi benar-benar kreatif, maka kita harus melakukan beberapa ”tindakan yang tidak wajar”, yaitu melalui latihan-latihan. Kita bisa lihat melalui penggambaran keadaan&lt;br /&gt;kreativitas dalam diri kita melalui gambar di bawah ini.&lt;br /&gt; (6) The Need for “craziness”. ”Kegilaan” bisa dengan mudah membangun suasana yang ceria, bersemangat karena terlihat tidak wajar dan fun. Seseorang akan menjadi lupa terhadap adanya peraturan-peraturan ataupun batasan-batasan ketika mereka berkompetisi untuk menjadi lebih ”gila” dibandingkan dengan yang lain dalam suatu kelompok. Kenyataannya, kreativitas tidak akan hanya sekedar berkisar dalam ide-ide yang sudah ada sebelumnya, jadi banyak ide-ide baru, yang mungkin saja pada awalnya terlihat gila apabila dibandingkan dengan ide yang sudah ada sebelumnya. Karena itu, mudah sekali bagi seseorang untuk memiliki asumsi dan impresi yang salah mengenai kreativitas, yaitu bahwa kreativitas berawal dari ”kegilaan”.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi sebenarnya adalah kreativitas membutuhkan provokasi dan jalan kerja dari provokasi itu cukup berbeda dari pemberian impresi bahwa kegilaan itu adalah akhir dari segalanya dan adalah bagian yang esensi dari pemikiran kreatif. Dari kebanyakan poin yang telah disebutkan, maka kebanyakan pengajar kreativitas terpaku pada poin kebutuhan ”kegilaan” ini dan menjadikannya sebagai bagian yang esensi dari proses membangun kreativitas. Hal ini yang akhirnya memberikan impresi yang salah dan akhirnya bisa saja ”menyesatkan” orang yang mau menggunakan kreativitas untuk tujuan yang lebih serius.&lt;br /&gt;6. Hubungan antara Kreativitas dan Perilaku Menyimpang&lt;br /&gt;Beberapa ciri orang kreatif adalah memiliki kemampuan untuk menelorkan ide, gagasan, pemecahan, cara kerja yang tidak lazim (meski tak selalu baik), yang jarang,&lt;br /&gt;bahkan ”mengejutkan”; memiliki kemampuan berpikir segala arah untuk mencari jawaban yang berbeda dari umumnya, yang mungkin ada. Ciri orang kreatif ini, hampir selalu dapat kita temukan dalam karakter seorang penggagas kreatif. Kreativitas yang dimiliki oleh penggagas kreatif tak jarang seringkali membuat orang lain menjadi takjub ketika melihat hasil akhir dari sebuah proses kreatif.&lt;br /&gt;Dalam kehidupannya, para penggagas kreatif dikarenakan tuntutan untuk bisa outstanding selalu menjadi problem solver bagi orang lain, maka seringkali kemudian menjadi tidak peka terhadap perasaan ataupun pemikiran orang lain. Banyak yang tidak mengambil pusing dengan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka dan akhirnya mendorong mereka untuk tidak mempedulikan juga adat ataupun aturan yang ada. Bagi beberapa pihak yang pengendalian dirinya kurang, maka tuntutan-tuntutan kreativitas yang berlebihan bisa memunculkan efek kekacauan psikologis yang membawa mereka ke gaya hidup yang menyimpang, misalkan minum-minum berlebihan sehingga lepas kendali, atau dengan mengadakan party yang mengundang striptease dancer dengan alasan menghilangkan kepenatan.&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, ciri-ciri yang dimiliki diatas adalah suatu perilaku menyimpang. Kenyataan ini seakan-akan mendorong masyarakat pada umumnya untuk menyetujui bahwa perilaku menyimpang itu dapat dibenarkan, karena sekalipun orang kreatif berperilaku menyimpang, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mereka berhasil.&lt;br /&gt;Yang mungkin perlu digarisbawahi disini adalah ciri-ciri sampingan yang dimiliki oleh orang kreatif, yang memang mempengaruhi perilaku orang kreatif, itu tidak ada hubungan apa-apa dengan ciri-ciri pokok yang ada pada orang-orang kreatif. Apabila kita mengamatinya secara terpisah, maka ciri-ciri sampingan yang sempat disebutkan itu tidak mampu menciptakan hal-hal baru. Ciri-ciri itu hanya menunjukkan keberadaan orang-orang aneh, suka minum, asosial, namun tidak dengan sendirinya berperilaku demikian bisa menjadi kreatif. Ciri-ciri sampingan ini lebih merupakan akibat dari kekuatan kepribadian para penggagas kreatif dan situasi batin yang diakibatkan oleh kreativitas. Maka dapat diamati, diarahkan, dikurangi dan diatasi dengan refleksi dan olah diri. Ketika seseorang memiliki pengendalian diri yang cukup, maka ia akan dapat menekan dan mengurangi ciri-ciri sampingan tersebut. Menjadi kreatif tidak berarti menjadi aneh. Kreatif dapat juga sekaligus biasa, sopan dan memasyarakat.&lt;br /&gt;7. Perilaku menyimpang Negatif&lt;br /&gt;Tindak kekerasan adalah perilaku menyimpang. Kekerasan secara fisik merupakan jenis penyimpangan yang mudah sekali terjadi. Penyimpangan ini bisa jadi berupa sebuah pukulan, tamparan, gigitan, melempar, dan aksi lainnya yang bisa menyebabkan luka fisik, meninggalkan bekas, dan menyebabkan rasa sakit yang sangat. &lt;br /&gt;Kekerasan emosional bisa menjadi hal yang sulit dikenali, karena tidak ada tanda-tanda fisik. &lt;br /&gt;Kekerasan emosional ini dapat menimbulkan luka dan menyebabkan kerusakan seperti pada kekerasan fisik. &lt;br /&gt;8. Bisa Diperbaiki&lt;br /&gt;Harus dipahami tidak ada alasan satu pun yang membolehkan orang berbuat menyimpang pada orang lain. Tetapi, beberapa faktor menyebabkan seseorang menjadi cenderung berperilaku menyimpang. Tumbuh besar di keluarga yang berperilaku menyimpang adalah salah satu faktor pendorong seseorang berperilaku menyimpang. Sementara, yang lain menjadi berperilaku menyimpang karena mereka tidak mampu mengatur perasaan mereka sendiri. &lt;br /&gt;Sebagai contoh, seseorang yang tak mampu mengontrol rasa marah atau tidak mampu mengatasi situasi stres yang dihadapinya (seperti diputus pacar, tak lulus sekolah) bisa bersikap lepas kontrol pada orang lain tanpa terkendali. Tapi, perilaku menyimpang ini bisa diatasi. Setiap orang bisa belajar untuk menghentikannya. Karena perilaku menyimpang itu memberikan pengaruh. Remaja yang mendapatkan perilaku menyimpang sering sekali mendapatkan masalah tidur, makanan, dan konsentrasi. Remaja ini tidak mampu belajar dengan baik di sekolah, karena mereka marah dan ketakutan. Mereka tidak bisa konsentrasi dan tidak peduli. Karena itu, jika kamu merasa diperlakukan menyimpang, bicaralah kepada teman yang dipercaya atau kepada guru, dokter atau penasehat keagamaan di sekolah. &lt;br /&gt;9. Simpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan dari pemaparan di atas, maka dapat diambil sebuah simpulan bahwa&lt;br /&gt;pembenaran diri untuk berperilaku menyimpang hanya karena seseorang adalah orang kreatif, adalah tidak dibenarkan. Perilaku menyimpang hanyalah akibat sampingan dari kreativitas itu sendiri, bukan penyebab terciptanya kreativitas.&lt;br /&gt;Ciri-ciri baik yang berhubungan dengan bakat kreatif sudah seharusnya dikembangkan, sebaliknya ciri-ciri buruk yang kebanyakan merupakan ekses atau akibat sampingan dari bakat itu dapat dikurangi. Dengan demikian bakat kreatif menjadi lebih produktif bukan hanya dalam bidangnya, tetapi juga dalam seluruh kehidupan.&lt;br /&gt;Untuk mencapai terciptanya kreativitas yang optimal, maka seseorang perlu melatih diri dengan permainan-permainan kreatif, melakukan kegiatan-kegiatan kreatif secara rutin untuk meningkatkan kemampuan kreatifnya, keluar dari ’kotak’ aturan namun tidak menyimpang dari norma, dan tidak lupa juga harus didukung dengan hidup melekat dengan sang Pencipta itu sendiri. Tuhan adalah Tuhan yang kreatif. Ia adalah seorang Kreator, Pribadi paling kreatif yang pernah ada. Tidak peduli seberapa besar kreativitas yang sudah Tuhan beri kepada kita, dengan melibarkan Dia, maka kreativitas kita menjadi lebih meningkat dan lebih meningkat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Referensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bean, Reynold. Cara Mengembangkan Kreativitas Anak. Alih Bahasa: Dra. Med. Meitasari Tjandrasa. Jakarta:Binarupa Aksara. 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campbell, David. Mengembangkan Kreativitas. Disadur oleh A.M. Mangunhardjana. Yogyakarta: Kanisius. 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De Bono, Edward. Serious Creativity. New York:HarperCollins Publishing. 1993 Gunarsa, Singgih D. dan. Singgih. Psikologi Remaja. Cet.15. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartanto, Djoko. Kreativitas – Antara Ide Cemerlang dan Kenyataan. Majalah Desain Grafis Concept Vol.02 Edisi 07’05 : 90&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisby, Henrik.. Danish Design, Function Comes Before Form. Majalah Desain Grafis&lt;br /&gt;Concept Vol.02 Edisi 07’05 : 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maxwell, John. Coming In from the Cold. Enjoying Everyday Life. Juli 2006: 24. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olson, Robert W. SENI BERPIKIR KREATIF Sebuah Pedoman Praktis. AlfonsusSamosir (alih bahasa). Jakarta: Penerbit Erlangga.1992&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarwono, Sarlito Wirawan. Psikologi Remaja. 1989. Jakarta: Penerbit CV. Rajawali. The Lockman Foundation. The Amplified Bible. Grand Rapids, Michigan, USA: Zondervan. 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cetakan 3. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Balai Pustaka.1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Periklanan, Promosi dan Kehumasan. Cakram on Global Creativity. Edisi Khusus Kreativitas Global. Edisi Juli – Agustus 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-4544714960607559478?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/4544714960607559478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/perilaku-menyimpang-dapat-mendorong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/4544714960607559478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/4544714960607559478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/perilaku-menyimpang-dapat-mendorong.html' title='Perilaku Menyimpang Dapat Mendorong Terciptanya Kreativitas'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-4483687784591461048</id><published>2009-01-22T10:43:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T10:44:48.035-08:00</updated><title type='text'>AXIS Generasi Baru GSM yang Baik</title><content type='html'>AXIS Generasi Baru GSM yang Baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah Axis Bakal Menjadi “GSM yang Baik”?&lt;br /&gt;Persaingan operator GSM saat ini cukup ketat. AXIS menghadapi tantangan baru menghadapi persaingan di Indonesia. Sebagai pendatang baru AXIS berhadapan dengan pemain lama yang sudah memiliki pelanggan yang tetap dan loyal. AXIS menawarkan keistimewaan lain disamping pemain lama GSM.&lt;br /&gt;Menghadapi persaingan tersebut AXIS percaya bahwa bukan hanya “Apa yang Kami Kerjakan” penting, namun juga “Bagaimana Kami mengerjakannya” . Komitmen perusahaan untuk menjalankan seluruh aktifitas dengan penuh tanggung jawab dan tidak lupa untuk selalu memiliki semangat tinggi.&lt;br /&gt;Brand AXIS mengartikulasikan ambisi perusahaan dan Logo AXIS adalah simbol dari pergerakan dan perubahan tanpa henti AXIS guna lebih mendukung pelanggan untuk mendapatkan keuntungan penuh dari layanan komunikasi bergerak dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;AXIS ingin agar para pelanggan dengan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, kapanpun mereka menginginkannya.&lt;br /&gt;AXIS mengumumkan penawaran aktivasi bonus untuk pelanggan baru. Dengan harga paket perdana Rp 6,000 termasuk PPN dan pulsa senilai Rp 6.000, bonus waktu bicara 30 menit akan dikreditkan secara otomatis setelah pelanggan melakukan aktivasi kartu AXIS. AXIS, operator GSM dan 3G dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, telah meluncurkan Program Bonus Isi Ulang Elektronik. Program promosi ini menawarkan sampai bonus isi ulang sampai 100% untuk isi ulang elektronik, bonus isi ulang paling dasyat yang pernah ditawarkan di Indonesia.&lt;br /&gt;AXIS juga menwarkan bonus tiap bulan sepanjang tahun 2009 dengan 1000 SMS dan 1000 MMS gratis tiap bulannya kes semua nomor AXIS. Dengan mengaktifkan perdana AXIS minimal Rp. 20.000,00 (akumulasi) mulai 19 November sampai 31 Desember 2008. Bonus akan langsung didapatkan pada tanggal 10 tiap bulannya. Bonus berlaku untuk 39 hari, dan pulsa dapat dicek langsung melalui *888# akan terlihat langsung berpa bonus yang didapatkan, bagi mereka yang tertantang dan melihat ini peluang besar cepatlah untuk mengambil kesempatan ini agar tidak terlewati. &lt;br /&gt;AXIS menawarkan berbagai fasililitas berbagai macam pelayanan dan bonus berupa :&lt;br /&gt;Rp 1/SMS ke sesama AXIS 24 jam sehari mulai SMS pertama.&lt;br /&gt;Anda mau SMS ke manapun, bilang telepon aku dong aku punya cerita menarik nih… Kawan anda penasaran maka kawan anda akan hubungi anda, ngobrool lamapun seperti ketemu, gak perlu jauh-jauh biaya transpor dan resiko di jalan nih…&lt;br /&gt;Rp 1/nelpon ke sesama AXIS di akhir pekan.&lt;br /&gt;Acara malam minggu anda dan akhir pekan banyak acara keluarga, istirahat penat per minggu, atau anda berkencan jarak jauh, tak ingin putus hubungan karena terputusnya komunikasi, AXIS tetap bantu anda.&lt;br /&gt;Bonus terima Telephon Rp 100/menit dan semua operator lain.&lt;br /&gt;Jika anda menerima telepon 1 menit dari seluruh operator akan mendapat kan bonus Rp 100,00 Jika anda terima telepon 10 menit maka anda akan terima bonus Rp. 1000,00. Jika anda banyak melakukan aktifitas anda akan banyak dibantu AXIS. Buat hubungan bisnis, keluarga atau kesibukan sosial lain melalui AXIS anda akan tertolong dan secara tidak langsung anda akan hemat biaya operasional.&lt;br /&gt;Akses data hanya Rp. 0,7/kb berlaku sepanjang hari.&lt;br /&gt;Bagi anda yang sika imel-imelan yah akses data cukup murah kan. Hemat lagi anda dapatkan.&lt;br /&gt;Gratis down Load RBT&lt;br /&gt;Ingin tahu berita internasional terkini dari internet bisa gratis Down Load, biar gak katrok dan jadul. Malu dong cantik-cantik dan ganteng-ganteng kok jadul dan katrok.&lt;br /&gt;Semua berlaku dan langsung anda nikmati sampai 31 Desember 2008, jngan ketinggalan kereta. Kami pasti jujur dan gak ribet, karena semuanya itu harus praktis dan bisa tetap dipercaya. Kepercayaan adalah inti bisnis kami.&lt;br /&gt;AXIS telah melayani pelanggan begitu luas yaitu Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Lombok, Sumatera Utara, Riau dan Kepulauan Riau, dan AXIS terus berusaha meningkatkan luas dan memberikan pelayanan yang lebih baik dan jelas, sehingga memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang memiliki mobilisasi tinggi. Jangan kuatir anda harus melakukan pembelian perdana lain di temapat baru, gak ribet kan. Apalagi melakukan kegiatan-kegiatan penyesuaian, semua otomatis. Ini bukan gila tapi praktis gila-gilaan.&lt;br /&gt;AXIS bangga menjadi sebuah korporasi yang bertanggung jawab. Tanggung jawab sosial perusahaan kami melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk berbagai tingkatan pemerintahan dan komunitas setempat. Kami bangga menawarkan produk dan layanan yang dapat meningkatkan taraf hidup jutaan orang dan mendukung tujuan pemerintah dalam memajukan industri telekomunikasi di Indonesia.&lt;br /&gt;Saat ini, AXIS memfokuskan tanggung jawab sosialnya pada kegiatan amal dan kemanusiaan. Bersama Palang Merah Indonesia, kami mengadakan kegiatan donor darah secara teratur. Karyawan perusahaan membantu dalam mengumpulkan darah yang dibutuhkan oleh para korban bencana alam dan krisis kesehatan lainnya.&lt;br /&gt;Pada rangkaian kegiatan tiga donor darah yang terakhir, AXIS membantu Palang Merah Indonesia (Unit Transfusi Darah Jakarta) mengumpulkan sebanyak 186 unit kantong darah atau sejumlah 38 liter.&lt;br /&gt;Pada Februari 2007, saat banjir melanda sebagian besar wilayah di Jakarta, karyawan AXIS menggalang dana dan kegiatan untuk mengumpulkan pakaian serta keperluan lain bagi para korban.&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari Program Kemanusiaan untuk para korban bencana alam di Yogyakarta dan Jawa Tengah (Humanitarian Program for Earthquake victims in Yogyakarta and Central Java), karyawan AXIS menggalang dana sebesar USD 50,000 untuk Palang Merah Indonesia, serta Rp. 30 juta untuk Rumah Sakit Dr Sardjito di Yogyakarta. Dana ini digunakan untuk membeli perlengkapan medis, membangun dapur umum, dan mendirikan kembali sebuah sekolah di desa Karangganyam, yang rusak parah akibat gempa bumi. Beramal adalah bagian yang penting bagi kita sebagai manusia, agar kita bisa mensyukuri keberuntungan kita.&lt;br /&gt;AXIS tidak hanya mencari keuntungan semata namun tanggung jawab AXIS sebagai perusahaan yang memiliki kepedulian sosial dan kemanusiaan, menjadikan keyakinan AXIS bahwa jiwa manusia adalah memiliki hakekat kemanusiaan itu sendiri.&lt;br /&gt;PT Natrindo Telepon Seluler selaku pemegang brand AXIS merupakan operator penyedia layanan seluler GSM dan 3G di Indonesia yang menawarkan layanan komunikasi yang inovatif dan ekonomis. AXIS mulai beroperasi di Jawa dan Sumatera, dan saat ini sedang gencar mengembangkan jaringan 2G dan 3G-nya ke beberapa wilayah lain di Indonesia.&lt;br /&gt;AXIS didukung oleh lebih dari 400 karyawan yang dipimpin oleh tim profesional yang berpengalaman. Keinginan kami adalah menjadi organisasi yang menarik dan dinamis. Organisasi yang menciptakan lingkungan kerja yang unik, memungkinkan profesional muda di dalamnya untuk mengembangkan diri dalam lingkungan yang mengutamakan gairah, inspirasi, akuntabilitas, kecepatan dalam bekerja, dan memiliki motivasi tinggi.&lt;br /&gt;Setelah hadir di Surabaya dan Bandung, kini Axis membuka layanan di Jakarta. Axis memulai kiprahnya sebagai operator GSM nasional yang mendambakan penawaran harga sederhana, transparan dan bersaing. Penawaran seperti itulah yang akhirnya dijadikan sebagai motto Axis dengan tagline “GSM yang Baik”. “Penawaran harga yang rumit di pasar sering menimbulkan kebingungan di kalangan pelanggan elepon selular,” ujar Erik Aas, Presiden Direktur AXIS saat peluncuran AXIS di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Erik menambahkan bahwa karena itu, Axis menawarkan kepada pelanggan telekomunikasi di Indonesia sesuatu yang benar-benar baru. Sebagai layanan GSM yang terjangkau, sederhana dan transparan dimana pelanggan dapat mengetahui dengna pasti berapa jumlah uang yang dikeluargkan setiap selesai berkomunikasi.&lt;br /&gt;Dengan optimis, Erik yakin AXIS adalah produk selular yang selama ini dicari oleh pengguna layanan selular di Indonesia. Karena selama ini pelanggan senantiasa dihadapkan pada layanan GSM yang mahal dan pemberlakukan tarif yang membingungkan.&lt;br /&gt;Saud Al-Daweesh, Presiden Komisaris AXIS, mengatakan bahwa kombinasi populasi di Indonesia yang besar dengan tingkat penetrasi telepon selular rendah serta GDP per kapita yang relatif inggi menjadikan Indonesia pasar menjanjikan. “Perkiraan kami, lebih dari 150 juta masyarakat Indonesia masih menunggu layanan GSM yang terjangkau,” tambah Saud Al-Daweesh.&lt;br /&gt;Axis saat ini telah beroperasi di Jawa TImur dan Jawa Barat yang sekarang merambah Jabodetabek. Pembangungan BTS mencapai jumlah 3.700 unit hingga akhir tahun. Jaringan AXIS akan meliputi Banten, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Bali dan Lombok. AXIS akan menghabiskan satu milyar dolar AS hingga akhir tahun 2008 untuk perluasan jaringan serentak di Jawa dan Sumatera. Axis didukung oleh pemegang saham mayoritas yaitu Saudi Telecom Company dari Arab Saudi dan Maxis Communications dari Malaysia.&lt;br /&gt;Akankah Axis bakal terus menjadi “GSM yang Baik” ataukah ikut terjun ke arena perang tarif selular yang membingungkan? Kita tunggu saja.&lt;br /&gt;Cepatlahj mencob, tapi bukan coba-coba lho. !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Advertorial by AXIS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-4483687784591461048?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/4483687784591461048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/axis-generasi-baru-gsm-yang-baik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/4483687784591461048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/4483687784591461048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/axis-generasi-baru-gsm-yang-baik.html' title='AXIS Generasi Baru GSM yang Baik'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-1208190886331300404</id><published>2009-01-22T10:42:00.001-08:00</published><updated>2009-01-22T10:42:54.875-08:00</updated><title type='text'>Analisis SOSTAC PT SAMSUNG dalam</title><content type='html'>Analisis SOSTAC PT SAMSUNG dalam &lt;br /&gt;menghadapi Persaingan Sehat dengan HITACHI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahulan &lt;br /&gt;Dimanapun Anda berada. di tengah keramaian jalan raya atau dalam kenyamanan rumah Anda...Samsung adalah bagian dari kehidupan Anda. Sebagai pemimpin global, kami ada di garis terdepan perubahan, mengantisipasi apa yang diinginkan oleh pelanggan kami di seluruh dunia pada hari esok.&lt;br /&gt;Dalam tahuan 2007 laporpan keuangan keuangan Samsung menunjuikkan nilai yang cukup spektakuler yait dengan iktisar sebagai berikut :&lt;br /&gt;Tabel 1.&lt;br /&gt;Ikhtisar Keuangan 2007 (WON/DOLLARS/EUROS)&lt;br /&gt;AMOUNTS IN BILLIONS&lt;br /&gt;WON&lt;br /&gt;DOLLARS&lt;br /&gt;EUROS&lt;br /&gt;Penjualan Bersih*&lt;br /&gt;161,847.40&lt;br /&gt;174.2&lt;br /&gt;127.2&lt;br /&gt;Aset Total&lt;br /&gt;284,165.50&lt;br /&gt;302.9&lt;br /&gt;205.7&lt;br /&gt;Kewajiban Total&lt;br /&gt;180,833.20&lt;br /&gt;192.7&lt;br /&gt;130.9&lt;br /&gt;Ekuitas Pemilik Total&lt;br /&gt;103,332.30&lt;br /&gt;110.1&lt;br /&gt;74.8&lt;br /&gt;Pendapatan Bersih*&lt;br /&gt;12,873.70&lt;br /&gt;13.9&lt;br /&gt;10.1&lt;br /&gt;Sumber PT. Samsung, 2007. [Jumlah dalam milyar]&lt;br /&gt;Kurs Rata-rata Tahunan Won/Dollar Amerika : 929.20/1 Won/Euro : 1,272.72/1 . Won/Dollar Amerika di Akhir Tahun pada 31.12.07 : 938.20/1 Won/Euro : 1,381.26/1. Data finansial termasuk perusahaan-perusahaan terafiliasi dengan Samsung mengakhiri tahun fiskalnya di akhir Maret 2008, seperti Samsung Life Insurance, Samsung Fire &amp; Marine Insurance, Samsung Investment Trust Management.&lt;br /&gt;Samsung adalah sebuah perusahaan elektronik terkemuka di Korea, dan mampu mengembangkan produksnya secara Internasional. Baik Asia, Eropa dan Amerika. Alat-alat tersebut antara lain terkenal dengan produk televisi.&lt;br /&gt;Era digital telah membawa perubahan – dan kesempatan – yang revolusioner bagi bisnis secara global, dan SAMSUNG telah menjawabnya dengan teknologi yang canggih, produk yang kompetitif, dan inovasi yang konstan. &lt;br /&gt;SAMSUNG terdiri dari perusahaan-perusahaan yang menerapkan standar baru dalam berbagai bisnis, dari elektroni hingga layanan finansial, dari bahan kimia dan industri alat berat hingga perdagangan dan layanan lain. Semua berbagi komitmen untuk menciptakan produk dan layanan berkualitas tinggi yang inovatif, yang diandalkan oleh jutaan orang dan bisnis di seluruh dunia setiap harinya.&lt;br /&gt;Ancaman krisis global dan kuatnya merek Korea di pasar kulkas side by side tak membuat Hitachi gentar meluncurkan Hitachi Side By Side. Pabrikan asli Jepang ini pun tak segan mematok target penjualan kulkas premiumnya sebesar 200 unit perbulan.&lt;br /&gt;Hitachi bakal menguasai 20% pangsa pasar kulkas side by side. Pasalnya, porsi kulkas premium tersebut menurut data Electronic Marketer Club (EMC) adalah sebanyak 1000 unit setiap bulan. &lt;br /&gt;Produk premium Hitachi sendiri dibanderol seharga Rp 20 jutaan. Beberapa fitur canggih yang melengkapinya antara lain adalah Minus Zero Cooling yang membuat penyebaran dingin yang lebih merata.&lt;br /&gt;Produsen elektronik asal Jepang, Hitachi Ltd merombak bisnisnya di Indonesia dengan mengambil alih pemasaran produknya dari PT Dinamika Ardimas. &lt;br /&gt;Hitachi juga mengganti nama PT Dinamika Ardimas,-- yang selama ini menjadi agen tunggal pemasaran produk Hitachi di Indonesia,-- menjadi PT Hitachi Modern Sales Indonesia (HMSI).&lt;br /&gt;Perubahan nama itu sekaligus diikuti dengan perubahan kepemilikan saham dan susunan direksi dan komisaris. "Perubahan tersebut ditandai dengan pengumuman PT Hitachi Modern Sales Indonesia dihadapan para dealer Hitachi dari seluruh Indonesia pada 3 Agustus di Jakarta," kata Direktur Pemasaran PT HMSI, Tjitra W Sanusi dalam keterangannya Sabtu (4/8/2007).&lt;br /&gt;Sejak 3 Juli 2007, Hitachi Ltd menguasai 2/3 saham atau 67,5 persen di HMSI dan sisanya dimiliki mitra lokal PT Lumbung Sari Sejahtera (LSS).&lt;br /&gt;Perubahan kepemilikan tersebut juga diikuti dengan perubahan direksi dan komisaris. Dua posisi direksi kini dipegang oleh Hitachi Ltd yang salah satunya jabatan presiden direktur. Sedangkan satu posisi direksi yakni untuk direktur pemasaran dipercayakan pada mitra lokal LSS. Posisi presiden komisaris juga dipegang oleh Hitachi.&lt;br /&gt;Presdir PT HMSI, Sakai mengatakan perubahan ini dimaksudkan untuk menandai komitmen baru Hitachi Ltd di Indonesia.  "Pasar elektronik Indonesia menunjukkan potensi yang terus tumbuh, maka itu Hitachi memutuskan untuk lebih serius menggarap potensinya dengan mengalihkan kategori produk yang dipasarkan menjadi produk-produk elektronik dengan nilai tambah yang lebih tinggi," tutur Sakai.&lt;br /&gt;Hitachi juga akan memfokuskan produk-produk elektronik untuk segmen tersebut terutama untuk produksi kulkas, mesin cuci otomatis, dan TV plasma. &lt;br /&gt;Hitachi mengaku akan serius menggarap pasar di Indonesia dengan target peningkatan penjualan sebesar 50 persen pada 2010. &lt;br /&gt; Ulasan di atas menggabarkan bagaimana du perusahaan besar bidang elektonika internasional bersaing menghadapi persaingan yang cukup ketat pada sektot pemasaran dan teknologi. Merka harus sama-sama membangun eksistensi danmengusasi pasar elektronik diantara perusahaan elektronik lain yang cukup besar yaitu : Soni, Panasonics, Politron dan Lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Target Pemasaran dalam penjualan produk terutama dengan menggunakan Marketing Mixed, yaitu dengan berbagai analisis pendekatan dalam menghadapi hambatan dan tantangan dapat dilakukan sebuah analisis yang tepat. &lt;br /&gt;1.Apakah Model pendekatan SOSTAC dalam penyelesaian masalah yang dihadapi oleh SASUNG?&lt;br /&gt;2.Bagaimana Model Pendekatan SOSTAC dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh SAMSUNG dalam hal Managemen dan Marketing?&lt;br /&gt;3.Seberapa Efektifkah model SAMSUNG dalam mengatasi persoalan marketing? &lt;br /&gt;4.Kapankan Model SAMSUNG dapat dilakukan dan dilaksanakan dalam model marketing untuk memperoleh hasil sesuai target yang ditentukan?&lt;br /&gt;Pendekatan dalam manajemen dan komunikasi ini dilakukan agar diperoleh target perusahaan sesuai yang diinginkan dengan berbagai persoalan yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Landasan Teori&lt;br /&gt;3.1 Definisi model SOSTAC.&lt;br /&gt;SOSTAC adalah singkatan atau ringkasan tahapan-tahapan proses strategi pemasaran oleh Paul R. Smith (1990). SOSTAC terdiri dari :&lt;br /&gt;1.Situation Analysis. (Analisis Situasi) yang mana terdiri dari SWOT Analysis, PEST Analysis, Marketing Mix(bauran kebijakan) dan Competitive Position (posisi persaingan).&lt;br /&gt;2.Objectives. (obyektif) Kemana kita  akan pergi (Where do we want to go)? Terdiri dari : Ashridge Mission Model, 5 P’s Model, SMART.&lt;br /&gt;3.Strategy(strategi). Bagiamana kita mendapatkanya (How are we going to get there)? Terdiri dari : Market Segmentation (sekmentasi pasar) dan Positioning.&lt;br /&gt;4.Tactics (taktik). Yang lebih detail dari strategi. Berupa Tools (alat) dan Komunikasi (Communication).&lt;br /&gt;5.Actions (aksi) . Implementasi, pengambilan perencanaan kerja dalam Action Plan (perncanaan aksi) . Terdiri dari RACI Model, CSFs dan, KPIs&lt;br /&gt;6.Control(pengawasan). Track progress melalui pengukuran (measuring), pengawasan (monitoring), pengecekan (reviewing), penempatan (updating and modifying). Terdiri dari Kinerja manajemen (Performance Management) dan Blanced Scorecard.&lt;br /&gt;Keunikan metode SOSTAC adalah sederhana (simplicity). Pendekatan adalah memenuhi tahapan secara bersama-sama dalam menciptakan perencanaan pemasaran (marketing plan). Terdiri dari 5 C’s of Marketing Strategy (strategi pemasaran 5C), Feasibility Study (studi kelayakan), VMOST dan Customer Relationship Management (manajemen hubungan dengan paelanggan).&lt;br /&gt;3.2. SWOT&lt;br /&gt;Merupakan analisis dari Strength (kekuatan) , Weakness (Kelemahan), Oportunity (Peluang) dan threat (Ancaman). Merupakan analisis manajemen yang berdasarkan pada kepekaan terhadap lingkungan manajemen terutama marketing atau pasar. &lt;br /&gt;Strength (Kekuatan) adalah berupa modal, kemampuan sumber daya manusia, teknologi, jaringan, dan brand image tau merek yang dimiliki merupakan kekuatan yang dibutuhkan perusahaan dalam mengembangkan diri dalam mencapai target atau sasaran. &lt;br /&gt;Weakness (kelemahan) adalah berbagai macam kelemahan yang dimiliki perusahaan, seperti isu-isu negative yang muncul, jaringan yang terbatas, tenaga pemasaran yang masih kurang mengakar dalam jaringan, serta kelemahan-kelemahan lain yang memungkinkan untuk menjadi kendala dalam meningkatkan target atau sasaran yang harus dicapai.&lt;br /&gt;3.3 PEST&lt;br /&gt;PEST analysis adalah merupakan pola kerja dan strategi konsultan menggunakan pengamatan lingkungan makro eksternal (scan the external macro-environment) dalam setiap operasi perusahaan. PEST adalah singkatan dari : Political, Economic, Social and Technological (Politik, ekonomi, sosial da teknologi)&lt;br /&gt;PEST factors merupakan sebuah aturan main yang penting dalam strategi menciptakan peluang nilai kreasi. Meskipun bahasa selalu diluar kontrol dari perusahaan dan harus normal terdiri dari kesempatan atau peluang lain. Bersama macro-economical factors (factor makro ekonomi) dapat berbeda tiap continental, negara atau suatu tempat, juga biasanya analisis PEST seharusnya dicitrakan tiap negara. Berikut ini terdapat contoh dari tiap faktor-faktor tersebut :&lt;br /&gt;1.Political (incl. Legal) /Politik (memasukkan hukum)&lt;br /&gt;Penelitian berjenjang Kebijakan lingkungan dan proteksi, pertumbuhan ekonomi,  distribusi pendapatan pemerintah.(Environmental regulations and protection Economic growth  Income distribution Government research spending) &lt;br /&gt;2.Economic (ekonomi)&lt;br /&gt;Kebijakan pajak, suku bunga dan moneter, kependudukan, tingkat pertumbuhan penduduk, pembagian usaha industri berfokus pada teknologi. (Tax policies Interest rates &amp; monetary policies Demographics, Population growth rates, Age distribution Industry focus on technological effort )&lt;br /&gt;3.Social (Sosial)&lt;br /&gt;Kebijakan perdagangan internasional  dan retriksi pemerintah, perlindungan tenaga kerja, mobilitas sosial, penemuan dan pengembangan kontrak baru. Pemberdayaan hkum, perlindungan konsumen. Kebijakan pengangguran, merubah gaya hidup, tingkat transfer teknologi, Hukum perburuhan, pajak tenaga kerja dan pengembangan perilaku semangat wira usaha. (International trade regulations and restrictions, Government spending Labor / social mobility, New inventions and development,  Contract enforcement law Consumer protection,   Unemployment policy, Lifestyle changes Rate of technology transfer,  Employment laws Taxation Work/career and leisure attitudes Entrepreneurial spirit)&lt;br /&gt;4.Technological (teknologi)&lt;br /&gt;Siklus hidup dan kecepatan dari perkembangan teknologi, organisasi pemrintah, tingkat perubahan perilaku pendidikan pengunaan energi dan biaya. Kebijakan persaingan, tingkat inflasi, fase  perubahan dalam teknologi informasi, tingkat stabilitas politik dari siklus bisnis, jaminan kesehatan dan kesejahteraan, naluri dari pengamanan perubahan dalam internet, kebijakan perlindungan kepercayaan konsumen, keyakinan hidup, kondisi teknologi yang dalam situasi bergerak. (Life cycle and speed of technological obsolescence  Government organization / attitude  Exchange rates Education Energy use and costs. Competition regulation Inflation rates Fashion, hypes (Changes in) Information Technology Political Stability Stage of the business cycle Health consciousness &amp; welfare, feelings on safety (Changes in) Internet , Safety regulations Consumer confidence Living conditions (Changes in) Mobile Technology )&lt;br /&gt;Melengkapi PEST Analysis adalah relatif sederhana dan dapat dikerjakan melalui pelatihan (via workshops) menggunakan teknik wawancara (brainstorming). Penggunaan dari PEST analysis bisa bermacam-macam dari perusahaan dan strategi perencanaan, perencanaan pemasaran, pengembangan usaha dan produksi, dan catatan penelitian (company and strategic planning, marketing planning, business and product development, dan research reports.)&lt;br /&gt;Varian dari PEST Analysis selalu seperti SLEPT Analysis (plus Legal) or the STEEPLE Analysis: Social/demographic (sosial/kependudukan), Technological(teknologi), Economic(ekonomi), Environmental(lingkungan)/  natural(alam) , Political(politik), Legal (hukum) dan Ethical factors(factor etik). Juga Geographical factors (factor geografi) adalah signifikan.&lt;br /&gt;3.4 Marketing Mix (Bauran Pemasaran)&lt;br /&gt;Menggambarkan model Marketing Mix (juga dikenal dengan 4 P dapat digunakan oleh tenaga marketing merupakan alat yang banyak digunakan dalam strategi pemasaran. Marketing managers (manajer pemasaran) menggunakan metode ini untuk menggerakkan atau mendorong secara optimal dari target yang telah ditentukan agar tercapai dari berbagai variables yang dijalankan. Adalah penting memahami prinsip-prinsip Marketing Mix (bauran kebijakan) sebagai variabel kontrol. Marketing Mix (baurna kebijakan) disesuaikan dengan dasar frekuensi pertemuan dibutuhkan untuk mengubah sejumlah target dan lingkungan pemasaran yang treus bergerak secara dinamis.&lt;br /&gt;1.Product(barang)&lt;br /&gt;Sejarahnya, pemikirannya adalah produksi barang akan sendirinya meskipun adalah prosduk yang kurang baik setiap hari lebih tinggi dalam pasar kompetitif. Plus adalah berupa hukum yang dibawa oleh pelanggan lebih baik untuk dikirim produk kembali yang jelek tersebut. Berbagai macam pertanyaan dari barang akan bekerja pada organisasi yang diciptakan yang dibutuhkan konsumen. Mendefinisikan karakteristik dari produk atau jasa yang dilihat dan dibutuhkan pelanggan. Memfungsikan ; Quality (kualitas); Appearance; Packaging(kemasan); Brand (merek); Service(jasa); Support(pendukung); dan Warranty(garansi).&lt;br /&gt;2.Price (Harga)&lt;br /&gt;Berapa harga yang diinginkan pelanggan untuk dibayar harus dipertimbangkan. Disini terdiri dari strategi harga tidak menjadi masalah. Kejadian jika anda memilih tidak menjawab hanya uang untuk barang dan jasa, anda harus merealisasikan bahwa sebuah keputusan penting dan bagian dari stategi harga (pricing strategy). Meskipun harga pesaing adlah lebih lama dipilih, pelanggan selalu kelihatan sensitive untuk potongan harga dan harga kusus. Price (harga) juga memiliki sisi irasional, tidak selalu harga mahal barang nya baik. Persaingan Permanen dari harga dari berbagai macam perusahaan tidaklah sangat dekat dengan sensitifitasnya. Daftar Harga berupa Discounts(potongan); Financing(keuangan) ; Leasing Options; dan Allowances.&lt;br /&gt;3.Place (Tempat)&lt;br /&gt;Kemampuan untuk memilih tempat yang tepat, seperti waktu yang tepat, dalam jumlah yang tepat. Barang akan berubah nilainya di tempat yang berbeda. Seperti internet dan telefon genggam. Lokasi, Logistik; anggota jaringan; Jalur motivasi, Pasar, Tingkat pelayanan, Internet, dan Mobil.&lt;br /&gt;4.Promotion (Promosi)&lt;br /&gt;Bagaimana memilih target kelompok dalam organisasi dan produksinya. Mengeluarkan semua kekuatan senjata tempur pemasaran yaitu advertising (pengiklanan), selling(penjualan), sales promotions(propaganda penjualan), Direct Marketing (penjualan langsung), Public Relations(kehumasan), dan lain-lain. Sisi lain 3 P memiliki kelemahan dari pengertiannya pasar saat ini , Promosi menjadi lebih penting Promosi untuk memfokuskan diri pada Advertising(pengiklanan) ; Public Relations(kehumasan) ; Message(pesanan); Direct Sales(penjualan langsung); Sales(penjualan); Media(media); dan Budget(penganggaran). &lt;br /&gt;Fungsi dari bauran pemasaran membantu mengembangkan bauran tidak hanya kepuasan dan kebutuhan pelanggan dengan target pasar, tetapi keterkaitan untuk memaksimalkan kinerja organisasi. Yang memasukkan berbagai bagian sejumlah dari Promosi untuk 4P  sampai 5P dalam model Marketing Mix(bauran kebijakan).&lt;br /&gt;3.5 Competitive Position (Posisi Persaingan)&lt;br /&gt;Menggambarkan Posisi persaingan dari tingkat relatif dominan sebuah perusahaan dalam pasar membandingkan dengan kompetitor. Contohnya , Sebuah perusahaan memiliki target sebagai pemimpin pasar (market leader), atau tumbuh dari posisi ketiga menjadi dua, dalam pasar untuk penjualan pisang.&lt;br /&gt;Juga, bisa diindikasikan dalam tingkat pasar sebagai market leader, challenger, follower atau niche player. Atau mengekspresikan prosentase pangsa pasar.&lt;br /&gt;3.6 Management Berdasarakan Sasaran. (MBO)&lt;br /&gt;Deskripsi MBO menerangkan secar obyektif dari setiap tenaga kerja dan membandingkan dan langsung selalu menggambarkan kineyang obyektif yang diatur. Peningkatan kinerja organisasional dengan menerapkan sasaran organisasi dengan obyektif dari subordinat melalui Organisasi. Idealya, tenaga kerja memiliki kekuatan yang memasuk diidentifikasi secara obyektif, tepat dan lengkap, dan sebagainya.&lt;br /&gt;MBO memasukkan trak dari proses dan hasil yang diperoleh secara obyektif. Management by Objectives pertama kali dikenalkan oleh Peter Drucker (1954) dalam bukunya berjudul “The practice of Management/manajemen dalan Praktek”.&lt;br /&gt;Prinsip Management by Objectives (manajemen berdasarakan sasaran) adalah :&lt;br /&gt;Melalui tujuan organisasi (Cascading of organizational goals and objectives), Spesifikasi sasaran bagi anggota (Specific objectives for each member), membuat keputusan yang partisipatif (Participative decision making), periode waktu eksplisit (Explicit time period), dan evaluasi kinerja dan menghasilkan umpan balik (Performance evaluation and provide feedback).&lt;br /&gt;Management by Objectives (manajemen berdasrkan sasaran) juga mengitruduksi metode SMART untuk mengecek validitas dan obyektifitas. Yaitu : kusus (Specific), terukur (Measurable), prestasi (Achievable), nyata (Realistic), dan hubungan waktu (Time-related).&lt;br /&gt;Tahun 1990-an , Peter Drucker mengambil pengaruh dari metode manajemen organisasi kedalam perspektif, dimana ia berkata “It’s just another tool. It is not the great cure for management inefficiency. Management by Objectives works if you know the objectives, 90% of the time you don’t.” (tidak hanya satu-satunya alat. Yang tidak lebih besar untuk manajemn yang tidak efisien. Manajemen berdasarkan sasaran bekerja jika kita tahu sasarannya, 90% dari waktu bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gambaran Umum dan Analisis&lt;br /&gt;4.1 Gambaran Umum Samsung&lt;br /&gt;4.1.1 Sejarah Samsung.&lt;br /&gt;Di SAMSUNG, kami memandang setiap tantangan sebagai peluang dan kami yakin bahwa Samsung  telah menempati posisi sempurna sebagai salah satu pemimpin yang diakui dunia di industri teknologi digital.&lt;br /&gt;Komitmen Samsung untuk menjadi yang terbaik di dunia telah membuat Samsung sebagai pemegang pangsa pasar global terbesar untuk tiga belas item di antara produk Samsung, termasuk semikonduktor, TFT-LCD, monitor dan ponsel CDMA. Dengan pandangan ke depan, Samsung telah membuat kemajuan bersejarah di bidang riset dan pengembangan lini semikonduktor, termasuk flash memori dan non-memori, semikonduktor khusus pesanan, DRAM dan SRAM, dan juga memproduksi LCD yang terbaik di kelasnya, telepon seluler, peralatan digital, dan lebih banyak lagi. Tahin 2000-sekarang  Memprakarsai Era Digital.&lt;br /&gt;2008,  Samsung menduduki posisi pertama dalam pasar ponsel AS, Menduduki posisi No.1 pangsa pasar TV dunia selama sembilan kali secara berturut-turut,&lt;br /&gt;2007 Menduduki posisi No.1 pangsa pasar TV dunia selama tujuh kali secara berturut-turut . Mengembangkan memori Flash 30nm-class 64Gb NAND™ yang pertama di dunia. BlackJack dianugerahi penghargaan Smart Phone Terbaik pada CTIA di AS. Meraih posisi No.1 untuk pangsa pasar LCD dunia selama enam tahun berturut-turut.&lt;br /&gt;2006 Mengembangkan LCD dua sisi sejati pertama di dunia. Mengembangkan 50nm 1G DRAM pertama di dunia. Memperlihatkan 10M pixel kamera ponsel. Meluncurkan "Stealth Vacuum", penyedot debu dengan suara terendah di dunia. Meluncurkan Blu-Ray Disc Player pertama di dunia. Mengembangkan 1.72" Super-Reflective LCD Screen.&lt;br /&gt;2005 Mengembangkan Panel LCD Fleksibel terbesar. Menduduki peringkat ke-27 di “Perusahaan yang Paling Dikagumi di Dunia” versi Fortune. Menjadi sponsor resmi Chelsea, klub sepakbola terkenal dari Inggris. Meluncurkan telepon dengan kamera 7 mega piksel pertama di dunia. Mengembangkan OLED pertama untuk TV 40" . Menjadi sponsor resmi Chelsea, klub sepakbola terkenal dari Inggris. Mengembangkan telepon pengenal suara pertama.&lt;br /&gt;2004 Memproduksi mesin cuci uap anti-kusut pertama. Menjual lebih dari 20 juta telepon seluler di AS. Mengembangkan chip memori Flash NAND 8GB 60-nano pertama di dunia. Menduduki peringkat teratas dalam penjualan ponsel di Rusia. Meluncurkan TV PDP baru dengan perbandingan kontras tertinggi di dunia. Mengembangkan Optical Blu-Ray Disc Recorder Generasi Ke-3.  Mengembangkan chip telepon seluler untuk sistem satelit DMB.  Meluncurkan TV LCD 46" pertama di dunia.&lt;br /&gt;2003  Merek SAMSUNG menduduki peringkat 25 di dunia menurut Interbrand . Menduduki peringkat ke-5 pada daftar "Perusahaan Elektronik Paling Dikagumi" yang diluncurkan oleh Fortune Magazine. Meluncurkan DVD H D combo pertama.&lt;br /&gt;2002 Pengembangan 54"TFT-LCD, monitor TV digital terbesar di dunia Meluncurkan PDP-TV, yang paling tipis di dunia. Peluncuran ponsel berwarna yang pertama kali memperkenalkan konsep UFB-LCD. Meluncurkan telepon seluler warna TFT-LCD high-definition&lt;br /&gt;2001 Menduduki peringkat 1 dari 100 perusahaan IT terbaik di dunia oleh BusinessWeek . Meluncurkan Telepon Melodi Progresi 16 Chord. Mengawali Produksi  Massal Perangkat Memori Flash 512 Mb.  Meluncurkan Handset Ultra-Slim Pertama di Industri ini.   Mengembangkan Monitor TFT-LCD 40 inci pertama di dunia&lt;br /&gt;2000  Meluncurkan TFT-LCD dengan Record-breaking Definition. Meluncurkan telepon PDA. SAMSUNG Olympic Games Phone terpilih sebagai ponsel resmi Olimpiade Sydney 2000. TV Phone dan Watch Phone Masuk dalam Guinness Book of World Records. Meluncurkan Chip Memori Grafik Tercepat di Dunia. SAMSUNG Electronics dan Yahoo! Membentuk Aliansi Strategis. Mengembangkan DVD Player All-in-one yang Unik. Mengembangkan DRAM 512 Mb pertama di dunia. Mengembangkan The High Definition Digital TV&lt;br /&gt;4.1.2 Eksekutif Team Samsung&lt;br /&gt;1. Yoon-Ho Ha &lt;br /&gt;Mr. Yoon-Ho Ha mulai memimpin SAMSUNG Asia Pte Ltd pada bulan Mei 2008. Berpusat di Singapura, SAMSUNG Asia adalah kantor regional untuk semua bisnis SAMSUNG Electronics di Asia Tenggara dan Oseania.&lt;br /&gt;Sebelum menduduki posisinya saat ini, Mr. Ha menjabat sebagai Senior Vice President of Display (Monitor business) Sales &amp; Marketing Team di Visual Display Division. 30 tahun karirnya bersama SAMSUNG telah membuktikan kemampuannya mengelola berbagai portofolio produk di berbagai negara. Selain itu Mr. Ha juga pernah menjabat sebagai Vice President pada Regional Strategy Team yang bertanggungjawab untuk merencanakan strategi pemasaran untuk semua wilayah utama di seluruh dunia. Beberapa jabatan kunci yang pernah diemban Mr. Ha termasuk President of SAMSUNG Electronics Germany, Vice President of SAMSUNG Electronics Italy dan General Manager yang bertanggung jawab atas penjualan TV berwarna di Eropa.&lt;br /&gt;SAMSUNG Asia memecahkan rekor penjualan US$11.4 milyar pada tahun 2007, peningkatan sehat 15 persen dari tahun sebelumnya, dan merupakan prioritas Mr. Ha untuk terus melanjutkan momentum pertumbuhan. Perusahaan ini juga memiliki dukungan staf lebih dari 7,000 orang.&lt;br /&gt;Mr. Ha lulus dari Hankuk University of Foreign Studies sebagai Sarjana Bahasa Spanyol pada tahun 1978.&lt;br /&gt;2. Yoon-Wo Lee&lt;br /&gt;Yoon-Woo Lee diangkat menjadi Vice Chairman dan Chief Executive Officer dari Samsung Electronics di May 2008&lt;br /&gt;Seorang insinyur dan veteran Samsung dengan pengalaman 40 tahun, kepemimpinan Mr. Lee dan keahlian teknologinya turut membantu Samsung menjadi perusahaan konsumen elektronik terbesar di dunia. Dia secara luas dihargai sebagai orang yang membesarkan bisnis semikonduktor Samsung menjadi salah satu yang paling sukses di industri ini, dan menggalakkan program latihan dan praktek yang membuat Samsung mendapatkan reputasi sebagai perusahaan terbaik untuk bekerja di Korea&lt;br /&gt;Mr. Lee memulai karirnya di Samsung di tahun 1968 di divisi alat display. Di tahun 1976 ia menjadi manager produk di bisnis semikonduktor dan dengan cepat dipromosikan untuk mengurus pabrik Semikonduktor Giheung. Di 1989, Mr Lee menjadi kepala dari Samsung divisi riset dan pengembangan, dimana ia mempelopori produk-produk baru. Di bawah kepemimpinannya Samsung menumbuhkan desain dan kemampuan produksi masalnya yang kemudian berevolusi menjadi pemimpin global elektronik konsumen.&lt;br /&gt;Setelah sukses mengemudikan bisnis semikonduktor melalui beberapa kali kejatuhan pasar, Mr Lee menjadi CEO unit bisnis ini di tahun 1996. Di tahun 2004, ia menjadi Vice Chairman dari Samsung Advanced Institute of Technology, pusat R&amp;D dari Samsung. Setahun kemudian, Mr Lee memulai posisi sebagai Chief Technology Officer. Tanggung jawabnya di posisi ini termasuk perencanaan strategi teknologi jangka panjang dan mengimplementasikan teknologi terbaru agar berkembang menjadi bisnis baru serta meningkatkan taraf kompetitif.&lt;br /&gt;Mr. Lee adalah ketua Korean Engineers Club dan direktur Korea Institute of Patent Information. Pada 2005, dia mendapat penghargaan sebagai CEO Korea tahun ini. Mr. Lee memiliki gelar sarjana teknik kelistrikan dari Seoul National University.&lt;br /&gt;4.1. 3 Visi Samsung &lt;br /&gt;SAMSUNG dipandu oleh satu visi: memimpin pergerakan konvergensi digital.  Samsung meyakini bahwa melalui inovasi teknologi saat ini, kami akan menemukan solusi yang kami perlukan untuk menghadapi tantangan hari esok. Teknologi membuka kesempatan—bagi bisnis untuk tumbuh, bagi warga negara di pasar yang sedang berkembang untuk hidup sejahtera dengan memasuki tahap ekonomi digital, dan agar masyarakat dapat menemukan peluang baru. Tujuan kami adalah mengembangkan teknologi yang inovatif dan proses efisien yang menciptakan pasar baru, memperkaya hidup semua orang, dan terus menjadikan Samsung sebagai pemimpin digital yang terpercaya. &lt;br /&gt;4.1.4 Misi Samsung&lt;br /&gt;Semua yang kami lakukan di SAMSUNG dipandu oleh misi kami: menjadi “digital-εCompany” yang terbaik. &lt;br /&gt;SAMSUNG tumbuh menjadi perusahaan global dengan menghadapi tantangan secara langsung. Dalam tahun-tahun kedepan, orang-orang kami yang berdedikasi akan terus menghadapi banyak tantangan dan memberikan ide-ide kreatif untuk mengembangkan produk dan layanan yang memimpin pasar. Kecerdasan mereka akan terus menjadikan SAMSUNG sebagai perusahaan global yang menguntungkan dan bertanggung jawab. &lt;br /&gt;4.1.5 Filosofi SAMSUNG&lt;br /&gt;Di SAMSUNG, kami menganut filosofi bisnis yang sederhana: mencurahkan sumber daya manusia dan teknologi kami untuk menciptakan produk dan jasa yang luar biasa, sehingga dapat memberikan sumbangsih untuk masyarakat global yang lebih baik. &lt;br /&gt;Setiap hari, orang-orang kami membawa serta filosofi ini dalam kehidupan mereka. Para pemimpin kami mencari orang-orang terhebat dari seluruh dunia, dan memberi mereka sumber daya yang diperlukan untuk melakukan yang terbaik di bidangnya. Hasilnya, semua produk kami - dari chip memori yang membantu bisnis menyimpan pengetahuan penting hingga telepon seluler yang menghubungkan orang-orang antarbenua - memiliki tenaga untuk memperkaya hidup. Dan itulah makna dari menciptakan masyarakat global yang lebih baik.&lt;br /&gt;4.1.6 Nilai-Nilai Kami &lt;br /&gt;Kami percaya bahwa hidup dengan berpegang teguh pada nilai adalah kunci menuju bisnis yang baik. Di SAMSUNG, kode etik  yang ketat dan nilai-nilai inti tersebut menjadi dasar dari setiap keputusan yang kami buat: &lt;br /&gt;1. Orang-orang&lt;br /&gt;Cukup sederhana, sebuah perusahaan adalah orang-orang yang ada di sana. Di SAMSUNG, kami memberi kesempatan yang sangat luas bagi orang-orang kami untuk mencapai potensi mereka sepenuhnya.&lt;br /&gt;2. Keunggulan: &lt;br /&gt;Semua yang kami lakukan di Samsung didorong oleh gairah yang tak tertahankan untuk mencapai keunggulan—dan komitmen yang tak tergoyahkan untuk mengembangkan produk dan layanan terbaik di pasar.&lt;br /&gt;3. Perubahan:&lt;br /&gt;Dalam ekonomi global yang saat ini berjalan sangat cepat, perubahan secara konstan terjadi dan inovasi adalah hal yang sangat penting untuk mempertahankan sebuah perusahaan. Seperti yang telah kami lakukan selama 70 tahun, kami mengarahkan pandangan ke masa depan, menangkap kebutuhan dan permintaan pasar agar kami dapat mengarahkan perusahaan kami menuju kesuksesan jangka panjang.&lt;br /&gt;4. Integritas&lt;br /&gt;Beroperasi dengan cara yang beretika adalah pondasi bisnis kami. Semua yang kami lakukan dipandu oleh panduan moral yang memastikan keadilan, menghormati semua stakeholder dan transparansi sepenuhnya. &lt;br /&gt;5. Mendukung kemakmuran&lt;br /&gt;Sebuah bisnis tidak bisa berhasil bila tidak dapat menciptakan kemakmuran dan kesempatan untuk orang lain. Samsung didedikasikan untuk menjadi warga korporat yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan dalam setiap komunitas di mana kami beroperasi di seluruh dunia.&lt;br /&gt;4.2Hitachi&lt;br /&gt;Hitachi, Ltd. pertama kali dimulai pada tahun 1910 sebagai sebuah bengkel listrik sederhana untuk sebuah perusahaan tembaga di Jepang. Nama Hitachi secara harafiah berarti "matahari terbit", yang mencerminkan falsafah mendasar mengenai sumbangan kepada manusia dan masyarakat melalui teknologi. Falsafah ini telah membantu Hitachi menjadi salah satu perusahaan dunia terbesar saat ini dengan jumlah karyawan sebesar 340.000 orang di seluruh dunia.&lt;br /&gt;Di Singapura, Hitachi bermula sebagai sebuah kantor kerja sama di tahun 1963 dan kemudian mengembangkan operasinya di tahun 1972 untuk membuat berbagai rangkaian produk. Pada tahun 1989, Hitachi Asia Ltd. (sebelumnya bernama Hitachi Asia Pte. Ltd.) didirikan sebagai salah satu dari empat kantor pusat regional Hitachi selain Amerika, Eropa dan Cina. Di tahun 1990, perusahaan memperoleh status sebagai Kantor Pusat Operasional (OHQ) oleh Badan Pembangunan Ekonomi Singapura (EDB). &lt;br /&gt;4.2.1 Aktivitas Bisnis&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kantor pusat regional, Hitachi Asia Ltd. (HAS) mengkoordinasikan kegiatan pemasaran dan penjualan bagi produk-produk industri, listrik dan elektronik serta solusi sistem informasi, dan juga melakukan pengadaan internasional bagi seluruh pabrik Hitachi di seluruh dunia. HAS kini memiliki jaringan sebanyak sepuluh buah kantor di tujuh negara di Asia, kecuali Asia Timur.&lt;br /&gt;Di tahun 1998, HAS berubah dari sebuah perusahaan terbatas menjadi sebuah perusahaan umum yang tak terdaftar dan memperoleh status Pusat Perbendaharaan Keuangan oleh Otoritas Keuangan Singapura (MAS) sehingga dapat mengeluarkan surat obligasi. Perubahan ini ditujukan agar dapat memperkuat kemampuannya untuk menyediakan dukungan keuangan bagi grup Hitachi di Asia.&lt;br /&gt;4.2.2 Hubungan Sosial Masyarakat&lt;br /&gt;Hitachi percaya bahwa sebagai sebuah perusahaan pemain utama di wilayah ini, tanggung jawabnya melebihi sekedar investasi bisnis. Oleh karena itulah, perusahaan ini secara konsisten telah terlibat dalam berbagai aktivitas yang langsung memberikan sumbangsih kepada masyarakat setempat. &lt;br /&gt;Di Singapura, sumbangan program sosial masyarakat dari Hitachi yang sudah lama berjalan adalah kegiatan Christmas Light-Up yaitu penyalaan pohon Natal di sepanjang jalan Orchard Road yang sibuk. Sejak tahun 1991, Hitachi telah menjadi sponsor utama dari kegiatan yang banyak mendapatkan perhatian ini, dan telah mengumpulkan dana sebesar lebih dari S$2 juta bagi para penerima santunan dari Dewan Nasional Layanan Sosial (National Council of Social Services). &lt;br /&gt;Untuk mendorong perkembangan generasi mendatang dari para pemimpin di Asia, Hitachi memprakarsai program "Hitachi Young Leaders Initiative" di tahun 1996. Melalui program ini, banyak mahasiswa Asia yang berprestasi bersama-sama berkumpul membahas berbagai masalah regional dengan para pemimpin terkemuka. &lt;br /&gt;Aktivitas-aktivitas tersebut menekankan komitmen Hitachi untuk terus memberikan sumbangsih kepada masyarakat di tingkat lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.3 Analisis SOSTAC&lt;br /&gt;4.3.1  Analisis dan Implementasi Manajemen dan Penyelesaian Kasus&lt;br /&gt;Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh SAMSUNG dalam model SOSTAC :&lt;br /&gt;1. SITUATION (Situasi)&lt;br /&gt;Saat ini penulis sedang menjalani pengamatan terhadap masalah yang dihadapi oleh SAMSUNG dan situasi di dalam SAMSUNG yang berbeda dengan situasi perusahaan ditempat lain, karena memiliki karakteristik tertentu. Lingkungan di SAMSUNG relatif homogen karena terdiri dari sebagian besar pada gerak usaha manufactur di bidang elektronika, dimana staf pekerja SAMSUNG adalah , marketing, pemasran, pekerja pabrik,  dan sebagian besar dari non anggota pemasaran.Suasana yang terasa di  SAMSUNG ini adalah suasana pabrikan, terasa sekali semangat dan di tuntut untuk mencapai target kualitas produk agar tetap mampu bersaing,sehingga bisa dikatakan situasi kondisinya logis tenaga industri secara langsung ataupun supporting sitem. Sehingga untuk menjadi perhatian , keluasan usaha, cakrawala pengetahuan dalam bidang manufaktur, riset dan pemasaran menjadi hal yang penting.&lt;br /&gt;Analisis SWOT yang adalah :&lt;br /&gt;a.Strength (kekuatan)&lt;br /&gt;SAMSUNG memulai kiprahnya sebagai operator GSM nasional yang mendambakan penawaran harga sederhana, transparan dan bersaing. Penawaran seperti itulah yang akhirnya dijadikan sebagai motto AXIS dengan tagline “GSM yang Baik”. &lt;br /&gt; SAMSUNG menawarkan kepada pelanggan telekomunikasi di Indonesia sesuatu yang benar-benar baru dan teknologi yang mempu mengikuti perkembangan jaman. Sebagai layanan Alat-alat elektronik terutama televisi  yang terjangkau dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat segala lapisan sosial dengan berbagai macam jenis dan produknya.&lt;br /&gt;Bahwa barang elektronika sudah merupakan kebutuhan yang dasar bagi semua manusi, merupakan kebutuhan pokok sebagais sarana, hiburan, rekreasi, pendidikan dan informasi, terutama untu Televisi dan radio. Perkembangan pemilikan televisi meningkat begitu tajam pada seperempat abad ini, hampir semua lapisan masyarakat memilikinya.&lt;br /&gt;Harganya pun bervariasi dan rata-rata terjangkau, adapaun mereka sudah bisa memilih merek apa saja tanpa terkecuali asalkan sesuai dengan kualitas, kemampuan dan isi katong mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Weaknest (kelemahan)&lt;br /&gt;Kelemahan yang dihadapi adalah bagimana membangun image kepada pelanggan yang sudfah memiliki ketergantungan dengan merek tertentu, seperti merek national misalnya, sehingga ada perjuangan kuat untuk menerobos pasar. Kekuatan merek Jepang yang menguasai pangsa pasar di Indonesia telah membawa masyarakat Indonesia lebih memilih merek-merek Jepang. Sehingga merek-merek Jepang mampu menguasai pasr mayoritas rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;Merek Jepang yang sudah lebih dahulu masuk ini menjadikan kelemahan khusus bagi Samsung untuk membangun image bahwa SAMSUNG adalah produk yang bisa mengimbangi produk Jepang. &lt;br /&gt;Sehingga perang hargalah yang bisa dilakukan untuk menjaring masyar4akat kelas dua yang memiliki keterbatasan anggaran dan dana.  &lt;br /&gt;c.Oportunity (Peluang)&lt;br /&gt;Peluang pemasaran SAMSUNG masih cukup luas di Indonesia karena produk elektronik tersebut sangat dibutuhkan oleh berjuta-juta rakyat Indonesia. Produk terbesar adalah produk elektronik yang merupakan kebutuhan pasar yang cukup dinamis. Kebutuhan alat-alat elektronik terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan penduduk.&lt;br /&gt;Peluang m,uncul dimana berbagai inovasi baru samsung dan permintaan akan elektonik yang terus berkembang, dan masyarakats selalu berkeinginan untuk memiliki produk elektronik yang baru, yang mempu menjangkau pasar, sehingga inovasi-inovasi vasililitas elektronik perlu ditingkatkan dan dikembangkan. Masyarakat dewasa ini sudah tidak mementingkat merek tetapi adalah fasilitas layanan, harga dan teknologi terbaru.&lt;br /&gt;Pertumbuhan masyarakat, pasangan usia muda, kemudian tingkat kebutuhan masyarakat akan barang elektronik untuk memenuhi kebutuhan mereka meningkatkan keinginan untuk memiliki produk terbaru.&lt;br /&gt;d.Treath (Ancaman)&lt;br /&gt;Pangsa pasar yang menjanjikan menunjukkan bahwa berbagai pesaing akan muncul di dalam pengembangan usaha elektronik terutama televisi ini. Munculnya produk baru dan inovasi baru dari perusahaan lain. Kemudian munculnya globalisasi mendorong tiada batasnya pemeasarn elektronik. Perusahaab eropa telah merambah dan melakukan penetrasi di Indoneisa.&lt;br /&gt;Ketidakstabilan ekonomi  Indonesia telah menjadikan  kesulitan dalam memprediksi harga. Terutama Krisis global Amereka menjadikan ketidakstabilan nilai mata uang. Sehingga menjadikan gangguan dinamis dalam hal strutur nilai mata uang dan daya beli masyarakat.&lt;br /&gt;2. OBJECTIVES (Sasaran)&lt;br /&gt;Dengan melihat situasi yang terasa sekali nuansa pemasaran,tentunya pengaruh untuk turut serta dalam kegiatan menambah dan meningkatkan target yang dibutuhkan cukup tinggi, dan ingin menjadi orang pemasaran yang pintar, berpikiran logis, kritis, analitis dan berwawasan luas.  SAMSUNG ingin menanamkan image diri sebagai  perusahaan elektronik yang memiliki jatidiri, karakter, tanggung jawab, visi dan misi untuk melayani masyarakat yang optimal dalam pelayanan komunkasi dan informasi terutama dengan perusahaan televsisi dengan melakukan berbagai macam terobosan dan kerja sama. Sehingga jika orang lain atau masyarakat melihat SAMSUNG, mereka menganggap SAMSUNG sebagai calon pemimpin perusahaan Elektronik terkemuka di Dunia kelak . Diharapakan oleh SAMSUNG ,dengan image SAMSUNG yang demikian melekat dalam ingatan orang-orang, sehingga kelak, jika sudah pada waktunya nanti, hal ini akan membantu dalam loyalitas pelanggan SAMSUNG, karena SAMSUNG dianggap sebagai perusahaan yang memiliki kredibilitas yang tinggi, bisa memimpin perusahaan elektronik lainnya. Hal ini membuat SAMSUNG  akan di perhitungkan dalam bursa elektronik kelak.&lt;br /&gt;Sasarannya adalah sektor elektronik  seperti hanya perusahaan Elektronik  lainnya. SAMSUNG telah menerapkan penggunaan 5 P dan SMART dalam menjalankan kegiatannya. Hal ini menjelaskan penerapan Manajemen berdasarkan Sasaran.&lt;br /&gt;Mengejar pangsa pasar Indonesia bagian timur merupakan terobosan sasaran yang tepat, karena pengusaan Perusahaan Elektronik  merek mapan dari Jepang  dalam hal ini adalah Hitachi, Pansonics, Sony dan Toshiba yang sudah mengusai sebagian besar Indonesia bagian barat. Sasaran berikutnya adalah eksekutif muda yang baru mempunyai daya beli dan menikmati pendapatan mereka dalam penggunaan alat elektronik, maka harga yang murah menjadi pilihan mereka. Komunitas mereka lebih luas dan masyarakat komunitas cukup efektif untuk menjadi sasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. STRATEGY&lt;br /&gt;SAMSUNG berusaha menarik perhatian dan simpati public atau masayarakat dengan berbagai isu dan pemberitaan serta berangkat dari sesuatu yang dikesankan  negative menjadi positif. Merupakan perjuangan yang berat. Caranya dengan aktif dalam kegiatan iklan dan pemasaran dengan berbagai macam strategi menarik minat publik untuk menjadi pemakai barang-barang produk SAMSUNG, aktif membuka diri dari berbagai pertanyaan dengan membuat situs WEB dalam internet, berdiskusi dengan publik dan pelanggan, aktif dalam menaggapi saran-saran publik.&lt;br /&gt;Web SAMSUNG aktif bergaul,berkomunikasi dan berdiskusi dengan semua lapisan masyarakat atau public tanpa mengenal suku, daerah pengiriman ataupun usia dengan berkomunikasi yang baik, yang menampilkan SAMSUNG mempunyai jati diri, tanggung jawab dan rela melayani semuanya demi kepentingan bersama.&lt;br /&gt;Strategi harga dalam bauran kebijakan cukup penting meski bersifat tradisional, namun merupakan sebuah postulat yang tak pernah lekang bahwa konsumen akan menekan biaya semurah-murahnya dalam biaya hidup mereka selama mereka mampu. Karena harga  yang murah akan memberikan peluang konsumen menggunakan dengan lebih efektif dan efisien sebagai pelanggan yang mampu menggunakan dananya untuk kegiatan dengan pendapatan terbatas dan kebutuhan hidup yang lebih banyak dan bervariasi.&lt;br /&gt;Kebutuhan dana yang cukup besar dan investasi jangka panjang dengan sasaran yang tepat dibutuhkan oleh investor. Maka kepercayaan investor perlu dijaga agar tetap menanamkan investasinya pada SAMSUNG. Hal ini merupakan sebuah tantangan SAMSUNG ke depan bahwa kepercayaan Investor perlu dijaga dan dijamin keutuhannya, sehingga pertumbuhan usaha terus dijaga dengan meningkatkan pelanggan, ifisiensi, provitabilitas yang tinggi dan memiliki pangsa pasar yang luas dan loyal.&lt;br /&gt;Stragi pemasaran di atas dilakukanoleh SAMSUNG dalam mengahdapi berbagai persaingan perusahaan Elektronik. Maka perlu kualitas sumber daya manusia dalam bidang pemasaran yang handal yang didukung oleh produk yang handal, promosi yang mendukung, dan harga yang terjangkau.&lt;br /&gt;4. TACTICS&lt;br /&gt;Taktik yang SAMSUNG gunakan adalah berpikir luas,mengadakan hubungan dengan sumber luar agar jaringan dan dukungan luas. Taktik yang lain adalah selalu menjadi nomor satu dari bidang elektronik, nilai kepribadian dengan merek yang baik.&lt;br /&gt;Akankah SAMSUNG tetap hanya dengan strategi perang harga, namun SAMSUNG seperti halnya penjelasan di atas mengembangkan berbagai macam strategi. Kiranya taktik perang harga tidak selamanya baik dan benar karena akan memunculkan boomerang bagi perusahaan. Namun dukungan pelayanan, prosduksi, kualitas dan fasilitas layanan itu harus ditingkatkan dan dipertahankan, agar pelanggan hanya tidak memperoleh harga murah tapi pelayanan yang buruk. Pengiklanan yang jujur dan baik penting sehingga tidak melahirkan kekecewaan di kalangan konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. ACTION (Tindakan)&lt;br /&gt;Action (tindakan) yang dilaksanakan SAMSUNG adalah belajar sungguh-sungguh, membaca banyak keinginan publik untuk menambah ilmu, aktif mengikuti perkembangan SAMSUNG, rela bekerja keras demi kepentingan bersama.&lt;br /&gt;Semua aksi atau tindakan tidak akan berhasil tanpa kerjasama tiap bagian organisasi perusahaan, sehingga kerjasama dari semua bagian cukup dibutuhkan, agar sasaran yang diinginkan dapat tercapai. Tindakan yang tepat sasran, strategi yang matang dan taktik yang jitu cukup dibutuhkan dalam organisasi.&lt;br /&gt;6. CONTROL(Pengawasan)&lt;br /&gt;Mengontrol atau mengawasi semua strategi dan kegiatan yang sudah kita jalankan, dengan mengecek penerimaan image publik yang ada, dengan mengambil sampel acak bertanya tentang tanggapannya dan teknik lainnya untuk menggali kesan mereka tentang SAMSUNG . Perlu adanya riset yang lebih dalam tentang layanan, persepsi pelanggan, persepsi pasar, loyalitas pelanggan dan kekuatan dalam persaingan, karena persaingan mereka cukup bebas dan mendekati bentu sempurna.&lt;br /&gt;Sebagai bentuk pengakuan dari investasinya di Indonesia, Samsing telah memperoleh sertifikat Uji Layak Operasi(ULO), ISO 9002 dan ISO 14002. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kesimpulan&lt;br /&gt;Dalam analisis SOSTAC tedapat kelemahan yang diantaranya analisis strategi dan taktik tidak komperhensif sehingga analisis controlnya tidak terfokus. Kelebihannya adalah memberikan panduan dalam menganalisis secara detail sarana komunikasi penciptaan kesan diri. Walaupun masih terdapat beberapa kelemahan tetapi setidaknya dapat memberikan panduan melangkah dalam tindakan yang lebih strategic, sehingga memunculkan keyakinan akan mencapai hasil yang lebih baik &lt;br /&gt;Bukan hal yang mustahil,dengan pencapaian corporate branding ini menuntun pada pencapaian cita-cita yang lebih tinggi. Dalam jangka pendek ini, SAMSUNG berhasil melabel dirinya sebagai pemimpin operator seluler. Kedepannya dalam jenjang berikutnya SAMSUNG menjadi operator seluler yang sangat diperhitungkan dalam kepemimpinan persaingan perusahaan sejenis. Jika image ini bertahan terus sampai nanti, SAMSUNG yakin akan menempatkan posisi operator seluler pada kedudukan yang penting dalam berbagai bidang terutama di dalam organisasi Perusahaan operator Seluler untuk memimpin persaingan perusahaan seluler.  &lt;br /&gt;SAMSUNG merupakan Operator seluler dengan bran image Operator Baik, Operator Murah, Operatur Jaringan Internasional, Operator jaringan Nasional yang Luas. SAMSUNG merupakan organisasi yang merupakan lembaga yang menggunakan Model SOSTEC dalam usahanya. SAMSUNG telah melakukan kontrol. Internal Perusahaan dan Eksternal yaitu pemerintah sebagai Operatot seluler yang bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Alat analisis yang ada dalam SOSTAC dapat membantu menjalankan roda usaha di dalam persaingan usaha yang makin berat dengan persaingan dengan perusahaan sejenis yang mapaan dan baru yang kreatif dan capital yang bersaingin. Maka perlu strategi yang baik, sasaran yang tepat, analisis situasi yang handal, taktik yang tepat sasaran, tindakan yang tepat dan pengawasan yang terpadu baik dari dalam dan luar perusahaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang, 2008. Mentari Ikut Bermain di Tarif Per Detik, Biskom, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilham Prisgunanto M,Si. 2006. Komunikasi Pemasaran. Ghalia Indonesia jakarta september 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermawan Kertajaya. 2004.  Marketing Yourself : kiat sukses meniti karir dan bisnis Jakarta. Mark Plus &amp; co.  2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-1208190886331300404?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/1208190886331300404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/analisis-sostac-pt-samsung-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/1208190886331300404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/1208190886331300404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/analisis-sostac-pt-samsung-dalam.html' title='Analisis SOSTAC PT SAMSUNG dalam'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-6776543030483561733</id><published>2009-01-22T10:41:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T10:42:06.276-08:00</updated><title type='text'>Analisis SOSTAC Pada Kartu AXIS</title><content type='html'>Analisis SOSTAC Pada Kartu AXIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;Persaingan usaha bidang operator seluler cukup ketat, dengan munculnya beberapa operator baru yang lahir, dan mampu tetap eksis dan bertahan merebut pelanggan. Suatu perkembangan teknologi telekomunikasi di Indonesia yang tek pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah revolusi besar di bidang komunikasi, dan semakin cepatlah globalisasi dan tiada batas antara wilayah dan Negara.&lt;br /&gt;Munculnya persaingan itu telah melahirkan berbagai macam persaingan yang sehat maupun tidak sehat. Perang harga terus terjadi, diikuti inovasi-inovasi tentang fitur layanan bagi pelanggan. Pelanggan banyak mendapatkan pilihan, dan saatnyalah bahwa pembeli atau konsumen adalah raja. Sehingga operator seluler saat ini harus memanjakan pelanggannya agar tidak ditinggalkan pelanggan menuju operator lainnya.&lt;br /&gt;Makin banyak operator seluler, alternatif layanan telekomunikasi makin beragam. Operator seluler baru melakukan validasi terhadap 30 persen pelanggan seluler di seluruh Indonesia. Dari 106.701.141 pelanggan yang tercatat baru 32.491.599 orang yang memiliki data benar. Demikian laporan terakhir yang dirilis Ditjen Postel Depkominfo di Jakarta, Jumat (1/8). Angka tersebut merupakan hasil pengecekan lapangan terhadap verifikasi dan validasi kartu prabayar, baik layanan telekomunikasi seluler dan maupun FWA (Fixed Wireless Access) yang dilaporkan semua operator. (Pulsa Murah, 2008)  &lt;br /&gt;Direktorat jendral  Pos dan telekounikasi menyatakan dari 50.548.000 pelanggan Telkomsel, baru 11,27 persen tervalidasi atau sekitar 5.700.000 orang sampai 30 Juni 2008. Sedangkan Indosat menjadi operator dengan tingkat validasi pelanggan pra bayar tertinggi yaitu 85,59 persen, dari 25.750.628 pelanggan, tervalidasi 22.040.881 pelanggan sampai 31 Maret 2008. Sampai 30 Juni 2008, pelanggan XL baru 0,6 persen yang tervalidasi atau baru 13.667 pelanggan dari 22.423.262 dan merupakan tingkat validasi terkecil dibandingkan operator lain.(Pulsa Murah, 200 8)&lt;br /&gt;AXIS (Natrindo Telepon Seluler) baru memvalidasi 15,5 persen pelanggannya yaitu 92.097 orang dari 591.990 pelanggan sampai 12 Juli 2009. Sementara PT Huchinson CPT telah memvalidasi 78,5 persen pelanggan yaitu ada 2.520.627 orang dari 3.209.196 pelanggan. Mobile-8 baru melakukan validasi terhadap 58,4 persen pelanggannya yaitu 1.798.458 dari 3.078.569 teregistrasi, dan total pelanggan mereka sebanyak 3.772.079. Sementara dari 504.330 pelanggan Sampoerna Telecom, telah tervalidasi 80 persen atau 325.869 pelanggan dan Smart Telecom telah memvalidasi 80 persen pelanggan atau 403.464 pelanggan dari 504.330.&lt;br /&gt;Untuk pengguna ponsel nirkabel terbatas (FWA), baru tervalidasi sekitar 61 persen atau sebanyak 7.230.700 orang dari 11.824.024 total pelanggan dari tiga operator yaitu Indosat, Telkom dan Bakrie Telecom. Sebanyak 90 persen pelanggan Starone Indosat atau 616.139 orang tervalidasi dari 677.163 pelanggan.&lt;br /&gt;Sedangkan Flexi Telkom telah memvalidasi 81,7 persen atau 5.470.940 orang dari total 6.690.198 pelanggan. Bakrie Telecom baru memvalidasi 25,6 persen pelanggan Esia atau 1.143.621 orang dari 4.456.663 orang. &lt;br /&gt;Dalam siaran pers tersebut, Direktorat jendral  Pos dan telekomunikasi menghimbau kepada para pengguna jasa telekomunikasi seluler dan FWA untuk memberikan data registrasi yang benar dan valid, karena Peraturan Menteri Kominfo No. 23/M.KOMINFO/10/2005 tentang Registrasi Terhadap Pelanggan Jasa Telekomunikasi. Pasal 4 Ayat (6) menyebutkan, bahwa penyelenggara jasa telekomunikasi wajib menonaktifkan nomor pelanggan jasa telekomunikasi yang terbukti atau diketahui menggunakan data sebagaimana dimaksud ayat (2) dalam bentuk identitas palsu atau tidak benar atau identitas milik orang lain tanpa hak atau tanpa seizin orang yang bersangkutan. (Pulsa Murah, 2008)&lt;br /&gt;Persaingan seluler begitu tajam seperti data di atas memunculkan berbagai persaingan yang sehat maupun tidak sehat. Permasalahan itu muncul juga dalam Perusahaan Seluler AXIS saat ini. Berita paling kontroversial menjelang akhir bulan, sudah pernah dengar operator baru AXIS atau malahan sudah memakai secara gratis GPRS 100mb, yang membuat terkejut ternyata AXIS mendapat Isu disponsori oleh Gereja Penyembah Setan. &lt;br /&gt;Benarkan AXIS ini adalah disponsori oleh gereja penyembah Setan, angka 6 di daftar tarif itu menandakan angka setan 666 dan Siapakah gereja setan itu ?, Dari beberapa fakta yang ada AXIS ini merupakan perusahaan yang telah diakuisisi oleh Saudi Telecom dan sebuah perusahaan Malaysia. AXIS ini sebelumnya bernama NTS (Natrindo Telecom Selular) menurut kabar dari detik.com frekuensinya mau di cabut lantaran tidak digunakan sepenuhnya.&lt;br /&gt;AXIS didukung oleh dua operator terkemuka di Asia, yakni Saudi Telecom Company (STC), penyedia layanan telekomunikasi nasional yang berbasis di Arab Saudi; dan Maxis Communications, penyedia layanan telekomunikasi terbesar di Malaysia. Kedua investor utama kami bertekad untuk menanamkan modal dan memberikan kontribusi penuh bagi pembangunan dan pengembangan industri telekomunikasi di Indonesia. &lt;br /&gt;Didirikan pada tahun 1998, Saudi Telecom Company (STC) menyediakan layanan komunikasi lengkap seperti telepon tetap dan bergerak, internet, dan layanan data. Perusahaan ini beroperasi melalui empat anak usahanya (Alhatif, Aljawal, Saudi Data, and Saudinet) dan adalah satu-satunya penyedia layanan telepon tetap, data, dan internet di Arab Saudi. &lt;br /&gt;Pada tahun 2005, pemerintah Arab Saudi mengurangi sahamnya di perusahaan tersebut dengan menawarkan 30 persen ekuitas kepada publik. Pada triwulan ketiga 2006, STC sudah menguasai sekitar 71 persen pangsa pasar di Arab Saudi. Saat ini kapitalisasi pasar STC telah mencapai sekitar US$40,5 milliar.&lt;br /&gt;Maxis Communications adalah perusahaan penyedia telekomunikasi terbesar di Malaysia, yang memiliki investasi di industri telekomunikasi di India dan Indonesia. Maxis menyediakan layanan telepon seluler dan tetap, serta layanan gateway internasional. Per tanggal 31 Maret 2007, jumlah total pelanggan telepon seluler Maxis di Malaysia mencapai 8,5 juta (menunjukkan pangsa pasar sebesar 41,5%). Maxis mencatat pendapatan sebanyak RM 6,96 milliar dan EBITDA sebesar RM 3,76 milliar pada tahun fiskal yang berakhir 31 December 2006.&lt;br /&gt;Entah terkait dengan launching-nya operator telepon GSM AXIS di Jakarta atau tidak, belakangan ini tersebar isu tidak sedap mengenai AXIS, yaitu bahwa AXIS adalah kartu setan. Kabar ini menyebar melalui SMS, forum diskusi internet, dan juga komentar-komentar di blog. &lt;br /&gt;AXIS telah menunjuk Ericsson untuk mendorong program perluasan jaringannya secara nasional. Ericsson akan membangun jaringan AXIS di Jakarta, Banten, Sumatera serta membangun sekitar 2.100 BTS.&lt;br /&gt;Teknologi yang akan diimplementasikan Ericsson meliputi GSM, 3G, radio access, serat optik dan transmisi microwave. Termasuk dalam kerjasama ini adalah layanan managed services hingga tahun 2010 yang mencakup dukungan teknis dan operasional jaringan. &lt;br /&gt;Ericsson juga akan membantu AXIS dalam mengelola dan mengoperasikan jaringan AXIS di daerah-daerah tersebut termasuk pengoperasiannya di lapangan serta dukungan layanan lainnya. &lt;br /&gt;Erik Aas, Presiden Direktur dan CEO AXIS mengatakan, Ericsson telah menjadi salah satu mitra utama AXIS mulai dari awal peluncuran layanannya. “Mitra strategis seperti Ericsson adalah kunci dari keberhasilan AXIS untuk mewujudkan misinya menjadikan layanan komunikasi terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia,”&lt;br /&gt;Sementara Bengt Thornberg, President Ericsson Indonesia berpendapat, keputusan AXIS untuk mempererat kemitraan ini adalah suatu hal yang sangat penting bagi Ericsson Indonesia. “Bukan hanya karena ini adalah kelanjutan dari kerja sama yang sudah berlangsung, tetapi juga jejak langkah perluasan jaringan tercepat ke daerah-daerah yang sedang berkembang di seluruh Indonesia,” tandasnya, dalam keterangan tertulis yang diterima detik INET, Senin (27/10/2008).&lt;br /&gt;Perkembangan AXIS yang merupakan perusahaan telephon seluler yang bergerak di bidang operator seluler menghadapi berbagai macam tantangan, ancaman, hambatan, dan berbagai rintangan dalam persaingan Industri telekomunikasi yang berkembang cepat di Indonesia. Namun sampai September 2008 target Axis belum dapat tercapai seratus persen hanya 62,5 % dari target yang ditentukan. Hal ini akibat dari berbagai kendala yang ada. Oleh karena itu perlu langkah-langkah strategis yang harus dicapai oleh AXIS dalam mencapai target. SOSTAC (Situations Analysis, Objectives, Strategy, Tactics, Actions, and Control) merupakan pendekatan komunikasi modern yang akan digunakan dalam pendekatan analisis dalam menghadapi kasus-kasus dari AXIS. Terutama dalam target pemasaran yang akan dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Target Pemasaran dalam penjualan produk terutama dengan menggunakan Marketing Mixed, yaitu dengan berbagai analisis pendekatan dalam menghadapi hambatan dan tantangan dapat dilakukan sebuah analisis yang tepat. &lt;br /&gt;1.Apakah Model pendekatan SOSTAC dalam penyelesaian masalah yang dihadapi oleh AXIS?&lt;br /&gt;2.Bagaimana Model Pendekatan SOSTAC dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh AXIS dalam hal Managemen dan Marketing?&lt;br /&gt;3.Seberapa Efektifkah model SOSTAC dalam mengatasi persoalan marketing? &lt;br /&gt;4.Kapankan Model SOSTAC dapat dilakukan dan dilaksanakan dalam model marketing untuk memperoleh hasil sesuai target yang ditentukan?&lt;br /&gt;Pendekatan dalam manajemen dan komunikasi ini dilakukan agar diperoleh target perusahaan sesuai yang diinginkan dengan berbagai persoalan yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Landasan Teori&lt;br /&gt;3.1 Definisi model SOSTAC.&lt;br /&gt;SOSTAC adalah singkatan atau ringkasan tahapan-tahapan proses strategi pemasaran oleh Paul R. Smith (1990). SOSTAC terdiri dari :&lt;br /&gt;1.Situation Analysis. (Analisis Situasi) yang mana terdiri dari SWOT Analysis, PEST Analysis, Marketing Mix(bauran kebijakan) dan Competitive Position (posisi persaingan).&lt;br /&gt;2.Objectives. (obyektif) Kemana kita  akan pergi (Where do we want to go)? Terdiri dari : Ashridge Mission Model, 5 P’s Model, SMART.&lt;br /&gt;3.Strategy(strategi). Bagiamana kita mendapatkanya (How are we going to get there)? Terdiri dari : Market Segmentation (sekmentasi pasar) dan Positioning.&lt;br /&gt;4.Tactics (taktik). Yang lebih detail dari strategi. Berupa Tools (alat) dan Komunikasi (Communication).&lt;br /&gt;5.Actions (aksi) . Implementasi, pengambilan perencanaan kerja dalam Action Plan (perncanaan aksi) . Terdiri dari RACI Model, CSFs dan, KPIs&lt;br /&gt;6.Control(pengawasan). Track progress melalui pengukuran (measuring), pengawasan (monitoring), pengecekan (reviewing), penempatan (updating and modifying). Terdiri dari Kinerja manajemen (Performance Management) dan Blanced Scorecard.&lt;br /&gt;Keunikan metode SOSTAC adalah sederhana (simplicity). Pendekatan adalah memenuhi tahapan secara bersama-sama dalam menciptakan perencanaan pemasaran (marketing plan). Terdiri dari 5 C’s of Marketing Strategy (strategi pemasaran 5C), Feasibility Study (studi kelayakan), VMOST dan Customer Relationship Management (manajemen hubungan dengan paelanggan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. SWOT&lt;br /&gt;Merupakan analisis dari Strength (kekuatan) , Weakness (Kelemahan), Oportunity (Peluang) dan threat (Ancaman). Merupakan analisis manajemen yang berdasarkan pada kepekaan terhadap lingkungan manajemen terutama marketing atau pasar. &lt;br /&gt;Strength (Kekuatan) adalah berupa modal, kemampuan sumber daya manusia, teknologi, jaringan, dan brand image tau merek yang dimiliki merupakan kekuatan yang dibutuhkan perusahaan dalam mengembangkan diri dalam mencapai target atau sasaran. &lt;br /&gt;Weakness (kelemahan) adalah berbagai macam kelemahan yang dimiliki perusahaan, seperti isu-isu negative yang muncul, jaringan yang terbatas, tenaga pemasaran yang masih kurang mengakar dalam jaringan, serta kelemahan-kelemahan lain yang memungkinkan untuk menjadi kendala dalam meningkatkan target atau sasaran yang harus dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 PEST&lt;br /&gt;PEST analysis adalah merupakan pola kerja dan strategi konsultan menggunakan pengamatan lingkungan makro eksternal (scan the external macro-environment) dalam setiap operasi perusahaan. PEST adalah singkatan dari : Political, Economic, Social and Technological (Politik, ekonomi, sosial da teknologi)&lt;br /&gt;PEST factors merupakan sebuah aturan main yang penting dalam strategi menciptakan peluang nilai kreasi. Meskipun bahasa selalu diluar kontrol dari perusahaan dan harus normal terdiri dari kesempatan atau peluang lain. Bersama macro-economical factors (factor makro ekonomi) dapat berbeda tiap continental, negara atau suatu tempat, juga biasanya analisis PEST seharusnya dicitrakan tiap negara. Berikut ini terdapat contoh dari tiap faktor-faktor tersebut :&lt;br /&gt;1.Political (incl. Legal) /Politik (memasukkan hukum)&lt;br /&gt;Penelitian berjenjang Kebijakan lingkungan dan proteksi, pertumbuhan ekonomi,  distribusi pendapatan pemerintah.(Environmental regulations and protection Economic growth  Income distribution Government research spending) &lt;br /&gt;2.Economic (ekonomi)&lt;br /&gt;Kebijakan pajak, suku bunga dan moneter, kependudukan, tingkat pertumbuhan penduduk, pembagian usaha industri berfokus pada teknologi. (Tax policies Interest rates &amp; monetary policies Demographics, Population growth rates, Age distribution Industry focus on technological effort )&lt;br /&gt;3.Social (Sosial)&lt;br /&gt;Kebijakan perdagangan internasional  dan retriksi pemerintah, perlindungan tenaga kerja, mobilitas sosial, penemuan dan pengembangan kontrak baru. Pemberdayaan hkum, perlindungan konsumen. Kebijakan pengangguran, merubah gaya hidup, tingkat transfer teknologi, Hukum perburuhan, pajak tenaga kerja dan pengembangan perilaku semangat wira usaha. (International trade regulations and restrictions, Government spending Labor / social mobility, New inventions and development,  Contract enforcement law Consumer protection,   Unemployment policy, Lifestyle changes Rate of technology transfer,  Employment laws Taxation Work/career and leisure attitudes Entrepreneurial spirit)&lt;br /&gt;4.Technological (teknologi)&lt;br /&gt;Siklus hidup dan kecepatan dari perkembangan teknologi, organisasi pemrintah, tingkat perubahan perilaku pendidikan pengunaan energi dan biaya. Kebijakan persaingan, tingkat inflasi, fase  perubahan dalam teknologi informasi, tingkat stabilitas politik dari siklus bisnis, jaminan kesehatan dan kesejahteraan, naluri dari pengamanan perubahan dalam internet, kebijakan perlindungan kepercayaan konsumen, keyakinan hidup, kondisi teknologi yang dalam situasi bergerak. (Life cycle and speed of technological obsolescence  Government organization / attitude  Exchange rates Education Energy use and costs. Competition regulation Inflation rates Fashion, hypes (Changes in) Information Technology Political Stability Stage of the business cycle Health consciousness &amp; welfare, feelings on safety (Changes in) Internet , Safety regulations Consumer confidence Living conditions (Changes in) Mobile Technology )&lt;br /&gt;Melengkapi PEST Analysis adalah relatif sederhana dan dapat dikerjakan melalui pelatihan (via workshops) menggunakan teknik wawancara (brainstorming). Penggunaan dari PEST analysis bisa bermacam-macam dari perusahaan dan strategi perencanaan, perencanaan pemasaran, pengembangan usaha dan produksi, dan catatan penelitian (company and strategic planning, marketing planning, business and product development, dan research reports.)&lt;br /&gt;Varian dari PEST Analysis selalu seperti SLEPT Analysis (plus Legal) or the STEEPLE Analysis: Social/demographic (sosial/kependudukan), Technological(teknologi), Economic(ekonomi), Environmental(lingkungan)/  natural(alam) , Political(politik), Legal (hukum) dan Ethical factors(factor etik). Juga Geographical factors (factor geografi) adalah signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4 Marketing Mix (Bauran Pemasaran)&lt;br /&gt;Menggambarkan model Marketing Mix (juga dikenal dengan 4 P dapat digunakan oleh tenaga marketing merupakan alat yang banyak digunakan dalam strategi pemasaran. Marketing managers (manajer pemasaran) menggunakan metode ini untuk menggerakkan atau mendorong secara optimal dari target yang telah ditentukan agar tercapai dari berbagai variables yang dijalankan. Adalah penting memahami prinsip-prinsip Marketing Mix (bauran kebijakan) sebagai variabel kontrol. Marketing Mix (baurna kebijakan) disesuaikan dengan dasar frekuensi pertemuan dibutuhkan untuk mengubah sejumlah target dan lingkungan pemasaran yang treus bergerak secara dinamis.&lt;br /&gt;1.Product(barang)&lt;br /&gt;Sejarahnya, pemikirannya adalah produksi barang akan sendirinya meskipun adalah prosduk yang kurang baik setiap hari lebih tinggi dalam pasar kompetitif. Plus adalah berupa hukum yang dibawa oleh pelanggan lebih baik untuk dikirim produk kembali yang jelek tersebut. Berbagai macam pertanyaan dari barang akan bekerja pada organisasi yang diciptakan yang dibutuhkan konsumen. Mendefinisikan karakteristik dari produk atau jasa yang dilihat dan dibutuhkan pelanggan. Memfungsikan ; Quality (kualitas); Appearance; Packaging(kemasan); Brand (merek); Service(jasa); Support(pendukung); dan Warranty(garansi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Price (Harga)&lt;br /&gt;Berapa harga yang diinginkan pelanggan untuk dibayar harus dipertimbangkan. Disini terdiri dari strategi harga tidak menjadi masalah. Kejadian jika anda memilih tidak menjawab hanya uang untuk barang dan jasa, anda harus merealisasikan bahwa sebuah keputusan penting dan bagian dari stategi harga (pricing strategy). Meskipun harga pesaing adlah lebih lama dipilih, pelanggan selalu kelihatan sensitive untuk potongan harga dan harga kusus. Price (harga) juga memiliki sisi irasional, tidak selalu harga mahal barang nya baik. Persaingan Permanen dari harga dari berbagai macam perusahaan tidaklah sangat dekat dengan sensitifitasnya. Daftar Harga berupa Discounts(potongan); Financing(keuangan) ; Leasing Options; dan Allowances.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Place (Tempat)&lt;br /&gt;Kemampuan untuk memilih tempat yang tepat, seperti waktu yang tepat, dalam jumlah yang tepat. Barang akan berubah nilainya di tempat yang berbeda. Seperti internet dan telefon genggam. Lokasi, Logistik; anggota jaringan; Jalur motivasi, Pasar, Tingkat pelayanan, Internet, dan Mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Promotion (Promosi)&lt;br /&gt;Bagaimana memilih target kelompok dalam organisasi dan produksinya. Mengeluarkan semua kekuatan senjata tempur pemasaran yaitu advertising (pengiklanan), selling(penjualan), sales promotions(propaganda penjualan), Direct Marketing (penjualan langsung), Public Relations(kehumasan), dan lain-lain. Sisi lain 3 P memiliki kelemahan dari pengertiannya pasar saat ini , Promosi menjadi lebih penting Promosi untuk memfokuskan diri pada Advertising(pengiklanan) ; Public Relations(kehumasan) ; Message(pesanan); Direct Sales(penjualan langsung); Sales(penjualan); Media(media); dan Budget(penganggaran). &lt;br /&gt;Fungsi dari bauran pemasaran membantu mengembangkan bauran tidak hanya kepuasan dan kebutuhan pelanggan dengan target pasar, tetapi keterkaitan untuk memaksimalkan kinerja organisasi. Yang memasukkan berbagai bagian sejumlah dari Promosi untuk 4P  sampai 5P dalam model Marketing Mix(bauran kebijakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5 Competitive Position (Posisi Persaingan)&lt;br /&gt;Menggambarkan Posisi persaingan dari tingkat relatif dominan sebuah perusahaan dalam pasar membandingkan dengan kompetitor. Contohnya , Sebuah perusahaan memiliki target sebagai pemimpin pasar (market leader), atau tumbuh dari posisi ketiga menjadi dua, dalam pasar untuk penjualan pisang.&lt;br /&gt;Juga, bisa diindikasikan dalam tingkat pasar sebagai market leader, challenger, follower atau niche player. Atau mengekspresikan prosentase pangsa pasar.&lt;br /&gt;3.6 Management Berdasarakan Sasaran. (MBO)&lt;br /&gt;Deskripsi MBO menerangkan secar obyektif dari setiap tenaga kerja dan membandingkan dan langsung selalu menggambarkan kineyang obyektif yang diatur. Peningkatan kinerja organisasional dengan menerapkan sasaran organisasi dengan obyektif dari subordinat melalui Organisasi. Idealya, tenaga kerja memiliki kekuatan yang memasuk diidentifikasi secara obyektif, tepat dan lengkap, dan sebagainya.&lt;br /&gt;MBO memasukkan trak dari proses dan hasil yang diperoleh secara obyektif. Management by Objectives pertama kali dikenalkan oleh Peter Drucker (1954) dalam bukunya berjudul “The practice of Management/manajemen dalan Praktek”.&lt;br /&gt;Prinsip Management by Objectives (manajemen berdasarakan sasaran) adalah :&lt;br /&gt;Melalui tujuan organisasi (Cascading of organizational goals and objectives), Spesifikasi sasaran bagi anggota (Specific objectives for each member), membuat keputusan yang partisipatif (Participative decision making), periode waktu eksplisit (Explicit time period), dan evaluasi kinerja dan menghasilkan umpan balik (Performance evaluation and provide feedback).&lt;br /&gt;Management by Objectives (manajemen berdasrkan sasaran) juga mengitruduksi metode SMART untuk mengecek validitas dan obyektifitas. Yaitu : kusus (Specific), terukur (Measurable), prestasi (Achievable), nyata (Realistic), dan hubungan waktu (Time-related).&lt;br /&gt;Tahun 1990-an , Peter Drucker mengambil pengaruh dari metode manajemen organisasi kedalam perspektif, dimana ia berkata “It’s just another tool. It is not the great cure for management inefficiency. Management by Objectives works if you know the objectives, 90% of the time you don’t.” (tidak hanya satu-satunya alat. Yang tidak lebih besar untuk manajemn yang tidak efisien. Manajemen berdasarkan sasaran bekerja jika kita tahu sasarannya, 90% dari waktu bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gambaran Umum dan Pembahasan&lt;br /&gt;4.1 Gambaran Umum tentang AXIS&lt;br /&gt;PT Natrindo Telepon Seluler selaku pemegang merek AXIS merupakan operator penyedia layanan seluler GSM dan 3G di Indonesia yang menawarkan layanan komunikasi yang inovatif dan ekonomis. AXIS mulai beroperasi di Jawa dan Sumatera, dan saat ini sedang gencar mengembangkan jaringan 2G dan 3G-nya ke beberapa wilayah lain di Indonesia.&lt;br /&gt;Logo AXIS mencerminkan aspirasi yang melambangkan kemajuan dan perubahan. Tekad AXIS adalah agar seluruh pelanggan dapat menikmati manfaat penuh dari layanan komunikasi bergerak untuk meningkatkan kinerja dalam melakukan aktivitas sehari-hari.&lt;br /&gt;AXIS didukung oleh dua operator terkemuka di Asia: yaitu Saudi Telecom Company, penyedia layanan telekomunikasi nasional Arab Saudi; dan Maxis Communications Berhad, penyedia layanan telekomunikasi terbesar di Malaysia. Kedua investor utama AXIS bertekad memberikan kontribusi penuh bagi pengembangan industri telekomunikasi di Indonesia.&lt;br /&gt;AXIS yakin bahwa yang terpenting bukan hanya “apa yang bisa di lakukan” tetapi juga “bagaimana melakukannya”. Tekad untuk selalu mengutamakan tanggung jawab dalam pekerjaan kami. Dimana pun berada, kami berkewajiban untuk menjalankan usaha dengan integritas, seperti yang tertera dalam Code of Conduct (kode etik) dan nilai-nilai perusahaan kami.&lt;br /&gt;AXIS bangga menjadi sebuah korporasi yang bertanggung jawab. Tanggung jawab sosial perusahaan ini melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk masyarakat luas dan komunitas setempat. AXIS berkomitmen untuk membantu meningkatkan kehidupan masyarakat dan mendukung cita-cita pemerintah untuk kemajuan industri telekomunikasi di Indonesia.&lt;br /&gt;AXIS didukung oleh lebih dari 400 karyawan yang dipimpin oleh tim profesional yang berpengalaman. Keinginannya adalah menjadi organisasi yang menarik dan dinamis. Organisasi yang menciptakan lingkungan kerja yang unik, memungkinkan profesional muda di dalamnya untuk mengembangkan diri dalam lingkungan yang mengutamakan gairah, inspirasi, akuntabilitas, kecepatan dalam bekerja, dan memiliki motivasi tinggi (SMART).&lt;br /&gt;Komitmen perusahaan untuk menjalankan seluruh aktifitas dengan penuh tanggung jawab dan tidak lupa untuk selalu memiliki semangat tinggi. Dimanapun mereka berada, obligasi mereka untuk menjalankan bisnis dengan penuh integritas dan bertindak dalam Perturan dan nilai-nilai korporasi.&lt;br /&gt;4.2 Tujuan dan Visi Perusahaan&lt;br /&gt;Tujuan utama AXIS adalah untuk menciptakan nilai lebih bagi para pemilik saham, pelanggan dan mitra mereka pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kerja Keras mereka untuk dapat menjadi kekuatan pendorong bagi penciptaan, menyederhanaan dan perkenalan komunikasi bergerak dan solusi-solusi kandungan seluler ke pasar.&lt;br /&gt;Merek AXIS, mengartikulasikan ambisi perusahaan dan Logo mereka adalah simbol dari pergerakan dan perubahan, evolusi tanpa henti AXIS guna lebih mendukung pelanggan Untuk mendapatkan keuntungan penuh dari layanan komunikasi bergerak dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;AXIS ingin agar para pelanggan dengan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, kapanpun mereka menginginkannya. AXIS akan menepati janji dan menghantarkan apa yang telah disebutkan. AXIS akan terus menerus memberikan inovasi dalam menyampaikan ide-ide segar.&lt;br /&gt;4.3 Tata Kelola Perusahaan&lt;br /&gt;AXIS beranggapan peraturan perusahaan yang baik merupakan alat penting agar dapat mencapai visi dan misi strategis perusahaan, mentaati nilai-nilai mereka dan untuk menjaga budaya perusahaan yang baik.&lt;br /&gt;Peraturan dan ketentuan perusahaan meliputi keterbukaan dan transparansi kepada para pemegang saham, manajemen dan juga pihak-pihak lain yang berkepentingan seperti karyawan, pembuat regulasi, pelanggan, para vendor dan supplier, pihak pemerintah yang berwenang dan masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;Secara berkala mereka melihat dan menilai kembali perkembangan peraturan dan ketentuan perusahan, dan mengubah peraturan kami sesuai dengan waktu dan kondisi yang berlaku. AXIS mentaati dan mengikuti semua peraturan dan regulasi yang berlaku di Indonesia.&lt;br /&gt;4.4 Budaya dan Kode Etik Perusahaan&lt;br /&gt;Mereka beranggapan bahwa Etika dan Perilaku perusahaan merupakan peta tingkat tinggi yang dirancang untuk mengorientasikan seluruh karyawan perusahaan. Ini mempromosikan nilai cita-cita perusahaan yang mereka bawa ke pekerjaan, dan mendiskusikan perilaku yang mereka tentang atau larang. Peraturan perusahaan, petunjuk dan kegiatan memberi tambahan pada prinsip-prinsip ini.Menyediakan dengan rinci, apa yang mereka butuhkan dalam perkerjaan mereka sehari-hari.&lt;br /&gt;Sukses perusahaan tergantung pada kinerja pribadi setiap karyawannya. AXIS harus dapat beradaptasi dan mengimplementasikan nilai standar tertinggi akan perilaku pribadi seperti yang telah tertanam dalam nilai-nilai perusahaan - istimewa, sederhana, mengedepankan manusia lebih dulu dan dapat dipertanggung jawabkan yang mereka upayakan dalam kegiatan sehari-hari. Pada intinya Kode Perilaku Perusahaan mengatur bagaimana mereka dapat menjiwai perilaku dan nilai-nilai tersebut dalam lingkukan pekerjaan, Khususnya dalam bagaimana kita menggambarkan perusahaan dan berhubungan dengan rekan sesama.&lt;br /&gt;Setelah hadir di Surabaya dan Bandung, kini AXIS membuka layanan di Jakarta. AXIS memulai kiprahnya sebagai operator GSM nasional yang mendambakan penawaran harga sederhana, transparan dan bersaing. Penawaran seperti itulah yang akhirnya dijadikan sebagai motto AXIS dengan tagline “GSM yang Baik”. “Penawaran harga yang rumit di pasar sering menimbulkan kebingungan di kalangan pelanggan telepon selular,” ujar Erik Aas, Presiden Direktur AXIS saat peluncuran AXIS di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Erik menambahkan bahwa karena itu, Axis menawarkan kepada pelanggan telekomunikasi di Indonesia sesuatu yang benar-benar baru. Sebagai layanan GSM yang terjangkau, sederhana dan transparan dimana pelanggan dapat mengetahui dengan pasti berapa jumlah uang yang dikeluarkan setiap selesai berkomunikasi.&lt;br /&gt;Dengan optimis, Erik yakin AXIS adalah produk selular yang selama ini dicari oleh pengguna layanan selular di Indonesia. Karena selama ini pelanggan senantiasa dihadapkan pada layanan GSM yang mahal dan pemberlakukan tarif yang membingungkan.&lt;br /&gt;Saud Al-Daweesh, Presiden Komisaris AXIS, mengatakan bahwa kombinasi populasi di Indonesia yang besar dengan tingkat penetrasi telepon selular rendah serta GDP per kapita yang relatif inggi menjadikan Indonesia pasar menjanjikan. “Perkiraan kami, lebih dari 150 juta masyarakat Indonesia masih menunggu layanan GSM yang terjangkau,” tambah Saud Al-Daweesh.&lt;br /&gt;Axis saat ini telah beroperasi di Jawa Timur dan Jawa Barat yang sekarang merambah Jabodetabek. Pembangungan BTS mencapai jumlah 3.700 unit hingga akhir tahun. Jaringan AXIS akan meliputi Banten, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Bali dan Lombok. AXIS akan menghabiskan satu milyar dolar AS hingga akhir tahun 2008 untuk perluasan jaringan serentak di Jawa dan Sumatera. Axis didukung oleh pemegang saham mayoritas yaitu Saudi Telecom Company dari Arab Saudi dan Maxis Communications dari Malaysia.&lt;br /&gt;4.5 Analisis dan Implementasi Manajemen dan Penyelesaian Kasus&lt;br /&gt;Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh AXIS dalam model SOSTAC :&lt;br /&gt;1. SITUATION (Situasi)&lt;br /&gt;Saat ini penulis sedang menjalani pengamatan terhadap masalah yang dihadapi oleh AXIS dan situasi di dalam AXIS yang berbeda dengan situasi perusahaan ditempat lain, karena memiliki karakteristik tertentu. Lingkungan di AXIS relatif homogen karena terdiri dari sebagian besar pada gerak usaha operator seluler dimana staf pekerja AXIS adalah , marketing dan sebagian kecil dari non anggota pemasaran.Suasana yang terasa di AXIS ini adalah suasana marketing, terasa sekali semangat dan di tuntut untuk mencapai target pemasaran,sehingga bisa dikatakan situasi kondisinya logis tenaga marketing secara langsung ataupun supporting sitem. Sehingga untuk menjadi perhatian , keluasan usaha, cakrawala pengetahuan dalam bidang marketing menjadi hal yang penting.&lt;br /&gt;Analisis SWOT yang adalah :&lt;br /&gt;a.Strength (kekuatan)&lt;br /&gt;AXIS memulai kiprahnya sebagai operator GSM nasional yang mendambakan penawaran harga sederhana, transparan dan bersaing. Penawaran seperti itulah yang akhirnya dijadikan sebagai motto AXIS dengan tagline “GSM yang Baik”. “Penawaran harga yang rumit di pasar sering menimbulkan kebingungan di kalangan pelanggan telepon selular,” ujar Erik Aas, Presiden Direktur AXIS saat peluncuran AXIS di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Erik menambahkan bahwa karena itu, Axis menawarkan kepada pelanggan telekomunikasi di Indonesia sesuatu yang benar-benar baru. Sebagai layanan GSM yang terjangkau, sederhana dan transparan dimana pelanggan dapat mengetahui dengan pasti berapa jumlah uang yang dikeluargkan setiap selesai berkomunikasi.&lt;br /&gt;Dengan optimis, Erik yakin AXIS adalah produk selular yang selama ini dicari oleh pengguna layanan selular di Indonesia. Karena selama ini pelanggan senantiasa dihadapkan pada layanan GSM yang mahal dan pemberlakukan tarif yang membingungkan.&lt;br /&gt;Saud Al-Daweesh, Presiden Komisaris AXIS, mengatakan bahwa kombinasi populasi di Indonesia yang besar dengan tingkat penetrasi telepon selular rendah serta GDP per kapita yang relatif tinggi menjadikan Indonesia pasar menjanjikan. “Perkiraan kami, lebih dari 150 juta masyarakat Indonesia masih menunggu layanan GSM yang terjangkau,” tambah Saud Al-Daweesh.&lt;br /&gt;Axis saat ini telah beroperasi di Jawa TImur dan Jawa Barat yang sekarang merambah Jabodetabek. Pembangungan BTS mencapai jumlah 3.700 unit hingga akhir tahun. Jaringan AXIS akan meliputi Banten, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Bali dan Lombok. AXIS akan menghabiskan satu milyar dolar AS hingga akhir tahun 2008 untuk perluasan jaringan serentak di Jawa dan Sumatera. Axis didukung oleh pemegang saham mayoritas yaitu Saudi Telecom Company dari Arab Saudi dan Maxis Communications dari Malaysia.&lt;br /&gt;Akankah Axis bakal terus menjadi “GSM yang Baik” ataukah ikut terjun ke arena perang tarif selular yang membingungkan. &lt;br /&gt;Kekuatan AXIS adalah telah terbangun kesan di dalam masyarakat dan pelanggan bahwa AXIS adalah Operatot seluler yang baik.&lt;br /&gt;b.Weaknest (kelemahan)&lt;br /&gt;Tarif per detik saat ini sedang gencar ditawarkan oleh semua operator GSM. XL lewat Kartu Bebas, Telkomsel lewat kartu As dan Simpati dan Indosat dengan IM3. Kini, Mentari pun mulai bermain dengan tarif per detik. Namun, konsepnya seperti Simpati yaitu pelanggan diberi dua pilihan yaitu tarif per detik dan tarif per 30 detik. Program Mentari dengan tarif per detik yang dinamai Mentari Sakti ini merupakan kelanjutan dari program Mentari lainnya yang telah dikenal masyarakat sebelumnya.&lt;br /&gt;Dengan program ini, pelanggan Mentari bisa berhemat karena dapat melakukan percakapan dengan tarif murah dari detik pertama. Tarif yang berlaku untuk Mentari Sakti adalah Rp. 5/detik berlaku pukul 23.00 - 17.00 dan Rp. 20/detik berlaku pukul 17.00-23.00. Program promosi ini berlaku mulai 9 April hingga 30 Juni 2008.&lt;br /&gt;“Seperti telah diketahi bahwa sebelumnya Indosat memperkenalkan tarif per detik yang murah pada kartu IM3. Sekarang giliran pelanggan Mentari juga mendapatkan kesempatan yang sama. IM3 lebih cocok untuk pengguna yang menelepon ke sesama operator dalam jangka waktu yang panjang, sedangkan Mentari cocok bagi pengguna yang sering menelepon ke semua operator manapun setiap saat,” ujar Guntur S. Siboro, Direktur Marketing Indosat, pada peluncuran Mentari Sakti di Gedung Indosat, Jakarta (14/4).&lt;br /&gt;Selain meluncurkan program Mentari Sakti, Indosat juga mengeluarkan tarif terbaru untuk kartu pascabayar Matrix, yaitu tarif Rp. 15 per detik berlaku ke semua operator. Seperti halnya Mentari, program Matrix ini juga ada dua pilihan yaitu tarif per 15 detik dan tarif per detik.&lt;br /&gt;Tarif yang ditawarkan oleh semua operator telekomunikasi di Indonesia semakin menarik, namun itu saja belum cukup karena kualitas layanan juga harus semakin ditingkatkan. Akhirnya pelangganlah yang akan menentukan operator mana yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan. (Bambang, 2008)&lt;br /&gt;Di jajaran operator GSM, XL bisa dibilang paling akhir dalam menurunkan tarif dasar layanan. Kebijakan baru ini sebagai tindak lanjut atas penurunan tarif interkoneksi oleh pemerintah pada 1 April 2008. Menurut informasi dari XL, tarif dasar yang baru turun dari 2% hingga 74%. Penurunan berlaku di hampir semua layanan percakapan (XL Xplor, XL Bebas, dan XL Jempol). Nilai 74 persen tidak jauh beda dengan operator Indosat yang resmi menurunkan tarif dasar hingga 73 persen beberapa waktu sebelumnya. Penurunan tarif dasar yang jaraknya tidak terpaut jauh dan nilai yang tidak jauh berbeda mengesankan bahwa dua operator ini saling berkompetisi terang-terangan.&lt;br /&gt;”Kami sangat mendukung kebijakan pemerintah yang telah menurunkan tarif interkoneksi dengan tujuan agar tarif telekomunikasi bisa mengikutinya. Penurunan tarif XL ini adalah komitmen kami untuk mendukung tersedianya tarif murah telekomunikasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat,” tandas Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi, pada keterangan tertulis yang diterima Biskom.&lt;br /&gt;Dalam tarif dasar untuk layanan percakapan yang baru, XL menerapkan penyederhanaan tarif agar lebih mudah dimengerti oleh masyarakat. XL hanya menerapkan dua macam tarif untuk setiap jenis produknya, yaitu tarif ke sesama XL (on-net) dan tarif ke operator lain (off-net) tanpa mengenal jarak (tanpa zona lokal, tetangga, seberang).&lt;br /&gt;Mengikuti penyesuaian tarif interkoneksi, XL menerapkan tarif baru, yaitu untuk tarif ke sesama XL produk prabayar Bebas menjadi Rp 375/30 detik. Untuk tarif ke operator lain dan PSTN tarif turun menjadi Rp 750/ 30 detik.&lt;br /&gt;Sementara itu, untuk layanan prabayar Jempol, untuk tarif ke sesama XL tarif dasar tahun 2008 sama dengan tarif sebelumnya yaitu Rp 500/30 detik. Untuk tarif ke operator lain dan PSTN tarif turun menjadi Rp 750 / 30 detik.&lt;br /&gt;Untuk layanan pasca bayar Xplor, tarif ke sesama XL menjadi Rp 375 / 30 detik. Sementara itu, ke operator lain menjadi Rp 750/ 30 detik. Untuk ke PSTN menjadi Rp 750 / 30 detik.&lt;br /&gt;Untuk SMS akan ada layanan SMS baru bagi pengguna prabayar dan pasca bayar XL dengan efektif tarif Rp 150/SMS ke semua operator. Tarif baru SMS ini akan mulai berlaku sejak 19 April 2008.&lt;br /&gt;Meskipun tarif dasar baru XL ini dirilis setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan penurunan tarif interkoneksi, XL mengklaim sudah jauh-jauh hari menurunkan tarifnya melalui program tarif promosi. Tarif murah XL mendapatkan pengakuan dari analis keuangan internasional Morgan Stanley yang menyatakan XL memiliki nilai pendapatan per menit (revenue per minute clean) termurah ke-2 di kawasan Asia. (Bambang, 2008)&lt;br /&gt;Kelemahan AXIS adalah menghadapi pesaing-pesaing di atas adalah dengan persaingan harga yang cukup ketat, merupakan pemain lama yang memiliki, akses pelanggan dan jaringan yang cukup kuat. Sedangkan Indosat dan telkomsel adalah perusahaan BUMN yang memiliki kekuatan yang cukup mampu bertahan dan memiliki sebuah kemapanan secara keuangan dan politik.Sedangkan AXIs merupakan perusahaan swasta yang membutuhkan semangat perjuangan dengan kemandirian yang kuat. &lt;br /&gt;c.Oportunity (Peluang)&lt;br /&gt;Bertambah lagi operator telekomunikasi baru yang akan semakin menambah ramainya industri telekomunikasi tanah air yaitu AXIS. PT. Natrindo Telepon Selular merupakan pemegang merek AXIS yang memperoleh lisensi GSM dan 3G. AXIS membuka pusat layanan konsumen pertamanya di Surabaya yang diberi nama AXIS Center. Menurut informasi di situs resminya, AXIS memperkenalkan struktur tarif yang sederhana bagi para pelanggannya. Tarif sederhana tersebut berlaku saat pertama kali pelanggan menggunakan layanan.&lt;br /&gt;Dalam skema tarifnya, Axis mengenakan tarif ke pelanggan Rp 60 per SMS berlaku ke seluruh operator seluler di Indonesia. AXIS juga mengenakan tariff Rp 60 per menit untuk panggilan ke sesama AXIS, serta Rp 600 per menit untuk panggilan lokal keoperator lain. Pengenaan tarif ini bersifat tetap, mulai dari menit pertama panggilan tanpa ada syarat dan ketentuan yang tersembunyi, dan dibebankan per 15 detik.&lt;br /&gt;“Kami yakin konsumen akan mendapatkan manfaat dari tarif yang murah dan menghargai struktur tarif kami yang transparan dan sederhana,” kata Erik Aas, Presiden Direktur Axis saat peresmian. Erik mengklaim bahwa tarif SMS Axis merupakan yang termurah saat ini.&lt;br /&gt;Saat ini cakupan jangkauan AXIS terbentang mulai dari Surabaya sampai Magetan dan dari Lamongan sampai Malang, dengan didukung oleh 300 BTS. Axis secara secara agresif mengembangkan jaringan Axis dan akan memiliki lebih dari 1000 BTS di wilayah Jawa Timur sampai akhir 2008. Untuk skala nasional, tahun ini Axis menargetkan membangun sekitar 3000 BTS. Pengembangan wilayah secara geografis merupakan peluang yang cukup baik bagi AXIS, dimana jaringan belum di jangkau oleh operator mapan merupakan sisi peluang yang dapat ditempuh AXIS karena luasnya jaringan sangat membantu pemasaran dalam memasarkan produknya. Mulai merambahnya dan dikenalnya alat komunikasi nirkabel di kalangan masyarakat sampai pelosok-pelosok adalah peluang yang cukup menjanjikan bagi AXIS.&lt;br /&gt;Sebagai bentuk pengakuan dari investasinya di Indonesia, AXIS telah memperoleh sertifikat Uji Layak Operasi(ULO) untuk seluruh wilayah di Pulau Jawa. Pengembangan berikutnya adalah diwilayah Sumatera bagian Utara, Bali dan Lombok. Uji layak atau feasibility dibutuhkan usaha untuk menjapai sasaran yang tepat dalam melakukan investasi, sehingga investasi dapat efektif dalam mencapai sasaran pelanggan dan pangsa pasar. Besarnya jumlah penduduk dan penyebaran yang tidak merata merupakan kesempatan dan peluang usaha yang baik dalam membangun jaringan baru bagi AXIS. &lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu Erik juga memaparkan komitmen investasi jangka panjang AXIS. “Dengan dukungan dua investor utama, Saudi Telecom Company (STC) dan Maxis, kami berkomitmen untuk mengembangkan sektor telekomunikasi di Indonesia. Investasi kami akan membawa nilai tambah bagi perekonomian Indonesia dan yang lebih penting akan menyediakan kesempatan kerja langsung maupun uang tidak langsung dalam jumlah yang signifikan,” lanjut Erik. Akankah Axis bisa bersaing memperebutkan kue telekomunikasi dengan operator yang sudah ada.  (Bambang, 2008)&lt;br /&gt;AXIS memiliki peluang untuk berkembang di Indonesia bagian timur, karena Indonesia Timur memiliki peluang yang baik dalam Perluasan pasar GSM di Indonesia. Lebih jauh lagi bahwa peluang lain berkembang dengan konsumen yang makin cerdas maka merek sudah tidak lagi menjadi pilihan loyalitas pelanggan, Tabloid Pulsa bulan November 2008 menerangkan bahwa merek bukan lagi factor yang cukup mempengaruhi loyalitas pelanggan, ternyatya pelanggan lebih memperhatikan masalah harga, dan Fitur-Fitur yang dimiliki. Bahkan Fitur hiburan seperti MP3 cukup diminati oleh pelanggan. Maka kerjasama denga Sony Ericson merupakan sebuah terobosan besar, dan kemampuan bekerjasama dengan perusahaan produsen handset merupakan sebuah pelauang usaha yang positif. Artinya peluang merekrut konsumen dan meningkatkan loyalitas pelanggan dapat dilakukan dengan meningkatkan fitur atau atribut seluler yang mampu memenuhi keinginan pelanggan. Karena fitur cukup menjadikan keputusan pelanggan untuk mengambil keputusan untuk bekerjasama dengan perusahaan dan menjadi konsumen yang loyal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.Treath (Ancaman)&lt;br /&gt;Firma riset pasar komunikasi melaporkan bahwa jumlah pelanggan seluler di seluruh dunia adalah tiga kali lipat daripada pelanggan telepon kabel. Selama 2007, jumlah pelanggan seluler tercatat 3,3 miliar sementara pelanggan telepon rumahan sebanyak 1,1 miliar. Jumlah pelanggan seluler tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan  cukup pesat, terutama untuk kawasan BRIC (Brazil, Rusia, India, dan China).&lt;br /&gt;Laporan Infonetics juga menunjukkan jumlah pelanggan seluler meningkat 31 persen di tahun 2007 dibanding 2006, sementara pelanggan telepon kabel hanya mengalami kenaikan sebesar 5 persen.&lt;br /&gt;“Para pelanggan seluler di Brazil, Rusia, dan China, berpindah dari jaringan 2G dan 2,5G ke  jaringan 3G mulai tahun 2008. Pelanggan GSM kini mencapai lebih dari dua digit angka di negara-negara BRIC,” tutur Stéphane Téral, analis di Infonetics Research.&lt;br /&gt;Laporan lainnya menyebutkan bahwa Jumlah pelanggan seluler di seluruh dunia mencapai 5,2 miliar pada 2011. Pelanggan seluler broadband diperkirakan mengalami kenaikan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 104 persen dari 2007 hingga 2011. Pada 2011, sekira 1 pelanggan seluler broadband untuk setiap 4 pelanggan telepon kabel broadband. Jalur-jalur akses ditolak dan penetrasi broadband meningkat, memenuhi penetrasi pelanggan VoIP. Karibea dan Amerika Latin merupakan satu-satunya kawasan yang mengalami kenaikan jumlah pelanggan telepon kabel WiMAX menjadi alternatif bagi seluler 3G dan kabel broadband.Kesempatan cukup luas bagi AXIS untuk mengembangkan diri yaitu dengan jumlah pelanggan niirkabel tiga kali pelanggan kabel.&lt;br /&gt;Pangsa pasar yang menjanjikan menunjukkan bahwa berbagai pesaing akan muncul di dalam pengembangan usaha telepon nirkabel ini. Terutama kemampuan daerah untuk membangun usaha milik daerah menjadikan ancaman baru terutama kebijakan reformasi di bidang otonomi daerah membuka peluang untuk itu. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa muncul operator local tak dapat dihindarkan lagi. Perkembangan teknologi VOIP merupakan ancaman besar karena merupakan peningkatan layanan melalui VOIP akan murah karena system kerjanya merupakan inovasi HT yang dapat memiliki jangkauan panjang dan bebasa biaya, hanya dengan memasang ripiter saja dan menggunakan warles dengan IP tertentu. Inovasi teknoligi invormasi cukup luar biasa dan besar dengan peningkatan kualitas masyarkat dalam menggunakan informasi dan telekomunikasi jarak jauh yang semakin mereka butuhkan. &lt;br /&gt;2. OBJECTIVES (Sasaran)&lt;br /&gt;Dengan melihat situasi yang terasa sekali nuansa pemasaran,tentunya pengaruh untuk turut serta dalam kegiatan menambah dan meningkatkan target yang dibutuhkan cukup tinggi, dan ingin menjadi orang pemasaran yang pintar, berpikiran logis, kritis, analitis dan berwawasan luas. AXIS ingin menanamkan image diri sebagai orang operator seluler yang memiliki jatidiri, karakter, tanggung jawab, visi dan misi untuk melayani masyarakat yang optimal dalam pelayanan komunukasi terutama dengan perusahaan telephon seluler dengan melakukan berbagai macam terobosan dan kerja sama .Sehingga jika orang lain atau masyarakat melihat AXIS ,mereka menganggap AXIS sebagai calon pemimpin perusahaan Seluler terkemuka di Indonesia kelak . Diharapakan oleh AXIS,dengan image AXIS yang demikian melekat dalam ingatan orang-orang, sehingga kelak, jika sudah pada waktunya nanti, hal ini akan membantu dalam loyalitas pelanggan AXIS, karena AXIS dianggap sebagai perusahaan yang memiliki kredibilitas yang tinggi, bisa memimpin perusahaan operator seluler lainnya. Hal ini membuat AXIS akan di perhitungkan dalam bursa telephon seluler kelak.&lt;br /&gt;Bertambah lagi operator telekomunikasi baru yang akan semakin menambah ramainya industri telekomunikasi tanah air yaitu AXIS. PT. Natrindo Telepon Selular merupakan pemegang merek AXIS yang memperoleh lisensi GSM dan 3G. AXIS membuka pusat layanan konsumen pertamanya di Surabaya yang diberi nama AXIS Center. Menurut informasi di situs resminya, AXIS memperkenalkan struktur tarif yang sederhana bagi para pelanggannya. Tarif sederhana tersebut berlaku saat pertama kali pelanggan menggunakan layanan.&lt;br /&gt;Dalam skema tarifnya, Axis mengenakan tarif ke pelanggan Rp 60 per SMS berlaku ke seluruh operator seluler di Indonesia. AXIS juga mengenakan tariff Rp 60 per menit untuk panggilan ke sesama AXIS, serta Rp 600 per menit untuk panggilan lokal keoperator lain. Pengenaan tarif ini bersifat tetap, mulai dari menit pertama panggilan tanpa ada syarat dan ketentuan yang tersembunyi, dan dibebankan per 15 detik.&lt;br /&gt;“Kami yakin konsumen akan mendapatkan manfaat dari tarif yang murah dan menghargai struktur tarif kami yang transparan dan simple,” kata Erik Aas, Presiden Direktur Axis saat peresmian. Erik mengklaim bahwa tarif SMS Axis merupakan yang termurah saat ini.&lt;br /&gt;Saat ini cakupan jangkauan Axis terbentang mulai dari Surabaya sampai Magetan dan dari Lamongan sampai Malang, dengan didukung oleh 300 BTS. Axis secara secara agresif mengembangkan jaringan Axis dan akan memiliki lebih dari 1000 BTS di wilayah Jawa Timur sampai akhir 2008. Untuk skala nasional, tahun ini Axis menargetkan membangun sekitar 3000 BTS.&lt;br /&gt;Sebagai bentuk pengakuan dari investasinya di Indonesia, AXIS telah memperoleh sertifikat Uji Layak Operasi(ULO) untuk seluruh wilayah di Pulau Jawa. Pengembangan berikutnya adalah diwilayah Sumatera bagian Utara, Bali dan Lombok.&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu Erik juga memaparkan komitmen investasi jangka panjang AXIS. “Dengan dukungan dua investor utama, Saudi Telecom Company (STC) dan Maxis, kami berkomitmen untuk mengembangkan sektor telekomunikasi di Indonesia. Investasi kami akan membawa nilai tambah bagi perekonomian Indonesia dan yang lebih penting akan menyediakan kesempatan kerja langsung maupun uang tidak langsung dalam jumlah yang signifikan,” lanjut Erik. Akankah Axis bisa bersaing memperebutkan kue telekomunikasi dengan operator yang sudah ada. (Bambang, 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasarannya adalah sektor telekomunikasi seperti hanya perusahaan Seluler lainnya. AXIS telah menerapkan penggunaan 5 P dan SMART dalam menjalankan kegiatannya. Hal ini menjelaskan penerapan Manajemen berdasarkan Sasaran.&lt;br /&gt;Mengejar pangsa pasar Indonesia bagian timur merupakan terobosan sasaran yang tepat, karena pengusaan operator mapan dalam hal ini adalah XL, Telkomsel, dan Indosat sudah mengusai sebagian besar Indonesia bagian barat. Sasaran berikutnya adalah eksekutif muda yang baru mempunyai daya beli dan menikmati pendapatan mereka dalam penggunaan seluler, maka harga yang murah menjadi pilihan mereka. Komunitas mereka lebih luas dan masyarakat komunitas cukup efektif untuk menjadi sasaran. Terutama komunitas internet yang tergabung dalam face book dan frienster,. Sehingga perlu membangun komunitas dengan memberikan stimulus, fasilitas layanan dan insentif bagi mereka.&lt;br /&gt;3. STRATEGY&lt;br /&gt;AXIS berusaha menarik perhatian dan simpati public atau masayarakat dengan berbagai isu dan pemberitaan serta berangkat dari sesuatu yang dikesankan  negative menjadi positif. Merupakan perjuangan yang berat. Caranya dengan aktif dalam kegiatan iklan dan pemasaran dengan berbagai macam strategi menarik minat publik untuk menjadi pemakai operator seluler AXIS, aktif membuka diri dari berbagai pertanyaan dengan mebuat situs WEB dalam internet, berdiskusi dengan publik dan pelanggan, aktif dalam menaggapi saran-saran publik.&lt;br /&gt;Web AXIS aktif bergaul,berkomunikasi dan berdiskusi dengan semua lapisan masyarakat atau public tanpa mengenal suku, daerah pengiriman ataupun usia dengan berkomunikasi yang baik, yang menampilkan AXIS mempunyai jati diri, tanggung jawab dan rela melayani semuanya demi kepentingan bersama.&lt;br /&gt;AXIS membuka pusat layanan konsumen pertamanya di Surabaya yang diberi nama AXIS Center. Menurut informasi di situs resminya, AXIS memperkenalkan struktur tarif yang sederhana bagi para pelanggannya. Tarif sederhana tersebut berlaku saat pertama kali pelanggan menggunakan layanan.&lt;br /&gt;Dalam skema tarifnya, Axis mengenakan tarif ke pelanggan Rp 60 per SMS berlaku ke seluruh operator seluler di Indonesia. AXIS juga mengenakan tariff Rp 60 per menit untuk panggilan ke sesama AXIS, serta Rp 600 per menit untuk panggilan lokal keoperator lain. Pengenaan tarif ini bersifat tetap, mulai dari menit pertama panggilan tanpa ada syarat dan ketentuan yang tersembunyi, dan dibebankan per 15 detik.&lt;br /&gt;“Kami yakin konsumen akan mendapatkan manfaat dari tarif yang murah dan menghargai struktur tarif kami yang transparan dan simple,” kata Erik Aas, Presiden Direktur Axis saat peresmian. Erik mengklaim bahwa tarif SMS Axis merupakan yang termurah saat ini.&lt;br /&gt;Strategi harga dalam bauran kebijakan cukup penting meski bersifat tradisional, namun merupakan sebuah postulat yang tak pernah lekang bahwa konsumen akan menekan biaya semurah-murahnya dalam biaya hidup mereka selama mereka mampu. Karena tariff yang murah akan memberikan peluang konsumen menggunakan dengan lebih efektif dan efisien sebagai pelanggan yang mampu menggunakan dananya untuk kegiatan dengan pendapatan terbatas dan kebutuhan hidup yang lebih banyak dan bervariasi.&lt;br /&gt;Saat ini cakupan jangkauan Axis terbentang mulai dari Surabaya sampai Magetan dan dari Lamongan sampai Malang, dengan didukung oleh 300 BTS. Axis secara secara agresif mengembangkan jaringan Axis dan akan memiliki lebih dari 1000 BTS di wilayah Jawa Timur sampai akhir 2008. Untuk skala nasional, tahun ini Axis menargetkan membangun sekitar 3000 BTS.&lt;br /&gt;Perluasan jaringan inilah yang menunjukkan bahwa produk dari AXIS mampu menjangkau pelanggan dari mana saja kapan saja dan mampu melayani konsumen yang memiliki mobilitas cukup tinggi. Karena bagi mereka yang mobilitas tinggi dengan kebutuhan informasi yang cepat dan tidak terganggu perluasan jaringan merupakan symbol dari kepercayaan mereka. Dimanapun berada mereka telah dipuaskan  oleh AXIS. Adapun perkembangan investasi bukan hanya di kota besar dan metropolitan saja namun sudah mulai investor melirik Indonesia Timur. Sehingga Indonesia Timur merupan aliran pergeseran manusia yang pada periode-periode sebelumnya mereka terkonsentrasi ke barat. &lt;br /&gt;Sebagai bentuk pengakuan dari investasinya di Indonesia, AXIS telah memperoleh sertifikat Uji Layak Operasi(ULO) untuk seluruh wilayah di Pulau Jawa. Pengembangan berikutnya adalah diwilayah Sumatera bagian Utara, Bali dan Lombok. Sasaran daerah wisatawan baik domestik maupun non domestic cukup menjadikan peluang bisnis komunikasi dan sumber pendapatan yang cukup baik dan memuaskan. Karena wisatawan lebih pada menggunakan keuangan  mereka untuk kepuasan dalam melakukan kegiatan wisata mereka, dan mereka menginginkan pelayanan prima dalam berwisata.  &lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu Erik juga memaparkan komitmen investasi jangka panjang AXIS. “Dengan dukungan dua investor utama, Saudi Telecom Company (STC) dan Maxis, kami berkomitmen untuk mengembangkan sektor telekomunikasi di Indonesia. Investasi kami akan membawa nilai tambah bagi perekonomian Indonesia dan yang lebih penting akan menyediakan kesempatan kerja langsung maupun uang tidak langsung dalam jumlah yang signifikan,” lanjut Erik. Akankah Axis bisa bersaing memperebutkan kue telekomunikasi dengan operator yang sudah ada. (Bambang,2008)&lt;br /&gt;Kebutuhan dana yang cukup besar dan investasi jangka panjang dengan sasaran yang tepat dibutuhkan oleh investor. Maka kepercayaan investor perlu dijaga agar tetap menanamkan investasinya pada AXIS. Hal ini merupakan sebuah tantangan AXIS ke depan bahwa kepercayaan Investor perlu dijaga dan dijamin keutuhannya, sehingga pertumbuhan usaha terus dijaga dengan meningkatkan pelanggan, ifisiensi, provitabilitas yang tinggi dan memiliki pangsa pasar yang luas dan loyal.&lt;br /&gt;Stragi pemasaran di atas dilakukanoleh AXIS dalam mengahdapi berbagai persaingan perusahaan Operator Seluler. Maka perlu kualitas sumber daya manusia dalam bidang pemasaran yang handal yang didukung oleh produk yang handal, promosi yang mendukung, dan harga yang terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. TACTICS&lt;br /&gt;Taktik yang AXIS gunakan adalah berpikir luas,mengadakan hubungan dengan sumber luar agar jaringan dan dukungan luas. Taktik yang lain adalah selalu menjadi nomor satu dari bidang telepon seluler, nilai kepribadian dengan merek yang baik.&lt;br /&gt;Dengan optimis, Erik yakin AXIS adalah produk selular yang selama ini dicari oleh pengguna layanan selular di Indonesia. Karena selama ini pelanggan senantiasa dihadapkan pada layanan GSM yang mahal dan pemberlakukan tarif yang membingungkan. &lt;br /&gt;Saud Al-Daweesh, Presiden Komisaris AXIS, mengatakan bahwa kombinasi populasi di Indonesia yang besar dengan tingkat penetrasi telepon selular rendah serta GDP per kapita yang relatif inggi menjadikan Indonesia pasar menjanjikan. “Perkiraan kami, lebih dari 150 juta masyarakat Indonesia masih menunggu layanan GSM yang terjangkau,” tambah Saud Al-Daweesh.&lt;br /&gt;AXIS saat ini telah beroperasi di Jawa Timur dan Jawa Barat yang sekarang merambah Jabodetabek. Pembangungan BTS mencapai jumlah 3.700 unit hingga akhir tahun. Jaringan AXIS akan meliputi Banten, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Bali dan Lombok. AXIS akan menghabiskan satu milyar dolar AS hingga akhir tahun 2008 untuk perluasan jaringan serentak di Jawa dan Sumatera. Axis didukung oleh pemegang saham mayoritas yaitu Saudi Telecom Company dari Arab Saudi dan Maxis Communications dari Malaysia. “Akankah Axis bakal terus menjadi “GSM yang Baik” ataukah ikut terjun ke arena perang tarif selular yang membingungkan? “Kita tunggu saja. (Bambang, 2008)&lt;br /&gt;Akankah AXIS tetap hanya dengan strategi perang harga, namun AXIS seperti halnya penjelasan di atas mengembangkan berbagai macam strategi. Kiranya taktik perang harga tidak selamanya baik dan benar karena akan memunculkan boomerang bagi perusahaan. Namun dukungan pelayanan, pros\duksi, jaringan dan fasilitas layanan itu harus ditingkatkan dan dipertahankan, agar pelanggan hanya tidak memperoleh harga murah tapi pelayanan yang buruk. Pengiklanan yang jujur dan baik penting sehingga tidak melahirkan kekecewaan di kalangan konsumen.&lt;br /&gt;5. ACTION (Tindakan)&lt;br /&gt;Action (tindakan) yang dilaksanakan AXIS adalah belajar sungguh-sungguh, membaca banyak keinginan publik untuk menambah ilmu, aktif mengikuti perkembangan atribut AXIS, rela bekerja keras demi kepentingan bersama.&lt;br /&gt;Tindakan yang dilakukan adalah Dengan optimis, Erik yakin AXIS adalah produk selular yang selama ini dicari oleh pengguna layanan selular di Indonesia. Karena selama ini pelanggan senantiasa dihadapkan pada layanan GSM yang mahal dan pemberlakukan tarif yang membingungkan.&lt;br /&gt;Saud Al-Daweesh, Presiden Komisaris AXIS, mengatakan bahwa kombinasi populasi di Indonesia yang besar dengan tingkat penetrasi telepon selular rendah serta GDP per kapita yang relatif inggi menjadikan Indonesia pasar menjanjikan. “Perkiraan kami, lebih dari 150 juta masyarakat Indonesia masih menunggu layanan GSM yang terjangkau,” tambah Saud Al-Daweesh.&lt;br /&gt;Axis saat ini telah beroperasi di Jawa Timur dan Jawa Barat yang sekarang merambah Jabodetabek. Pembangungan BTS mencapai jumlah 3.700 unit hingga akhir tahun. Jaringan AXIS akan meliputi Banten, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Bali dan Lombok. AXIS akan menghabiskan satu milyar dolar AS hingga akhir tahun 2008 untuk perluasan jaringan serentak di Jawa dan Sumatera. Axis didukung oleh pemegang saham mayoritas yaitu Saudi Telecom Company dari Arab Saudi dan Maxis Communications dari Malaysia.&lt;br /&gt;Semua aksi atau tindakan tidak akan berhasil tanpa kerjasama tiap bagian organisasi perusahaan, sehingga kerjasama dari semua bagian cukup dibutuhkan, agar sasaran yang diinginkan dapat tercapai. Tindakan yang tepat sasran, strategi yang matang dan taktik yang jitu cukup dibutuhkan dalam organisasi.&lt;br /&gt;6. CONTROL(Pengawasan)&lt;br /&gt;Mengontrol atau mengawasi semua strategi dan kegiatan yang sudah kita jalankan, dengan mengecek penerimaan image publik yang ada, dengan mengambil sampel acak bertanya tentang tanggapannya dan teknik lainnya untuk menggali kesan mereka tentang AXIS . Perlu adanya riset yang lebih dalam tentang layanan, persepsi pelanggan, persepsi pasar, loyalitas pelanggan dan kekuatan dalam persaingan, karena persaingan mereka cukup bebas dan mendekati bentu sempurna.&lt;br /&gt;Sebagai bentuk pengakuan dari investasinya di Indonesia, AXIS telah memperoleh sertifikat Uji Layak Operasi(ULO). Ketika ditanya mengapa Axis begitu terlambat untuk beroperasi, Erik mengatakan dua pemegang saham utama yaitu Saudi Telecom Company dari Arab Saudi dan Maxis Communication dari Malaysia membutuhkan waktu untuk berkoordinasi dan membangun jaringan infrastruktur dahulu. “Dua perusahaan pemegang saham kita bertemu pada September (2007) dan untuk membangun infrastruktur selama lima bulan di Jawa Timur dan Jawa Barat serta Jabotabek,” kata Erik. &lt;br /&gt;Dia menjelaskan dengan peluncuran secara resmi, Axis mencoba membuktikan kepada regulator bahwa mereka siap dan telah menggunakan frekuensi yang dialokasikannya. &lt;br /&gt;Sebelumnya pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Depkominfo mengingatkan NTS untuk menggunakan pita frekuensi yang dialokasikan kepadanya secara optimal dengan mengirimkan surat surat No. 308/ DJPT.4/KOMINFO/8/2008 tertanggal 29 Februari. &lt;br /&gt;Bila PT NTS (AXIS) tidak juga menggunakan frekuensi tersebut dengan tidak segera melakukan operasional layanan, pemerintah telah menyiapkan dua opsi penarikan lisensi frekuensi. “Dua opsi itu adalah menawarkan frekuensi tersebut kepada operator yang berminat dengan pola menawarkan sesuai harga yang berlaku di pasar atau melakukan tender ulang dalam bentuk lelang,” kata Dirjen Postel Depkominfo, Basuki Yusuf Iskandar, usai Rapat Dengar Pendapat dengan DPR-RI, di Jakarta, Senin (17/3).&lt;br /&gt;Operator GSM, Axis mengklaim telah diaktivasi dua juta pelanggan pada minggu lalu dan sekarang sudah lebih dari dua juta orang, kata pimpinan komunikasi perusahaan Anita Avianty di Jakarta. Tiga wilayah yang memberikan kontribusi besar terhadap pencapaian dua juta aktivasi tersebut yaitu Jabotabek, Sumatra dan Jawa Timur. Dari angka itu sebanyak 80 persen atau 1,6 juta pelanggan dalam posisi masih aktif. Namun ia belum bersedia mengungkapkan tingkat penggunaan pulsa (ARPU/Average Ratio Per Users) dari pelanggan Axis. Dengan telah tercapainya target pelanggan Axis 2008, pihaknya akan mengubah target jumlah pelanggan sampai akhir 2008. &lt;br /&gt;“Secara internal pasti ada revisi target, tetapi pernyataan resminya saya belum tahu,”lanjutnya. Ia juga mengatakan, perusahaan itu Agustus 2008 mengklaim  mendapatkan aktivasi dari sejuta orang setelah diluncurkan di Jakarta 23 April 2008. Sebelumnya Presdir dan CEO Axis, Erik Aas mengatakan Selasa (12/08), pihaknya telah mendapat aktivasi satu juta pelanggan, yang sebagian besar masih aktif. Tetapi ia enggan merinci berapa jumlah pelanggan yang aktif dan pengguna seluler yang hanya mengaktifkan starterpack Axis (silent number).&lt;br /&gt;Sedangkan Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia(BRTI) Heru Sutadi dalam pesan singkatnya mengatakan, sampai 12 Juli 2008, pelanggan Axis hanya 591.990 orang. Pihaknya mendapatkan data jumlah pelanggan seluler dari laporan masing-masing operator seluler kepada regulator. &lt;br /&gt;Menanggapi hal itu Erik mengatakan, dirinya perlu mengecek lagi. “Saya tidak tahu dasar data itu, saya harus cek dulu. Tapi data satu juta aktivasi itu data yang benar, memang tidak semua nomor tersebut aktif,” katanya.&lt;br /&gt;Erik menegaskan jumlah aktivasi pelanggan Axis meningkat dengan keberhasilan program promo Rp1 per telepon tanpa syarat itu. &lt;br /&gt;AXIS meluncurkan program Bonus Waktu Bicara untuk para pelanggannya. Program ini memberikan bonus waktu bicara hingga dua jam yang dapat digunakan untuk melakukan panggilan ke semua operator bagi pelanggan yang melakukan isi ulang pulsa mereka mulai 24 Oktober hingga 30 November 2008, kata Chief Marketing Officer, Johan Buse. AXIS telah melakukan kontrol. Internal Perusahaan dan Eksternal yaitu pemerintah sebagai Operatot seluler yang bertanggung jawab. &lt;br /&gt;Pengawasan dapat dilakukan baik dari pengawasan internal, eksternal melalui akuntan public, dan eksternal melalui pemerintah dan badan pengawas persaingan usaha.  Dengan pengawasan yang tepat dan benar akan diperoleh informasi perkembangan usaha yang terjadi. Sehingga tanpa pengawan yang lebih melekat control perusahaan tidak terjaga dengan baik dan mengancam eksistensi perusahaan AXIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kesimpulan&lt;br /&gt;Dalam analisis SOSTAC tedapat kelemahan yang diantaranya analisis strategi dan taktik tidak komperhensif sehingga analisis controlnya tidak terfokus. Kelebihannya adalah memberikan panduan dalam menganalisis secara detail sarana komunikasi penciptaan kesan diri. Walaupun masih terdapat beberapa kelemahan tetapi setidaknya dapat memberikan panduan melangkah dalam tindakan yang lebih strategic, sehingga memunculkan keyakinan akan mencapai hasil yang lebih baik &lt;br /&gt;Bukan hal yang mustahil,dengan pencapaian corporate branding ini menuntun pada pencapaian cita-cita yang lebih tinggi. Dalam jangka pendek ini, AXIS berhasil melabel dirinya sebagai pemimpin operator seluler. Kedepannya dalam jenjang berikutnya AXIS menjadi operator seluler yang sangat diperhitungkan dalam kepemimpinan persaingan perusahaan sejenis. Jika image ini bertahan terus sampai nanti, AXIS yakin akan menempatkan posisi operator seluler pada kedudukan yang penting dalam berbagai bidang terutama di dalam organisasi Perusahaan operator Seluler untuk memimpin persaingan perusahaan seluler.  &lt;br /&gt;AXIS merupakan Operator seluler dengan bran image Operator Baik, Operator Murah, Operatur Jaringan Internasional, Operator jaringan Nasional yang Luas. AXIS merupakan organisasi yang merupakan lembaga yang menggunakan Model SOS TEC dalam usahanya. AXIS telah melakukan kontrol. Internal Perusahaan dan Eksternal yaitu pemerintah sebagai Operatot seluler yang bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Alat analisis yang ada dalam SOSTAC dapat membantu menjalankan roda usaha di dalam persaingan usaha yang makin berat dengan persaingan dengan perusahaan sejenis yang mapaan dan baru yang kreatif dan capital yang bersaingin. Maka perlu strategi yang baik, sasaran yang tepat, analisis situasi yang handal, taktik yang tepat sasaran, tindakan yang tepat dan pengawasan yang terpadu baik dari dalam dan luar perusahaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang, 2008. Mentari Ikut Bermain di Tarif Per Detik, Biskom, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilham Prisgunanto M,Si. 2006. Komunikasi Pemasaran. Ghalia Indonesia jakarta september 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermawan Kertajaya. 2004.  Marketing Yourself : kiat sukses meniti karir dan bisnis Jakarta. Mark Plus &amp; co.  2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.Anangblogspot.com,diakses tanggal 8 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://pulsa.jagokomputer.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.axisworld.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:http://www.12manage.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.12manage.com/methods_PEST_analysis.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-6776543030483561733?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/6776543030483561733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/analisis-sostac-pada-kartu-axis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/6776543030483561733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/6776543030483561733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/analisis-sostac-pada-kartu-axis.html' title='Analisis SOSTAC Pada Kartu AXIS'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-4443828523052152130</id><published>2009-01-19T09:51:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T09:52:16.619-08:00</updated><title type='text'>Gerakan Perjuangan Buruh Indonesia</title><content type='html'>Gerakan Perjuangan Buruh Indonesia&lt;br /&gt;Arus Balik atau Bumerang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan adanya UU no. 13 tahun 2003 telah menjadikan titik balik bumerang bagi gerakan buruh di Indonesia. Gerakan buruh di Indonesia harus menerima pil pahit yaitu dengan diberlakukannya karyawan kontrak dan peraturan yang banyak merugikan buruh di Indonesia. Hal ini harus menjadikan sebuah evaluasi lebih dalam dan tajam bagi para pejuang gerakan buruh, analis tenaga kerja, pakar, ilmuawan, aktivis mahasiswa dan perburuhan di Indonesia.&lt;br /&gt; Perjuangan buruh selama ini terlihat terkesan sporadis dan reaksioner, dimana ketika ada kenaikan harga buruh digerakkan untuk menuntut Upah Minimum Regional(UMR), seakan-akan UMR adalah satu-satunya pil vitamin bagi buruh di Indonesia. Namun apa dikata dengan demo UMR yang dilakukan buruh tersebut mengakibatka adanya PHK di mana-mana, bahkan buruh yang melakukan demontrasi tersebut banyak yang dijadikan korban PHK, sedangkan organisasi buruh dan buruh tersebut tak dapat berbuat banyak.&lt;br /&gt; Gerakan buruh di Indonesia ini sebenarnya adalah mengadobsi gerakan buruh di barat yang memiliki suprastruktur dan Infrastrutur kuat, sehingga memiliki nilai tawar kuat, bahkan mampu menduduki pemerintahan dan menduduki parlemen. Mereka duduk di lembaga-lembaga kekuasaan didukung oleh pertai Buruh yang kuat. Sedangkan di Indonesia gerakan buruh masih belum memenuhi prasarat yang memadahi untuk bergerak. Disampin kultur atau budaya politik Indonesia yang memenuhi syarat.&lt;br /&gt; Gerakan buruh seharusnya memenuhi beberapa parsyarata :&lt;br /&gt;1.Mobilitas Tenaga Kerja atau Buruh adalah sempurna, dimana buruh dapat menduduki posisi apapun sesuai keahliannya, mudah untuk keluar masuk pekerjaan.&lt;br /&gt;2.Posisi buruh dan perusahaan pada situasi persaingan sempurna, dimana antara buruh dan perusahaan mengalami posisi tawar yang sama. Sedangkan posisi buruh di Indonesia dalam situasi yang monopsoni dimana ada banyak penjual tenaga kerja pada satu pembeli tenaga kerja yang ada, sehingga pihak pengusaha bebas menentukan jumlah tenaga kerja, dan hanya taat pada Undang-Undang yang dimana buruh tak mampu menentukan sikapnya karena mereka tidak ada wakil di parlemen.&lt;br /&gt;3.Harga Buruh adalah secara Ideal adalah sesuai dengan kebutuhan hidupnya yang diatas minimum, sedangkan upah yang mereka dapatkan adalah hanya disesuaikan dengan kenaikan UMR.&lt;br /&gt;4. Sejarah perjuangan buruh yang tidak menguntungkan nasib buruh di Indonesia, sehingga gerakan emansipasi nasib buruh sering mendapat tudingan negatif dari penguasa.&lt;br /&gt;5.Adanya perbedaan pendapatan yang jauh antara buruh yang bekerja dalam perusahaan modal dalam negeri dan perusahaan asing, karena perbedaan nilai kurs. Sehingga pemerintah agak kesulitan dalam menerapkan asas keadilan pada perusahaan yang menggunakan tenaga kerja Indonesia.&lt;br /&gt;6.Budaya Usaha di Indonesia adalah budaya yang menekan biaya-biaya dengan menekan upah dan kesejahteraan buruh.&lt;br /&gt;7.Siklus usaha di Indonesia adalah siklus usaha kelurga yang sangat mementingkan nepotisme dan kekeluargaan dan tidak begitu mengembangkan riset dan pengembangan, sehingga tertinggal oleh perusahaan asing.&lt;br /&gt;8.kapitalis yang tumbuh di Indonesia adalah kapitalis ortodok yang tidak berpikiran bahwa dengan buruh yang kuat, sehat dan berkualitas akan meningkatkan kerja sama yang baik antara buruh dan perusahaan. Karena buruh yangt berganti-ganti akan perlu pelatihan baru,&lt;br /&gt;9.Budaya kerja buruh Indonesia yang kurang memperhatikan kualitas peningkatan kerja dan produktivitas.&lt;br /&gt;Banyak perjuangan buruh di dunia berhasil dalam perjuangannya seperti di Eropa Timur dan   Eropa Barat. Di eropa barat dikenal dengan perjuangan buruh sosial demokrat dan di eropa timur dengan buruh sosialis(komiunis0 telah berhasil membawa nasib buruh yang lebih baik.&lt;br /&gt;Sedangkan di Indonenesi perjuangan buruh lahir karena desakan PBB terhadap perusahaan di Indonesia, dan sebagai pemenuhan atas sebutan sebagai negara yang siap tinggal landas dan sukses dalam pembangunan seperti yang digembar-gemborkan pada  masa orde baru. Sehingga nafas perjuangan buruh di Indonesia bukanlah lahir dari kesadaran buruh itu sendiri.&lt;br /&gt;Budaya majikan buruh di Indonesia sudah berlangsung lama sejak dikenalkannya pertnian pada masyarakat tradisional Indonesia, dengan adanya tradisi bagi hasil antara buruh dan majikan. Penerapan sistem bagi hasil ini turun temurun dan diakui sampai sekarang, sehingga sistem pengupahan yang kecil sudah dikenal cukup lama.    &lt;br /&gt;Sedangkan di Eropa sendiri sebenarnya perhatian nasib buruh sudah ada sejak revolusi Industri dI Inggris, dimana muncul tokoh manajemen modern sperti FW Taylor, Hendry Fayol, dan Robert Owen. Perjuangan mereka yaitu memberikan peningkatan kesejahteraan pada buruh tambang terutama anak-anak. Tentang Fasilitas Pendidikan dan jam Kerja yang manusiawi.&lt;br /&gt;Perjuangan nasib buruh ini sebenarnya pada waktu itu adalah untuk kepentingan perusahaan dan pengusaha juga. Namun perkembangan perusahaan, penyusutan dan lain-lain juga menyulitkan bagi pengusaha untuk meningkatkan nasib buruhnya. Namun bagi negara-negara dunia pertama tersebut telah mampu untuk meningkatkan kesejahteraan buruh dengan kemampuannya menjualbarang ke negara-negara Asia, Afrika, Amerika dan negara jajahan serta koloni mereka, namun bagi negara yang tidak melakukannya mengalami nasib perlawanan dari kaum buruh sehingga muncul revolusi buruh.&lt;br /&gt;Revolusi Oktober di Rusia misalnya telah memberikan kemenangan bagi kaum buruh, sehingga muncul pemerintahan baru atau babak baru diktator proletariat atau buruh. Sebuah penerapan teori buruh modern yang ditulis oleh Karl. Mark. Pasca itu teori Mark menjadi momok bagi kaum kapitalis di Dunia, sehingga muncul berbagai bentu perlawanan yang mengakibatkan perang dingin antara 2 negara besar dan Addaya yaitu Amereika dan Soviet.&lt;br /&gt;Namun negara kapitalispun memberikan peluang desakan organisasi buruh atau gerakan buruh di negeri mereka, karena gerakan buruh secara alamiah tidak dapat dirintangi dan dicegah, sejalan dengan persaingan manusia yang cukup sengit. Berbagai macam kesempatan untuk mengembangkan diri secara individu dan kolektif terus berkembang. Bahkan pendidikan-pendidikan telah terbuka bagi siapa saja baik ilmu-ilmu sosial dan ilmu pasti atau teknik, sehingga setiap orang diberi hak untuk bersaing sesuai bakat dan kemmapuannya.&lt;br /&gt;Perjuangan buruh saat ini lebih berat karena perkembangan pengetahuan dan pengalaman kaum kapital di dunia, sehingga berbagai paham baru muncul di dalam perjuangan buruh, baik di Asia, Eropa maupu Amerika Latin. Namun paham dan ide perjuangan perburuhan di Indonesia justru mengalami kemunduran yang begitu signufikan. Berbagai perjuangan buruh mengalami kekagagalan baik secara represif, persuasif, politis maupun kultural. Hanya desakan orgaisasi buruh Internasionalah yang menyelamatkan nasib buruh di Indonesia. Nasib buruh di Indonesia hanya bergantung pada politikal will dari penguasaha ataupun pemerintah bukan desakan dari kaum buruh sendiri, dan kultur budaya pengusaha Indonesia yang lebih berorientasi pada kekeluargaan, sehingga nasib buruh Indonesia masih bisa untuk dikatakan lebih baik sesuai perekembangan perusahaan.&lt;br /&gt;Industri kecil dan menengah adalah merupakan perusahaan yang banyak menerapakan paham kekeluargaan, dalam sistem ini mereka kenal usaha bagi hasil antara buruh dan majikan. Industri Kecil dan Menengah di Indonesialah yang mampu bersaing dengan kapilalis global atau internasional. Maka perlu kiranya peran pemerintah dalam memupuk kerjasama  antara buruh dan majikan untuk meningkatkan produksinya.&lt;br /&gt;Pobia organisasi buruh Independen harus mulai dipupus, namun kekukatiran akan pemanfaat organisasi buruh menjadi alat politik masih sering diperdfebatkan. Namun kita harus memahami bahwa gerkan buruh tidak lepas dari gerakan moral dan gerakan politik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-4443828523052152130?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/4443828523052152130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/gerakan-perjuangan-buruh-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/4443828523052152130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/4443828523052152130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/gerakan-perjuangan-buruh-indonesia.html' title='Gerakan Perjuangan Buruh Indonesia'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-6115717498296082279</id><published>2009-01-19T09:47:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T09:51:09.803-08:00</updated><title type='text'>Menyusuri Letak Macetnya Dampak Positif penurunan Harga BBM</title><content type='html'>Menyusuri Letak Macetnya Dampak Positif penurunan Harga BBM&lt;br /&gt;pada Sektor Riil di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penurunan harga BBM di Indonesia di akhir tahun 2008 dan di awal tahun 2007 merupakan sebuah lip servis politik saja. Penurunan harga BBM tidak diikuti dengan penurunan tarif angkutan, listrik, telpon, air minum dan kebutuhan konsumen lainnya. Penurunan harga BBM ini banyak pihak hanya menyebutnya sebagai komoditi politik menjelang pemilu 2009.&lt;br /&gt; Penurunan harga BBM yang tidak diikuti dengan penurunan harga-harga kebutuhan pokok ini disebabkan oleh karena memang BBM bukanlah instrumen regulasi yang efektif, dibanding kebijakan lain seperti Subsidi langsung, kenaikan subsidi,  penurunan pajak dan tarif, harga cukai, tidak meberi efek dan dapak yang lansung pada penurunan harga-harga.&lt;br /&gt; Bukan memihak pada siapapun bahwa fluktuasi harga yang tidak stabil adalah tidak menguntungkan bagi berbagai pihak, baik pengusaha di satu sisi dengan masyararakat di satu sisi.  Karena penurunan harga ini hanya menjadikan surplus produksi bagi produsen dan menambah keuntungan di kalangan produsen saja, selama kebutuhan akan permintaan dipenuhi dan diperoleh keuntungan yang memadahi perusahaan tidak akan menurunkan harga sebelum keuntungan yang diinginkan akan dipenuhi.&lt;br /&gt; Pemerintah tidak dapat mengeluarkan kebijakan yang efektif saat ini, karena liberalisasi telah menjadikan pemerintah hanya dalam wilayah pembuat kebijakan dan tidak dapat mengendalikan kebijakan secara efeltif. Karena kepemilikan cabang-cabang produksi yang mengusai hajat hidup orang banyak telah dikuasai oleh swasta ataupun badan usaha milik negara yang sahamnya banyak dikuasai swasta dalam negeri dan swasta asing.&lt;br /&gt; Letak ketidak efektifan inilah yang mulai menjadi pemikiran bahwa bebarapa cabang usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara. Namun sudah terlambat ataupun lancung dimana selama dikuasai oleh aparat pemerintah atau negara terjadi korupsi disana-sini, serta infefesiensi dan inefektifitas kerja, sehingga bangkrut sehingga banyak dibeli oleh swasta atau investor. Lebih parah lagi investor asing.&lt;br /&gt; Baru dirasakan saat ini bahwa privatisasi mengakibatkan dampak yang merugikan pemerintah dan rakyat. Pemerintah menjadi tak berdaya mengatasi kondisi ekonomi dan melakukan kebijakan untuk menyejahterakan rakyatnya. Perlu disadari pula bahwa pemerintah sudah terlalu banyak memberikan fasilitas yang begitu banyak pada swasta.&lt;br /&gt; Pentingnya nasionalisasi kembali perusahaan yang mengusasi hajat hidup orang banyak dalam hal ini BUMN telah menjadikan pemikiran yang lebih serius. Sedangkan kedaulatan ekonomi telah tidak dimiliki oleh pemerintah. Pemerintah saat ini tidak memiliki kekuatan dan kewenangan di bidang ekonomi kecuali hanya memberikan himbauan.&lt;br /&gt; Pemerintah yang sudah lama tidak mendapat kepercayaan rakyat dan Internasional menjadikan kesulitan pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan pada rakyat dan dunia Internasional. Sehingga rupiah tidak dapat menguat dan terpuruk. Kekayaan alam yang melimpah ruah bukan lagi menjadi milik pemerintah tapi telah menjadi milik swasta asing dan kapitalis global. Kelangkaan bahan baku, bahan bakar, pupuk dan barang konsumen dimana-mana, sehingga mendorong harga-hrga melambung tinggi. Pengangguran dimana-mana dengan dibubarkannya perusahaan dalam negeri dan direlokasikan di luar negeri dengan alasan buruh mahal. Ketidak pastian hukum di Indonesia, dan kestabilan politik yang kurang stabil menjadikan larinya investor asing. &lt;br /&gt; Kalau hal ini berlangsung terus menerus dikhawatirkan akan terjadi gejolak sosial akibat kesenjangan sosial dan kemiskinan di mana-mana. Kesenjangan ekonomi ini mengakibatkan kecemburuan sosial dan gejolak sosial yang kan menurunkan stabilitas politik di Indonesia. Sedangkan stabilitas adalah kunci bertahannya investor di Indonesia. Proses demokrasi yang berlebihan akan mememunculkan ketidakseimbangan baru di dalam pemerintah Indonesia, sehingga pemerintah miskin otorita dan legitimasi, karena pemerintah belum mampu untuk mengembalikan kepercayaan rakyat. Karena pemerintah belum mampu untuk melakukan good corporate governance dan meningkatkan clean government. Pengawasan keuangan negara lebih ketat belum bisa dilakukan, karena budaya lama masih ada dengan masih bercokolnya pejabat-pejabat bekas orde baru yang korup saat ini, bahkan mendapatkan posisi-posisi penting dalam pemerintahan dan masyarakat.&lt;br /&gt; Kesempatan berusaha dan melakukan usaha yang sehat belum dapat dijamin, dimana masih diijinkannya pejabat, DPR dan pegawai negeri memiliki usaha swasta, hal ini mengakibatkan kelesuan bagi swasta murni dalam negeri untuk bersaing. Ketidak sehatan ini menurunkan minat rakyat terutama generasi muda untuk berwiraswasta, karena merasa tidak ada perlindungan, perilaku yang adil, antara swasta murni dengan swasta tanda petik semi pemerintah dan pejabat apabila dengan swasta asing. Belum lagi pungutan liar yang dilakukan oleh pihak-pihak penguasa tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt; Penurunan harga BBM yang tidak diikuti dengan penurunan harga-harga komoditi tidak semata-mata kesalahan pengusaha, karena kita masih banyak melihat pajak berganda dimana-mana. Sehingga harga-harga menjadi lebih tinggi, karena adanya ekonomi biaya tinggi, yang pada masa-masa sekarang jarang digembar-gemborkan lagi. Ekonomi biaya tinggi tidak dapat dicabut begitu saja dalam sistem pemerintahan dan ekonomi di Indonesia.&lt;br /&gt; Pendapatan pemerintah yang hanya dari pajak dan mulai dihapuskannya bea masuk dan fiskal karena perdagangan bebas membuat berkuragnya sumber baru pendapatan pemerintah. Pemerintah harus berusaha mencari sumber lain dari rakyat diluar hutang luar negeri. Pemerintah harus menekan biaya serenfdah-rendahnya dengan efesiensi, efektifitas dan profesionalisme aparatur negara, dengan menekan biaya-biaya yang tidak perlu, sedangkan selama ini aparatur pemerintah telah lama dimanjakan oleh fasilitas.&lt;br /&gt; Pemerintah akhirnya mau tidak mau hanya meningkatkan perluasan penerimaan pajak. Sedangkan otonomi daerah semakin memberatkan rakyat karena gencarnya pemerintah daerah untuk mencari sumber Pendapatan asli daerah yang membabi buta, tanpa memperhatikan pelayanan masyarakat. APBD hanya berorientasi pada surplus anggaran dan peningkatan pendapatan daerah sendiri, Dana alokasi Umum dan dan alokasi khusus. Kurangnya pengetahuan para kepala daerah karena pemilihan langsung telah mengakibatkan kekacauan manajemen pemerintah daerah, apalagi dana pemilihan kepala daerah cukup besar dan mengeluarkan banyak tenaga, sehingga para kepala daerah lebih mementingkan pengembalian modal dan menyaluran dana bagi kelompok kepentingan yang telah membantu dalam proses pemilihan.&lt;br /&gt; Peningkatan pelayanan publik hanya menjadi retorika-retorika politik saja. Namun semua ini sudah terjadi, dan bagimanakah pembenahan dilakukan, apakah menunggu rakyat lebih menderita dulu? Hal ini tidak mungkin karena penderitaan rakyat akan mengakibatkan gejolak sosial, sedangkan gejolak sosial akan merugikan rakyat pula. &lt;br /&gt; Maka diperlukan adanya keinginan dan kemauan dari semua pihak untuk melakukan perbaikan disana-sini. Ancaman globalisasi dan persaingan bebas telah menghadang, apabila efisiensi tidak cepat dilakukan maka persaingan harga dengan produk asing kita kan tertinggal dan kalah, apalagi masalah kualitas. Sedangkan Indonesia merupakan pasar yang baik bagi perdagangan barang-barang konsumsi dan jasa.&lt;br /&gt; Ketahanan pangan akan juga terganggu karena alih fungsi lahan, sedangkan perlindungan dan peningkatan fasilitas, kerjasama dan informasi serta peningkatan kualitas petani di Indonesia masih berkurang. Petani Indonesia harus mengalami kepayahan dlam menghadapi persaingan global, dimana hasil pertanian bangsa asing lebih murah di pasaran, sedangkan produk mereka tidak mendapat proteksi, sedangkan pupuk sangat sulit untuk didapatkan. Pola bercocok tanampun masih sangat tradisional. &lt;br /&gt; Intinya bahwa perlu kesadaran bagi pengusaha dalam negeri agar tidak terlalu mengandalkan nasionalisme sempit, namun bagaimanan mereka bisa menjadikan rakyat Indonesia terutama buruh untuk bekerjasama sehingga menjadi produse dan konsumen di Negeri sendiri. Apabila rakyat Indonesia tidak mampu menjadi produsen dan hanya menjadi konsumen akan semakin meningkatkan utang luar negeri, dan pada akhirnya hilanglah kedaulatan yang telah dicita-citakan pendiri republik.  &lt;br /&gt; Peningkatan kualitas sumber daya manusia guna meningkatan tingkat produktifitasnya menjadikan tugas pendidikan nasional Indonesia. Sedangkan pendidikan menjadi cukup mahal, dan semakin merebaknya lembaga pendidikan di luar negeri yang lebih murah dan berkualitas, sedangkan penyelewangan di dunia pendidikan cukup banyak dan banyaknya mal praktek pendidikan di Indonesia. Mampukah Indonesia keluar dari keterpurukan, hal itu tergantung mental semua pihak untuk lebih peduli pada nasib bangsa dan negara ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-6115717498296082279?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/6115717498296082279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/menyusuri-letak-macetnya-dampak-positif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/6115717498296082279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/6115717498296082279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/menyusuri-letak-macetnya-dampak-positif.html' title='Menyusuri Letak Macetnya Dampak Positif penurunan Harga BBM'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-8032567178628763764</id><published>2009-01-19T09:23:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T10:19:59.606-08:00</updated><title type='text'>Menyusuri Letak Macetnya Dampak Positif penurunan Harga BBM</title><content type='html'>Menyusuri Letak Macetnya Dampak Positif penurunan Harga BBM&lt;br /&gt;pada Sektor Riil di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penurunan harga BBM di Indonesia di akhir tahun 2008 dan di awal tahun 2007 merupakan sebuah lip servis politik saja. Penurunan harga BBM tidak diikuti dengan penurunan tarif angkutan, listrik, telpon, air minum dan kebutuhan konsumen lainnya. Penurunan harga BBM ini banyak pihak hanya menyebutnya sebagai komoditi politik menjelang pemilu 2009.&lt;br /&gt; Penurunan harga BBM yang tidak diikuti dengan penurunan harga-harga kebutuhan pokok ini disebabkan oleh karena memang BBM bukanlah instrumen regulasi yang efektif, dibanding kebijakan lain seperti Subsidi langsung, kenaikan subsidi,  penurunan pajak dan tarif, harga cukai, tidak meberi efek dan dapak yang lansung pada penurunan harga-harga.&lt;br /&gt; Bukan memihak pada siapapun bahwa fluktuasi harga yang tidak stabil adalah tidak menguntungkan bagi berbagai pihak, baik pengusaha di satu sisi dengan masyararakat di satu sisi.  Karena penurunan harga ini hanya menjadikan surplus produksi bagi produsen dan menambah keuntungan di kalangan produsen saja, selama kebutuhan akan permintaan dipenuhi dan diperoleh keuntungan yang memadahi perusahaan tidak akan menurunkan harga sebelum keuntungan yang diinginkan akan dipenuhi.&lt;br /&gt; Pemerintah tidak dapat mengeluarkan kebijakan yang efektif saat ini, karena liberalisasi telah menjadikan pemerintah hanya dalam wilayah pembuat kebijakan dan tidak dapat mengendalikan kebijakan secara efeltif. Karena kepemilikan cabang-cabang produksi yang mengusai hajat hidup orang banyak telah dikuasai oleh swasta ataupun badan usaha milik negara yang sahamnya banyak dikuasai swasta dalam negeri dan swasta asing.&lt;br /&gt; Letak ketidak efektifan inilah yang mulai menjadi pemikiran bahwa bebarapa cabang usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara. Namun sudah terlambat ataupun lancung dimana selama dikuasai oleh aparat pemerintah atau negara terjadi korupsi disana-sini, serta infefesiensi dan inefektifitas kerja, sehingga bangkrut sehingga banyak dibeli oleh swasta atau investor. Lebih parah lagi investor asing.&lt;br /&gt; Baru dirasakan saat ini bahwa privatisasi mengakibatkan dampak yang merugikan pemerintah dan rakyat. Pemerintah menjadi tak berdaya mengatasi kondisi ekonomi dan melakukan kebijakan untuk menyejahterakan rakyatnya. Perlu disadari pula bahwa pemerintah sudah terlalu banyak memberikan fasilitas yang begitu banyak pada swasta.&lt;br /&gt; Pentingnya nasionalisasi kembali perusahaan yang mengusasi hajat hidup orang banyak dalam hal ini BUMN telah menjadikan pemikiran yang lebih serius. Sedangkan kedaulatan ekonomi telah tidak dimiliki oleh pemerintah. Pemerintah saat ini tidak memiliki kekuatan dan kewenangan di bidang ekonomi kecuali hanya memberikan himbauan.&lt;br /&gt; Pemerintah yang sudah lama tidak mendapat kepercayaan rakyat dan Internasional menjadikan kesulitan pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan pada rakyat dan dunia Internasional. Sehingga rupiah tidak dapat menguat dan terpuruk. Kekayaan alam yang melimpah ruah bukan lagi menjadi milik pemerintah tapi telah menjadi milik swasta asing dan kapitalis global. Kelangkaan bahan baku, bahan bakar, pupuk dan barang konsumen dimana-mana, sehingga mendorong harga-hrga melambung tinggi. Pengangguran dimana-mana dengan dibubarkannya perusahaan dalam negeri dan direlokasikan di luar negeri dengan alasan buruh mahal. Ketidak pastian hukum di Indonesia, dan kestabilan politik yang kurang stabil menjadikan larinya investor asing. &lt;br /&gt; Kalau hal ini berlangsung terus menerus dikhawatirkan akan terjadi gejolak sosial akibat kesenjangan sosial dan kemiskinan di mana-mana. Kesenjangan ekonomi ini mengakibatkan kecemburuan sosial dan gejolak sosial yang kan menurunkan stabilitas politik di Indonesia. Sedangkan stabilitas adalah kunci bertahannya investor di Indonesia. Proses demokrasi yang berlebihan akan mememunculkan ketidakseimbangan baru di dalam pemerintah Indonesia, sehingga pemerintah miskin otorita dan legitimasi, karena pemerintah belum mampu untuk mengembalikan kepercayaan rakyat. Karena pemerintah belum mampu untuk melakukan good corporate governance dan meningkatkan clean government. Pengawasan keuangan negara lebih ketat belum bisa dilakukan, karena budaya lama masih ada dengan masih bercokolnya pejabat-pejabat bekas orde baru yang korup saat ini, bahkan mendapatkan posisi-posisi penting dalam pemerintahan dan masyarakat.&lt;br /&gt; Kesempatan berusaha dan melakukan usaha yang sehat belum dapat dijamin, dimana masih diijinkannya pejabat, DPR dan pegawai negeri memiliki usaha swasta, hal ini mengakibatkan kelesuan bagi swasta murni dalam negeri untuk bersaing. Ketidak sehatan ini menurunkan minat rakyat terutama generasi muda untuk berwiraswasta, karena merasa tidak ada perlindungan, perilaku yang adil, antara swasta murni dengan swasta tanda petik semi pemerintah dan pejabat apabila dengan swasta asing. Belum lagi pungutan liar yang dilakukan oleh pihak-pihak penguasa tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt; Penurunan harga BBM yang tidak diikuti dengan penurunan harga-harga komoditi tidak semata-mata kesalahan pengusaha, karena kita masih banyak melihat pajak berganda dimana-mana. Sehingga harga-harga menjadi lebih tinggi, karena adanya ekonomi biaya tinggi, yang pada masa-masa sekarang jarang digembar-gemborkan lagi. Ekonomi biaya tinggi tidak dapat dicabut begitu saja dalam sistem pemerintahan dan ekonomi di Indonesia.&lt;br /&gt; Pendapatan pemerintah yang hanya dari pajak dan mulai dihapuskannya bea masuk dan fiskal karena perdagangan bebas membuat berkuragnya sumber baru pendapatan pemerintah. Pemerintah harus berusaha mencari sumber lain dari rakyat diluar hutang luar negeri. Pemerintah harus menekan biaya serenfdah-rendahnya dengan efesiensi, efektifitas dan profesionalisme aparatur negara, dengan menekan biaya-biaya yang tidak perlu, sedangkan selama ini aparatur pemerintah telah lama dimanjakan oleh fasilitas.&lt;br /&gt; Pemerintah akhirnya mau tidak mau hanya meningkatkan perluasan penerimaan pajak. Sedangkan otonomi daerah semakin memberatkan rakyat karena gencarnya pemerintah daerah untuk mencari sumber Pendapatan asli daerah yang membabi buta, tanpa memperhatikan pelayanan masyarakat. APBD hanya berorientasi pada surplus anggaran dan peningkatan pendapatan daerah sendiri, Dana alokasi Umum dan dan alokasi khusus. Kurangnya pengetahuan para kepala daerah karena pemilihan langsung telah mengakibatkan kekacauan manajemen pemerintah daerah, apalagi dana pemilihan kepala daerah cukup besar dan mengeluarkan banyak tenaga, sehingga para kepala daerah lebih mementingkan pengembalian modal dan menyaluran dana bagi kelompok kepentingan yang telah membantu dalam proses pemilihan.&lt;br /&gt; Peningkatan pelayanan publik hanya menjadi retorika-retorika politik saja. Namun semua ini sudah terjadi, dan bagimanakah pembenahan dilakukan, apakah menunggu rakyat lebih menderita dulu? Hal ini tidak mungkin karena penderitaan rakyat akan mengakibatkan gejolak sosial, sedangkan gejolak sosial akan merugikan rakyat pula. &lt;br /&gt; Maka diperlukan adanya keinginan dan kemauan dari semua pihak untuk melakukan perbaikan disana-sini. Ancaman globalisasi dan persaingan bebas telah menghadang, apabila efisiensi tidak cepat dilakukan maka persaingan harga dengan produk asing kita kan tertinggal dan kalah, apalagi masalah kualitas. Sedangkan Indonesia merupakan pasar yang baik bagi perdagangan barang-barang konsumsi dan jasa.&lt;br /&gt; Ketahanan pangan akan juga terganggu karena alih fungsi lahan, sedangkan perlindungan dan peningkatan fasilitas, kerjasama dan informasi serta peningkatan kualitas petani di Indonesia masih berkurang. Petani Indonesia harus mengalami kepayahan dlam menghadapi persaingan global, dimana hasil pertanian bangsa asing lebih murah di pasaran, sedangkan produk mereka tidak mendapat proteksi, sedangkan pupuk sangat sulit untuk didapatkan. Pola bercocok tanampun masih sangat tradisional. &lt;br /&gt; Intinya bahwa perlu kesadaran bagi pengusaha dalam negeri agar tidak terlalu mengandalkan nasionalisme sempit, namun bagaimanan mereka bisa menjadikan rakyat Indonesia terutama buruh untuk bekerjasama sehingga menjadi produse dan konsumen di Negeri sendiri. Apabila rakyat Indonesia tidak mampu menjadi produsen dan hanya menjadi konsumen akan semakin meningkatkan utang luar negeri, dan pada akhirnya hilanglah kedaulatan yang telah dicita-citakan pendiri republik.  &lt;br /&gt; Peningkatan kualitas sumber daya manusia guna meningkatan tingkat produktifitasnya menjadikan tugas pendidikan nasional Indonesia. Sedangkan pendidikan menjadi cukup mahal, dan semakin merebaknya lembaga pendidikan di luar negeri yang lebih murah dan berkualitas, sedangkan penyelewangan di dunia pendidikan cukup banyak dan banyaknya mal praktek pendidikan di Indonesia. Mampukah Indonesia keluar dari keterpurukan, hal itu tergantung mental semua pihak untuk lebih peduli pada nasib bangsa dan negara ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-8032567178628763764?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/8032567178628763764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/menyusuri-letak-macetnya-dampak-positif_19.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/8032567178628763764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/8032567178628763764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/menyusuri-letak-macetnya-dampak-positif_19.html' title='Menyusuri Letak Macetnya Dampak Positif penurunan Harga BBM'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-7400468426832344558</id><published>2009-01-15T09:58:00.000-08:00</published><updated>2009-01-15T10:02:27.138-08:00</updated><title type='text'>Persaingan Global menghadapi Revolusi Informasi</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;Persaingan Global menghadapi Revolusi Informasi&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.0  (Win32)"&gt;&lt;meta name="AUTHOR" content="AK_2"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20090114;11570000"&gt;&lt;meta name="CHANGEDBY" content="AK_2"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="20090114;11570000"&gt;&lt;style&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Persaingan Global menghadapi Revolusi Informasi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	&lt;span lang="sv-SE"&gt;Berjuta-juta abad manusia sampai saat ini mengenal informasi yang terus berkembang. Keberadaan manusia dari berburu dan meramu melahirkan masyarakat primitif dimana mereka mulai mengenal komunikasi dan Interaksi. Manusia pada waktu itu hanya menghapal kata-kata, teriakan-teriakan, dan ketukan-ketukan. Mereka memberikan informasi melalui asap atau api, dan mencoba saling mengenal melalui berbagai dialektika sosial masrarakat. Pada waktu itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	Masyarakat pada fase ini dikenal sebagai masyarakat primitif, hidup berkelompok-kelompok dalam kesatuan masyarakat sosialis primitif. Mereka berjuang bersama-sama untuk mengatasi kehidupan mereka. Kerjasama ini melahirkan pemimpin yang terhimpun dalam suku-suku, pemimpin ini adalah yang terkuat dan mampu mengakomodir semua kepentingan dengan komunikasi yang ada.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;	Masyarakat primitif ini akan berperang apabila mengenal kelompok lain, dan terjadilah peperangan. Peperangan yang terus meneruskan melahirkan diplomasi-diplomasi antar suku, dan kelompok tersebut. Pengusaan masing-masing-masing suku dari suku yang  lain akan melahirkan raja-raja kecil. &lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;Pada saat ini raja-raja kecil ini mulai mengenal bahasa-bahasa tulis. Bahasa-bahasa tulis ini lahir pada masyarakat feodal tradisional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="es-ES"&gt; 	Masyarakat tradisional feodal ini melalui beberapa perjalanan sejarah melalui kitab-kitab dan sastra-sastra. Pada masyrakat tradisional ini mengenal adanya hak akan keturunan, hak akan perkawinan bersadarkan paternalisme, Sehingga muncul kekuatan raja-raja. Komunikasi tulis hanya dikenal oleh raja-raja dan kaum bangsawan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;	Renaisance atau abad pencerahan melahirkan kelas baru yaitu intelektual dan kaum borjuis untuk melakukan perebutan kekuasaan raja-raja. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Maka dikenallah masyarakat transisi menuju pengenalan ilmu pengetahuan dan teknologi. Diawali dengan ditemukannya mesin uap yang telah melahirkan revolusi Industri. Sekarang kaum feodal menuntut untuk mendapatkan tempat pada pemerintahan. Maka lahirlah masyarakat demokrasi di bawah monarki di Inggris, masyarakat demokrasi di Amerika Serikat dan Masyarakat Sosialis di Unisoviet. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;	Sebernarnya tiga bentuk negara tersebut merupakan abad dimana berkurangnya kekuasaan monarki. Sejak dikenalnya masyarakat kapital dan sosialis ini pendidikan cukup berkembang pesat untuk peningkatan persaingan yang semakin ketat. Pada awal renaisance sebenarnya adalah mulai mengenalkan masyarakat pada apa yang dikenal dengan kesejahteraan dan kemakmuran untuk bersama. Sehingga Adam Smith dalam bukunya ”Iniquire The Wealth of Nations, Money and Interest, telah menjadikan kekuasaan pada swasta dilepas total oleh Ratu Inggris, ratu Inggris hanya Simbol dari negara saja. Sedangkan pemerintahan adalah dikuasai oleh perdana menteri yang diambil oleh rakyat melalui pemilihan umum dari partai Buruh dan Konservatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Dikenalah sistem demokrasi Angglo Sactions yang dikenal hampir seluruh masyarakat dunia, bahkan Indonesia pun sudah mengalihkan diri dari Kontinental menuji Angglo Sactions ini. Perkembangan transportasi yang lebih maju karena mesin uap tersebut telah menjadikan negara-negara eropa melakukan penjajahan yang mampu mengusai dataran Asia, Australia. Amerika dan Afrika. Kekuatan revolusi industri ini telah melahirkan berbagai macam penjajahan negara-negara eropa ke negara-negara di Benua lain.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Ini milenium kejayaan Eropa, yang berkembang dengan semakin cepatnya teknologi telekomunikasi dengan ditemukannya telegram pada adbad 19. Dimana informasi terus berkembang dengan jepat tanpa jarak waktu yang lama dengan teknologi elektromagnetik. Perkembangan berikutnya adalah dengan ditemukannya radio yang mampu memberikan informasi abtudit dengan audio atau gelombang suara. Gelombang suara berkembang dengan gambar dengan adanya televisi dan sekarang sudah menjamir menguasai 1/3 masyarakat dunia. Berarti revolusi telekomunikasi terus berkembang dengan cepat.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Perkembangan berikutnya mulai dikenal komputer dan di Indonesia pada tahun 80-an tidak ada ½ abad telah spektakuler pada tahun 1996 di Indonesia mulai dikenal gelombang internat. Bahkan tidak sampai 10 tahun perkebangannya begitu cepat, sampai-sampai Microsoft telah kehabisan aplikasi sebagai pengembangan teori komputer dengan persaingan program lain seperti linux. Mikrosoft sedang genjar-gencarnya memperjuangkan hak cipta dan undang-undang hak cipta karena selama ini programnya telah dibajak oleh masyarakat dunia.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Maka harus diwaspadai pula perkembangan telematika ini bisa berkembang pesat mengakibatkan dampak positif dan negatif. Dampak positif tersebut adalah :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	Perkembangan Riset dan Teknologi.&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	Mudahnya akses informasi dengan cepat.&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Hubungan 	masyarakat global yang semakin dekat, sehingga tidak ada batas dan 	negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	Peningkatann Pendidikan.&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	Terjadi Alkulturasi dengan cepat.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Namun harus diwaspadai pula kan dampak negatifnya terutama bagi generasi muda yaitu :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	Kembalinya imperalisme antar bangsa dunia dari negara maju ke negara 	berkembang.&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	Budaya negatif dari barat yang sudah dikenal oleh generasi muda 	indonesia, seperti krinalitas, Kejahatan seksual atau sek bebas, 	Perdagangan anak belum umur dan perdagangan wanita.&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	Perdagangan senjata terlarang dan narkoba.&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	Sifat Konsumtif karena selama ini kegiatannya belum optimal 	penggunaannya karena yang menguasai bidang ini masih sedikit.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Revolusi komunikasi saat ini cukup menggembirakan namun juga cukup meresahkan, karena dapat memunculkan sikap alienisme dan egoisme serta sikap asosial. Dimana hubungan manusia dengan manusia tidaklah dapat berjalan dengan baik karena hanya bidsa dilakukan dari jarak jauh dan tak perlu jarak dekat.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Perkembangan saat ini cukup mengawatirkan terutama bagi anak-anak yaitu dengan maniak seluler tanpa mengindahkan saat-saat belajar. Komunikasi tatap muka menjadi lebih sedikit, sehingga melahirkan komunitas Cyber yang apabila tidak diimbangi dengan hubungan sosial yang baik cukup berbahaya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Hal ini perlu mendapat kajian lebih mendalam dari bebrapa pihak baik pakar telematika, psikologi anak, ekonomi, sosiologi, sosial dan politik. Karena dimungkinkan kemenangan pemilu partai dan presidan adah melalui ciber, yang pada pemilu 2 periode sebelumnya sangat dipengaruhi oleh berita-berita televisi, sehingga berita televisi cukup mengarahkannya menuju sebuah kegiatan pemilihan pada tahun 1999 dan 2004. Karena pembungkaman pers pada jaman orde baru.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Adakah politisi yang jeli....&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; .&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;	  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; 	  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-7400468426832344558?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/7400468426832344558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/persaingan-global-menghadapi-revolusi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/7400468426832344558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/7400468426832344558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/persaingan-global-menghadapi-revolusi.html' title='Persaingan Global menghadapi Revolusi Informasi'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-3158641286628186041</id><published>2009-01-15T09:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-15T09:31:14.535-08:00</updated><title type='text'>Pemilu 2009 Kapitalisme, Liberalisme dan Pembentukan Tirani Minoritas.</title><content type='html'>Pemilu 2009 Kapitalisme, Liberalisme dan Pembentukan Tirani Minoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Perjalanan panjang republik Indonesia telah melewati beberapa tahapan revolusi, yaitu revolusi kemerdekaan, revolusi 65, berikutnya revormasi 1998. namun Revolusi pasca 1945-1948 mengalami berbagai rintangan dan kegagalan. Dimana pada tahu 1965 terjadi penkebirian atau pensterilan revolusi atau disebut peng-KB-an. Fenomena 1998 adalah dilakukannya operasi Sesar dimana revolusi dilahirkan sebelum waktunya dengan sistem pembentukan partai yang cukup bebas atau disebut dengan sistem multi partai.&lt;br /&gt;    Pada waktu itu semua diiming-imingi dengan permen legislatif dan parlemen, orang berbondong-bondong mendirikan perati dan teredamlah revolusi karena orang sedang disibukkan dengan pembagian kue kekuasaan. Semua beradu yang kuat mengalahkan yang menang, bernagai basis ideologi menwarkan dagangan partai politikya.&lt;br /&gt;    Pada tahun 1999 dilakukanlah pemilu 1999 yang diikuti oleh 48 partai politik, dan mulailah orang-orang berbondong-bondong urun bicara. Kebabasan ini melahirkan cepatnya informasi di media masa baik cetak maupun elektronik. Ribuan orang berlomba-lomba untuk menempati kursi legislatif, bahkan muncul perseteruan baru di dalam tubuh masing-masing partai politik, baik yang baru sama sekali atau yang membawa sejarah masa lalu. Seperti : Golkar, PDI, PPP yang sudah lama. Kemudian PAN dan PKB, yang membawa ormas yang sudah lama ada dan yang baru sama sekali.&lt;br /&gt;    Duduklah mereka  pada kursi legislatif dan mulai mendudukan diri pada situasi pengusa yang baru, meski mereka kadang-kadang kurang sadar pada jebakan-jebakan apa yang dikeluarkan pada mereka. Mereka tidak menyadarai bahwa mereka sudah mulai jauh dari rakytanya dan sudah mulai disibukkan dengan urusan kekuasaan belaka.&lt;br /&gt;    Untuk memberikan hiburan baru atau penebus rasa luka hati rakyat maka dilakukannlah pemilu secara langsung untuk pemilihan Presiden dan wakil Presden secara langsung yang diikuti dengan pemilihan, gubernur dan walikota secara langsung. Maka dibentukkah UU tentang pemilu dan pilkada. Namun harapan pemilihan presiden langsung juga tidak mengobati kekecewaan rakyat, maka munculah manufer baru pada pemilu 2009, yaitu pemilihan legilatif dengan suara terbanyak.&lt;br /&gt;    Hal ini apakah hanya isapan jempol demokrasi belaka, ataukah sungguh-sungguh semangat perubahan, karena mereka sadar betul bahwa rakyat Indonesia sangat suka dengan perubahan dan sesuatu yang serba baru. Namun harus diingat sesuatu yangs erba baru ini tidaklah selalu membuahnkan hasil yang memuaskan.&lt;br /&gt;    Yang jadi persoalan peraturan itu dikeluarkan begitu mendadak tanpa memperhatikan bahwa semua partai sudah memperhitungan susunan calon wakilnya. Persoalan kedua adalah apakah bisa 3% suara terwakili akan mengalahkan 97% suara yang terkalahkan karena kemungkinan suara mayoritas seseorang tidak akan terjadi. Hal ini akan melemahkan legitimasi legislatif.&lt;br /&gt;    Harus diingatkan bahwa pemilihan Umum di Indonesia baru pertama kali menggunakan sistem distrik murni, sebelumnya dalah proporsioonal dengan sistem stelsel daftar. Sistem distrik ini akan memperkecil jumlah partai yang ada di Indonesia, dan susahnya masuk partai baru. Hal yang perlu diwaspadai pula sistem distrik ini tidak akan melindungi kelompok minoritas dan myoritas tapi terpecah. Hanya mewakili pemegang modal atau kapita.&lt;br /&gt;    Kekuatiran baru adalah akan adanya pengusaan yang merupakan tiran minoritas dan bersifat oligarki, sedangkan rakyat tidak peduli dan menjadi masa mengambang. Hal ini akan mengakibatkan penghisapan manusia di atas manusia. Rakyat akan dikeruk kekayaan dengan segelintir orang dalam sindikasi kejahatan oleh kelompok-kelompok penguasa minoritas.&lt;br /&gt;    Penguasaan dwifungsi Intelektual ternyata lebih otoriter dan diktator daripada militer yang tidak memberikan kesempatan pada orang lain untuk berpikir dan memberikan tanggapan pada kinerja mereka yang membahayakan negara dan mengancam disitegrasi.&lt;br /&gt;    Dikuatirkan akan terjadi imperialisme baru karena posisi mereka akan meminta dukungan militer asing bila terjadi desakan dari aspirasi rakyatnya, karena kelompok ini akan melahirkan fgeodalisme yang lebih korup dan melakukan penghisapan secara menggurita.&lt;br /&gt;    Mereka akan menggubakan tangan panjangnya berupa kekutan antek-antek mereka dan intelejen swasta untyuk memata-matai pesaing mereka dan rakyat. Yang lebih parah lagi akan terjadi Chaos dan kudeta militer. Hati-hati akibat pemilu 2009 waspada dan perkuatan persatuan dan kesatuan, kepentingan negara adalah diatas kepentingan probadi dan golongan.&lt;br /&gt;    Kelihatannya Mahkamah Konstitusi adalah malaikat di siang bolong tapi kita tidak pernya curika siapa di balik mereka, dan kekuatan mereka mendorong kebijakan yangs eperti ini. Jangan senang begitu saja karena merasa kepentingannya terwakili.&lt;br /&gt;    Meskipun kita mengadapai berbagai penyimpangan dan penyelewengan oleh legislatif saat ini, tetatpi perubahan itu harus diperhitungakan sebab dan akibatnya, karen negara bukanlah mainan. Karena berbagai dampak yang merugikan telah terjadi pasca Amandemen UUD 45 dibawah Amien Rais, kemudian akibatnya bahwa BBM langka, hak-hak yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai swasta, swasta mau untung nggak mau rugi. Karena kapitalis di Indonesia itu adalah kapitalius ortodok dan primitif yang tidak memikirkan dampak rendahnya daya beli.&lt;br /&gt;    Mereka tidak sadar bahwa konsumen mereka dalah buruh mereka yang harus punya daya beli. Dann kekeyaan mereka bukan karena riset atau developmen yang bagus karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang menguntungkan mereka kerena kebijakan itu mewakili DPR dan MPR yang sudah menjadi kepanjangan tangan mereka.&lt;br /&gt;Perlawanan  oleh rakyat pasti akan terjadi, karena rakyat ditekan pasti akan melawan karena penderitaan yang dialami, tingginya pajak, nepotisme PNS, buruh kontrak dan upah yang semakin rendah, dan semakin parah lagi adalah tingginya tingkat pengangguran. Kesenjangan inilah yang akan menjadi konflik sosial yang megakibatkan berbagai gejolak, bisakah hal itu dihindari, kita tidak bisa meramalkannya, kejadian alam mau tidak mau suka tidak suka pasti terjadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5391535329287848870-3158641286628186041?l=dumadimengguggat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/feeds/3158641286628186041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/pemilu-2009-kapitalisme-liberalisme-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/3158641286628186041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5391535329287848870/posts/default/3158641286628186041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dumadimengguggat.blogspot.com/2009/01/pemilu-2009-kapitalisme-liberalisme-dan.html' title='Pemilu 2009 Kapitalisme, Liberalisme dan Pembentukan Tirani Minoritas.'/><author><name>Do Media</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17421827533154223639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_q8J1VFGnX8I/SVAI7ou87xI/AAAAAAAAAAM/-o7DDZEczD8/S220/Freeze!798.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5391535329287848870.post-4101203829263974820</id><published>2009-01-15T09:25:00.000-08:00</published><updated>2009-01-15T09:27:48.065-08:00</updated><title type='text'>Pemberdayaan Pemilih Pemula Pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 22 Juni 2008</title><content type='html'>Pemberdayaan Pemilih Pemula&lt;br /&gt;Pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 22 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;    Pemilihan Gubernur Jawa Tengah periode 2008-20013 dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2008 di 35 Kabupaten Kota di Jawa Tengah, 571 Kecamatan, 8.573 Kelurahan/Desa, dan 59.649 Tempat Pemungutan Suara.  Jumlah personil Badan Penyelenggara Pemilu terdiri dari : Komisi Pemilihan Umum Provinsi 29 orang; Komisi Pemilihan Umum Kab/Kota 840 orang, Panitian Pemilihan Kecamatan (PPK) 5.710 orang; Panitian Pemungutan Suara (PPS) 25.719 orang; Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) 417.543 orang; dan Petugas pendaftaran pemillih (Gastarlih) 59.649, dengan total petugas adalah 509.490 orang.&lt;br /&gt;    Jumlah suara sah di tahun 2004 di Jawa Tengah dalam pilpres  dan pemilu legislatif berjumlah  18.477.044 orang, dengan pemilih laki-laki sebanyak 8.887.645 dan pemilih perempuan sebanyak 9.589.399 orang. Jumlah suara tidak sah 402.828, dan jumlah orang yang tidak menggunakan hak suara adalah 4.660.492. Jumlah suara yang memilih di luar provinsi adalah 181.786. Total suara yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) adalah  23.722.150. Sedangkan jumlah pemilih pada Permilihan Gubernur (Pilgub), 22 Juni 2008 adalah 26.666.966 orang. Jadi Jumlah pemilih pemula pada Pemilihan Gubernur mendatang adalah 2.944.816 orang,  dengan rasio pemilih pemula dan bukan pemilih pemula adalah 0,12. Berarti ada 12 persen pemilih pemula dan merupakan pemilih yang cukup potensial dalam menentukan suara pada Pemilihan Gubernur tersebut.&lt;br /&gt;    Pemilih pemula tersebut menjadi sasaran utama dari pasangan calon Gubernur yang akan maju sebagai kontestan Pilgub mendatang. Sehingga perlu sosialisasi yang cukup ekstra di dalam menarik minat partisipasi bagi pemilih pemula tersebut. Karena disamping usia mereka cukup muda juga didorong oleh pengalaman dan tingkat emosional yang tinggi dan memungkinkan partisipasi yang tidak rasional dalam Pilgub tersebut.&lt;br /&gt;    Dalam undang-undang pemilihan umum, pemilih pemula adalah mereka yang telah berusia 17-21 tahun, yang telah memiliki hak suara dalam pemilihan umum (dan Pilkada). Layaknya sebagai pemilih pemula, mereka selalu dianggap tidak memiliki pengalaman voting pada pemilu sebelumnya. Namun, ketiadaanpengalaman bukan berarti mencerminkan keterbatasan menyalurkan aspirasi politik. Mereka tetap melaksanakan hak pilihnya di tempat pemungutan suara. (Prakoso Bhairawa Putera. S, 2008)&lt;br /&gt;    Pemilihan kepala daerah (langsung) merupakan salah satu bentuk partisipasi politik sebagai perwujudan dari kedaulatan rakyat, karena pada saat pemilu itulah, rakyat menjadi pihak yang paling menentukan bagi proses politik di suatu wilayah dengan memberikan suara secara langsung dalam bilik suara. Dengan demikian meskipun hanya pemula, tetapi partisipasi mereka ikut menentukan arah kebijakan wilayah Sumatera Selatan ke depan.&lt;br /&gt;    Pengalaman pilkada dibeberapa daerah, pemilih pemula adalah sasaran yang menjadi perburuan suara para calon. Tak jarang berbagai carapun dilakukan untuk bisa menghimpun suara mereka. Pendidikan politik yang masih rendah di kalangan pemilih pemula adalah sumber masalah yang cukup signifikan dalam proses pilkada, tak jarang suara mereka diarahkan kepada pasangan calon dengan membawa muatan-muatan atau jargon-jargon tertentu. (Prakoso Bhairawa Putera. S, 2008)&lt;br /&gt;    Pemilih pemula yang baru mamasuki usia hak pilih pastilah belum memiliki jangkauan politik yang luas untuk menentukan ke mana mereka harus memilih. Sehingga, terkadang apa yang mereka pilih tidak sesuai dengan yang diharapkan. Alasan inipula yang menyebabkan pemilih pemula sangat rawan untuk digarap dan didekati dengan pendekatan materi. Ketidaktahuan dalam soal politik praktis, terlebih dengan pilihan-pilihan dalam pemilu atau pilkada, membuat pemilih pemula sering tidak berpikir rasional dan lebih memikirkan kepentingan jangka pendek.&lt;br /&gt;    Disisi lain, ada beberapa faktor yang juga turut berpengaruh terhadap pilihan para pemilih pemula, dari sebuah studi yang pernah dilakukan terungkap bahwa afiliasi politik orang tua mempunyai pengaruh yang kuat. Apabila orang tua mereka aktif dalam partai politik yang mengusung salah satu calon, terutama sebagai pengurus partai maka besar kemungkinan si anak untuk ikut. Begitu juga terhadap figur tokoh dan identifikasi politik yang diusung, variabel agama dan isu-isu politik/program dari calon ternyata tidak begitu besar pengaruhnya dalam menentukan pilihan politiknya. (Imam B Prasojo, 2008)&lt;br /&gt;    Sebagai generasi yang dianggap baru dalam proses pemilihan, pemilih pemula memiliki energi potensial cukup kuat untuk melakukan perubahan. Kaum pemilih pemula yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, atau pemilih dengan rentang usia 17-21 tahun sebenarnya di satu sisi menjadi segmen yang memang unik, seringkali memunculkan kejutan, dan tentu menjanjikan secara kuantitas. Unik, sebab perilaku pemilih pemula dengan antusiasme tinggi, relatif lebih rasional, haus akan perubahan, dan tipis akan kadar polusi pragmatisme.&lt;br /&gt;    Dari kecenderungan memilih tersebut, tidaklah mengherankan jika potensi munculnya golongan putih (golput) dari pemilih pemula sangat tinggi. Terlebih jika pada saat yang sama dihadapkan kepada kandidat calon kepala daerah yang kurang mendapat tempat di hati pemilih pemula. Ketiadaan pilihan kandidat kepala daerah yang dirasa pemilih pemula mampu membawa perubahan dengan rekam jejak serta program yang pas di hati pemilih pemula.&lt;br /&gt;    Sebaliknya jika tampak kandidat yang dirasa sesuai dengan keinginan pemilih pemula tidaklah mengherankan jika kemudian memunculkan sejumlah kejutan politik&lt;br /&gt;    Lalu akan lari kemana 12 persen suara pemilih pemula.  Memang tidak mudah untuk memperkirakan kemana suara-suara itu akan mengalir. Tampaknya program riil yang mampu ditawarkan sehingga mampu menarik minat. Jika ini gagal dimunculkan, bisa dipastikan golput adalah pilihan mereka dalam pilgub nanti. Karenanya program unggul yang mampu menarik minat, yang lenih riil dan implementatif, tidak sekadar jargon politik yang hambar dan terkesaan tidak membumi.&lt;br /&gt;    Pilkada yang berkualitas adalah pilkada yang : pertama, Kualitas administrasi proses elektoral tepat waktu sesuai jadwal tahapan. Kedua, Kualitas Politis proses elektoral yang mandiri dan legitimasi penyelenggara, dengan konflik yang sangat rendah. Ketiga adalah Kualitas Produk Pilkada akan terpilih calon yang baik dan berkualitas.&lt;br /&gt;    Harapan dalam Pilgub Jawa Tengah  adalah dari 26.666.966 pemilih tersebut menjadi pemilih berkualitas, dengan partisipasi politik seluas-luasnya secara kuantitas dan kualitas. Keberhasilannya hanya didukung dengan pemilih yang rasional, otonom dan bukan partisipan semu. Dengan harapan dalam Pilgub Jateng akan memilih pemimpin Jawa tengah yang akan menentukan nasib rakyat Jawa Tengah selama 5 tahun kedepan. (KPU Jateng, 2008)&lt;br /&gt;    Dasar hukum dimana pemilih pemula untuk menjadi pemilih dalam Pilgub Jateng mendatang adalah sesuai pasal 19 ayat 1 UU no. 10 tahun 2008, adalah  “Warga Negara Indonesia yang pada hari pemungutan suara telah genap berumur 17 tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih”. Dan Pasal 19 ayat 2, “Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud pada pasal 19 ayat 1 didaftar oleh penyelenggara Pemilu dalam daftar pemilih”. Jo Pasal 20 UU no. 10 tahun 2008.&lt;br /&gt;    Pemilih pemula tersebut perlu mendapatkan sosialisasi cara pemungutan suara dan tata cara pelaksanaan Pilgub agar pelaksanaan Pilgub dapat berjalan sesuai harapan-harapan diatas.&lt;br /&gt;    Bentuk sosialisasi adalah dengan melalui berbagai macam media yaitu berupa media cetak dan elektronik (80 persen menurut survey IFES 2008), serta media lain berupa Lomba, Iklan, Debat Calon, Spanduk, Baliho, Poster, stiker, pelatihan, tatap muka dengan pelaksana KPU dan lain-lain. Sedangkan isu-isu yang diangkat adalah perburuhan, pengangguran, stabilitas harga, pemberdayaan tani nelayan, infrastruktur dan isu-isu lain yang aktual dan faktual pada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Rumusan Masalah&lt;br /&gt;    Pemilih pemula merupakan pemilih yang potensial baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga perlu penanganan yang lebih serius agar tercapai tujuan dan harapan pilgub Jawa Tengah. Sejauh ini semua elemen dan stack holder dalam pilgub tersebut :&lt;br /&gt;1.    Apakah mampu untuk memberdayakan pemilih pemula tersebut?&lt;br /&gt;2.    Dalam implementasinya apakah langkah-langkah untuk memberdayakan pemilih pemula sudah dilakukan?&lt;br /&gt;3.    Apakah pemilih pemula memilih sesuai dengan harapan, yaitu rasional,     otonom, atau berpartisipasi semu?&lt;br /&gt;    Harapan tersebut dapat dicapai dengan berbagai langkah-langkah yang serius dan strategi yang lebih matang, agar tidak terjadi hambatan pemilu seperti konflik, politik uang, legitimasi penyelenggara Dn mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;    Tujuan penulisan ini adalah mengetahui dan menjelaskan bagaimana dan sejauh mana :&lt;br /&gt;1.    Pemberdayaan Pemilih Pemula yang berkualitas.&lt;br /&gt;2.    Partisispasi pemilih pemula dalam Pilgub 2009.&lt;br /&gt;3.    Kesadaran pemilih pemula dalam pemilihan gubernur mendatang yang Jujur dan adil melalui peran pemilih pemula.&lt;br /&gt;4.    Strategi yang dilakukan oleh penyelenggara dan peserta pilgub jawa tengah dalam memberdayakan pemilih pemula tersebut.&lt;br /&gt;    Tujuan tersebut di atas akan dibahas lebih lanjut dalam penulisan dan makalah ini, sehingga dapat menjadi panduan pilkada atau pemilu saat ini atau mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;    Kegunaan penulisan ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.    Menjadikan referensi bagi orang yang melaksanakan atau menyelenggarakan pemilu sebagai petugas pemilu.&lt;br /&gt;2.    Membantu para peserta pilgub, partai politik atau pemerintahan dan atau yang berkepentingan dalam pemberdayaan pemilih pemula.&lt;br /&gt;3.    Menciptakan kesadaran menganalisis dan melakukan perbaikan peristiwa-peristiwa publik dan sosial dengan pendekatan ilmiah guna mencapai tujuan pencapaian demokrasi, dan perkembangan kehidupan berwarga negara yang sehat dan dinamis.&lt;br /&gt;4.    Menjadi sumber kajian lembaga-lembaga Ilmiah baik formal maupin informal baik perguruan tinggi atau lembaga pendidikan lain yang membutuhkan.&lt;br /&gt;Pada dasarnya tulisan ini akan berguna bagi siapa saja yang memiliki perhatian dalam peningkatan iklim demokrasi di Jawa Tengah Khususnya dan Indonesia pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Landasan Teori dan Dasar Hukum&lt;br /&gt;5.1 Pemilihan Kepala Daerah&lt;br /&gt;Tugas KPU selain menyelenggarakan pemilu legislative dan pemilu presiden juga mengadakan pemilihan kepala daerah baik propinsi maupun kabupten/kota secara langsung. Untuk menyelenggaraka pilkada KPU sebagai penyelenggara melakukan berbagai tahapan seperti yang tertuang dalam UU no. 32 tahun 2005 pasal 65 sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.    Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilaksanakan melalui masa persiapan, dan tahap pelaksanaan.&lt;br /&gt;2.    Masa persiapan meliputi :&lt;br /&gt;a.    Pemberitahuan DPRD kepada Kepala Daerah mengenai berakhirnya masa jabatan.&lt;br /&gt;b.    Pemberitahuan DPRD kepada KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah.&lt;br /&gt;c.    Perencanaan penyelenggaraan, meliputi penetapan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah.&lt;br /&gt;d.    Pembentukan Panitia Pengawas, PPK, PPS, dan KPPS.&lt;br /&gt;e.    Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau.&lt;br /&gt;3.    Tahap pelaksanaan meliputi :&lt;br /&gt;a.    Penetapan daftar pemilih.&lt;br /&gt;b.    Pendaftaran dan penetapan calon kepala daerah/ wakil kepala daerah.&lt;br /&gt;c.    Kampanye.&lt;br /&gt;d.    Pemungutan suara.&lt;br /&gt;e.    Penghitungan suara&lt;br /&gt;f.    Penetapan pasangan calon kepala daerah/ wakil kepala daerah terpilih, pengesahan, dan pelantikan.&lt;br /&gt;4.    Tata cara pelaksanaan masa persiapan dan tahap pelaksanaan diatur oleh KPUD dengan berpedoman dengan peraturan pemerintah.&lt;br /&gt;Dasar hukum dalam pilkada Jawa Tengah adalah UU no : 12 tahun 2008 tentang  “Perubahan ke dua atas Undang-Undang no : 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah”, berbunyi :&lt;br /&gt;a.    Pasal 56 ayat 1 berbunyi bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.&lt;br /&gt;b.    Pasal 56 ayat 2 berbunyi bahwa Pasangan Calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh sejumlah orang yang memenuhi persyaratan sebagaimana ketentuan dalam Undang-Undang ini. &lt;br /&gt;Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah seperti dalam pasal 58 UU no 12 tahun 2008 adalah warga Negara Republik Indonesia yang memenuhi syarat  :&lt;br /&gt;a.    Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;b.    Setia pada Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, dan kepada NKRI serta pemerintah.&lt;br /&gt;c.    Berpendidikan sekurang-kurangnya SLTA atau yang sederajat.&lt;br /&gt;d.    Berusia sekurang-kurangnya 30(tiga puluh) tahun bagi calon gubernur dan wakil gubernur dan berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun bagi calon bupati atau wakil bupati.&lt;br /&gt;e.    Sehat jasmani dan rohani dari hasil pemeliharaan menyeluruh dari tim dokter.&lt;br /&gt;f.    Tidak pernah dijatuhi penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindakan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.&lt;br /&gt;g.    Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.&lt;br /&gt;h.    Mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di derahnya.&lt;br /&gt;i.    Menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan bersedia untuk diumumkan.&lt;br /&gt;j.    Tidak sedang memiliki tanggungan utang secara badan hukum yang menjadi tanggung jawabnya yang merugikan keuangan megara.&lt;br /&gt;k.    Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.&lt;br /&gt;l.    Dihapus.&lt;br /&gt;m.    Memiliki NPWP atau bagi yang belum mempunyai NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran pajak.&lt;br /&gt;n.    Menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap yang memuat antara lain riwayat pendidikan dan pekerjaan serta keluarga kandung, suami atau istri.&lt;br /&gt;o.    Belum pernah menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama.&lt;br /&gt;p.    Tidak dalam status sebagai penjabat kepala daerah.&lt;br /&gt;q.    Mengundurkan diri sejak pendaftaran bagi kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang masih menduduki jabatannya.&lt;br /&gt;Pasangan Calon untuk dalam pemilihan akepala daerah dan wakil kepala daerah dalah seperti yang tetuang dalam pasal 59 ayat 1 :&lt;br /&gt;a.    Pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik.&lt;br /&gt;b.    Pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang.&lt;br /&gt;Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 huruf (a) dapat mendaftarakan pasangan calon apabila memenuhi persyaratan  perolehan sekurang-kurangnya 15% dari jumlah kursi DPRD atau 15% dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilihan umum anggota DPRD di daerah yang bersangkutan (Pasal 59 ayat 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2 Definisi Pemilih Pemula&lt;br /&gt;    Seperti yang tertuang dalam Bab IV pasal 19 ayat 1 dan 2 serta Pasal 20 UU no. 10 tahun 2008 merupakan dasar hukum siapa yang dapat dikatagorikan sebagai pemilih pemula.&lt;br /&gt;    Pemilih Pemula adalah Warga Indonesia yang pada hari pemilihan atau pemungutan suara adalah Warga Negara Indonesia yang sudah genap berusia 17 tahun dan atau lebih atau sudah/pernah kawin yang mempeunyai hak pilih, dan sebelumnya belum termasuk pemilih karena ketentuan Undang-Undang Pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3 Karakteristik Pemilih Pemula&lt;br /&gt;    Pemilih pemula memilik karakter yang berbeda dengan pemilih yang sudah terlibat pemilu periode sebelumya yaitu :&lt;br /&gt;1.    Belum pernah memilih atau melakukan penentuan suara di dalam TPS.&lt;br /&gt;2.    Belum memiliki pengalaman memilih.&lt;br /&gt;3.    Memiliki antusias yang tinggi.&lt;br /&gt;4.    Kurang Rasional.&lt;br /&gt;5.    Biasanya adalah pemilih muda yang masih penuh gejolak dan semangat, dan apabila tidak dikendalikan akan memiliki efek terhadap konflik-konflik sosial di dalam pemilu.&lt;br /&gt;6.    menjadi sasaran peserta pemilu karena jumlahnya yang cukup besar.&lt;br /&gt;7.    memiliki rasa ingin tahu, mencoba, dan berpartisispasi dalam pemilu, meskipun kadang dengan bebagai latar belakang yang rasional dan semu.&lt;br /&gt;    Pemilih pemula memiliki karakteristik yang berbeda tersebut membutuhkan pemikiran dan penanganan yang serius dalam Pilkada dan pemilu mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.4 Peran Pemilih Pemula&lt;br /&gt;Pemilih pemula banyak memiliki peran di dalam pemilu baik pilkada maupun pemilu legislatif dan presiden. Sebagian besar pemilih pemula memiliki peran yang sangat besar secara kualitas dan kuantitas. Rata-rata memiliki usia yang cukup muda dan memiliki dinamika yang cukup tinggi.&lt;br /&gt;Partisipasi pemilih pemula sebagian besar adalah berupa pemilih aktif dan buka pemilih pasif. Pemilih aktif adalah pemilih yang peranya sebagi orang yang memilih. Sedangkan pemilih pasif adalah orang yang dalam pemilu adalah merupakan orang yang dipilih.&lt;br /&gt;Dasar memilih berupa hal-hal yang sifatnya emosional dan bukan berdasarkan visi dan misi calon atau partai yang dia dukung. Pemilih pemula banyak dimobilisasi dari semua kalangan kontestan. Hal ini akibat pendidikan politik yang kurang sejak masa Orde Baru yang terkenal dengan konsep depolitisasi. Karena depolitisasi ini memunculkan pobia di satu sisi dan eforia di satu sisi. Depolitisasi ini menyebabkan rendahnya kedewasaan politik rakyat terutama di kalangan pemilih pemula.&lt;br /&gt;Peran Ormas, LSM, dan orsospol masih kurang dalam pendidikan politik bagi rakyat terutama generasi muda terutama generasi pra pemilih. Terutam sejak adanya larangan bagi pelajar untuk aktif dalam kegiatan politik dengan adanya depolitisasi dan pewadahan satu organ tunggal pelajat yaitu OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Pemilih pemula juga masih memiliki tugas belajar yang perannanya lebih penting dari kegiatan di luar belar mereka.&lt;br /&gt;Bagi Mahasiswa juga masih rendahnya minat pada organisasi ekstra kampus karena okuptasi NKK/BKK  yang banyak membungkam mahasiswa dalam belajar berpolitik dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.5 Penentuan Calon Terpilih dalam Pemiliha Gubernur&lt;br /&gt;Berikut ini penentuan pemenang dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah berdasarkan aturan sebagai berikut :&lt;br /&gt;·    Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 50% jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih (pasal 107 ayat 1) dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah.&lt;br /&gt;·    Apabila ketentuan  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal 107 tidak terpenuhi,  pasangan calon yang memperoleh suara lebih dari 30% dari jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih. (pasal 107 ayat 2)&lt;br /&gt;·    Dalam hal pasangan calon yang memperoleh suara terbesar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon yang memperoleh suara sama, penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara lebih luas. (pasal 107 ayat 3)&lt;br /&gt;·    Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi, atau tidak ada yang mencapai 30% dari jumlah suara sah, dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan kedua (pasal 107 ayat 4)&lt;br /&gt;·    Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon, kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua. (pasal 107 ayat 5)&lt;br /&gt;·    Apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh tiga pasangan calon atau lebih, penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan yang lebih luas. (Pasal 107 ayat 6)&lt;br /&gt;·    Apabila pemenang kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh oleh lebih dari satu pasangan calon, penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. (pasal 107 ayat 7)&lt;br /&gt;·    Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. (pasal 107 ayat 8)&lt;br /&gt;Ketentuan diatas merupakan ketentuan yang mengatur calon yang berhak menduduki posisi Gubernur dan Wakil  Gubernur Jawa Tengah seperti yang dijelaskan pada pasal 107 UU no. 12 tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.6 Sanksi, Hukuman/Pidana  dan Denda Bagi Pelanggaran Pemilihan Gubernur Jawa Tengah&lt;br /&gt; Sansi, Hukuman, Pidana dan denda bagi pelanggaran pemihan gubernur jawa Tengah diatur dalam pasal 115 UU no 12 tahun 2008 adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel  1.&lt;br /&gt;Sangsi, Hukuman, Pidana dan Denda dalam Pilgub Jateng&lt;br /&gt;Pasal 115 UU no 12 tahun 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat    Jenis Pelanggaran    Sangsi Hukuman/Pidana    Denda      &lt;br /&gt;1.    Setiap orang yang sengaja memberikan keterangan yang tidak benar  mengenai diri sendiri atau diri orang lain tentang suatu hal 
